
JARAK rumah Asha dengan sekolah hanya sekitar tiga kilometer, tapi kemacetan di Tangerang yang sudah mulai parah membuat perjalanan seakan berlangsung beribu-ribu tahun lamanya. Atau mungkin itu hanya perasaan Asha saja. Karena nervous campur deg-degan itu sama dengan penyiksaan perasaan tak ada habisnya.
Asha melirik Khalda yang duduk anteng di kursi belakang sambil membaca brosur perjalanan wisata yang dia temukan di kantong belakang kursi mobil Mama. Apa yang dirasakan Khalda sekarang? Samakah gelisahnya dengan dirinya? Asha lalu ingat mimpinya tentang ibu guru gemuk tadi malam, dan berharap ibu guru menyeramkan itu tidak benar-benar ada.
“Pulang sekolah nanti kalian nggak boleh pulang dulu sebelum Mama jemput, ya. Tunggu di tempat parkir, dan jangan mau kalau ada orang yang mengajak kalian pulang,” ujar Mama sambil terus menyetir.
Asha berdecak. “Ma, kita kan bukan anak TK lagi. ”
“Oh iya ya, Mama lupa,” jawab mamanya kalem. “Tapi sudah sebesar apa pun seorang anak, orangtua selalu khawatir.”
“Asha bisa pulang naik angkot, Ma. Asha udah tahu kok rutenya.”
“Kamu sih iya tahu, tapi Khalda gimana?”
“Kan Khalda sama Asha, Ma! Nggak usah ngelawak, deh!” sungut Asha.
Mama tertawa. “Abis liat kamu tuh tegang banget dari tadi. Jadi Mama kasih hiburan dikiiiit. Senyum, dong!” Mama mencubit pipi Asha sekilas, lalu kembali konsen mengemudi.
Sambil mengusap pipinya yang sakit, Asha menoleh pada Khalda. “Da, Mama belum tahu sih soal bu guru gemuk. Kalo aja Mama tahu, pasti ngerti kenapa kita tegang begini.”
Khalda mengangkat wajahnya sekilas, lalu menyeringai geli. Dia hanya mengangkat bahunya sebagai respons, lalu kembali asyik membaca brosur wisata Thailand.
“Siapa itu ibu guru gemuk?” tanya Mama penasaran.
“Mama mau tahu?”
“Iya, dong.”
“Beneran mau tahu? Nggak nyesel?”
“Aiih, kenapa harus nyesel sih?”
“Soalnya kalo mau tahu harus bayar!”
Mama meleletkan lidahnya. “Pemeras!”
“Abis Mama pelit. Masa uang saku cuma sepuluh ribu. Beli bakso sama teh botol aja udah abis, belum lagi buat nabung dan ongkos pulang.”
“Eh, ni anak ya, suka aneh-aneh sama orangtua. Mama tuh ya, kasih duit segitu buat kamu atur dulu di hari pertama sekolah, cukup apa nggak. Kalo udah terbukti nggak cukup, boleh kok besok Mama tambahin,” omel Mama.
“Beneran ya ditambahin?”
__ADS_1
“Iya, bener. Mama tambahin seribu!”
“Eh, ini orangtua, bener-bener ya pelitnya!” gerutu Asha.
Mama terbahak. Sementara Khalda hanya bisa senyum-senyum saja mendengar dialog ibu dan anak yang mungkin terdengar agak aneh baginya. Di keluarganya, tidak pernah ada dialog sebebas itu. Khalda dan adik-adiknya cenderung segan pada ayah dan ibu mereka. Jangankan ngobrol santai saling meledek seperti itu, mengutarakan keinginan saja terkadang sulitnya minta ampun.
Mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, lalu tak lama berhenti di depan gerbang sekolah. SMA Pancasila Sakti Tangerang. Asha dan Khalda sama-sama menatap nanar pada papan nama sekolah baru mereka yang menjulang dengan anggunnya.
“Here we go! Kalian udah sampai di tujuan. Selamat belajar dan jangan nakal, ya. Mama akan jemput kalian di hari pertama sekolah ini, tapi kalau besok kalian udah bisa pulang sendiri, nggak akan Mama jemput lagi. Ayo turun, tunggu apa lagi?”
Asha dan Khalda bergegas turun setelah mereka mencium tangan Mama. Sementara itu Mama menunggu sampai mereka berdua benar-benar siap di depan pintu gerbang sekolah, kemudian baru menjalankan mobil dan meninggalkan mereka, melaju ke kantornya di Jakarta. Asha membereskan letak tas ransel pink yang disandangnya, lalu menoleh pada Khalda yang juga sedang membenahi tas ransel ungunya. Mereka berpandangan dengan wajah sama-sama menyiratkan kekhawatiran. Tapi Asha lebih khawatir kalau Khalda benar-benar akan bersujud di pintu gerbang sekolah seperti dalam mimpinya. Sekilas Asha melihat pos satpam yang kosong. Kemudian merasa lega ketika dilihatnya Khalda beranjak masuk tanpa bersujud lebih dulu. Asha segera menyusul Khalda.
“Satpamnya mana, ya? Kita kan harus ke kantor kepala sekolah dulu, nggak ada yang nganter lagi,” gumam Khalda sambil celingukan.
“Aku malah berharap nggak ketemu satpam,” gumam Asha yang masih dihantui trauma mimpinya.
Di sekeliling mereka berseliweran siswa dan siswi berseragam sama dengan mereka, putih abu-abu. Mereka berjalan bergerombolan, saling bercanda satu sama lain, melepas kangen setelah liburan semester. Ada juga yang berjalan sendiri-sendiri sambil membuka-buka buku. Hari memang masih pagi, bel sekolah kira-kira berdenting setengah jam lagi. Siswasiswi itu tak seperti gambaran di sinetron-sinetron, di mana pelajar SMA berpakaian serbaminim dan memakai aksesori segambreng. Mereka berpakaian wajar, dengan mengikuti aturan sekolah untuk panjang rok dua senti di bawah lutut dan baju putih longgar yang dimasukkan ke dalam rok atau celana panjang. Beberapa di antara mereka juga berjilbab. Asha menarik napas lega, ini sama sekali berbeda dengan mimpinya semalam.
“Kita ke mana nih?” tanya Khalda bingung.
“Ke ruang kepala sekolah dulu, kita melaporkan diri.”
“Di sekitar sekolah ini. Masa di Summarecon? Lagian aku juga sama-sama murid baru, Da, belum tahu seluk-beluk sekolah ini!” gerutu Asha sambil berjalan cepat meninggalkan Khalda.
Khalda terhenti sejenak sambil mengernyitkan kening. “Summarecon itu apa?”
Asha menoleh tak sabar padanya. “SMS. Summarecon Mall Serpong. Mal yang kita kunjungi kemarin!”
Lalu Khalda berjalan cepat menyusul Asha, dan beriringan mereka menyeberangi halaman sekolah yang luas. Halaman itu tempat upacara merangkap sarana olahraga. Beberapa cowok sedang berkumpul di area lapangan basket sambil bergantian men-dribble bola basket dan melemparkannya ke keranjang.
“Hai!”
Asha terkejut ketika tiba-tiba seorang cowok berdiri tegak di depannya dengan satu tangan memegang bola basket.
“Astaghfirullah,” cetus Khalda yang sama kagetnya.
Cowok itu menatap Asha dengan saksama. Mau tak mau, Asha balas menatapnya dengan takut-takut. Cowok itu cukup tinggi dan berbadan tegap, sangat wajar jika di tangannya terdapat bola basket. Kulitnya tak bisa dibilang terlalu putih, mungkin karena sering terpapar cahaya matahari, tapi sangat bersih terawat. Rambutnya cepak tiga senti dengan bagian samping yang agak tipis. Matanya bulat dinaungi sepasang alis yang tebal. Wajahnya semakin kentara tegas berkat hidungnya yang mancung.
Okay, focus, Asha, take a breath!
Asha segera berpaling pada Khalda, tapi yang ditolehnya sudah tidak ada di sampingnya karena dengan gemetar Khalda langsung kabur dan bersembunyi entah di mana. Asha nyaris putus asa. Tega banget Khalda meninggalkannya di tengah situasi seperti ini.
__ADS_1
“Disapa kok diem aja?” tegur cowok itu lagi.
“H-hai ju-juga,” jawabnya gugup.
“Anak baru, ya?” Sekarang cowok itu tampak makin ramah.
“Iya sih, keliatannya gimana?” Asha menjawab malas-malasan.
“Gue belum pernah ngeliat lo soalnya, jadi pasti lo anak baru. Nama lo siapa?”
“Nggak, eh, maksud aku. Eh, aku harus ke kantor kepala sekolah dulu, nih!” Asha buru-buru mengalihkan perhatian si cowok ganteng itu.
“Gue antar. Lo pasti belum tahu kan kantor kepsek ke mana?” Dan tanpa persetujuan Asha lagi, cowok itu berteriak ke arah teman-temannya, lalu melemparkan bola basketnya yang langsung disambut salah satu temannya di ujung lapangan basket.
“Ayo jalan!” Dia memerintah tanpa basa-basi lagi, kemudian berjalan mendahului Asha yang masih terbengong-bengong. Ini hari pertama dia masuk sekolah umum, dan langsung diberi ujian seindah ini? Ya Allah, lindungi Asha ya Allah....
“Ayo jalan, apa perlu gue gendong?” canda si cowok sambil tersenyum.
Demi Tuhan, pilihannya cuma ikuti atau digendong! Asha merasa ngeri, kemudian bergegas berjalan mengekori cowok—duh pliis, jangan bilang ganteng lagi—itu.
“Nama gue Aidan, boleh panggil Idan, asal jangan panggil Aid aja. Ngomong-ngomong lo siapa?” tanya cowok itu lagi.
“Ashandrea. Boleh panggil Asha. Tapi jangan panggil Sasa, soalnya aku bukan micin,” jawab Asha gugup tapi masih berusaha untuk bercanda karena sepertinya Aidan tipe teman yang baik.
Aidan menyeringai. “Lo lucu juga, ya. Lo duduk di kelas berapa?”
Oke, ini pertanyaan yang masih wajar. Asha masih bisa menjawabnya dengan suara pelan. “Sebelas IPA satu.”
“Wah, sebelahan dengan kelas gue tuh. Gue kelas sebelas IPA dua.”
Nggak nanya, pikir Asha dalam hati.
“Nama lengkap lo siapa, sih?”
Sudah cukup, batin Asha, nggak boleh ada pertanyaan yang lebih pribadi lagi. Dia mengatur napasnya sejenak. “Kalo aku nggak mau jawab nggak apa-apa, kan?”
“Nggak apa-apa sih, tapi apa-apaan? Gue, kan, cuma pengin tahu nama aja.”
“Nggak mau. Nanti malah kamu salah gunakan lagi. Cepetan mana kantor kepseknya, bawa sini!” cetus Asha mulai galak.
Aidan menunjuk sebuah ruangan dengan papan nama bertuliskan Headmaster’s office. Ternyata nggak jauh dari lapangan basket tadi, jadi ngapain harus diantar segala? Sepertinya, pikir Asha, cowok ini sengaja ngemodus. Asha mendengus sambil beranjak menuju pintu ruang kepala sekolah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, apalagi ucapan terima kasih, pada Aidan. Bukannya nggak tahu sopan santun, tapi dia terlalu gugup untuk menatap balik cowok itu.
__ADS_1