HIJAB FOR SISTERS

HIJAB FOR SISTERS
Episode 1


__ADS_3

DARI semester ke semester, suasana pembagian rapor di Pondok Pesantren Modern Putri Siti Fatimah selalu sama. Para santriwati sibuk bercanda, berlarian ke sana kemari, bertukar alamat dan nomor telepon, saling memperlihatkan rapor masing-masing, berjingkrakan karena huruf A dan B yang berderet lurus, cukup bikin bangga kalau untuk dipamerkan. Ada juga yang menangis sedih sendirian di pojokpojok perpustakaan, bersembunyi dari kemungkinan diomeli orangtua karena nilai yang mengecewakan.



Para orangtua santriwati juga nggak kalah hebohnya. Ajang pertemuan wali santri dan guru-guru di momen pemberian rapor selalu jadi ajang fashion show dadakan. Jilbab-jilbab cantik, gamis-gamis mahal, yang kesemuanya itu merupakan model terbaru dari desainer sekelas Dian Pelangi, berseliweran di sepanjang jalan. Mobil-mobil mewah terutama jenis mobil keluarga terparkir begitu banyak sampai memenuhi lapangan sepak bola depan gerbang pondok saking banyaknya orangtua yang hadir. Para wali santri tersebut berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia setiap akhir semester tiba, dengan harapan anak gadis mereka bisa membuat penampilan kinclong mereka tidak sia-sia karena nilai rapor yang didominasi huruf A. Tidak terbayang malunya kalau jauh-jauh datang dari luar kota dengan Fortuner mulus dan gamis Shafira terbaru, tapi harus menuai kecewa karena nilai rapor di bawah rata-rata.



“Nyokap lo udah dateng, Sha?”



Asha mengangkat wajahnya dari buku Tafsir Ibnu Mas’ud yang disusun oleh Muhammad Ahmad Isawi, lalu menatap ke arah Fitri yang baru saja menegurnya.



“Udah,” jawabnya singkat.



Fitri meletakkan novel Sakinah Bersamamu-nya Asma Nadia di atas meja, lalu duduk berhadapan dengan Asha. Perpustakaan tidak seramai biasa, selain Asha dan Fitri hanya ada beberapa gelintir santriwati yang sedang asyik membaca.



“Nyokap bokap gue nggak dateng,” keluh gadis yang satu kamar dengan Asha tersebut.



Asha kembali mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dia baca. “Kenapa?”



“Biasalah, terkendala keuangan yang nggak stabil,” Fitri mencebik. “Aku kan nggak seperti kalian yang bisa gampang nyarter pesawat terus dalam sekejap bisa dateng ke pondok ini. Keluargaku seperti butuh keajaiban Doraemon buat bisa melakukan itu semua!”



“Kok Doraemon? Memangnya Doraemon yang kasih rezeki buat keluarga kamu?”



Fitri mengangkat bahu. “Ya bukan gitu juga sih, tapi kalau ada pintu ke mana aja, aku pasti udah bisa bolak-balik Binjai-Kuningan kapan pun aku mau.”



“Di sini ada kok pintu ke mana aja!”



“Oh ya? Masa sih?”



Asha menunjuk buku yang berderet di sepanjang rak dinding perpustakaan. “Itu semua pintu ke mana aja. Bukannya kamu pernah denger ungkapan bahwa buku itu jendela dunia? Bisa ditambahin tuh, bahwa buku itu sama dengan pintu ke mana ajanya Doraemon.”



Fitri bengong sesaat, mungkin otaknya sibuk menangkap maksud Asha lebih dulu, sebelum kemudian dia tergelak. “Ih, bisa aja sih kamu, Sha!”



Asha cengengesan, lalu kembali membuka bab baru buku tafsir yang sedang dibacanya. Tapi kelihatannya Fitri memang belum puas mengganggu Asha.



“Sha, kamu kenapa ngumpet di sini sih? Bukannya kamu kangen sama mama kamu? Temuin gih sana...!”



“Lah, mama kan masih di masjid, masih ada tausiyah dari Ustazah Heni. Kamu kan tahu sendiri kalo Ustazah Heni ceramah bisa bertahun-tahun baru selesei.”



Fitri terkikik mengiakan. Ustazah Heni adalah kepala sekolah yang sangat hobi ceramah. Setiap akhir semester, saat para wali santri dikumpulkan di masjid sebelum pembagian rapor di kelas santri masing-masing, wali santri terlebih dahulu bersilaturahmi dengan para guru dan kepala sekolah, juga mudir atau kepala asrama. Dalam kesempatan pertemuan itu pasti ada tausiyah dari Ustazah Heni, yang biasanya memakan waktu sampai dua jam. Ibu-ibu yang nggak kuat duduk bersimpuh atau selonjoran, atau rentan terserang asam urat, pasti banyak yang mengeluh sakit pinggang.



“Berarti liburan semester ini kamu nggak pulang, Fit?” tanya Asha kemudian.



Fitri mengedikkan bahu. “Penginnya sih nanti aja sekalian libur lebaran.”



“Liburan ke mana dong?”



“Aku diajakin Raisera ke rumahnya di Semarang. Kebetulan aku belom pernah ke Semarang.”



“Wih, asik! Oleh-oleh dong! Wingko babat sama bandeng presto, ya!”



“Iya, nanti aku mintain ke Sera. Kamu sendiri pulang, kan?”



“Iyalah, rumahku kan deket di Tangerang.”



“Kamu udah berkemas?”



“Udah beres dong, Sis, tinggal tenteng ransel aja!”



Tiba-tiba seorang santriwati bergegas masuk perpustakaan. Napasnya tersengal-sengal karena berlarian sepanjang koridor pondok. Dia langsung menuju meja tempat Asha dan Fitri duduk berhadapan.



“Sha! Ka ... kamu...,”



Asha langsung bangkit sambil menutup bukunya. “Ada apa sih, Fah? Hey, relax, take a breath!”



Ifah, santriwati itu, masih coba mengatur napas. Asha menepuk-nepuk pundaknya.



“Kamu ... dipanggil Ustazah ... Ustazah Nurul!”



Asha menautkan alis. Ustazah Nurul adalah wali kelas mereka. “Serius?”


__ADS_1


“Iyaaa, masa aku bohong sih?” Ifah memonyongkan bibirnya.



“Bukannya Ustazah Nurul masih di masjid?”



“Ceramahnya udah selesai, sekarang sedang pembagian rapor di kelas kita. Ustazah Nurul menyuruh aku mencari kamu. Mama kamu juga nungguin di sana!”



Spontan Fitri ikut berdiri. “Ya ampun, udah bagi rapor aja!” serunya cemas.



“Yuk ke kelas!” ajak Asha kemudian sambil mengemasi buku-buku yang baru saja dipinjamnya untuk mengisi liburan. Asha melangkah keluar perpustakaan diiringi Ifah yang masih terlihat panik dan Fitri yang mencemaskan rapornya.



***



“ASHANDREA Alifirdaus, kamu peringkat pertama lagi semester ini. Pertahankan prestasimu, ya, demi mengejar seluruh cita-citamu. Pergunakan kepandaian otakmu dan kecerdasan akhlakmu supaya bermanfaat bagi agamamu.”



Selalu, dari semester ke semester, Asha mendengar kalimat itu diucapkan wali kelasnya. Sudah berapa semesterkah dia sekarang? Dia sampai merasa bosan menghitung. Dia menjadi santri di pondok ini sejak lulus SD, masuk tingkat tsanawiyah kelas tujuh, mamanya yang parno dengan kehidupan pergaulan remaja Jakarta, langsung mengirimnya ke pondok ini. Dan dari awal masuk, Asha selalu menjadi santriwati terbaik dikelasnya. Tak pernah sedikit pun prestasinya bergeser, atau turun.



Terkadang hal itu membuat segalanya begitu hambar. Tak seperti santriwati lain, dia tidak merasakan debar-debar kecemasan akan nilai rapornya. Sudah pasti bagus, sudah pasti sempurna. Baginya, belajar hanya cukup dengan membaca sekilas seperlunya, mengingat kembali semua yang dibeberkan gurunya, lalu menghafal semuanya semudah dia menghafal lagulagu Sherina. Hafalan surat-surat panjangnya sudah jauh melebihi juz yang sedang ditekuni teman-temannya. Bahkan dia menghafal tanpa beban, belajar tanpa tertekan, dan menulis lembar ujian pun seperti menuliskan puisi saja. Bisa sambil cengengesan seakan-akan semuanya dilakukan tanpa beban.



Mama Asha, yang begitu cantik dengan jilbab warna cerah, menyambutnya di pintu kelas dengan senyum ceria. Dirangkulnya bahu Asha yang tingginya sudah hampir menyamainya, lalu dibimbingnya Asha menghadap Ustazah Nurul di depan kelas. Asha salah tingkah karena mendapat perhatian dari seluruh santri sekelasnya dan orangtua mereka, yang duduk patuh di bangku masing-masing.



“Ashandrea,” Ustazah Nurul mengawali bicara, dan Asha tampaknya tahu betul sang ustazah mau ngomong apa. “Selamat ya, kamu peringkat pertama lagi semester ini. Pertahankan terus prestasimu. Kejar cita-citamu. Pergunakan akal dan kecerdasanmu serta kecantikan akhlakmu supaya bermanfaat bagi agamamu.” Seperti yang sudah Asha tebak, wali kelasnya mengatakan kalimat yang seakan sudah menjadi template.



Asha tersenyum tipis saat menyambut rapor di tangannya serta mencium tangan Ustazah Nurul dengan takzim. “Terima kasih, Ustazah Nurul… ”



“Ada satu hal yang perlu kamu tahu, dan ini menjadi alasan kenapa kamu dipanggil cepat-cepat ke kelas,” ujar Ustazah Nurul lagi.



Asha merasakan remasan jemari mamanya di bahu, lalu menggigit bibir, menunggu dengan cemas. Tapi Ustazah Nurul tidak segera melanjutkan ucapannya, malah menatap ke arah pintu seolah menunggu seseorang datang. Dan memang tak lama kemudian muncul sosok yang seperti sedang ditunggunya. Asha merasa heran melihat kedatangan Ustazah Heni, Ustazah Wina yang merupakan wali kelas sebelas B, dan Ustazah Sofi, mudir atau kepala asrama mereka, yang disusul seorang santriwati lain dari kelas sebelas B beserta kedua orangtuanya.



“Assalammualaikum,” ucap Ustazah Heni yang dibalas ucapan salam serupa dari seluruh kelas. “Maaf menunggu lama. Tadi kami menyelesaikan pembagian rapor dulu di kelas sebelas B.”



Ustazah Nurul memberi isyarat agar Asha dan mamanya duduk di deretan terdepan, kemudian santriwati dari kelas sebelas B dan kedua orangtuanya itu juga duduk satu deret dengannya. Asha melirik si santriwati pendiam itu, kemudian mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Si santriwati balas tersenyum, sebelum kembali menoleh ke depan.



Santriwati itu namanya Khalda. Asha mengenalnya sebagai bintang di kelas B. Seperti Asha, Khalda mondok sejak kelas tujuh. Mereka tak pernah satu kelas. Asha selalu di kelas A, dan Khalda selalu dikelas B. Seperti dirinya juga, Khalda selalu ada di peringkat pertama kelasnya.



“Kireinissa Khalda adalah santriwati berprestasi dari kelas




Ustazah Heni yang akrab dipanggil Ummi itu mengangguk lembut.



“Khalda dan Asha, memiliki prestasi yang seimbang, sama besar. Mereka berdua pandai dalam ilmu pengetahuan dasar, hafalan Quran, hadis, serta tafsir. Fasih bahasa Inggris dan Arab. Juga tak tercela akhlaknya. Dalam skala satu sampai sepuluh, keduanya sama-sama mendapat nilai sembilan koma sembilan, nyaris mendekati sempurna.”



Asha menoleh sekali lagi ke arah Khalda yang masih lurus menyimak dengan wajah tanpa ekspresi.



“Dan seperti tradisi pesantren ini, setiap tahun kelulusan, kami mengirimkan para lulusan terbaik kami untuk belajar di luar negeri dalam program beasiswa khusus yang dibiayai oleh pesantren kita. Kalau biasanya kami mengirimkan santriwati ke Kairo, mulai tahun lalu kami mengirimkan para wisudawati berprestasi kami ke Jerman.” Ustazah Nurul melayangkan pandangannya pada Asha dan Khalda secara bergantian. “Tahun ini kandidat beasiswa kami adalah Siti Khumairah dari kelas dua belas A, yang sudah dipastikan akan berangkat ke Jerman setelah lulus ujian nanti. Tapi biasanya seleksi sudah kami tentukan sejak semester satu kelas sepuluh. Santriwati yang sudah bersekolah di pesantren ini sejak kelas tujuh, akan lebih diprioritaskan, terutama jika mereka berprestasi tinggi secara konstan tanpa pernah mengalami penurunan. Seperti kedua putri kita yang cantik ini, Asha dan Khalda.”



Pipi Asha merona disebut cantik, apalagi semua mata sekarang menatap ke arahnya, juga ke arah Khalda. Asha sekali lagi menoleh pada Khalda yang masih bergeming tanpa ekspresi. Bagaimana sih caranya mengatasi pujian supaya nggak salah tingkah dan tetep bisa cool seperti Khalda? gumam Asha dalam hati. Keren banget dia.



“Sayangnya, beasiswa hanya diberikan pada salah satu di antara mereka berdua. Dan bagi kami para guru, sulit sekali memilih satu di antara keduanya, karena nilai mereka sangat seimbang.”



Sekarang Asha terkejut. Dari tadi dia sama sekali tidak menyangka kalau pembahasan ini intinya adalah mengenai beasiswa. Dia menatap mamanya dengan pandangan bertanya, tapi mamanya hanya mengedikkan bahu.



“Untuk itulah kami memanggil mereka berdua dan orangtua mereka di depan forum ini, agar semua santri beserta orangtua masing-masing bisa mengetahui mengenai program beasiswa ini. Jadi jangan heran kalau pembagian rapor sekarang para santri juga masuk kelas, tidak hanya walinya saja. Bagaimana Ummi, bisa saya lanjut?” Ustazah Nurul kembali meminta izin Ustazah Heni yang kali ini lebih banyak diam, yang kemudian membalas dengan anggukan. Ustazah Nurul menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Baiklah, untuk sama-sama diketahui, beasiswa akan diberikan setelah santri yang bersangkutan lulus Aaliyah. Artinya, masih ada tiga semester lagi yang harus dikebut prestasinya agar santri tersebut siap kuliah di luar negeri. Semester ganjil baru saja lewat, dan di semester genap yang akan kita jalani sebentar lagi, adalah penentuan seleksi siapa yang berhak meraih beasiswa itu. Lalu dua semester terakhir di kelas dua belas, tinggallah masa persiapan bagi santri yang terpilih untuk mendalami ilmu dan bahasa Jerman sebagai bekal di sana.”



Asha mendadak gelisah. Berkali-kali dia mengusap ujung hidungnya yang berkeringat. Kembali dia menoleh pada Khalda yang masih bergeming, sama sekali tak terpengaruh oleh kabar yang seharusnya mengejutkan ini. Atau janganjangan dia sudah tahu lebih dulu, ya? pikir Asha. Jadi dia nggak terlalu gelisah seperti Asha.



Asha kembali mengalihkan pandangannya pada Ustazah Nurul yang masih tampak bersemangat.



“Penentuan seleksinya akan kami berlakukan aturan yang mungkin sangat berbeda dibanding biasanya. Pertimbangannya, pertama karena memang kedua calon kita ini sama kuatnya dalam segala aspek. Yang kedua, berdasarkan pengalaman santri sebelumnya yang dikirim ke Jerman, banyak yang mendadak gagap pergaulan karena selama bertahun-tahun di sini sudah terbiasa bergaul dengan kawan seakidah dan sejenis kelamin pula. Maka kami para guru serta kepala sekolah dan kepala asrama memutuskan untuk melakukan seleksi berdasarkan kemampuan untuk bertahan di dunia luar pesantren. Kedua santri kita, Asha dan Khalda, selama satu semester ke depan, akan kami pindahkan sementara ke SMA umum yang sudah berkoordinasi dengan pesantren ini di Tangerang untuk bisa beradaptasi sekaligus membuktikan bahwa mereka masih bisa menjadi santri terbaik meski berada di luar lingkungan pondok. Siapa yang bisa membuktikan kemampuannya untuk tetap menjadi yang terbaik, dialah yang akan dikirim ke Jerman.”



“Apa?!”



Seruan itu begitu spontan terdengar, mengejutkan semua orang. Asha menoleh ke sumber suara itu berasal; Khalda. Kalau tadi dia begitu tenang bagai air sungai tanpa gelombang, kini mendadak dia seperti ombak yang disapu badai. Khalda terbelalak seraya menegakkan tubuhnya. Jari-jemarinya menutupi mulutnya.



Selagi Asha bengong memperhatikan reaksi Khalda, Ustazah Heni tiba-tiba angkat suara. “Kamu keberatan, Khalda?”



Tak ada jawaban dari bibir Khalda, tapi tangannya yang gemetar memegang erat tangan ibunya.



“Apa tidak ada cara lain, Ummi?” protes ayah Khalda yang merasa kasihan melihat reaksi ketakutan anaknya.

__ADS_1



“Maaf Pak, kami sudah memikirkan matang-matang keputusan ini. Tetapi kami tidak memaksakan santri jika keberatan.”



“Bagaimana, Sayang? Kamu bersedia?” tanya ayah Khalda, tapi tampaknya Khalda hanya diam menunduk sambil terus menggenggam jemari ibunya.



“Ujian ini dimaksud untuk adaptasi santri agar tidak gagap pada saat berinteraksi dengan dunia luar. Pintar di dalam pondok, jelas mereka telah teruji, tapi sanggupkah mereka mempertahankan nilai-nilai akidah mereka di tengah pergaulan yang tidak terhijab? Itulah sesungguhnya tujuan dari ujian ini,” Ustazah Heni menjelaskan dengan lemah lembut. ”Percayalah, mereka tetap di bawah kontrol yayasan. Karena kami tidak akan melepaskan santriwati kami begitu saja tanpa jaminan perlindungan bagi mereka.”



Khalda masih tampak kaget. Wajahnya terus menunduk menekuri lantai. Sementara Asha menatap mamanya yang tersenyum sambil mengangguk seolah menyetujui begitu saja tata cara ujian aneh itu.



“Kami sudah memilih sekolah swasta yang akan menja di tempat belajar sementara mereka. Yaitu SMA Pancasila di Tangerang. Kebetulan tak jauh dari rumah Asha. Jadi kami juga akan menitipkan Khalda di rumah Bu Syifa, ibunda Asha. Beliau sudah menyutujui hal ini. Bukankah begitu, Bu?” Ustazah Nurul mengangguk ramah pada mama Asha dan dibalas anggukan serupa. Sementara Asha hanya terbengong-bengong melihat interaksi mereka.



“Bagaimana Khalda?” tanya Ustazah Nurul lagi.



“Khalda, ini adalah kesempatan emas untuk tiket menuju Jerman. Apa kamu lebih memilih melepaskannya?” desak Ustazah Wina.



Kedua orangtua Khalda sama-sama menatap penuh harap pada putri mereka. Lalu perlahan-lahan Khalda mengangguk pasrah.



“Kamu yakin, Sayang?” tanya ayahnya ragu.



“Ya, Ayah, Khalda bersedia,” jawab Khalda lemah.



Terdengar desahan lega di sana-sini, dan secara spontan seluruh tamu yang hadir bertepuk tangan.



“Alhamdulillah, kita telah mencapai kata sepakat. Selamat berjuang untuk para calon jawara kita. Semoga kalian berdua bisa menjadi duta muslimah yang baik dari Siti Fatimah.”



Seluruh orang berseru “Aamiin” berbarengan. Sementara itu, Asha hanya bisa termangu-mangu tak berdaya. Tiba-tiba saja semua ini sudah tercetus kata sepakat, memangnya mereka semua yakin kalau dia juga mau?



***



“HARUS maulah! Kamu harus kalahin dia, Sha!” Fitri mengompori dengan semangat berapi-api.



Asha masih membenahi lemarinya. Memasukkan satu per satu barang-barang yang tidak akan dibawanya ke Tangerang ke dalam lemari dan menguncinya. Setelah itu, sambil menenteng ranselnya dan mengempit boneka minion besar, Asha melangkah keluar kamar dan Fitri berusaha mensejajari langkahnya.



“Jadi, Khalda bakalan tinggal di rumah kamu? Kalian, kan, saingan. Yakin nggak akan berantem?”



“Saingan apaan sih? Khalda kan temen kita juga, dia sangat baik sama aku. Aku seneng banget dia bakal tinggal di rumah, jadi kan aku punya sodara.”



“Tapi dia bakal merebut jatah kamu ke Jerman!”



“Kalo dia mau, beasiswa itu buat dia aja,” ujar Asha enteng sambil memeluk erat minionnya. “Aku udah cukup seneng dengan adanya dia di rumah. Kamu nggak tahu sih penderitaan anak tunggal kayak gimana. Sepi banget, tahu!”



“Tapi Jerman, Sha, Jermaaaan...!” teriak Fitri lebay.



Asha menghela napas berat. “Plis deh, Fit, jangan liat Jermannya dulu. Ini semester depan nasib aku gimana? Dikira aku nggak stres apa, mendadak harus pindah ke SMA umum? Dan kamu lihat tadi, nggak seorang ustazah pun yang nanyain apakah aku keberatan atau nggak. Cuma Khalda yang ditanya!”



“Mungkin dikiranya kamu udah sepakat kali,” celetuk Fitri. Kemudian tiba-tiba dia menggamit lengan Asha dengan akrab. “Sha, tuh mama kamu nungguin di gazebo.”



Asha melihat ke arah yang ditunjuk Fitri, ke sebuah saungsaungan luas di tengah taman tempat para santri biasa belajar bersama atau saling mempraktikkan bahasa asing. Mamanya sedang duduk sambil menekuni androidnya. Pasti sibuk chatting dengan klien bisnisnya. Asha segera menghampiri mamanya, sementara Fitri mendatangi keluarga Raisera yang duduk di gazebo lain.



Mama mengangkat wajah. “Sudah siap?”



Asha mengangguk, tapi masih memperlihatkan wajah cemberut.



“Kok manyun?”



“Mama sih main rahasia-rahasiaan segala sama Asha. Pasti Mama udah tahu kan rencana pindahin Asha ke sekolah umum?”



Kali ini Mama menutup androidnya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ditatapnya wajah putri semata wayangnya itu lekat-lekat. “Ustazah Nurul menghubungi Mama semalam dan meminta kesediaan Mama. Masa sih Mama tolak?”



“Kok nggak tanya Asha dulu?”



“Emang harus?”



Asha memelotot. “Iyalah, Maaa...! Yang bakalan ngejalaninya kan Asha! Mama nggak tanya Asha mau apa nggak? Semua ustazah nggak ada yang nanyain Asha pula!”



Mama tertawa, kemudian mencubit pipi Asha, membuatnya mengaduh sambil ngomel-ngomel.



“Udahlah nggak usah drama! Mama tahu kamu seneng, kamu kan selalu pengin jauh dari Mama. Mana mungkin kamu menolak beasiswa ke Jerman. Ayo kita pulang, pamit dulu ke semua ustazahmu dan juga ke teman-temanmu. Kamu bakalan lama nggak akan menginjak pondok ini, nanti pasti kangen.”

__ADS_1



Kemudian Mama bangkit seraya mengibaskan gamisnya dan berjalan meninggalkan gazebo, dengan diikuti Asha yang masih memasang wajah masam.


__ADS_2