
"A-apa yang te-terjadi, bu?"
*****
Jill membatu melihat apa yang ada di depannya. Pupilnya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat, kakinya lemas hingga akhirnya dia jatuh dan duduk di lantai.
Apa yang dilihat Jill benar benar membuatnya syok. Darah yang bercucuran di dinding, Ayahnya yang berlumuran darah dan kaca rumah yang pecah. Siapa yang tidak syok melihat hal tersebut?
"I-ibu.. ini prank kan? Ini bohong kan?". Sahut Jill
Ibu Jill tidak menjawab. Dia hanya menangis tersedu-sedu di lantai. Jill yang semula hanya membatu mulai meneteskan air matanya.
"Ha-ha... ha.. ha.. i-ini pasti bohong iya kan? Ha.. ha..". Ucap Jill sembari menangis.
Ibu Jill yang sedari tadi menangis berusaha menenangkan Jill.
"Ibu ini bohong iya kan? Iya kan??". Ucap Jill
Ibunya hanya semakin menangis menjadi jadi dan mulai memeluk Jill.
"Tuhan.. kenapa ini semua terjadi? Kenapa?? Apa salahku?? Kenapa selalu aku yg mengalami hal hal menyedihkan begini? Kenapa????". Ucap Jill
Ibunya berusaha menenangkan Jill sambil memeluknya erat. Dia mengelus elus kepala Jill dan membisikkannya kata kata yang membuatnya tenang.
Setelah mereka tenang, mereka pun segera menelepon polisi. Katanya, Ayah Jill dibunuh oleh perampok. Saat itu ibunya sedang pergi ke pasar dan Jill sedang pergi sekolah sedangkan ayahnya sedang izin kerja karena sakit.
Tidak cukup dirundung teman sekelasnya, Ayahnya pun meninggalkan dia beserta ibunya. Kenyataan tersebut membuat Jill benar benar terpukul. Di pemakaman pun dia hanya menangis tersedu-sedu.
Seusai pemakaman ayahnya, Jill mengurung dirinya di kamar. Dia syok atas segala masalah yang menimpanya. Ibunya yang khawatir selalu menyuruhnya keluar kamar, tapi Jill tidak pernah menurut.
"Jill anakku, ayo kita makan malam. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu". Ajak Ibunya
__ADS_1
"Maaf bu, aku tidak ingin makan". Jawab Jill
Ibunya menahan tangis dibalik pintu. Dia takut anaknya depresi. Namun, dia juga tidak bisa apa-apa.
"Ba-baiklah, nanti jika kau lapar, turun dan makanlah". Ucap Ibu Jill
"Yaa..". Jawab Jill dingin
Jill pun menangis, dia tidak bermaksud untuk menjauhi ibunya. Dia hanya sedang terpuruk, dia benar benar putus asa. Selama ini ayahnya yang lebih dekat dengannya di rumah, dia selalu menyemangati Jill dan mendengar keluh kesahnya. Sedangkan ibunya lebih terfokus dengan pergi bersama temannya.
Setelah dua hari berlalu, Jill akhirnya keluar kamar dan pergi sekolah.
"Aku bisa". Ucap Jill
Jill pun bergegas kembali sekolah. Di sekolah tentu saja banyak anak yang berbisik atas kematian ayahnya.
(Drkk) Suara pintu terbuka, beberapa anak yang selalu merundung Jill datang ke kelas nya. Mereka adalah Nia, Hill, dan Viona dari kelas sebelah Jill.
"Hah! Bagaimana ini? Tidak ada yang membelamu lagi ya?? Hahaha". Ucap Viona
Jill yang biasanya menjawab sekarang hanya bisa terdiam. Baru saja dia kehilangan ayahnya, tapi malah dikatai seperti itu oleh perundung nya.
"Eh? Apa ini? Kenapa dia hanya diam saja?"Ucap Hill
"Dia pasti sedang merenungkan ayahnya itu. Padahal kau kan hanya kehilangan orang tua, lagipula orang tua hanya mengatur² kehidupan kita saja kan. Seperti orang bod-".
(Plakk) Jill menampar Viona. Jill benar² kesal atas apa yang diucapkan Viona tsb. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu?
Temannya yg lain kesal melihat Viona di tampar, mereka lalu menjambak, menampar balik dan bahkan menendang Jill. Salah satu teman sekelasnya melaporkannya pada Bu Nami. Tak lama kemudian, Bu Nami datang dan menghentikan pertengkaran tersebut.
"ENAK HAH NAMPAR ORANG LA-".
(Plakk) Viona ditampar (lagi) oleh Bu Nami.
__ADS_1
"Hah.. B-Bu Nami? Apa apaan ini?" Viona tidak membalasnya karena dia seorang guru, dia lalu keluar sambil menangis dan disusul oleh kedua temannya.
"Kamu tidak apa apa Jill? Untuk sekarang, kamu pulang saja dulu. Untuk tugas, nanti Ibu berikan ya". Ucap Bu Nami
Jill akhirnya pulang kerumah dengan baju kotor.
"Hahh??? Apa yang terjadi Jill??". Sahut ibunya, dia syok melihat Jill pulang lebih cepat dan bajunya kotor.
Jill hanya melewatinya dan dia mengurung diri di kamar. Dia menangis tersedu-sedu. Jill depresi, dia pun berencana mengakhiri hidupnya.
Malamnya, dia pergi ke bukit di
belakang rumahnya diam-diam. Dia membawa tali dan berniat menggantung dirinya di salah satu pohon. Saat talinya sudah dia lilitkan di lehernya, dia tergelincir.
AAAA, baiklah. Ini saatnya, maafkan aku.... Ibu.
"Up". Suara seseorang
Jill yang memejamkan mata terheran, kenapa dia tidak merasakan sakit? Dia lalu membuka matanya dan-- voila! Dia mengapung di udara.
"AAAAAAA" Teriak Jill
(Brukk) Jill yang tadinya mengapung terjatuh tepat di pangkuan seorang lelaki.
"H-hah?"
Chap 2 -END-
Viona Rastza
16 y.o
__ADS_1