HIJAB FOR SISTERS

HIJAB FOR SISTERS
Episode 3


__ADS_3

Khalda mengangguk-angguk, lalu melanjutkan mengunyah saladnya.



“Kalian lihat nggak dua remaja yang mesra-mesraan di toko buku tadi?” tegur Mama tiba-tiba.



Asha yang sedang menelan piza, hampir tersedak. Akhirnya Mama membuka juga topik yang memalukan ini. Padahal Asha berharap tak perlu membicarakan hal yang menurutnya canggung itu dengan mamanya.



“Hem, cewek berjilbab yang gandengan mesra-mesraan itu?” tanyanya dengan nada suara dibuat sewajar mungkin.



“Lihat, Tante,” jawab Khalda lugas.



Mama terdiam sejenak seperti sedang menghabiskan makanan di tenggorokannya. Matanya tak lepas menatap putri semata wayangnya, membuat yang ditatap jadi makin salah tingkah, lalu cepat-cepat menghabiskan piza di piringnya. Tapi Mama terus menatap Asha dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. Pizanya dibiarkan dingin tak tersentuh, sementara kedua tangannya masih memegang garpu dan pisau. Asha jadi merasa semakin rikuh.



“Mama kenapa sih liatin Asha-nya gitu banget?” protesnya sambil menjangkau gelas orange juice dan meneguknya.



Mama menghela napas, lalu meletakkan garpu dan pisaunya. Dia menangkupkan tangannya di atas meja. “Mengapa Mama menitipkan kamu ke pondok sejak kelas tujuh? Kamu pernah tanya alasannya ke Mama, Asha?”



Asha terdiam sejenak, sekilas melirik Khalda yang sedang asyik memotong piza, kemudian menggeleng. “Asha pikir, pasti karena Mama sibuk, kan? Sejak Papa nggak ada, Mama harus kerja juga cari uang. Jadi Mama nggak sempat mengurus Asha.”



“Ya, salah satunya mungkin benar begitu. Tapi mengurus seorang anak seperti kamu itu kan nggak sulit-sulit banget, bisa dilakukan sambil bekerja. Nggak perlu dititipin segala. Hanya saja, Mama merasa selalu dihantui ketakutan.”



“Ketakutan?”



“Takut akan pergaulan remaja zaman sekarang. Takut pada pengaruh kenakalan remaja yang bisa saja mencemari kamu. Contohnya tadi, pacaran di depan umum, dan mereka itu seusiamu.”



“Ceweknya pake jilbab lagi!” celetuk Khalda, terdengar sinis.



Asha sekali lagi melirik Khalda, dan yang dilirik balas memelotot.



“Kamu nggak merasa ngeri memangnya, Sha? Dia nggak cuma membahayakan dirinya dengan mendekati zina, tapi juga mencoreng image agamanya.”



“Ya memang dia berjilbab, tapi dia nggak berhijab,” sela Asha.



“Iya, betul,” Khalda mengangguk sambil mengayun-ayunkan garpu pizanya. “Jilbab itu fashion-nya doang, kelakuannya nggak banget. Nggak membatasi hijabnya antara akhwat dengan ikhwan. Apa dia nggak ngerti, ya?”



“Tahu sih tahu, ngerti sih ngerti, tapi lingkungan juga ngasih banyak toleransi. Coba di pondok, ketahuan seperti itu bisa langsung kena sanksi berat banget!”



“Tapi yang seperti itu kayaknya banyak.” Kali ini Mama yang menyela. “Itulah yang membuat Mama sangat khawatir, Sha, karena pelajaran agama di sekolah-sekolah umum nggak cukup bisa membentengi kalian dari pengaruh pergaulan yang buruk.”



“Kenapa nggak Mama aja yang mengajari Asha pendalaman agama? Mama juga kan berjilbab, rajin datang ke pengajian, pintar dalam urusan agama. Kenapa Asha harus dipesantrenkan?”



“Mama ingin kamu mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik daripada yang Mama dapatkan, karena Mama sendiri merasa masih belum banyak tahu. Eh, kenapa kamu nanyanya kayak gitu? Nyesel masuk pesantren?”



“Nggaklah, Ma!” cetus Asha sambil memanyunkan bibirnya. “Asha justru beruntung banget masuk pondok, di mana lingkungan sangat memengaruhi kita untuk hidup secara islami. Kalo di luar pondok, pasti sulit banget. Masih untung bisa berjilbab, meski pergaulan masih tercampur-campur kaya cewek tadi.”



“Tapi mencoreng image jilbabnya lho, Sha!” cetus Khalda dengan nada menggondok.



“Nah, terus kalo udah gitu kita mau ngapain? Kita tegur, nanti disangka kita sok suci dan sok ikut campur urusan orang lain.” Asha berkomentar.


__ADS_1


“Kalo kita diemin, artinya kita ngedukung lingkungan yang bebas memberi toleransi tadi, kan? Serba salah jadinya, Sha!”



“Nah!” Mama menunjuk wajah Asha dan Khalda bergantian dengan garpu piza. “Kalian mungkin bisa memulai memberikan contoh ke lingkungan sekolah kalian nanti tentang adab pergaulan yang baik menurut islam antara cewek dan cowok. Ini yang pengin Mama titipkan sama kalian, terutama kamu Sha, kalian bukan saja harus bisa melindungi diri kalian dari pengaruh buruk lingkungan. Tapi juga harus bisa memberi contoh yang baik dan pengaruh teladan pada teman-teman kalian.”



Asha mengeluh panjang. ”Yaaaa, Maaaa. Kita bisa bertahan hidup di sana aja kayaknya udah bagus, kali. Nggak usahlah kita macem-macem. Bisa-bisa di-bully deh entar kita!”



“Jangan takut, Sha, aku udah punya planning mau melakukan apa di sekolah kita nanti. Pokoknya, dijamin kita tetap selamat meski tinggal di lingkungan yang tercemar oleh pergaulan bebas!” cetus Khalda sok yakin.



Kali ini Asha menepuk jidatnya sambil menyandar ke punggung sofa. Sementara Khalda menatapnya dengan penuh keyakinan, seolah dia seorang mujahidin yang siap perang. Mama memperhatikan keduanya dengan penuh rasa khawatir. Sebuah awal yang mencemaskan bagi Asha. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi esok, saat dia dan Khalda harus berjalan memasuki gerbang sekolah baru mereka.



***



KHALDA tampak berdiri termenung lama sekali, tepat di depan gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Sementara Asha berdiri sekitar dua langkah di belakangnya, takjub memperhatikan Khalda. Terlebih ketika gadis itu tiba-tiba berlutut di atas tanah beraspal, benar-benar jatuh berlutut, dan perlahan badannya membungkuk ke depan, lalu wajahnya mencium aspal, persis posisi orang bersujud.



“Da! Kamu ngapain sih?” Asha mendadak panik sambil melihat sekelilingnya.



Para siswa-siswi berseragam putih abu-abu yang berseliweran di dekat mereka, kini mulai tertarik dengan aksi Khalda. Mereka berbisik-bisik sambil cekikikan, membuat wajah Asha seperti terbakar.



Asha mencoba menggamit Khalda supaya bangun dari sujudnya. “Da, bangun, Da. Nggak enak nih diliatin orang!” bisiknya sambil terus berusaha menarik Khalda supaya bangkit.



“Hei, kalian sedang apa di sini?” tegur seorang satpam yang tiba-tiba menghampiri mereka.



Kali ini Khalda bangkit, berdiri sambil mengibaskan jilbab panjangnya yang berkibar panjang.



“Eh, nggak ngapa-ngapain kok, Pak,” jawab Asha gugup sambil menggamit lengan Khalda.




“Bukan salat, Pak, saya sedang bersujud tadi,” kilah Khalda. “Karena Allah memerintahkan, jika kita memasuki suatu negeri, maka kita harus bersujud di pintu gerbangnya. Anggaplah sekolah ini suatu negeri, dan kami adalah pendatang baru. Jadi kami wajib bersujud di depan pintu gerbangnya, Pak.”



Serentak terdengar paduan suara sumbang siswa-siswi yang berteriak ‘huuuuuuu’. Asha gemetar menatap sekelilingnya, dan berharap Khalda tak usah mengatakan apa-apa lagi. Tapi justru Khalda kian menjadi. Dengan beraninya, dia mendekat ke arah kerumunan siswa-siswi yang sedang berbisikbisik menertawakannya.



“Kenapa kalian tertawa? Kalian menertawakan apa? Karena aku bersujud di depan pintu gerbang? Karena aku berpakaian seperti ini? Berjilbab superlebar? Karena aku berbeda dengan kalian yang berpakaian minim? Kalian mengira aku ini alien Saturnus atau apa?”



Sekarang semua siswa yang makin banyak berkerumun terbahak-bahak mendengar omelan Khalda. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mengeluarkan ponselnya untuk merekam. Asha menutup wajahnya dengan tas, merasa malu dengan sikap berlebihan Khalda yang keterlaluan. Seharusnya mereka bisa melewati hari ini dengan mulus-mulus saja, tanpa harus menarik banyak perhatian seperti ini. Kenapa sih Khalda?



“Udah, Da, kita masuk aja yuk cari kelas kita.”



Asha segera menyeret Khalda dan menggiringnya masuk melewati pintu gerbang sambil terseok-seok dengan jilbab panjang mereka, di antara kerumunan anak-anak yang berteriak mengolok-olok penuh kepuasan. Asha mencoba untuk tidak peduli, meski masih didengarnya Khalda terus mengomel sepanjang jalan.



“Sekolah macam apa ini? Nggak ada satu pun siswinya yang berjilbab, semua berpakaian minim. Cewek-cowok campur baur. Rok ceweknya nauzubillah pendeknya. Kita nggak bisa sekolah di tempat seperti ini, Sha!”



“Tenang, Da, tenang. Jangan mancing ribut di sini!” desis Asha.



Kini mereka sampai di depan kelas dengan papan nama bertuliskan kelas XI IPA 1.



“Ini kelas kita!” seru Asha lega.



Mereka langsung merangsek masuk, tapi di pintu, seorang guru perempuan berbadan gemuk dengan baju ketat dan kacamata modis berlensa warna cokelat mengadang mereka galak. “Siapa kalian?!”

__ADS_1



“Ngg ... kami murid baru sekolah ini, Bu guru,” jawab Asha gelagapan.



“Terus maksud kalian apa pakai-pakai jilbab lebar kayak gitu di sekolah ini? Sekolah ini sekolah umum, nggak ada siswinya yang berjilbab, apalagi selebar taplak meja makan seperti yang kalian pakai!”



Asha dan Khalda kini saling menatap dengan cemas.



“Tapi ... kami—”



“Kalian tidak diperkenankan masuk, kecuali kalian lepas jilbab!”



“Apa?!” Asha dan Khalda spontan berteriak.



“Tidak mungkin kami melepas jilbab kami, Bu! Jilbab ini kami pakai atas perintah Allah! Kalau Ibu memaksa kami melepas jilbab, sama saja Ibu menyuruh kami menentang Allah!” teriak Khalda.



“Iya, Bu! Ibu nggak takut sama Allah?!” teriak Asha.



“Pokoknya lepas jilbab kalian! Di sini dilarang pake jilbab!



Ikuti aturan yang berlaku, jangan membantah aturan sekolah! Sini, biar Ibu yang melepaskan jilbabnya!”



Spontan Asha dan Khalda berlari menjauh sambil menjerit-jerit. Tapi ibu guru gemuk berkacamata gaya mirip kacamata Victoria Beckham itu malah mengejar mereka. Di belakangnya, seluruh siswa kelas sebelas berhamburan ikut mengejar Asha dan Khalda. Khalda berlari kencang sambil terus menyebut istigfar. Tapi Asha kehabisan napas, tidak bisa berlari lagi. Kakinya lunglai, sementara ibu guru gemuk itu tinggal semeter dibelakangnya.



“Sha...! Ayo, Sha...! Ayooo...!” teriak Khalda.



Asha tersandung, jatuh terduduk, dan ibu guru gemuk sudah menghampirinya.



“Ashaaa...! Bangun, Shaa...! Ayo banguuun...!”



Tangan si ibu guru gemuk sudah menjangkau pundak Asha. Lalu mengguncang-guncangnya.



“Tolooong... tolooongg...!” Asha mulai menangis ketakutan.



“Sha, Sha... Asha... bangun! Kamu kenapa? Astaghfirullahalaziiim. ”



Perlahan guncangan di bahunya mengendur. Asha terbangun, mengucak-ngucek matanya. Khalda sedang memegangi bahunya sambil terus mengucap istigfar. Dia yang mengguncang bahunya, bukan si ibu guru gemuk tadi.



“Astaghfirullah.” Asha mendesis, antara lega dan gemetar.



“Kamu kenapa sih? Mimpi buruk, ya? Mimpi apa?” tanya Khalda cemas.



Asha menggeleng-gelengkan kepalanya, masih berkeringat, kendati kamarnya dingin oleh udara AC.



“Sha? Kamu mimpi apa? Pasti gara-gara hari ini masuk sekolah, ya? Cerita dong Sha, mimpi apa?” desak Khalda.



Asha masih menggeleng-geleng. “Kamu nggak bakalan mau tahu, Da. Serem pokoknya. Sereeem. !”



Khalda cuma terbengong-bengong ketika Asha meloncat dari tempat tidur seraya menyambar handuk dari kapstok dan kabur ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2