HIJAB FOR SISTERS

HIJAB FOR SISTERS
Episode 6


__ADS_3

MENURUT Asha, masuk SMA Umum di sekolah ini seperti diajak main ke Dufan, terus dipaksa naik ontanganting bersama segerombolan ondel-ondel menyeramkan, lalu dilempar ke laut Jawa dan terdampar di pulau sepi yang banyak ularnya.



Baru tiga jam pertama di kelas, dia sudah membuat sebuah daftar di buku tulis khusus coret-coretannya:



1. Satpam galak: sejauh ini ternyata tidak ada satpam.



2. Ibu guru gendut: alhamdulillah nggak ada juga.



3. Kepsek: kocak tapi agak-agak somplak.



4. Temen sekelas: ada yang ngondek, ada yang tegas berwibawa (KM), ada yang pendiam, usil, jutek, tapi juga banyak yang welcome.



5. Guru-guru: standarlah, belum ada yang istimewa



6. Teman lain kelas: ...........................................................



Sampai sini catatan Asha tidak dilanjutkan. Dia teringat cowok SKSD yang bernama Aidan, lalu sejenak terpikir mencatatkan namanya, tapi rasa-rasanya males banget. Asha nggak mau Aidan jadi tampak begitu penting dengan masuk dalam baris catatan kehidupannya semasa satu semester di SMA.



“Sha, udah jam istirahat pertama nih, kita beli jajanan di kantin, yuk,” ajak Khalda sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Ibu guru matematika mereka baru saja keluar kelas, dan suasana kelas sudah mulai seperti pasar.



“Yuk,” Asha mengangguk, kemudian menutup buku coretannya dan memasukkannya ke dalam tas. Baru saja mereka siap meninggalkan bangku, dua orang cewek teman sekelas mereka mendekat.



“Khalda, Asha, kalian mau ke kantin nggak? Kita bareng, yuk,” ajak Chika ramah. Chika dan Ami memang sepasang sahabat yang paling welcome di kelas ini. Mereka tergolong siswi yang biasa-biasa aja, dalam artian bukan anggota komunitas anak ngetop atau cewek cantik populer seperti Julia yang selalu dikelilingi banyak cowok termasuk Wahyu di kelas ini. Asha bisa membayangkan kalau mereka berdua adalah jenis teman yang sederhana, tapi menyenangkan. Tampaknya akan cukup nyaman berteman dengan mereka. Selain itu, Chika juga berjilbab, mungkin itu yang memudahkan mereka menjadi dekat.



Mereka berempat berjalan meninggalkan kelas. Baru dua langkah sampai depan pintu, tiba-tiba Susanto berteriak nyaring di belakang mereka.



“Ruuuuump...! Eyke ikut doooong...!”



“Cepetan sini, udah laper tahu!” Ami melempar muka masam pada Susanto.



Susanto tergopoh-gopoh menyusul sambil membereskan paparan poni rambutnya yang lurus dan diwarnai kecokelatan. Aneh juga di sekolah ini siswa boleh mengecat rambutnya.



“Biasanya kalo jam istirahat kalian ke mana?” tanya Khalda sambil menoleh ke arah Chika.



“Kantin dong, Ruuum! Masa ke museum siiih,” celetuk Susanto yang nyempil di antara Asha dan Ami. Asha sampai harus menepis tangannya yang spontan mau digandeng Susanto. Susanto menekap mulutnya sendiri. “Ups ... sori Cyin, bukan muhrim ya?”



“Biasanya isi perut dulu di jam istirahat pertama, cari camilan kayak siomay atau bakso. Tapi kalo pas istirahat ke dua kita ke masjid buat salat zuhur berjemaah,” jawab Chika setelah dirasa Susanto tak akan menyela lagi.



“Kalo jam istirahat pertama kita boleh ke masjid?” tanya Khalda lagi.



Chika mengernyit. “Ya boleh, dong. Kapan aja juga boleh.



Memangnya kenapa?”



“Nggak sih, cuma kita terbiasa salat dhuha aja. Jadi kalo nggak dhuha, rasanya tuh ada yang kurang.”



Susanto berdecak kagum. “Buseeeet...! Begini nih contoh ahli surga! Subhanallah!”



“Anak Rohis biasa salat dhuha jam sepuluh, sebelum atau sesudah mereka makan di kantin. Kalau mau, nanti aku kenalin sama Mira, dia cewek Rohis dari sebelas IPS satu yang paling rajin ke masjid di jam-jam kayak sekarang,” ujar Ami mengabaikan ledekan Susanto.



Khalda menatapnya takjub. Nggak menyangka kalau di SMA seperti ini juga ada murid yang sempat mengamalkan salat dhuha. “Wah, boleh banget tuh.”



“Kamu mau salat dhuha sekarang, Da?” tanya Asha. “Kalo mau nanti kuantar, tapi aku kan lagi dapet, nggak masuk masjid dulu ya.”



“Kita makan dulu aja napa, siiih? Kok jadi pada ribut mau ke masjid. Jumatan masih lama, lho!” omel Susanto.



Khalda sekarang menatap Susanto dengan tatapan aneh. “To, kamu tuh nggak punya temen cowok, ya? Kenapa gabung sama kita-kita sih?”



Susanto langsung cemberut. ”Ta, To, Ta, To. Emangnya eyke nama merek kloset Toto?! Dasar besek tahlil, lu! Seenaknya aja kalo manggil orang!”



Khalda tampak terkejut dikata-katai Susanto, kemudian langsung membisu. Ami dan Chika tertawa, sementara Asha cuma senyum-senyum melihat ulah kenes Susanto yang sama sekali tidak menggemaskan. Tapi tiba-tiba senyumnya lenyap ketika mereka melewati segerombolan cowok yang dudukduduk di seputar meja payung depan kantin. Salah satu dari mereka ada Aidan, dan gerombolan cowok itu tengah memperhatikan rombongan Asha dan teman-temannya.



“Hai, Asha!”


__ADS_1


Hal yang paling dikhawatirkan itu terjadi. Aidan melambai ke arahnya sambil memamerkan senyum manisnya yang memesona. Asha langsung merasa gugup dan segera menyembunyikan dirinya di belakang tubuh besar Khalda yang langsung menoleh dengan gusar ke arahnya.



“Kok dia tahu nama kamu, Sha? Siapa sih? Sodara kamu?”



Asha gelagapan. “Eh, bukaan—”



“Iiih, masa sih lo nggak tahu. Nggak update banget, deh!” celetuk Susanto duluan, menjawab sambil mencibir. ”Dia itu kan Aidan, cowok paling cucok di sekolah ini, Jeeeng!”



Khalda langsung menghentikan langkah, dan spontan menyuruh seisi rombongannya menghentikan langkah juga, lalu berbalik membelakangi grupnya Aidan, juga memaksa semuanya berbalik membelakangi grup Aidan.



“Kenapa sih, Da?” tanya Chika heran, meski mau tak mau ikut membalikkan badan.



“Mereka nggak boleh liatin kita kayak gitu,” bisik Khalda cemas.



Asha kebingungan. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana, kecuali mengikuti apa yang diperintahkan Khalda.



“Emangnya kenapose sih nggak boleh ngeliatin kita? Bisa bikin bedak kita luntur gitu?” Susanto berusaha menengok mencuri pandang ke arah Aidan, dan kepalanya langsung dijitak Ami.



“Lo diem dulu napa sih, San?” omel Ami.



“Tapi kan eyke mau tahu kenapose kita harus balik badan gini? Ada-ada aja sih ibu satu ini!” Susanto balas ngomel sambil melirik Khalda, tapi ketika dilihatnya Ami siap menjitaknya lagi, Susanto langsung merepet. “Iye, iye, iyee... bukan muhriiiim!”



Ami tak sanggup menyembunyikan cengirannya. Sementara Chika dan Asha masih mematung berdiri mengikuti perintah Khalda. Beberapa meter di belakang mereka, Aidan dengan kelompok cowok basket sekolah masih mengawasi mereka sambil berbisik-bisik dan tertawa-tawa. Asha merasa mereka pasti heran dengan tingkah laku dia dan teman-temannya yang mendadak terjebak di situasi yang bikin awkward.



“Sebaiknya kita balik aja ke kelas, atau ke masjid aja, daripada kita berdiri begini terus tanpa berbuat apa-apa,” bisiknya.



“Iya cyin, mau sampe magrib begini terus? Kita balik kanan lagi trus ke kantin aja, eyke udah lapeeer...,” keluh Susanto.



Khalda meliriknya tajam, dan Susanto langsung mengkeret bungkam. Chika lalu menengahi.



“Setuju sama Asha. Aku antar ke masjid, ya?”



Khalda mengalah. Mereka sepakat berlalu menjauhi area kantin menuju masjid, kecuali Susanto yang terpaksa harus diseret Ami. Dia berteriak-teriak panik seperti anak SD mau disunat. Ketika Asha dan teman-temannya berjalan pergi tanpa menoleh sekejap pun, terdengar seruan kecewa dari kubu Aidan.




“Huuuuuu...!” teman-teman Aidan serentak berseru meledek.



Asha mempercepat langkah. Wajahnya memerah menahan rasa malu yang luar biasa. Apalagi Khalda terus menghakimi dengan tatapan tajamnya.



“Kok dia tahu nama kamu sih, Sha?” tanyanya kembali.



Asha geragapan. “Oh, mmm, mungkin dia sering liat infotainment ”



“Nggak lucu, ah! Memangnya kamu artis?” tukas Khalda.



“Memangnya cuma artis aja ya yang boleh muncul di infotainment?”



“Beeeuuu, nenek lo juga boleh keleees. !” celetuk Susanto,



masih sambil cemberut. “Malah bahas infotainment! Eyke laper, boooo. !”



“Suruh siapa ngikut kita? Kalo laper sana ke kantin, kita mau ke masjid!” ledek Ami.



“Terus eyke sendirian ke kantin gitu? Kalo diculik gerombolan Aidan gimana dooong?” Susanto mendekap pipinya dengan kedua tangan.



“Tenang aja, paling mereka minta tebusan gorengan Bu Asih,” celetuk Chika kalem.



Susanto cemberut. Tapi meski merajuknya nggak selesai-selesai, dia tetap berjalan mengekori rombongan Asha menuju masjid.



“Kamu kenalan sama cowok itu, Sha?” tegur Khalda lagi dengan nada cemas.



Asha tak berani membalas tatapan Khalda. Dia berjalan lebih cepat sambil menunduk.



“Sha?”

__ADS_1



“Ngg. ”



Khalda berdecak tak sabar. “Dia tahu nama kamu dari mana?”



“Dari google, kali, Cyiiin. Apa sih yang nggak diketahui sama mbah google? Tinggal search “Nama Anak Baru di SMA Pancasila Tangerang”, nongol deh nama lo berdua. Atau search nama, “Anak Remaja yang Kabur dari Pesantren”, nongol juga nama lo berdua. Atau search ... mmmmppphhh. !” Susanto tidak bisa melanjutkan ocehannya karena mulutnya keburu dibekap Ami. Sekuat tenaga Susanto melepaskan diri sambil ngomel-ngomel, sementara Ami mengelapkan tangannya yang bekas membekep mulut Susanto ke tembok sekolah. Khalda sama sekali tidak terganggu interupsi mereka, dia terus menuntut Asha.



“Dia tanya namaku, ya aku jawab aja,” jawab Asha enggan.



“Ya namanya kenalan kalo kayak begitu!”



Kali ini Asha mulai gusar dengan sikap skeptis Khalda yang cenderung menghakimi. “Memangnya kalau kenalan kenapa? Kita kan nggak bisa menghindar dari interaksi dengan semua orang baik cowok maupun cewek di sini. Nih, buktinya sekarang aja kita jalan bareng sama cowok nggak jelas kayak dia!” Asha menunjuk Susanto, dan yang ditunjuk langsung merandek.



“Kok eyke lagi yang kena? Ya, Tuhaaaaan, salah Susan apaaaaaa?” rajuk Susanto. Tapi tak seorang pun menghiraukan. Termasuk Ami yang sekarang serius memperhatikan dialog dua temannya.



“Sori, Sha, bukannya aku menuduhmu nggak menjaga hijab, karena memang benar kita di sini sulit untuk menutup diri dan menghindar dari pergaulan. Kalau begini keadaannya, aku harus secepatnya melakukan sesuatu...,” ujar Khalda, tampak menyesal.



“Melakukan apa?” Asha mengernyit.



Khalda tak menjawab, dia malah mempercepat langkahnya menyusuri halaman musala, kemudian naik ke teras musala yang sepi. Chika dan Ami mengekor di belakangnya, sementara Asha dan Susanto mematung di halaman musala yang dipenuhi rumput Jepang dan rumpun mawar liar.



“Lo nggak ikut masuk?” lirik Susanto usil.



Asha mengedikkan bahu. Matanya terus mengawasi Khalda, Chika dan Ami sampai ketiga temannya itu menghilang ke tempat berwudu di samping musala.



“Oooh, lo lagi dapet ya?” usik Susanto lagi.



Asha sekarang menoleh padanya dengan pandangan risi. Dia tak biasa membicarakan masalah haid dengan cowok, apalagi yang baru dikenal. Apalagi yang punya perilaku gender nggak jelas seperti Susanto. Apalagi di sekolah baru. Pokoknya jangan sampe deh. Berdasarkan fakta tersebut, Asha memilih langsung melengos pergi meninggalkan Susanto. Tapi cowok itu malah mengejarnya dengan langkah tertatih-tatih.



“Lo main ninggalin aja deh, kayak angkot abis nurunin penumpang!” gerutunya sambil mensejajari langkah Asha.



“Kamu bisa kan, nggak usah ikutin aku terus?” protes Asha merasa risi.



“Siapa juga yang ngikutin lo? Eyke kan cuma jalan doang. Emang ini jalan milik nenek lo seorang diri?” tukas Susanto ngeles.



“Nenek aku nggak punya jalan, punyanya sawah, jauuuh di Wonosobo. Kalo nenek kamu punya apa?”



“Apartemen di Taman Anggrek! Iih, kenapa jadi bahas nenek-nenek siiih?”



“Kamu yang duluan bawa-bawa nenek!”



“Eyke nggak bawa nenek cyiiin! Berat ransel eyke kalo segala nenek eyke dibawa ke sekolah!”



“Bodo, ah! Pokoknya minggir deh sana, aku mau sendirian!” Asha melipir ke pinggir trotoar sekolah menjauhi Susanto, tapi akibatnya dia tersandung rumpun anak nakal yang ditanam di setiap sisi jalan. Asha kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng dan nyaris jatuh, kalau saja seseorang tidak bergegas menangkapnya.



“Hati-hati kalau jalan,” tegur suara orang yang menopang bahunya, membuat Asha sadar bahwa yang menolongnya agar tidak terjerembap tadi bukanlah Susanto, melainkan—



“Kamu? Astaghfirullah...!” Asha kaget setengah mati, lalu langsung menegakkan tubuhnya dan menjauhkan diri dari cowok yang baru saja menopang tubuhnya.



Aidan.



“Hai, Asha. ” Aidan malah melambaikan tangannya, tanpa



dosa.



Wajah Asha langsung pucat pasi. Berulang kali dia mengusap bahu dan lengannya yang tadi kena sentuhan tangan Aidan. Dalam satu hari saja, tiga kali Aidan muncul tanpa terduga di kehidupannya yang seharusnya tenang tanpa godaan. Dan kali ini, Asha merasa sangat kecolongan. Aidan menyentuhnya. Menyentuhnya! Ini bisa dikategorikan sebagai bencana nasional. Apalagi kalau sampai Khalda tahu.



“Tuuuh, kan? Suruh siapa jalan minggir-minggir? Lo jatuh juga di pelukan Aidan deh,” ledek Susanto sambil berjalan mendekat dengan gemulai.



Ledekan itu sanggup mempermalukan Asha lebih jauh lagi. Wajah Asha yang semula pucat, kini merah padam. Sambil terus menunduk, Asha bergegas pergi meninggalkan Aidan dan Susanto.



“Mau ke mana, Sha?” tanya Aidan dengan nada kecewa.



Asha tak menjawab, meski dia juga tidak punya ide harus menghilang ke mana. Pokoknya dia ingin secepatnya menghilang dari pandangan Aidan. Dengan salah tingkah, dia akhirnya berbelok masuk ke sebuah ruangan yang ternyata koperasi sekolah. Banyak orang yang duduk-duduk santai sambil menikmati camilan di tempat itu. Asha bergegas mencari sudut yang paling tepat di mana dia bisa menghilang tapi sekaligus juga bisa mengawasi Aidan, supaya dia yakin Aidan tidak mengejarnya. Asha menemukan sudut yang aman di bawah jendela, di deretan bangku yang dipenuhi gerombolan murid tak dikenalnya, yang dari penampilan dan obrolannya mereka tampaknya murid kelas sepuluh.

__ADS_1


__ADS_2