
Islam mengatur adab pergaulan antara perempuan dan laki-laki dengan begitu mengesankan. Menjadi dan melindungi kaum perempuan agar terhindar dari bencana, serta mengajarkan para laki-laki agar mampu menahan diri. Mengapa Allah mewajibkan putri-putri keturunan Hawa untuk menutup aurat dan mengulurkan jilbabnya, seperti yang tertera dalam surat Al-Ahzab? Mengapa Dia seolah membatasi perempuan dalam memilih gaya fashion-nya sendiri? Bukannya mode dan gaya berpakaian juga salah satu karuniaNya, rahmatan lil alamin?
Karena bisa jadi engkau menyukai sesuatu, padahal Allah tahu itu tidak baik untukmu. Dan bisa jadi, kau membenci sesuatu, padahal Allah tahu itu yang terbaik untukmu. Ada rahasia Allah yang terkandung di dalam setiap wahyu-Nya. Yang akan membawa keselamatan bagi siapa pun yang menaati-Nya.” Khalda membaca makalahnya sendiri dengan suara keras, lalu diam sejenak. Dia kembali mengoreksi beberapa kata, lalu dia berpaling pada Asha yang duduk di sampingnya, berharap Asha sedang menyimak naskah yang dia buat sendiri untuk blog pribadinya. Tapi Asha kelihatan sedang serius menyimak koran. Dengan kecewa Khalda kembali menekuni laptopnya.
Asha melipat koran yang baru saja dibacanya. Wajahnya memucat. Dia baru saja membaca berita-berita kriminal. Dan akibatnya dia sukses ditampar phobia yang membuatnya gemetaran. Di sodorkannya koran itu ke atas laptop Khalda. “Baca deh, ini!”
Khalda semula ingin mengeluhkan sikap temannya, tapi tidak jadi. Dengan menurut, dia membaca berita yang ditunjuk Asha. Tak lama kemudian dia memekik beristigfar.
“Apa aku bilang, Sha? Anak SD aja bisa jadi korban pelecehan. Anak laki-laki, pula. Padahal itu terjadi di tengah lingkungan sekolah internasional yang bergengsi. Dunia sekarang udah mengerikan. Manusia udah nggak ada urat malunya, udah nggak bisa berpikir jernih menyaring nafsunya,” ujar Khalda dengan suara rendah yang sangat perlahan.
Asha menggigit bibir, tambah miris mendengar ceramah Khalda yang membuatnya merinding.
“Kamu udah baca juga koran kemarin yang memuat berita tentang siswi SMP yang ketahuan menggugurkan kandungan di toilet sebuah mal?”
“Udah sih, tapi pliiis nggak usah bahas, ya. Aku nggak mau baca berita seperti itu lagi sampe kapan pun!” Asha bergidik.
Khalda mencondongkan badannya ke arah Asha. Tatapannya tajam mengintimidasi. “Berita-berita semacam ini nggak bisa dihindari hanya dengan menutup mata atau berhenti langganan koran dan menjual televisi, Asha!”
“Oh bener juga, bisa lewat internet ya? Aku nggak akan langganan internet, nggak akan mengaktifkan paket data di handphone, dan hidup sejahtera tanpa internet! Kalau kita menghindari berita seperti itu, maka hidup kita akan baik-baik saja. Dunia akan damai-damai aja. ”
Khalda sekarang mencibir. “Aneh banget kata-kata semacam itu diucapkan oleh seseorang yang ahli menghitung jarak bintang.”
Asha melemparkan tubuhnya di sandaran kursi makan. “Mungkin aku lelah. ”
“Kurang vitamin A. Al-quran. Kapan terakhir kamu mengaji?”
“Hei, aku kan lagi halangan. Kemungkinan besok baru selesai!”
“Itu bukan alasan!” Khalda memelotot tajam. “Asha, kamu bahkan nggak bisa menghindar dari godaan cowok di sekolah. Bagaimana kamu bisa pura-pura nggak melihat bahwa setan ada di mana-mana?”
“Yang setan itu cewek-cewek centil di gerbang sekolah. Mereka setan banget kan? Apa maksudnya ngancam-ngancam aku?” gerutu Asha.
“Astagfirullah, kok kamu segampang itu menyebut mereka setan? Memangnya kamu udah lebih baik dari mereka? Mereka begitu kan karena kamu terlalu gampangan meladeni cowok mereka!”
Asha terkejut mendengar penghakiman sepihak Khalda. Dia lalu menegakkan tubuhnya. Menatap Khalda lurus-lurus dengan tatapan tak percaya dan bibir sedikit ternganga. “Kok kamu tega sih ngomong gitu ke aku? Apa tadi siang kamu liat sendiri aku meladeni cowok itu? Apa kamu liat aku keganjenan jalan bareng sama dia? Apa kamu nggak liat kalo aku sampe ngumpet sana-sini, lari sana-sini, demi menghindari dia?”
Khalda tergeragap, tampak menyesal sudah membuat Asha marah. “Sha, bukan gitu maksud aku. ”
“Kalo gitu jelasin maksud kamu nyebut aku gampangan! Kamu bilang aku nggak boleh gampang menyebut kelompok Paulin setan, tapi dengan gampangnya kamu nuduh aku cewek amoral!”
“Maafin aku, Sha, aku nggak bermaksud begitu. ”
“Makanya mikir dulu kalo ngomong!” Asha bangkit dengan gerakan mengentak, kemudian berlalu meninggalkan Khalda sendiri di ruang makan, masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
Khalda termenung sendirian sambil menggigit bibirnya dan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja makan.
“Ada apaan sih? Kok rame banget.”
Khalda terkejut mendengar teguran Mama Asha. Dia langsung membenahi koran sore yang berantakan di atas meja, lalu menutup layar laptopnya. “Nggak ada apa-apa, Tante. Asha cuma lagi kena serangan sakit perut aja gara-gara menstruasi.”
Mama menarik kursi di sebelah kursi Khalda, kemudian duduk dengan santainya sambil mencomot sepotong donat di atas piring. “Tante dengar semua obrolan kalian, kok. Rupanya kalian mengalami saat-saat sulit di sekolah.”
Khalda tak menjawab. Ternyata Mama Asha mendengar semuanya, jadi seharusnya nggak perlu nanya dan Khalda tak perlu juga menjelaskan ulang. Dia menunduk. Dibiarkannya waktu berlalu beberapa saat.
“Sekolah itu nggak selamanya menyenangkan, Khalda. Kalian yang terbiasa dengan pondok pesantren putri selama bertahun-tahun, pasti merasa sangat kesulitan menghadapi hari ini.”
Tiba-tiba Khalda merasa sangat sedih, merasa begitu bodoh sudah menyakiti Asha, sedangkan Asha adalah satu-satunya teman yang paling dekat dengannya saat ini dan memungkinkan dia bisa bertahan menghadapi apa pun. Matanya berkacakaca ketika tatapan Mama yang lembut membelai wajahnya.
“Tante, Khalda sudah menyakiti Asha. ”
Mama mengerutkan kening. “Memangnya apa yang kamu lakukan?”
“Khalda menyebut Asha gampangan hanya karena Asha mau diajak kenalan seorang cowok kelas sebelah yang kelihatannya suka sama Asha. Maafin Khalda, Tante. ” Kini Khalda tak kuasa menahan air mata yang jatuh ke pipinya.
Bukannya marah karena anaknya dikatain gampangan, Mama Asha malah mengusap lembut kepala Khalda dan menghapus air mata di pipinya. “Jangan minta maaf sama Tante, cobalah nanti minta maaf lagi sama Asha. Asha itu anaknya pelupa, sebentar saja dia akan melupakan rasa marahnya.”
__ADS_1
“Nggak seharusnya Khalda bersikap kasar sama Asha, karena Asha pasti lebih sulit menghadapi situasi di sekolah tadi, Tante.”
Mama menghela napas, lalu tersenyum bijak. “Khalda, siapa sih di dunia ini orang yang nggak pernah berbuat salah? Tapi yang salah itu masih bisa diperbaiki, kan? Percayalah, besok juga kalian pasti sudah baikan lagi. Sekarang Khalda tidur saja, istirahat, biar pikiran kembali jernih. Biasanya kalian kan bangun jam tiga pagi untuk belajar?”
Khalda akhirnya menurut, dia menghapus sisa-sisa air matanya, kemudian berdiri pamitan ke kamarnya.
***
KEBIASAAN di pondok adalah tidur cepat seusai salat isya, maksimal jam sembilan malam, kemudian dibangunkan kembali pada pukul tiga pagi. Seusai masing-masing santri melaksanakan salat tahajud, biasanya santri berkumpul di kamar mereka untuk belajar bersama, mengerjakan PR, membaca dan menghafal kembali ayat suci sampai tiba waktunya salat subuh. Barulah mereka berbondong-bondong ke masjid untuk salat subuh berjemaah dan mendengarkan khotbah sampai pukul setengah enam pagi. Setelah itu dilanjutkan dengan senam pagi dan kerja bakti membersihkan kamar, halaman sekolah dan ruangan-ruangan kelas. Kemudian mandi bergantian dan siapsiap menjemput ilmu di kelas masing-masing hingga siang hari.
Pagi ini, Asha merasa seolah dibangunkan oleh Fitri, sahabatnya yang di alam nyata mungkin sedang ramai-ramai tadarusan bersama teman-teman sekamar masing-masing. Dia terbangun, dan sadar kalau Fitri hanya membangunkannya dalam mimpi. Dia tidak sedang tidur di pondok, tapi ada di kamarnya sendiri yang nyaman dan sejuk oleh pendingin udara. Asha melihat jam weker Mickey Mouse di meja, dan ternyata tepat pukul tiga pagi. Kalau kemarin dia merasa malas bangun, sekarang mendadak semangatnya muncul. Asha beranjak menuju kamar mandi pribadinya untuk mencuci muka dan buang air kecil, lalu menggosok giginya. Beberapa menit kemudian, dia sudah berkutat dengan buku pelajaran.
Besok ada pelajaran matematika dan kimia.
Tiba-tiba Asha tertegun karena teringat sesuatu. Lalu dengan gerakan cepat dia berjalan tanpa suara keluar kamarnya, dan berhenti di depan kamar Khalda yang pintunya sedikit terbuka. Kamar itu terang benderang, dan terlihat Khalda sedang menunduk tekun di meja belajarnya. Tangannya sibuk mencoret-coret beragam rumus matematika.
“Kalau besok kamu juga unggul dalam matematika dan kimia, maka lebih baik aku pulang ke pondok aja. Udah nggak ada gunanya aku meneruskan kompetisi ini.”
Kata-kata Khalda siang kemarin terngiang di telinga Asha. Dia disergap perasaan bimbang, tak ingin Khalda kembali ke pondok dan membiarkannya sendirian di SMA Pancasila. Bagaimanapun, dia membutuhkan Khalda, satu-satunya teman yang bisa menguatkan semangatnya.
Lalu perlahan-lahan, tanpa suara seperti saat dia beranjak menuju tempat ini, dia kembali ke kamarnya. Mengemasi semua buku-bukunya ke dalam tas, kemudian mematikan lampu dan berbaring di balik selimutnya.
***
HARI kedua sekolah tentu nggak akan seburuk hari pertama. Bismillah, dan semua akan baik-baik saja. Itulah yang Asha sugestikan dalam pikirannya sepanjang perjalanan yang panjang dan menyiksa, karena baik Asha maupun Khalda, tak satu pun yang bersuara. Asha sibuk dengan pikirannya sendiri yang mengembara keluar jendela kaca mobil, sementara Khalda menekuri buku pelajaran sastra Indonesia-nya. Untunglah kesibukan Mama menerima telepon dari kolega bisnisnya selama menyetir mobil, sedikit membantu mengurangi kebekuan.
“Kalian mau dijemput jam berapa?” tanya Mama begitu Asha dan Khalda turun di depan pintu gerbang.
Asha menatap mamanya heran. “Sama kayak kemaren, Ma.”
“Mama nggak bisa jemput jam satu siang karena ada meeting di Horison. Gimana kalo kalian pulangnya naik angkot aja?”
Khalda tampak mengernyit khawatir, tapi Asha buru-buru menyahut. “Nggak apa-apa, Ma. Jangan khawatir, kita bisa pulang naik angkot!”
“Masih sama kok, Ma. Tapi denger-denger tarifnya aja yang sekarang beda. Satu penumpang bayarnya seratus ribu katanya, Ma. Gimana? Ongkosnya mau dikasih sekarang apa mau ditransferin aja ke rekening Asha?”
Senyum Mama langsung lenyap. Dia memalingkan wajah yang sekarang menatap lurus ke depan dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. “Nanti Mama transferin deh, kalo deket lebaran. Kalo ada apa-apa SMS aja, ya. Assalammualaikum. ”
Sebelum Asha kembali protes, Mama segera melarikan mobilnya meninggalkan Asha dan Khalda di depan pintu gerbang. Asha melirik Khalda, yang ternyata sedang senyum-senyum geli melihat adegan Asha dan mamanya tadi. Mau tak mau Asha ikut tersenyum. Lalu secara ajaib kebekuan di antara mereka pun mencair. Dengan langkah ringan, keduanya berjalan bersisian memasuki halaman sekolah.
“Pelajaran pertama matematika. Wuuush...! Pagi-pagi udah dibikin stres, dong!” cetus Asha mencoba bercanda.
“Semalam aku bangun dari jam satu untuk mengulang semua rumus, lumayan cape sih. Kamu nggak belajar?”
“Mmm, aku ketiduran. ” Asha menjawab gamang karena
terpaksa berbohong.
“Bilang aja kamu sengaja nggak belajar. Kamu ingin aku unggul dalam matematika,” sindir Khalda tiba-tiba, membuat Asha terperanjat. Khalda tersenyum lembut. “Sha, aku nggak akan ninggalin kamu maupun sekolah ini sebelum masa percobaan kita ini selesai. Jadi nggak usah khawatir, apalagi sampe nggak mau belajar. Kita bakal terus sama-sama sampe semester ini berakhir.”
Kata-kata Khalda membuat Asha tak bisa menyembunyikan kelegaannya. “Benaran, Da?”
“Iya, beneran. Insyaallah aku akan tetap di sini sampai waktu kita selesai.”
“Kamu nggak parno lagi?”
Khalda menggeleng tegas. “Nggak, Sha. Karena semalam aku udah memikirkan rencana yang ingin aku buat di sini, untuk melindungi kita dari pergaulan yang nggak sehat, sekaligus bikin kita bisa survive di sini.”
“Rencana apa?”
“You’ll see, soon.”
Asha mengangguk-angguk ragu. “Oke, kita lihat nanti apakah rencanamu itu bisa berjalan. Can’t hardly wait to know.”
__ADS_1
Mereka terus berjalan menembus pagi yang cerah dengan sinar matahari berwarna kuning yang menyapu lapangan basket. Sudah hampir pukul tujuh, sebentar lagi lonceng tanda masuk berbunyi. Tapi sudut-sudut halaman sekolah masih dipenuhi siswa-siswi yang enggan segera masuk kelas. Mereka berdiri berkelompok-kelompok sambil memperbincangkan sesuatu yang tampaknya sangat seru. Di pinggir lapangan basket, depan mading, di bawah kanopi pohon akasia, trotoar depan kelas, semua ribut membicarakan satu pokok bahasan yang sama. Di tangan masing-masing tergenggam sebuah kartu undangan cantik berwarna pink dengan pita perak mengilat. Tampak mencolok diterpa sinar matahari pagi.
Bahkan di depan pintu kelas, Asha dan Khalda diadang kelompok Susanto dan kawan-kawan lainnya, yang masing-masing membawa kartu yang sama.
“Ada apa, sih?” tanya Asha penasaran pada Susanto sambil berusaha mengintip kartunya. Tapi Susanto mengelak dan menyembunyikan kartu di belakang punggungnya.
“Kepo banget, siiiih...,” ledeknya sambil melemparkan kepala ke samping.
“Kalau nggak boleh tahu ya udah, tapi tolong minggir ya, aku mau masuk,” gerutu Asha.
“Mana assalammualaikumnya?” ledek Susanto.
“Assalammualaikum,” balas Khalda tenang. Tapi Asha hanya mengangkat bahu enggan.
“Waalaikum salaam, Bu Hajah. Silakan masuuuk.” Susanto mencandai Khalda sambil menyilakan masuk dengan membungkukkan badannya. Dengan tenang Khalda masuk kelas, tanpa bicara sepatah kata pun lagi. Asha mengekorinya, masih penasaran dan terus melirik ke arah teman-temannya.
“Ini akan jadi pesta terhebat sepanjang masa!”
Asha mendengar Julia berkomentar pada Wahyu dan Naira. Mereka bertiga memasuki kelas, dan duduk di bangku deretan sebelah bangku Asha. Mau tak mau, Asha bisa mendengar obrolan mereka.
“Kalau Paulin bikin pesta pasti dijamin meriah, apalagi ini pesta ultahnya. Pesta ultah pembokatnya aja dia buatin semeriah mungkin,” komentar Wahyu.
Asha bertukar pandang dengan Khalda.
“Acaranya di hotel berbintang. MCnya Raffi Ahmad sama Ayu Dewi. Bintang tamunya Tulus. Buset nggak sih, guys?!” seru Julia lagi dengan gaya panik yang lebay.
“Seisi sekolah diundang, lho. Tamunya bisa mencapai tiga ratusan orang!” timpal Naira, cewek tomboy sahabat setia Julia, tak kalah semangatnya.
“Ya ampuuun,” Julia memegangi kedua pipinya. “Acaranya Sabtu malam, empat hari lagi! Gue mesti pake baju apaaa?”
Sebelum ada yang menjawab keluhan lebay Julia, Susanto masuk ke dalam kelas bersama Chika dan Ami. Cowok genit itu langsung menyambar obrolan mereka.
“Juuul, lo mah enak mau beli gaun pesta tinggal nodong ortu. Lah eyke? Cuma bisa berharap dibuatin gaun istimewa sama tikus-tikus baik hati yang tinggal di loteng rumah eykeee,” ratapnya sambil duduk di lantai.
“Eh, sadar, Nyong! Lu tuh cowok! Masa mau pake gaun?” cetus Julia jutek.
“Ih, biariiin. Kenape? Lu takut kesaing?” balas Susanto galak.
Ami dan Chika menghampiri meja Asha, kemudian Ami menyodorkan dua buah kartu undangan. “Kalian juga diundang.”
“Siapa yang ulang tahun?” tanya Khalda keheranan.
“Paulin. Cewek yang kemaren mengadang kalian di pintu gerbang.”
“Seisi sekolah diundang, termasuk kalian,” ujar Chika.
Asha mengerutkan keningnya, tiba-tiba ingat pada obrolan
Paulin dan teman-temannya di dekat koperasi sekolah yang samar-samar didengarnya kemarin. Rupanya mereka sangat cepat merencanakan pestanya. Asha menerima kartu pemberian Ami, lalu mengamatinya dengan saksama. “Nggak ada namaku?”
“Paulin membagikan setiap anak satu undangan sebagai tiket masuk, dia nggak mau repot-repot nulisin nama kita,” jawab Ami.
Khalda tertawa pelan. “Ini nggak bisa disebut undangan.”
“Tapi kalian mau dateng, kan? Paulin anak pejabat eselon tertinggi, pemilik beberapa perusahaan raksasa, dan ibunya seorang mantan artis yang sekarang jadi wakil rakyat. Pestanya pasti dijamin meriah banget!”
Sekali lagi Asha dan Khalda saling berpandangan.
“Kita nggak bisa janji mau datang,” gumam Khalda.
“Aku nggak pernah datang ke pesta seperti itu,” timpal Asha. “Nggak tahu juga mesti pake baju apa, atau bawa kado apa. Mau datengnya juga nggak enak, nggak terlalu kenal.”
“Dateng aja bareng-bareng, lumayan buat refreshing nonton Tulus,” bujuk Ami.
__ADS_1
Sebelum obrolan mengenai kemungkinan Khalda dan Asha datang ke pesta Paulin itu berlanjut, lonceng masuk berdentang nyaring. Mau tak mau, semua pembicaraan tentang pesta dahsyat itu harus diakhiri. Apalagi guru matematika yang menurut Ami supergalak itu mulai masuk kelas.