
Setelah menyelesaikan makan malam mereka Galang pun mengantarkan kembali Rania ke kediaman pamannya, malam itu Galang di penuhi dengan perasaan bahagia dia sudah tak sabar menunggu hari berubah agar dapat kembali bertemu dengan Rania dan anaknya
Sedangkan Rania di dalam kamarnya Rania memandangi kalung berliontin giok hijau yang kini berada di tangannya, Rania membulatkan tekad dan mengirimkan sebuah pesan kepada sekretaris pribadinya untuk mulai mencari tau tentang kalung itu, Rania sudah siap untuk mengetahui tentang masa lalunya demi permintaan terakhir pamannya
Hari pun berganti sejak pagi hari Galang sudah bersiap untuk menjemput pujaan hatinya dan anaknya, dia berencana menghabiskan waktu bersama mereka. Galang pun membawa mereka ke taman bermain terbaik di kota itu untuk membuat putri kecilnya bahagia
Senyuman bahagia selalu terhias di bibir mungil Caca pada hari itu, Rania pun benar-benar bersyukur melihat putri kecilnya mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan. Setelah puas bermain Galang mengajak mereka untuk makan di tempat yang telah di pilih oleh putri kecilnya
Mereka bertiga bagaikan keluarga kecil yang sangat bahagia karena senyum bahagia selalu menghiasi bibir mereka bertiga, selesai makan Galang membawa Rania dan anaknya ke sebuah mall terbesar di kota tersebut
"Kita mampir ke sini dulu ya"
"Kita mau ngapain papi?" memunculkan kepalanya di antara sela bangku depan
"Papi mau beliin Caca hadiah, jadi Caca boleh beli apapun yang Caca mau"
"Boleh ga mami?" menoleh ke arah Rania
Rania pun mengangguk
"Caca mau boneka boleh ga papi?" menoleh ke arah Galang
"Boleh dong sayang, Caca boleh ambil apapun yang Caca yang mau sayang" mencubit hidung Caca
Gadis kecil itu tersenyum bahagia, mungkin bila hanya sebuah boneka tak ada artinya bagi Rania dia dapat memberikan apapun yang Caca inginkan. Tetapi boneka ini adalah boneka pemberian dari sosok papi baginya, walaupun dia sendiri belum mengetahui bila Galang adalah ayah biologis dirinya
Mereka memasuki mall mewah tersebut layaknya seperti keluarga kecil yang sangat bahagia, Galang terus saja menggandeng tangan mungil Caca. Galang juga membelikan berbagai macam hadiah untuk Caca, Rania hanya bisa tersenyum melihat itu semua bagaimana pun juga itu adalah hal yang akan membahagiakan bagi putri kecilnya
Setelah puas membeli ini dan itu akhirnya mereka pun berakhir di sebuah toko boneka "Kamu mau boneka apa sayang?"
"Tapi Caca udah dapat banyak hadiah dari papi, ini udah cukup kok. Kata mami kita ga boleh serakah jadi orang"
Galang pun berjongkok di hadapan Caca
"Tapi buat papi ga akan ada kata cukup untuk kamu sayang"
Caca pun menoleh ke arah Rania, seolah-olah dia sedang meminta izin. Dan Rania pun menjawab dengan anggukan kepalanya
"Caca mau boneka beruang boleh ga ? soalnya Caca suka boneka beruang"
"Boleh dong, apapun boleh untuk Caca"
"Makasih ya pi" tersenyum
"Caca seneng ga ?"
__ADS_1
Caca menganggukkan kepalanya
"Kalo Caca seneng boleh ga papi minta cium sama Caca?" menunjuk ke arah pipi kirinya
Dan gadis kecil itu mencium pipi Galang
"Ayo sayang, papi mau beliin Caca boneka beruang yang paling besar buat Caca" kembali menuntun tangan Caca
Setelah puas melakukan ini dan itu akhirnya Galang pun mengantarkan kembali Rania dan anaknya ke kediaman pamannya saat sudah mulai menjelang sore hari, dan karena mungkin terlalu lelah bermain seharian sang gadis kecil pun ternyata tertidur lelap di bangku belakang saat mereka tiba di kediaman pamannya Rania
"Aku angkat Caca dulu ya kak"
"Biar aku aja"
Dengan cepat Galang mengangkat tubuh mungil Caca dan membawanya ke dalam rumah, Rania menunjukkan di mana kamar yang di sediakan untuk mereka. Setelah meletakkan Caca di atas kasur Galang pun mengikuti Rania ke ruang tamu, dan Rania membuatkan segelas teh hangat untuk Galang
"Di minum kak"
"Ya, kamu sama Caca rencananya berapa lama di sini?"
"Mungkin sampe acara tujuh hari paman selesai dulu kak"
"Apa kamu mau pergi ke sana lagi?"
"Kenapa kak?"
"Oh.. Ga kok..."Jadi waktu bersama mereka cuma tinggal beberapa hari doang ya"
"Apa boleh selama kalian di sini aku ajak kalian keluar?"
"Setiap hari?" mengerutkan keningnya
"Kalo kamu keberatan aku ga maksa kok" lirih
"Ya Tuhan kenapa bisa ada sisi seperti ini dari kak Galang? kalo dulu aku pernah sebut dia dengan raja neraka sekarang aku harus sebut dia dengan apa ya?" menahan tawa
"Bukan ga boleh kok kak, cuma apa kak Galang ga ada kerjaan?"
"Oh... Kalo masalah itu gampang kok, aku bisa minta sekretaris aku handle semua pekerjaan sementara waktu"
Sedangkan di tempa lain sang sekretaris Galang sedang tersiksa batin karena harus menghadapi seorang klien yang sangat penting yang seharusnya di temui oleh Galang, tetapi bagi Galang saat ini Rania dan Caca adalah yang terpenting
"Ya udah kalo memang ga mengganggu kerjaan kak Galang"
Dalam sekejap wajah Galang menjadi sumringah
__ADS_1
" Makasih ya, kalo gitu aku permisi dulu. Nanti malam aku datang lagi "
"Iya kak"
Galang pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah luar Rania pun ikut mengantarkan Galang, dan memandangi mobil Galang hingga benar-benar menghilang. Rania segera bergegas ke dapur untuk melihat apakah ada yang bisa dia bantu, dan ternyata semua urusan sudah di selesaikan oleh bibinya dan Mila
Rania pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan mulai merebahkan dirinya, Rania terus terbayang akan semua sikap Galang yang kini benar-benar sudah berubah. Rania memandangi kalung giok yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya dan lambat laun akhirnya Rania pun terlelap ke alam mimpi
Di alam mimpi sana Rania kembali bertemu dengan ibu yang selama ini merawat dirinya, sang ibu menggenggam tangan Rania sambil tersenyum hangat
"Sayang"
"Bu Nia kangen banget sama ibu" memeluk tubuh ibunya
Sang ibunya membalas pelukan Rania sambil mengelus rambutnya seperti yang dulu sering dia lakukan
"Sayang hidup ini harus punya tujuan, dan jangan pernah mencoba lari dari suatu masalah sayang. Ibu ga pernah ajarin itu ke kamu" melepaskan pelukannya dan menatap Rania dengan sendu
"Tapi bu" lirih
"Dengan menghindar dari suatu masalah justru masalah kamu itu ga akan pernah selesai sayang, cuma akan menjadi beban di hati kamu" tersenyum
"Tapi Nia ga tau apa Nia sanggup bu?"
"Ibu yakin kamu itu anak ibu yang kuat, kamu harus ingat pesan ibu ya sayang"
"Ya bu Nia akan selalu ingat pesan ibu"
Sang ibu pun tersenyum lega
Dan secara perlahan Rania pun tersadar dari mimpinya, dan masih dengan posisi yang sama menghadap ke arah kalung berliontin giok hijau. Rania pun kembali mengingat mimpi indah yang baru saja menghampiri dirinya
"Nia ngerti maksud ibu, apapun yang akan terjadi nantinya Nia akan cari tau tentang masa lalu Nia bu" menggenggam erat kalung tersebut
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉
__ADS_1