Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Pria Terbaik


__ADS_3

" Tapi sayang.. "


" Aku tau kak, aku tau semua alasan ketakutan kakak. Tapi sekarang ada kami kak " mengelus perut besarnya


" Setidaknya kita coba kak, segalanya udah di atur kak. Kita hanya perlu menjalankan dan berusaha melakukan yang terbaik " menatap penuh harapan


" Apa itu yang kamu mau Nia ? "


" Tapi kamu harus janji kalo seandainya yang menimpa papa terjadi sama aku, kamu harus tetap bisa berdiri melangkah mencari kebahagiaan kamu "


Rania menganggukkan kepalanya


" Aku mungkin ga pantas di katakan sebagian istri yang baik kak, tapi sebagai seorang wanita aku akan selalu ada di samping kakak selama Tuhan memberikan kita nafas "


" Aku janji sayang setelah anak kita lahir aku akan mulai melakukan kemoterapi "


Rania langsung memeluk tubuh Adrian


" Makasih ya kak "


Hari demi hari terus berlalu hingga tiba lah saat yang menegangkan bagi mereka berdua, saat di mana sebuah nyawa baru akan lahir ke dunia ini


Adrian dengan setia terus menunggu di luar ruangan bersalin sambil terus memanjatkan doa, dia berharap agar Rania dan anaknya dapat selamat. Hingga di Anisa bernafas dengan lega saat mendengar suara tangis bayi dari dalam ruangan tersebut. Tak selang berapa lama dokter pun keluar dari ruangan tersebut


" Selamat ya pak bayinya perempuan "


" Terima kasih dok, apa saya boleh melihat istri saya ? "


" Sebentar lagi di pindahkan ke ruang rawat ya pak, kalo begitu saya permisi dulu pak "


Sepanjang hari Adrian menghabiskan waktu bersama Rania dan anaknya, tak henti Adrian memandangi wajah mungil bayi tersebut


" Walaupun kamu bukan darah daging aku, tapi kamu akan jadi anak pertama dari Adrian Maulana sayang "


" Kamu mau kasih nama anak kamu siapa ? " memandang ke arah Rania yang berbaring di tempat tidur


" Anak kita kak "

__ADS_1


Adrian tersenyum bahagia mendengar ucapan tersebut


" Aku mau kasih nama dia Salsabila kak "


" Salsabila Baskoro nama yang bagus "


Rania langsung memasang wajah datar dan Adrian pun berjalan mendekati Rania, dia pun mendudukkan dirinya tepat di samping Rania


" Mau bagaimana pun dia anaknya sayang, kita ga akan bisa rubah kenyataan itu. Tapi aku udah bilang ke kamu kan dia akan tetap jadi anak pertama dari Adrian Maulana "


" Aku bisa kasih nama aku ke dia, dan jika Tuhan mengizinkan aku berumur panjang aku bisa kasih seluruh dunia ke dia. Tapi saat nanti dia menikah aku ga akan bisa menjadi wali dia sayang " mencium ujung kepala Rania


Mendengar penjelasan dari Adrian air mata Rania mengalir dengan sendirinya, ada perasaan yang tak bisa dia ungkapkan. Perasaan sangat bahagia di hargai oleh seorang pasangan hidupnya


" Makasih ya kak "


" Aku yang harus ucapkan itu ke kamu sayang, terima kasih telah kembali ke sisi aku. Terima kasih untuk tidak menyerah dengan keadaan aku, dan terima kasih kamu telah memberikan aku kebahagiaan " Adrian kembali mencium ujung kepala Rania


Hari demi hari terus berlalu Adrian mulai melakukan kemoterapi sesuai dengan janjinya, dia berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari penyakit tersebut. Rania dan anaknya selalu menjadi penyemangat dalam hatinya


Tetapi segala sesuatu telah di takdir kan, kita sebagai seorang umat hanya bisa berusaha tetap Tuhan yang menentukan. Hal yang terjadi kepada papanya terjadi juga kepadanya


Adrian meminta Rania berjanji bahwa dia akan selalu menjaga dirinya dan juga anaknya dengan baik, untuk kedua kalinya Rania mengantarkan seseorang yang penting bagi kehidupannya ke dalam liang lahat dalam waktu dekat


Rania terus memeluk gadis kecilnya untuk penguat hatinya, sepanjang malam itu Rania terus mengalir air mata dan memanjatkan doa kepada Tuhan agar menerima Adrian di sisinya


Di pagi hari beberapa anggota keluarga Maulana yang masih berada di situ berkumpul dan ada seorang pengacara untuk membacakan sebuah surat wasiat yang di tinggalkan oleh Adrian


Adrian mewariskan seluruh kekayaannya kepada Rania dan juga anaknya, seluruh keluarga besar Maulana memeluk Rania dengan erat dan mengucapkan kata-kata terima kasih kepada dirinya tanpa henti


Awalnya Rania menolak wasiat terakhir dari Adrian, dia merasa tidak enak hati untuk menerima semua itu. Tetapi seluruh anggota keluarga Maulana memberikan sebuah pengertian kepada Rania, bila dia dan anaknya pun kini adalah anggota keluarga Maulana yang di akui


Sejuta kebahagiaan di rasakan di dalam hati Rania, di saat dia merasa hanya seorang diri untuk menjaga anaknya ternyata dia bisa mendapatkan pengakuan dari keluarga besar Maulana


Rania mulai di dampingi oleh seseorang yang menjadi asisten pribadinya untuk menjalankan segala bisnis yang di tinggalkan oleh Adrian, Rania merubah penampilan menjadi seorang wanita yang modis untuk menunjang pekerjaannya. Rania benar-benar menjadi sosok yang berbeda


Rania tak langsung mengikuti keinginan Adrian untuk kembali ke kota asalnya dan mencari kebahagiaan, hal itu dia lakukan karena sebagai seorang wanita dia ingin menghargai sosok Adrian sebagai suaminya yang telah tiada

__ADS_1


Hari-hari Rania dia habiskan dengan bekerja dan pada malam hari dia habiskan dengan si gadis kecil pelipur hatinya, tak pernah sedikitpun Rania memikirkan untuk mencari pendamping hidupnya


Perusahaan Adrian yang di pegang oleh Rania menjadi semakin besar setelah beberapa tahun, Rania menjadi sosok yang cukup di pandang di antara para pebisnis dan kini dia menjadi sosok yang kuat dan sangat berbeda dengan Rania yang hanya bisa menangis pada dahulu kala


Hari itu genap enam tahun kepergian Adrian untuk selamanya, Rania membawa buah hatinya ke makam Adrian untuk pertama kalinya. Kini dia dan gadis kecil itu sudah berada tepat di hadapan tempat peristirahatan terakhir Adrian


" Mami " dengan manja


Rania tersenyum menghadap ke arah gadis kecil tersebut


" Ini tempat papi istirahat ya ? "


Rania berjongkok dan tersenyum


" Ya sayang, papi istirahat di situ "


" Apa papi ga sayang kita ? kenapa papi ga mau tinggal sama kita ? "


" Tuhan selalu punya rencananya sendiri sayang untuk kita semua, tapi kamu harus selalu ingat papi paling sayang sama kita berdua "


Gadis kecil itu menjawab dengan anggukan kepalanya


" Kamu harus selalu do'akan papi ya sayang "


" Iya mami, Caca selalu do'akan papi "


Rania mencium gadis kecil itu lalu memeluk tubuhnya


" Kak anak kita sekarang sudah besar, aku mungkin belum menjadi istri yang baik untuk kamu. Tetapi sebagai seorang wanita aku akui aku selalu bahagia kak mendapatkan pendamping seperti kamu, seseorang yang sangat menghargai kami sebagai seorang wanita seutuhnya " Rania mulai melepaskan pelukannya dan kembali memandang tempat peristirahatan terakhir Adrian


" Maaf ya kak, sampai detik ini aku belum siap untuk membuka hatiku kembali kepada seorang pria seperti permintaan terakhir kakak. Aku hanya takut kejadian dulu dengan kak Galang akan terulang kembali "


" Sampai kapanpun kamu adalah pria terbaik di dalam hati aku kak "


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗

__ADS_1


Mampir yuk kak ke cerita Zahra Anak Yang Tak Berdosa S2 🤭


__ADS_2