HIJAB FOR SISTERS

HIJAB FOR SISTERS
Episode 11


__ADS_3

SUDAH hari Jumat! Asha cukup lega karena merasa berhasil melewati lima hari pertama di SMA Pancasila tanpa suatu kendala apa pun, kecuali...,



Darah seketika naik ke wajah Asha. Jantungnya berdegup lebih cepat. Meski otaknya menyuruh badannya untuk bergegas mempercepat langkah, tapi entah kenapa kakinya tak mau kompromi. Lunglai gugup tak bergerak. Asha mendadak mematung di depan pintu toilet yang baru saja ditinggalkannya, kaku tak berdaya di depan sosok jangkung yang begitu memesona.



“Hai, Asha. ”



Aidan!



Kenapa harus ketemu sekarang, di sini, dan saat dia tengah sendirian?



Memangnya kamu mau ketemu dia di tempat lain, Sha?



Nggak kan? rutuknya.



Atau kenapa harus ada makhluk ciptaan Allah yang menyebalkan seperti dia?



Asha tak punya alasan untuk lari. Dia hanya mengangguk sopan sebagai jawaban sapaan Aidan, lalu menunduk dan meneguhkan hati untuk segera melangkah pergi. Pelan-pelan Asha beranjak menjauh. Sementara Aidan terus memandanginya sampai Asha menghilang di belokan menuju kelasnya.



Tentang Aidan, Asha ingat coretan yang tak sengaja dibuatnya di atas sehelai kertas ketika dia ditelepon Fitri. Sambil ngobrol atau nelepon, Asha memang terkadang tak sengaja mencoret-coret kertas. Tapi kenapa harus nama Aidan yang ditulisnya? Such damn crazy!



Asha kembali masuk ke kelasnya. Masih pelajaran bahasa Inggris. Dia langsung duduk manis di sebelah Khalda setelah mengucapkan terima kasih kepada Miss Linda yang sudah mengizinkannya ke toilet. Lalu dia berusaha konsen ke pelajaran lagi.



“Gimana pertemuannya?” bisik Khalda tiba-tiba.



Asha terperanjat. Wajahnya seketika memucat. Bagaimana Khalda tahu kalau dia baru ketemuan sama Aidan?



“Ke... ketemuan...? Nggak kok ... tadi kan cuma kebetulan aja. ”



Khalda sejenak bengong, heran dengan jawaban nggak nyambung Asha dan ekspresi gugup yang seketika diperlihatkannya. “Pertemuan, Sha, bukan ketemuan!”



“Apa? Pertemuan apa?”



“Pertemuan dengan anak rohis besok sepulang sekolah.



Gimana? Kita jadi ikut hadir, kan?”



Pelan-pelan kecemasan memudar dari wajah Asha. Asha langsung merasa lega. “Oooh, pertemuan itu? Iya dooong, kita harus hadir. Harus itu. Harus.”



Khalda menyembunyikan senyumnya. “Memangnya kamu pikir tadi apa? Kok jadinya lari ke ketemuan sih? Ketemuan sama siapa?”



Asha menyeringai. “Nggak kok, tadi salah denger aja.”



Untunglah suara Miss Linda yang melengking menyuruh membuat short conversation langsung menghentikan rasa penasaran Khalda. Karena kalau sampai dia terus mengorek soal “ketemuan” tadi dan akhirnya tahu Asha baru saja ketemu Aidan secara tak sengaja, kemungkinan dia bakal ceramah terus sampai bel pulang sekolah berbunyi.



***



“SAN, kamu mau ke mana? Pake peci segala tumben?” tanya Asha demi melihat Susanto mengenakan peci putih macam Pak Haji seusai bel pulang berbunyi.



“Jumatan dong, Neeek! Emang lo pikir eyke mau kondangan?” gerutu Susanto sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sehelai sarung.



“Alhamdulillah, masih insaf juga ternyata kamu, San.” Khalda berkomentar.

__ADS_1



“Eh, dikira eyke kafir kali ya dibilang insaf segala!” gerutu Susanto sambil menyabetkan sarungnya ke arah Asha. “Nenek eyke bilang, cowok yang salat Jumat, kadar kegantengannya bakalan naik tujuh puluh kali lipat!”



“Itu sih bukan nenek lo yang ngomong, tapi kata orang di beranda Facebook!” ledek Ami ikutan nimbrung.



“Masalah buat lo? Nenek eyke kan nge-share link-nya!” Susanto cemberut.



Ami tertawa ngakak. “Emang lo ngerasa cowok? Ih, aneh deh suka nggak konsisten, kadang merasa diri cewek, kadang cowok. Galau banget sih hidup lo!”



“Biarin, iiih. Hidup-hidup eyke! Emang lo yang nyeponsorin?” Susanto melengos sambil menenteng sarung dan tasnya, berlalu keluar kelas diiringi suara cekikikan Asha dan Chika, serta tawa lepas Ami yang terbahak-bahak.



“Ssst, Ami, kalau ketawa jangan lebar-lebar. Sesungguhnya setan merasa menang di saat kita tertawa lebar, dan saat itulah malaikat juga menjauhi kita,” tegur Khalda tiba-tiba.



Ami spontan menekap mulutnya. ”Ups, sori. ”



“Astaghfirullah,” ralat Khalda.



“Astaghfirullah,” Ami mengikuti Khalda, kemudian mengganti tawanya dengan senyum. “Kadang kita emang suka nggak sadar ya kalau ada sesuatu yang lucu, suka sampe ketawa guling-guling.”



“Iya, tanpa kita sadar kalau kita sudah dibawah kuasa setan,” timpal Khalda.



Ami langsung merogoh tasnya, kemudian sambil berjalan bersama-sama keluar kelas, Ami memencet-mencet keypad-handphone-nya.



“Mi, umpetin HP lo, jangan sampe ketahuan lo punya HP android bagus. Kena razia lo!” tegur Chika sirik melihat android mahal keluaran terbaru di tangan Ami.



“Ah, sirik aja lo. Sekarang kan Jumat, hari bebas razia!” dalih Ami sambil terus rajin mengetik.




“Lagi ngapain, sih?” Asha kepo mengintip-intip android Ami.



Bukannya menjauhkan handphone-nya, Ami malah mendekatkannya ke arah Asha. “Gue lagi update status di FB. Nih baca. ‘Kita sering kali nggak nyadar, kalau kita sedang asik ketawa sampe guling-guling, sebenarnya kita sedang berada di bawah tipu daya setan’. Keren nggak bahasa gue?”



“Buseeet, mantap juragan!” seru Asha kagum.



“Tuh, udah lima aja yang nge-like. Pasti likers-nya mencapai dua ratusan nih.”



“Masa?” Asha tercengang.



“Mimpi!” cibir Chika.



“Eh, berani taruhan?” tantang Ami.



“Hus! Taruhan itu haram!” tegur Khalda.



“Taruhan bohongan, Da,” sungut Ami, agak kesal ditegur terus sama Khalda, kemudian menoleh kembali pada Asha. “Lo punya Facebook nggak? Twitter? Instagram? Line? WhatsApp?”



Asha menggaruk-garuk hidungnya. Sejujurnya dia sangat jarang membuka jejaring sosial di internet, karena di pondok, internet hanya diperbolehkan untuk browsing mata pelajaran, itu pun bergiliran pakai di perpustakaan. Kebiasaan itu membuat Asha malas mempunyai akun di jejaring sosial. “Cuma Facebook sih, yang lain aku nggak punya. Ntar deh aku coba beli. Yang second aja biar murah,” guraunya.



Chika dan Ami tergelak-gelak, tapi kemudian spontan keduanya menekap mulut sambil istighfar. “Tuh kan lupa lagi,” ucap mereka kompakan.



Chika kembali terkikik. “Lagian lo pikir HP, beli second?

__ADS_1



Tinggal bikin akun aja!”



“Abis Facebook aja jarang dibuka. Twitter males, nggak bersahabat. Aku kalau buka internet di pondok kan dibatasi penggunaannya di perpustakaan, nggak disediakan wifi bebas. Makanya punya laptop juga cukup buat ngetik tugas aja atau seperti Khalda tuh, rajin mengisi blog pribadinya khusus untuk dakwah. Modem dilarang, HP dilarang. Sesekali aja ke warnet kalau hari libur dan boleh kunjungan keluar.”



Ami menatap Asha dengan tatapan penuh rasa prihatin. “Segitunya? Hidup macam apa yang kalian jalani di sana?”



“Kehidupan yang menyenangkan dan lebih baik daripada di sini,” sela Khalda membela almamater.



“Kalo gue, mungkin udah kabur,” desis Ami.



“Yang ngabur juga ada kok, karena nggak setiap orang bisa menerima aturannya. Tapi kalau sudah menikmati ritme kehidupan yang nyaman di sana, justru penginnya selalu kembali ke sana,” ujar Asha sambil menerawangkan matanya ke awanawan yang berarak di langit luas. Membayangkan jam-jam segini di pondok, saat bersama-sama tilawah mengkaji ayatayat suci di masjid pesantren sembari menunggu bedug zuhur. Dengung suara santriwati mengaji, warna-warni dan ragam mukena yang mereka kenakan, nyaring suara para ustazah yang berceramah, bahkan kilas kebetan kertas Al-quran, semua terasa khas, terasa begitu ngangenin, terasa seakan sudah ditinggalkannya bertahun-tahun lamanya.



“Kalo gitu, nanti gue add FB lo, Sha,” ucapan Ami mengembalikan alam khayal Asha. “Liat nih, hari Jumat pasti banyak status orang tentang kegantengan yang meningkat seratus persen bagi yang salat Jumat. Konyol, ya? Apa hubungannya coba?”



“Tapi emang beda lho kesannya lihat cowok yang bawa sarung dan pakai peci terus ke masjid, dibanding liat mereka di waktu yang biasa. Kesannya lebih keluar gitu auranya,” ujar Chika. “Lihat aja Susanto tadi. Ngondeknya hilang total kalo ke masjid!”



“Salat Jumat nggak ada hubungannya sama kadar kegantengan seseorang,” kilah Khalda.



“Ada kok, tuh buktinya, liat deh!” bisik Ami seraya mengedikkan dagunya ke arah lapangan basket. Mau nggak mau, semua menoleh ke arah rombongan cowok yang sedang berjalan dengan menyampirkan sarung di pundak mereka dan mengenakan peci beragam jenis di kepala mereka. Cowok-cowok itu berjalan menuju masjid besar yang terletak sekitar seratus meter dari luar pintu gerbang sekolah, di mana selalu digelar salat Jumat.



Dan jantung Asha hampir berhenti berdetak.



Di antara kerumunan itu, menyeruak sosok Aidan. Berjalan tegap dengan peci putih dan sarung hijau di bahunya. Wajahnya begitu bersih seolah tiga kali lebih bercahaya dibandingkan biasanya. Dia berjalan sambil tersenyum dan mengobrol dengan teman-temannya. Asha langsung menunduk, mencoba meredakan gemuruh di dadanya dengan istigfar.



“Yuk cepetan jalannya, nanti kesiangan salat zuhur di rumah,” seru Khalda tiba-tiba sambil mempercepat langkah.



Asha ikut bergegas, berusaha tak terlihat oleh Aidan.



***



RENCANANYA, Jumat sore ini mereka berempat mau ngemal di Summarecon. Jarak Summarecon dari rumah Asha tidak begitu jauh, hanya sepeminuman kopi berikut ngemil sepiring donatnya. Jadi, ya, legal saja kalau Ami dan Chika datang dengan motor matic masing-masing yang unyu-unyu banget warnanya, berencana membonceng Asha dan Khalda ke mal. Tapi sialnya, Mama ada di rumah, dan terang-terangan menentang keras.



“Kalian punya SIM?” tanya Mama sambil menatap tajam satu per satu ke arah Ami dan Chika.



Ami menatap Chika. Chika balas menatap Ami. Asha ketarketir menunggu jawaban mereka.



“Nggak punya, Tante. Belum tujuh belas,” jawab Ami pelan. Chika juga ikut menggeleng.



“Terus kalau nanti ditilang bagaimana?” tanya Mama tampak gusar.



Ami dan Chika tak bisa menjawab. Cuma sanggup menatap penuh permohonan kepada Asha, seolah seketika itu juga Asha bisa mencopot baterai di punggung Mama dan menyimpan Mama dalam dus.



Tapi Asha malah melengos, tak bisa diharapkan pertolongannya.



“Ini bukan masalah ditilangnya, anak-anak. Tapi ini tentang peraturan yang harus kalian taati dengan atau tanpa ketahuan. Peraturan tetap peraturan, dan kita nggak sewajarnya merasa bangga jika sudah berhasil mengelabui peraturan. Ini tentang kedisiplinan, dan hakikat kalian sebagai manusia yang notabene adalah makhluk terbaik dari semua ciptaan Tuhan.”



Bakalan dua hari nih ceramahnya, gerutu Asha dalam hati. Tapi dia dan Khalda tetap berdiri sabar sementara Mama mengomeli Ami dan Chika.



Akhirnya, setelah berabad-abad kemudian, kesepakatan pun diambil. Mama akan mengantar mereka semua ke Mal. Lalu menjemput lagi sesuai waktu yang ditentukan. Mama hanya mengizinkan tiga jam untuk muterin mal. Setelah itu mereka akan dijemput lagi, dan Mama akan mengantarkan Ami dan Chika ke rumah masing-masing dan sekaligus menjemput orangtua atau kakak mereka atau siapa saja orang dewasa yang sudah punya SIM, supaya ikut ke rumah dan mengambil motor matic mereka. Cuma Mama satu-satunya ibu-ibu di dunia ini yang sudi melakukan hal-hal yang rempong maksimal seperti itu.


__ADS_1


Terserah Mama ajalah.... Tampaknya Asha nggak peduli. Sepanjang masih diperbolehkan ngemal, Asha tidak banyak membantah.


__ADS_2