Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Dorongan Dari Revan


__ADS_3

Setelah puas melihat Rania dan buah hatinya dari kejauhan Galang akan kembali ke kota asalnya untuk kembali ke kehidupan nyatanya, tetapi di setiap waktu senggang dia akan selalu ke tempat itu hanya untuk sebatas memandangi Rania dan putri kecilnya dari kejauhan


Selama ini Galang akan selalu tau dengan apa yang di lakukan Rania dan buah hatinya karena dia mengirimkan beberapa orang untuk mengawasi dan melindungi mereka dari kejauhan, baginya hanya itu yang bisa dia lakukan pada saat ini


Galang kembali ke kota asalnya dan Rania sudah berada di dalam ruang kerjanya, dua insan yang memulai suatu hubungan dari sebuah kesalahan bukan sebuah ketulusan tetapi nama mereka sudah terukir di dalam hati masing-masing


Sedangkan Revan sedang gusar di ruang kerjanya memikirkan keadaan Galang yang semakin lama semakin terpuruk


" Aku harus lakuin sesuatu, kalo Rania ga mau kembali ke sisi Galang minimal gw harus kasih dorongan Rania untuk mencari pasangan hidup yang baru. Dengan cara itu mungkin Galang akan menyerah " segera meraih ponselnya


Tut.. Tut.. Tut...


" Ya kak "


" Apa kabar adik aku ? "


" Baik kak, kakak sendiri gimana ? "


" Aku baik kok, kabar ponakan cantik aku gimana ? "


" Caca baik kak "


" Syukur deh kalo semuanya baik-baik aja, ngomong-ngomong sebentar lagi Caca ulang tahun kan ya "


" Ya kak, aku udah kirim kan undangan ke rumah kakak "


" Ya, ga kerasa ya anak kamu udah enam tahun sekarang "


" Ya kak "


" Kamu sendiri gimana ? mau sampe kapan kamu terus sendiri. Kamu kan perempuan kamu juga butuh seseorang untuk jaga kamu "


" Bagi aku ada Caca aja udah cukup kak " tersenyum getir


" Tapi gimana sama Caca ? apa kamu ga kasihan sama dia, dia butuh sosok ayah "


" Aku ga tau kak, mungkin aku memang perempuan b*doh. Karena sampe detik ini aku ga bisa lupain semua kebaikan kak Adrian, dan yang terparah aku ga bisa hapus nama kak Galang dari hati aku "


" Rania dengerin kak Revan, kamu mungkin sanggup untuk hidup sendiri tapi ga sama anak kamu. Dia masih terlalu kecil, dia butuh sosok ayah yang bisa menjaga dia "


" Aku ngerti kak " lirih


" Ya udah kamu lanjut deh sama kerjaan kamu, kakak nanti pasti datang sama keluarga di acara ulang tahun anak kamu ya "


" Makasih ya kak "


" Jangan lupa kamu pertimbangkan omongan kakak tadi ya "


" Ya kak "


" Ok.. Bye " memutuskan sambungan teleponnya

__ADS_1


Rania larut dalam pikirannya sendiri, kata-kata yang di lontarkan oleh Revan benar-benar tidak bisa dia pungkiri. Selama ini Rania melarikan diri dengan segala kesibukan dan menyayangi anaknya dengan sepenuh hati, tetapi keraguan kini hadir di dalam Rania


" Itu benar, semua omongan kak Revan benar. Aku bisa bertahan dengan kenangan mereka berdua, tapi Caca tetap butuh sosok seorang ayah. Aku ga bisa harapkan laki-laki itu, setelah dia tau aku mengandung anaknya dia ga pernah sekalipun cari aku "


Hari itu hari Rania di kelilingi oleh perasaan bersalah terhadap buah hatinya, bagaimana mungkin dia melupakan bahwa anak itu tidak mengetahui apapun yang sudah terjadi. Rania memutuskan kembali ke kediamannya lebih awal agar dapat segera bertemu dengan buah hatinya


" Lagi apa sayang ? " mengelus rambut anaknya


" Caca ada tugas menggambar mami "


" Caca gambar apa sayang ? " mencuri lihat


" Caca gambar kita mami, ini mami, ini Caca dan ini papi " menunjuk ke arah tiga orang yang dia gambar


" Maafin mami ya sayang, mami pikir adanya mami aja di samping kamu itu udah cukup. Sepertinya mami salah selama ini "


" Mami kenapa ? "


Rania pun segera menghapus air matanya yang sempat terjatuh


" Mami ga apa kok sayang, mami cuma terlalu senang lihat gambar kamu yang bagus " berjongkok di hadapan anaknya


" Mami mau tanya sesuatu sama Caca, Caca jawab mami dengan jujur ya "


Caca hanya menjawab dengan anggukan kepala


" Apa Caca mau kalo mami cariin Caca papi baru ? "


" Caca kenapa sayang ? " mengelus rambut anaknya


" Caca ga punya papi juga ga apa kok, cuma kadang Caca suka sedih kalo teman-teman Caca di antar ke sekolah sama papanya mereka "


Bak menyadari segala kesalahannya yang telah dia perbuat selama ini, Rania langsung merengkuh tubuh mungil anaknya dengan erat


" Maaf ya sayang.. Mami benar-benar ga pernah memikirkan perasaan kamu selama ini "


Setelah puas memeluk buah hatinya Rania pun kembali ke dalam kamarnya, dan kembali merenungkan kembali semua perkataan Revan dan anaknya. Hingga tiba-tiba suara notifikasi ponselnya menghancurkan lamunannya


Ting..


Dengan perasaan malas Rania mencari di mana keberadaan ponselnya dan memeriksanya, ternyata sebuah pesan yang dikirimkan oleh sang pengagum Rania " Kamu lagi apa ? "


Rania membuang nafasnya dengan kasar " Apa mungkin ini saatnya aku mencoba memulai sesuatu yang baru ? "


" Ga ada, cuma lagi bengong aja di dalam kamar "


" Apa kamu lagi ada masalah di kerjaan ? kamu bisa cerita ke aku. Mungkin aku bisa bantu kamu "


" Ga kok kerjaan baik-baik aja, aku cuma lagi mikirin Caca "


" Oh... Boleh aku telpon kamu ? "

__ADS_1


" Boleh.. "


Sesuatu yang tak pernah Rania lakukan akhirnya dia lakukan, dia mengizinkan Bara menghubungi dirinya pada saat dia sudah berada di rumah. Sedangkan Bara di seberang sana tersenyum bahagia mendapatkan kemajuan dari pendekatan yang dia lakukan


Tut.. Tut.. Tut...


" Hai... "


" Ya.. "


" Tapi aku ga ganggu waktu kamu kan? "


" Ga kok "


" Akhirnya untuk pertama kalinya dia mau ngobrol sama aku saat dia sudah di rumah "


" Kamu kenapa? " Rania hanya terdiam


" Apa ada masalah sama anak kamu ? aku juga kan punya anak. Mungkin aku bisa bantu kasih solusi untuk kamu "


" Ga ada kok, anak aku baik-baik aja. Aku cuma baru kepikiran aja, apa mungkin aku selama ini salah sama dia ? "


" Maksud kamu ? "


" Aku pikir selama ini apa yang aku kasih untuk dia sudah cukup tapi sepertinya aku salah, aku lupa kalau dia tetap cuma seorang anak kecil " lirih


" Aku paham arah omongan kamu "


Rania bak kembali mendapatkan kesadaran dirinya


" Astaga maaf.. Aku minta maaf ya kok aku jadi cerita yang aneh-aneh ke kamu "


" Ga kok, aku seneng kalau kamu udah bisa mulai cerita ke aku. Seenggaknya aku masih punya kesempatan, dan aku siap kok "


" Itu.. Maaf aku... "


" Ga usah di bahas sekarang, kita bisa mulai semuanya secara perlahan "


" Bukan itu maksudnya, aku cuma ga yakin apa aku siap melupakan orang itu. Semenjak kehadiran Caca di hidup aku, setiap melihat Caca aku semakin merindukan sosok dia "


" Kapan-kapan kita buat janji keluar bawa anak-anak kita, gimana ? "


" Gimana nanti aja ya "


" Ok... Udah malam kamu istirahat ya, ga usah fikirin yang aneh-aneh.. Selamat malam "


" Malam "


Rania pun memutuskan sambungan teleponnya


Rania menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dengan seribu pertanyaan di dalam hatinya, apakah yang harus dia lakukan ? apakah dia sudah siap untuk memulai lembaran baru ? dan apakah dia sanggup menghapus nama Galang dari dalam hatinya

__ADS_1


__ADS_2