
Untuk : Rania Subagyo
Dengan surat ini saya Widya menyatakan permohonan maaf saya yang sedalam-dalamnya atas semua kesalahan-kesalahan saya di masa lampau, baik saat kamu menjadi istri Galang atau pun kesalahan saya yang terdahulu
Dalam surat ini saya tidak akan membuat pembelaan atas segala kesalahan saya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya menyetujui persyaratan yang kamu ajukan. Saya akan menghilang selamanya dari hadapan Galang dan kamu
Mulai saat ini saya berjanji tidak akan berada di antara kalian berdua, saya hanya berharap semoga kalian bisa bahagia ke depannya. Kejar lah kebahagiaan kalian bersama. Saya harap kamu bisa kembali ke sisi Galang seperti percakapan kita kemarin
Saya mohon perjanjian kita ini cukup kita yang tau, jangan biarkan Galang mengetahui apapun tentang ini. Saya tidak mau menjadi duri dalam hubungan kalian nanti
Sekali lagi saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dari dasar hati saya yang paling dalam, saya benar-benar berharap suatu saat nanti kamu bisa memaafkan saya
Widya Baskoro
Rania mencengkeram erat surat tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk "Apa maksud kata-kata dari surat ini? apa dia tau aku anak kandung dia? apa dia hanya melakukan ini semua demi kak Galang?"
Rania meraih telpon yang ada di atas mejanya dan menghubungi sekretaris pribadinya
"Ya bu"
"Apa ibu Widya masih ada di bawah?"
"Tadi setelah memberikan surat itu saya lihat ibu Widya meninggalkan kantor bu"
"Ok"
"Aku harus pastikan semuanya dulu, kak Revan ya kak Revan pasti punya no telpon dia" Rania segera meraih ponselnya dan menghubungi Revan ternyata Revan sedang berada di panggilan lain. Sedangkan Revan di seberang sana sedang berbincang dengan tante Widya
"Ya tante"
"Van tante cuma mau bilang Rania ga mau ketemu tante, jadi tante tinggalin surat aja buat dia. Tolong ya Van jaga mereka berdua demi tante"
"Apa tante ga mau pikirin sekali lagi?"
"Ga Van, keputusan tante udah bulat"
"Ya udah tante hati-hati ya, kalo perlu apapun tante bisa hubungi Revan"
"Makasih ya Van"
"Sama-sama tante"
Nyonya Widya memutuskan sambungan teleponnya
Melihat ada sebuah panggilan dari Rania Revan segera menghubungi Rania, ternyata Rania menanyakan nomor telpon nyonya Widya Revan pun memberikan nomor telpon nyonya Widya dan Rania segera menghubungi nomor tersebut. Tetapi hasilnya sia-sia nomor telpon tersebut sudah tidak aktif
Setelah selesai menghubungi Revan nyonya Widya segera mematikan ponselnya dia sudah bertekad untuk menjauh dari kehidupan Galang dan Rania, dia pun menghapus air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya dan mulai bangkit dari duduknya
__ADS_1
"Sekarang saatnya aku pergi menjauh dari kehidupan kalian berdua, doa saya tulus untuk kalian berdua. Semoga kalian berdua bahagia"
Satu hal yang nyonya Widya tidak ketahui adalah ada sepasang mata yang terus memperhatikan dirinya dari kejauhan, dan ternyata sepasang mata tersebut sudah mengikuti dirinya sedari awal saat dia baru saja pergi dari kota asalnya. Dan mulai menghubungi seseorang
"Dia mulai pergi bos"
"Ikuti terus dan cari tau dia ke mana?"
"Baik bos" memutuskan sambungan teleponnya
Tut.. Tut..Tut..
"Ya"
"Nomor telponnya ga aktif kak" Rania langsung to the point
"Masa sih? tapi cuma itu nomor telpon tante Widya yang kak Revan tau" tersenyum
"Oh.. Gitu ya kak" lirih
"Sebenernya kenapa kamu cari dia Nia?"
"Itu.. Nanti aku hubungi lagi ya kak"
"Masih ga mau cerita ya?" tersenyum licik sambil menahan tawanya
"Ok.."
Rania benar-benar menyesal telah membuat keputusan untuk tidak menemui nyonya Widya saat itu, kini ada sebuah tanya besar dari kata-kata di balik surat yang di tinggalkan nyonya Widya
"Sekarang aku harus gimana? aku harus ketemu dia langsung"
Rania langsung memberikan perintah kepada sekretaris pribadinya untuk menyebarkan orang-orang kepercayaannya mencari keberadaan nyonya Widya
Sedangkan di tempat lain Galang sedang ikut resah karena mamanya yang benar-benar tidak bisa di hubungi sama sekali, untuk pertama kalinya setelah sekian lama Galang merasakan rindu akan sosok mamanya. Galang juga memberikan perintah untuk mencari keberadaan mamanya
Hingga malam tiba orang-orang yang di kerahkan oleh Rania dan Galang tak ada satu pun yang bisa memberikan informasi keberadaan nyonya Widya, Galang yang semakin panik pun mulai tak karuan hingga tiba-tiba suara ponselnya berdering
"Ya Van"
"Bisa kita ketemu sekarang?"
"Sorry gw kayaknya ga bisa Van gw lagi pusing"
"Gitu aja pusing lo, gimana gw selama ini lo kerjain?" ya udah kalo lo ga butuh info tentang mama lo" acuh
"Ok.. Di mana?"
__ADS_1
"Gw tunggu lo di cafe xx"
Tak butuh waktu lama Galang pun sudah tiba di tempat dia membuat janji dengan Revan, Revan sudah duduk dengan minuman di hadapan dirinya. Sedangkan Galang langsung mendudukkan dirinya tepat di hadapan Revan
"Apa maksud omongan lo tadi?"
"Santai lah, mau pesen sesuatu?"
"Gw lagi ga mau bercanda Van" menatap tajam
"Ok.. Gw akan mulai semua ceritanya. Apa lo tau kalo nyokap lo ibu kandung Rania?"
Bak ada sebuah beban berat menimpa dada Galang pada saat itu, wajah Galang berubah menjadi pucat pasi mendengar hal tersebut. Galang sampai tak dapat mengucapkan sepatah kata pun pada saat itu
"Gw tau ini pasti juga berat buat lo, tapi lo harus tau kejadian yang sebenarnya"
"Van ga usah bertele-tele, ceritain aja semuanya ke gw yang lo tau" penuh penekanan
Revan pun memulai semua cerita yang dia ketahui, bahkan sampai perjanjian Rania dan tante Widya pun di sampaikan kepada Galang
"Jadi ini maksud semua ucapan mama yang aneh itu? jadi mama bersedia pergi menghilang cuma untuk kebahagiaan kami?"
"Tapi apa pantas kami bahagia di atas kesedihan mama? ga gimana juga mama selama ini udah sayang sama aku walaupun aku bukan darah dagingnya. Jadi aku ga bisa lakuin itu ke mama"
"Lang...Lang..." Melambaikan tangannya di hadapan wajah Galang
"Ya" tersadar dari lamunannya
"Gimana sekarang rencana lo?"
"Gw tulus mencintai dia Van, tapi ga mungkin gw harus korbankan mama gw" lirih
"Puas banget gw liat wajah b*doh lo itu Lang, ga sia-sia gw lakuin ini semua" tersenyum
"Apa lo juga tau di mana mama gw sekarang?"
"Lo mau apa?"
"Gw akan minta mama pulang, gw mungkin bisa kuat kehilangan dia. Tapi gw ga akan bisa bahagia dengan kehilangan mama gw Van"
"Gitu dong baru seru, gw mau liat apa yang akan lo omongin nanti di hadapan mereka? Tinggal satu langkah lagi"
"Lo tau kan mama gw di mana?"
"Gw tau, gw minta orang gw buat ikutin mama lo"
"Di mana?"
__ADS_1
"Di kota yang sama dengan Rania"
Mampir ke karya terbaru aku ya kak ðŸ¤