
Tanpa bersuara, Asha duduk di tengah-tengah mereka, setelah sebelumnya menyambar sebotol teh dingin dari lemari pendingin koperasi. Matanya sibuk mengawasi Aidan lewat jendela.
Aidan yang melihat Asha menghilang di balik pintu koperasi sekolah, kelihatan berniat menyusulnya, tentu saja dengan dikuntit ketat oleh Susanto yang berasa menemukan majikan baru. Tapi belum lagi melangkah menyusul Asha, tiga orang cewek berpenampilan sangat kekinian, mengadangnya.
Asha memperhatikan ketiga cewek tersebut dari kaca jendela. Yang paling dominan, yang berdiri di tengah, kelihatan paling cantik di antara yang lain. Kulitnya seputih porselen, wajahnya licin, rambutnya panjang lurus sangat terawat baik. Dua lainnya, mungkin terlihat berkilau jika saja tidak ada cewek yang di tengah itu. Cewek di tengah itu, auranya benarbenar meredupkan aura siapa pun yang ada didekatnya. Dia sangat cantik. Cantik mutlak.
“Hai, Aidan,” Si Cantik itu menyapa Aidan dengan gaya kenesnya.
“Apaan sih hai, hai, hai, hai segala. Kita kan sekelas, tadi udah ketemu. Masa tiap ketemu selalu menyapa hai,” gerutu Aidan, kelihatan terganggu.
“Lho, emang nggak boleh? Apa ada undang-undang yang melarang setiap jam menyapa hai? Kan lebih baik menyapa hai daripada neriakin sambil ngata-ngatain, ya nggak?” Si Cantik menoleh meminta dukungan dua temannya yang kemudian sama-sama mengangguk.
“Eh, Paulin,” sela Susanto, “ada yang lebih mendiiing. Bilang assalammualaikum, dong. Kan enak kedengerannya lebih berkah.”
Si Cantik yang dipanggil Paulin oleh Susanto itu menatap Susanto dengan pandangan jijik. “Eh, banci kaleng kerupuk! Gue kagak ada urusan ya sama situ!”
“Idiiiih, gue juga keleeuus! Emang lo aja yang pada sok sibuk banyak urusan? Eyke juga sibuk, bu ibuuu...! Permisiii, eyke mau meeting ama Kahiyang Ayu. Daaaaa...!” Susanto dengan lenggok gemulai membuang muka seraya berlalu meninggalkan gerombolan Paulin dan juga Aidan. Aidan hampir saja menyusulnya kalau Paulin tidak segera menahan lengannya.
“Aidan, tunggu!”
Aidan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Paulin. “Ada apa sih?”
“Aidan, kamu mau kan malem Minggu depan dateng ke pesta ultahku yang keenam belas? Emang sih baru enam belas tahun, bukan tujuh belas, tapi nggak ada salahnya kalo aku rayain di hotel berbintang dengan mengundang Tulus dan MC Raffi Ahmad sama Ayu Dewi?”
Kelihatannya Aidan kesulitan memahami rentetan katakata Paulin.
“Kamu mau dateng, kan?” desak Paulin lagi.
“Kalau ada undangannya ya aku pasti dateng,” jawab Aidan enggan.
Paulin bersorak kegirangan, dan dua temannya juga ikutan bersorak lega seolah baru saja mengantarkan Paulin ke titik aman satu miliar di kuis Who Wants To be A Millionaire.
“Besok aku kasih undangannya ya, pokoknya kamu dan temen-temen band juga klub basket kamu harus dateng!”
Aidan hanya mengangguk sekilas, lalu bergegas pergi meninggalkan Paulin dan dua temannya. Semula dia berniat menyusul Susanto ke koperasi, tapi dilihatnya teman-teman gengnya menunggu di depan kantin. Aidan putar arah ke kantin lagi.
Dari tempatnya mengawasi, Asha menghela napas lega melihat Aidan sudah tak lagi mengejarnya. Tapi tatapannya masih tak lepas dari rombongan Paulin.
“Lin,” tegur Agitha, salah satu cewek yang bersama Paulin. “Emang lo mau bikin party di hotel berbintang dengan MC Raffi Ahmad dan ngundang Tulus.”
Paulin tersenyum. “Iya, dong!”
“Kok kita nggak dikasih tahu?” protes cewek di sebelah kanannya.
“Kita nggak diundang, ya?” rajuk cewek satunya lagi.
Paulin keliatan kesal. “Kalian ini norak, deh. Pestanya aja baru kepikiran tadi. Ya jelas kalian diundang, dong! Malah kalian punya tugas khusus!”
“Tugas khusus apaan?” tanya cewek di sebelah kanan.
“Tugas untuk mewujudkan pesta itu benar-benar terjadi!
Pokoknya, gue serahin sama lo berdua. Besok undangannya udah harus ada di tangan gue. Bikin undangan yang paling bagus yang pernah ada di sekolah ini, pokoknya jangan ada yang lebih bagus!”
“Apaaa...?” pekik temannya spontan. “Nggak bisa secepat itu kali, Liiin...!”
“Tapi gue udah bilang sama Aidan kalo undangannya besok gue kasih ke dia!”
“Tapi, tapi, tapi,” Temannya tampak panik. “Kita kan belum booking hotelnya, belum pesen undangannya, belum kontak ke Tulus-nya!”
“Belum kontak ke manajer Raffi Ahmad juga!” timpal temannya yang lain.
“Itu bukan urusan gue, itu derita lo berdua. Pokoknya sehari ini gue mau semua beres. Pesta gue harus terwujud!” ancam Paulin.
“Oh my God, oh my God, oh my God...! Kalo gitu sekarang kita bolos aja, kita langsung jalan ke Mas Bayu, event organizer paling top yang sering nge-handle pesta kita. Gimana? Kalian setuju nggak?”
Cewek yang di sebelah kiri Paulin langsung terpekik senang mendengar usulan. “Setujuu...!”
“Nggak, nggak! Nggak usah pake alesan buat bolos. Lagian, kalo kita bolos, gue nggak bisa menikmati jam-jam terakhir memandang wajah Aidan di kelas,” protes Paulin dengan suara rendah dan diikuti oleh senyum yang muncul secara misterius.
Kedua dayangnya langsung lemas.
“Lo kan bisa liat fotonya di hape lo. Ratusan kan jumlahnya!” dengus cewek di sebelah kiri.
“Bawel! Udah yuk ke kantin, ntar keburu bel masuk bunyi!”
Asha masih mengamati rombongan Paulin dengan percakapan yang samar-samar nyampe ke telinganya. Ketika rombongan itu berlalu dengan gaya metropolis mereka yang sangat angkuh, Asha bergegas membayar minumannya dan berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
“Sha! Mau ke mana?” tegur Susanto lagi yang sedang mengantre beli otak-otak di salah satu gerai koperasi.
“Ke kelas. Aku duluan, ya!” Dan tanpa lagi menunggu jawaban Susanto, Asha bergegas keluar dari koperasi sekolah.
***
“DARI semua jawaban soal yang barusan Ibu berikan, tentang hitungan perpindahan jarak dan kecepatan kendaraan roda dua dengan roda empat, hanya satu yang jawabannya paling tepat.”
Semua mata yang separuh mengantuk di jam terakhir ini menatap penuh pengharapan pada Bu Mega yang punya perawakan kecil, agak gempal, dan suaranya yang tinggi melengking.
“Ashandrea!” pekik Bu Mega mengagetkan semua murid.
Asha yang sedang membereskan kotak pensilnya, langsung merasa jantungan mendadak mendengar namanya diteriakkan. Khalda menyikutnya dengan cemas.
“Ya, Bu?” tanya Asha, ikutan cemas.
“Ya, kamu Ashandrea! Jawaban kamu sangat tepat!” Bu Mega berjalan penuh semangat menghampiri meja Asha seraya menyodorkan buku tugasnya. “Kamu anak baru, kan? Baru masuk hari ini? Kamu belum pernah ikut kelas saya, tapi metode hitunganmu luar biasa. Persis seperti yang saya ajarkan. Rumus yang kamu gunakan itu sama dengan metode saya. Siapa guru fisika kamu sebelumnya?”
“Ustazah Hanna, Bu.”
“Oh, kamu dari pesantren?” Asha mengangguk sopan.
Bu Mega menggelengkan kepalanya sambil berdecak kagum. “Selama satu semester kemarin saya mengajar tentang hitungan jarak dan kecepatan, baru kali ini ada yang menghitung sekaligus menggambarkan diagramnya dengan begitu tepat. Kamu tahu Ashandrea, ada metode apa lagi selain rumus vektor posisi yang kamu kerjakan ini?”
“Bisa juga dihitung dengan rumus vektor parabola, Bu.”
“Tepat sekali!”
Asha mendengar Khalda menghela napas, lalu ketika diliriknya, teman sebangkunya itu sedang menunduk sambil mengemasi tasnya.
“Kamu sudah mempelajarinya?”
Asha kembali menatap Bu Mega, lalu mengangguk.
“Bisa kamu kerjakan rumusnya di depan kelas?”
Ya ampun, mati aja aku! Asha menoleh pada Khalda yang masih menunduk. Namun sebelum kejadian beneran dia harus menjelaskan kembali soal percepatan yang sama dengan metode vektor parabola yang tak mungkin selesai dalam waktu sebentar, tiba-tiba pertolongan datang. Bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring dan seisi kelas tanpa malu-malu lagi langsung heboh berteriak-teriak gembira. Bu Mega terpaksa membatalkan permintaannya.
“Baiklah, simpan tugas itu untuk minggu depan. Kamu harus sudah siap, ya!” Setelah itu Bu Mega langsung membenahi tasnya dan keluar kelas tanpa pamit, sebelum ada murid yang mendahului keluar.
Asha mensejajari langkah-langkah Khalda keluar kelas. Tak memedulikan teriakan Susanto yang berusaha menguntitnya.
“Kebetulan aku suka pelajaran menghitung jarak dan kecepatan, apalagi Ustazah Hanna benar-benar pintar menerangkannya,” jawab Asha merendah.
“Kalau dalam matematika dan kimia kamu juga unggul, maka nggak akan ada kesempatan bagiku ke Jerman,” gumam Khalda lagi.
Asha terperangah mendengarnya. “Kamu kok jadi mikirin soal Jerman, sih?”
“Memangnya kita ngapain di sini? Study tour?”
“Bukan gitu, Da. Cuma, aku kok jadi nggak kepikiran fokus soal Jerman-nya, ya.”
“Terus, kamu fokusnya gimana?”
“Menurut aku sih, nikmatin aja deh masa-masa sekolah di sini. Jadiin pengalaman belajar kita. Itu aja kok, nggak muluk-muluk.”
Khalda menatapnya tajam. “Kalo aku sih nggak, Sha. Aku nggak akan mau berada di sini kalau bukan karena beasiswa itu. Jadi kalau besok dalam pelajaran matematika dan sastra Indonesia kamu lebih unggul, mendingan aku langsung balik ke pondok. Nggak ada gunanya nerusin ujian kayak gini.”
Kenapa sih Khalda? Kadang sifat keras kepala dan mudah baper Khalda suka bikin kesal. Asha mengangkat bahu. “Terserah kamu aja, deh. Bukan salah aku kalo aku bisa ngerjain soal tadi dengan tepat. Bukan salah keluargaku juga.”
“Ya, kamu emang nggak salah, apalagi keluarga kamu. Aku aja yang kurang belajar,” desis Khalda yang dalam keadaan begini nggak akan bisa diajak becanda.
Asha memilih mempercepat langkahnya, terutama ketika melewati kelas sebelas IPA dua. Kelasnya Aidan.
“Asha!”
Tuh, benar, kan? Baru saja dia berpikir tentang Aidan, cowok itu sudah muncul begitu saja dari pintu kelasnya. Asha semakin mempercepat langkahnya, bahkan turut pula menggandeng tangan Khalda, menyeretnya setengah berlari sampai di tempat yang dirasanya aman terkendali, ribuan kilo dari kelas Aidan. Halaman sekolah.
“Cowok itu mengejar kamu terus, ya?” tegur Khalda cemas.
“Iya ih, bikin risi aja,” gerutu Asha, tanpa disadari pipinya memerah.
“Ini yang bikin aku takut ada di sini, Sha. Baru sehari kita di sini aja udah banyak sekali kejutannya. Kalau begini terus, mendingan kita balik ke pondok.”
Asha ingin sekali menggerutu, tapi ditahannya. Khalda lebay banget, sih. Lagian bukan dia yang dikejar-kejar Aidan seperti itu. Kenapa dia yang jadi bersikap seolah mereka telah mendapat cobaan maha berat di sini? Menurut Asha, Aidan bukan sesuatu yang patut ditakuti. Bukan hal yang penting. Cuma sedikit gangguan kecil. Ya, gangguan kecil.
Tapi kini gangguan kecil itu telah membelah diri begitu rupa menjadi “gangguan banyak”. Asha dan Khalda berhenti berjalan ketika melihat pintu gerbang sekolah masih ditutup dan tampak dikuasai beberapa cewek berpenampilan sangat modis—bahkan di jam pulang sekolah di mana murid lain keliatan lecek—yang berdiri berjajar seolah sengaja menutup jalan. Asha mengenali mereka sebagai tiga cewek yang mengadang Aidan di depan koperasi sekolah jam istirahat pertama tadi. Paulin dan gengnya.
__ADS_1
“Lo anak baru itu, ya?” tegur Paulin kepada Asha, seolah di sekolah ini Khalda tidak termasuk anak baru.
“Ya,” Asha menjawab ragu. “Memangnya ada apa?”
Paulin maju mendekat sehingga jaraknya dengan Asha hanya beberapa sentimeter saja. Asha sampai mundur selangkah.
“Lo jangan sok kecakepan ya! Mentang-mentang anak baru, terus lo pikir lo bisa ngedapetin Aidan? Mimpi, kali!” desis Paulin tajam.
Teman di samping kanannya ikut menimpali. “Di sini mimpi nggak dilarang. Tapi cuma boleh untuk kita-kita aja. Buat cewek kayak lo, kalo mau mimpi, di rumah aja sana!”
Teman di samping kirinya terkikik geli, tapi langsung kena sikut Paulin. Sementara di sisi Asha, Khalda bengong, sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
“Maksudnya apa ya?” tanya Asha mulai merasa kesal. “Kalo soal Aidan, aku juga nggak ada urusan sama dia. Kenapa kalian marahnya ke aku?”
“Karena Aidan tuh ngejar lo terus sejak pagi!” cetus teman yang di sebelah kanan, yang langsung disikut keras-keras oleh Paulin. Lalu Paulin memelotot, yang membuat temannya itu langsung bungkam.
“Sotoy banget sih lo, Agitha!” bentak Paulin.
“Sor..” Agitha mengkeret manyun.
Jadi itu masalahnya? Mereka nggak rela Aidan mengejar Asha? Asha menghela napas, makin memuncak rasa kesalnya. Beberapa kali dia mengucap istighfar dalam hati.
“Ada apa sih sebenarnya, Sha?” tanya Khalda kebingungan.
Asha hanya mengangkat bahu. “Permisi dong, kita mau lewat. Gerbang ini bukan milik kalian aja. Lihat deh antrean di belakangku udah panjang banget.”
Khalda menengok ke belakang, dan benar kata Asha, antrean di belakang mereka yang menunggu pintu gerbang dibuka oleh Paulin sangat panjang. Semua keliatan ngeluh kepanasan, tapi tak satu pun berani protes apalagi memaksa Paulin menyingkir.
“Gue bisa aja menahan mereka semua seharian di sini dan menutup pintu gerbang. Gue nggak peduli mereka semua nggak bisa pulang. Guru-guru bahkan kepsek aja nggak akan ada yang berani sama gue!” ancam Paulin.
Asha terperangah. Dia melempar pandangan pada Khalda. Memangnya segitu berpengaruhnyakah Paulin sampe kepsek saja nggak berani sama dia?
“Terus, mau kamu apa?”
“Gue minta lo berjanji untuk jauh-jauh dari Aidan. Sekarang juga lo harus janji di depan gue. Di depan pintu gerbang ini! Kalo lo udah janji, baru gue bukain pintu gerbangnya!”
Asha dan Khalda saling bertatapan kebingungan. Asha merasa ini jauh lebih buruk daripada mimpinya semalam. Khalda menggigit bibirnya dengan gelisah, tak lepas melafalkan zikir dalam hatinya agar lebih tenang.
“Ayo, tunggu apa lagi?!” Paulin memelotot galak.
Beberapa siswi yang berdiri di belakang Asha dan Khalda mulai ribut memaksa Asha untuk segera mengucapkan janjinya. Suara berisik mereka berdengung bagai ribuan lebah yang menyerang kepala Asha.
“Udah, tinggal ngucapin janji aja susah banget sih?”
“Kebelet pipis niiih...!”
“Iya, gue juga udah laper...!”
“Gue ada janji sama temen mau les bareng!”
“Eyke juga cyiin, mau balet nih jam dua!”
“Gue dong, mau les piano! Udah ditungguin nih sama Sherina, guru les gue!”
“Buseeet...! Bokis banget lu! Sherina kan guru ngaji!”
“Bukaaa gerbangnyaaaa...!”
“Mamaaa...! Toloooong ... ini penyekapaaaan...! Anakmu dalam bahaya, Maaa…!”
Asha merasa kepalanya pusing menangkap semua suara itu. Lalu pertahanannya runtuh. Dia menyerah. Tapi sebelum dia mulai bicara, tiba-tiba sebuah motor gede meluncur ke arah pintu gerbang dan berhenti tepat di depannya. Pengendaranya kemudian melepaskan helm, tampak raut wajahnya kelihatan kesal. Ternyata Aidan!
“Ada apa sih ini? Kenapa gerbang ditutup?” tanyanya pada Paulin dan gengnya.
Paulin langsung berubah sikap. Yang tadinya memasang wajah sejutek mungkin, mendadak jadi manis berser-seri. “Oh, Aidan! Nggak kok, kita cuma pengin ngobrol bentar sama anak-anak baru ini. Ya kan, Yova, Agitha?”
Dua dayangnya itu buru-buru mengiakan.
Aidan mengalihkan tatapannya pada Asha, membuat Asha segera berpaling membuang muka. Tapi tak seperti yang disangkanya, Aidan yang sekarang ternyata nggak seagresif sebelumnya. Aidan sama sekali tidak berniat menyapa Asha. Dia malah menyuruh Paulin membuka pintu gerbang dengan satu isyarat gerakan kepala saja. Ketika Paulin tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang, Aidan dan motornya langsung melaju keluar tanpa pamit pada siapa pun.
“Hooorreeeee...! Kita bisa pulaaang...!”
“Mamaa...!! I’m homeeee...!”
“Woooy...! Pintu gerbang telah dibukaaa..! Para Penyelamat Bumi, ayo serbuuu...!”
Asha dan Khalda buru-buru melipir, takut diterjang murid-murid yang kalap berebutan keluar. Paulin, Agitha dan Yova bahkan menjadi bulan-bulanan murid-murid yang merangsek ke arah mereka. Berkali-kali terdengar suara Paulin menyumpah-nyumpah sambil sibuk menghindar karena ditabrak sana-sini.
__ADS_1
“Sha, itu mobil mamamu!” seru Khalda tiba-tiba. Asha melihat keluar gerbang sekolah, dan mendapati mobil Mama sudah menunggu di sana. Segera ditariknya tangan Khalda setengah berlari keluar pintu gerbang menghampiri mobil mamanya.