HIJAB FOR SISTERS

HIJAB FOR SISTERS
Episode 5


__ADS_3

Di ruang kepala sekolah, ternyata Khalda sudah lebih dulu duduk di sana. Ketika dilihatnya Asha masuk, tangannya langsung bersedekap di depan dada sambil menatap penuh teguran tajam ke wajah Asha.



“Kamu tega banget ninggalin aku!” omel Asha sambil menjatuhkan tas ranselnya, lalu duduk di atas sofa berdekatan dengan Khalda.



Khalda yang tadinya mau ngomel duluan jadi speechless. “Sori, Sha, tapi cowok tadi itu nakutin banget. Makanya aku kabur.”



“Semua cowok emang nakutin. Terus, kalo tiap ada cowok nyamperin, kamu bakalan mau ngabur gitu aja? Enggak, kan! Di sini tuh cowok jumlahnya udah bukan lusinan lagi, tapi kodian!” Asha melototin Khalda dengan kesal.



“Sebanyak itu, Sha?” Khalda membelalak. “Ya ampun, kita bener-bener harus memproteksi diri kita, Sha! Jangan sampe kejadian kayak tadi, kamu diserang secara tiba-tiba dan kamu mau aja dianterin sama cowok yang kamu nggak kenal!”



“Lho, kok aku yang disalahin? Itu kan karena kamunya kabur dan nggak ngajak aku!”



“Mestinya kamu kabur juga, dong!”



“Mungkin aku nggak kabur kayak kamu, Da, tapi bukan berarti aku juga keganjenan ngeladenin dia begitu aja. Aku punya cara sendiri untuk memproteksi diri!” tukas Asha tersinggung.



Khalda langsung mengalah mendengar protes Asha. “Iya



deh, maafin aku. Udah jangan marah.”



Sekarang keduanya sama-sama diam, lalu sama-sama mengangkat wajah, dan sama-sama baru menyadari kalau sedari tadi aksi mereka berdua ditonton secara gratisan oleh bapak kepala sekolah berbadan pendek gempal, berkepala setengah botak, berkacamata gagang tanduk, dan berwajah sangat kocak. Keduanya langsung salah tingkah.



“Udah nih ributnya?” tegur Pak Kepsek sambil cengengesan.



“Afwan, eh ... maaf, Pak,” Asha berkata terbata-bata.



“Ngomong-ngomong kalian ini siapa? Datang-datang kok



langsung pada ribut.”



“Kami dua santri dari Kuningan yang diutus sekolah di sini, Pak,” jawab Khalda.



“Diutus?” Pak Kepsek terkekeh. “Mendengar kata-katamu, Bapak jadi gemeteran. Bapak merasa seolah sekolah ini adalah sebuah desa jahiliah yang kedatangan dua orang utusan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran.”



Asha melirik sekilas pada Khalda, seolah menyalahkan jawaban Khalda.



“Bu, bukan be-begitu maksudnya, Pak,” ujarnya geragapan.



“Terus maksudnya gimana? Tolong jelaskan, Bapak nggak ngerti.”



Asha menyenggol siku Khalda, tapi Khalda malah memberi isyarat supaya Asha yang menjelaskan. Dia takut salah ngomong lagi. Asha berdeham sejenak. “Gini Pak, kami ini dua santriwati calon peraih beasiswa ke luar negeri, tapi karena nilai kami seimbang jadi kami diuji dengan dikirimkan ke sekolah ini supaya kami belajar bertahan dari lingkungan pergaulan yang bebas dan—”



“Pergaulan bebas?” Pak Kepsek mengangkat gagang kaca matanya dan menatap Asha tajam. “Jadi menurut kalian sekolah ini mengizinkan praktik pergaulan bebas, begitu? Kalian jangan berburuk sangka, ya. Saya ini kepala sekolah paling disiplin dan paling mengedepankan nilai-nilai agama dan moral. Sekolah ini adalah sekolah terbina. Tidak ada itu kebebasan yang seperti kalian bayangkan di sini. Semua murid adalah binaan terbaik dengan akhlak yang bagus. Jadi jangan menghina sekolah ini!”



Asha langsung memucat. Ya Allah, ini bahkan lebih buruk dari mimpinya. Kepsek ini lebih mengerikan daripada ibu guru gemuk. “Maaf Pak, kami bukan bermaksud mengatakan sekolah ini pergaulannya buruk.”



“Iya Pak, kami hanya ingin menyampaikan kalau kami diberi kesempatan selama satu semester untuk belajar di sini agar bisa beradaptasi dengan lingkungan,” sela Khalda gugup.



“Nah, gitu, dong! Bahasanya kan lebih enak kalo begitu!”



gerutu Pak Kepsek sambil meniup-niup lensa kacamatanya.

__ADS_1



“Mmm, kami—” Kata-kata Asha terpotong oleh kelimat Pak Kepsek.



“Udaaah, Ashandrea, Khalda, kalian tinggal masuk kelas aja. Semua sudah dijelaskan sama Ustazah Heni. Kebetulan saya adalah teman baik ustazah kalian itu. Sebenarnya kalian nggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Sana masuk kelas!”



Asha dan Khalda kini terbengong-bengong. Dan melihat mereka bengong, Pak Kepsek tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja. “Kalian tuh lucu, ya? Takut ya tadi? Lah salah sendiri, kalian bilang semua cowok itu menakutkan. Saya juga cowok toh?”



Asha dan Khalda saling berpandangan. Keheranan.



“Sudah sana masuk kelas. Kelas kalian, sebelas IPA satu, hanya tiga ruangan dari sini ke arah kanan.”



Asha dan Khalda mengangguk. “Iya, Pak, terima kasih, Pak.”



“Tunggu,” Pak Kepsek mengelus-elus dagunya yang tak berjenggot. “Yang mana yang bernama Ashandrea?”



Asha mengacungkan tangan. “Saya, Pak. Panggil saja Asha.”



“Oke. Kalau Khalda?”



Khalda mengangkat jarinya dengan ragu.



“Terus yang satunya lagi siapa?”



Kembali Asha dan Khalda saling berpandangan. Asha kemudian bertanya gugup. “Maksud Bapak yang mana?”



“Lho, kalian kan bertiga. Ini Asha, ini Khalda. Nah itu yang sebelah Khalda siapa?” Pak Kepsek menunjuk udara kosong di sebelah kanan Khalda, membuat Khalda spontan berjingkat merapat pada Asha.




Pak Kepsek tampak terpana beberapa saat lamanya, menatap ke arah udara kosong di samping bahu Khalda. Khalda segera menggenggam tangan Asha, wajahnya pucat. Tapi selang beberapa detik kemudian Pak Kepsek tertawa terkekehkekeh dengan puasnya sambil memegangi perut.



“Kalian ini gampang dibohongi saja. Bapak, kan, cuma bercanda! Kalian pikir di sekolah ini ada hantunya? Enak aja. Hahahaa. Sudah sana ke kelas!”



Seketika Asha dan Khalda menarik napas lega. Ada-ada saja nih kepsek.



“Ayo sana ke kelas, Bapak mau pencet bel nih! Apa perlu Bapak panggilin Aidan buat nganter kalian ke kelas? Bapak panggilin sekarang, ya? Bapak tinggal teriak aja nih.”



Khalda tampak kebingungan. ”Aidan?”



Sebaliknya, Asha langsung gelagapan. “Nggak usah, Pak. Nggak usah. Kita ke kelas sendiri aja. Tahu kok kelasnya. Ayo, cepetan Da! Pamit dulu ya, Pak. Assalammualaikum.”



Asha langsung menarik tangan Khalda berlari keluar ruangan kepala sekolah. Berusaha mengalihkan perhatian agar Khalda tak membahas pertanyaan tentang Aidan.



Bapak Kepala sekolah membalas salam mereka sambil tertawa tak henti-hentinya.



“Buset! Kepseknya gokil banget!” cetus Asha begitu mereka sudah menjauh dari ruang kepala sekolah. Khalda mengangguk, lalu tiba-tiba cekikikannya tak bisa ditahan.



“Aku pikir tadi dia beneran lho waktu bilang kalo kita datang bertiga. Aku kira dia punya indra keenam atau apalah gitu,” ujarnya sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.



“Kebayang nggak sih kalo pas upacara terus gokilnya kumat? Pasti rame, ya!” sambung Asha sambil ikut cekikikan.



Mereka berjalan sampai akhirnya tiba di depan kelas sebelas IPA satu. Tepat ketika lonceng tanda masuk berdentang tiga kali. Beberapa siswa merangsek masuk sampai mereka agak terdorong-dorong ke dalam kelas. Asha yang kebingungan karena belum tahu mesti memulai dari mana untuk bergabung dengan kelasnya, tiba-tiba didorong dari belakang oleh seorang cowok yang lari terburu-buru. Asha tersandung dan menabrak meja di barisan depan.

__ADS_1



“Aduh!” Asha mengaduh.



“Astaghfirullah! Asha! Kamu nggak apa­apa?!” Khalda langsung menyerbu membantu Asha.



Asha hanya menyeringai kesakitan karena perutnya membentur meja. “Nggak apa-apa kok, sakit dikit aja.”



“Ih, lagian ngapain sih situ ngalangin jalan aja? Eyke kan mau lewaaat. Rumpiiiii...!” Sebuah seruan bernada ngondek tiba-tiba melengking dari arah belakang Khalda.



“Astaghfirullahalazim...!” Spontan Khalda terpekik kaget. Ketika berbalik, dilihatnya seorang siswa kurus berpakaian celana panjang ketat dan kemeja yang juga ketat dimasukkan superrapi ke dalam celananya, sedang cemberut ke arahnya.



“Nyebut deh nyebut, berasa eyke syaitonirojim apa?” sungut cowok yang gayanya sungguh-sungguh ngondek itu.



“Astaghfirullahalazim. ” Sekali lagi Khalda beristigfar sambil menutup mulutnya dan membelalakkan matanya.



“Iiihh, apaan sih lo? Sapose siiih loo?” Cowok ngondek itu makin ngambek sambil memukul lemas bahu Khalda yang spontan melompat menghindar, dan gerakannya membuat dia malah menabrak Asha yang kembali terdorong ke meja.



“Aduuh!” Asha menjerit kesakitan lagi.



Cowok ngondek itu seketika ikut menjerit. “Aaww ! Duuh,



kasian banget sih lo, udah ketabrak eyke, sekarang ketabrak makhluk serabutan ini. Aduuuh, sini eyke tolongiin.”



Kemudian cowok itu mendekati Asha dengan lagaknya yang gemulai dan membantu Asha berdiri. Asha buru-buru menepis tangan cowok ngondek itu ketika dilihatnya Khalda memelotot ke arahnya.



“Ada apa sih?” Seorang siswa yang tampak sangat berwibawa, mungkin ketua kelas ini, menyeruak di antara mereka. Kedatangannya membuat seluruh isi kelas ikut mengerumuni Asha dan Khalda.



“Cyin Wahyuuu, ada alien nyasar lho di kelas kita. Sapose sih mereka ini?” Si Ngondek kembali angkat bicara.



Khalda berbisik pada Asha, “Dari tadi dia ngomong tuh sapas-sapos-sapas-sapos aja apaan sih, Sha?”



Asha mengangkat bahu. Dia lebih tertarik memperhatikan cowok yang dipanggil Wahyu itu. Kelihatan tenang dan bisa dipercaya.



“Kalian murid baru yang disebut Pak Kepsek akan masuk ke kelas kita semester baru ini, ya?” tanya Wahyu.



“Iya betul, kita berdua pindahan dari Kuningan. Namaku Asha, dan dia Khalda,” jawab Asha lancar.



Wahyu mengangguk tegas. “Aku ketua kelas di sini. Kalian bisa duduk di pojok sana, pas di belakang bangku Santo.” Wahyu menunjuk pada deretan bangku di sisi jendela, tepat di baris kedua.



“Santo, Santo...! Iiih, Wahyuuu, pake nama lengkap eyke, dong. Susanto, alias Suuusan! Ogah eyke dipanggil Santo!” protes si cowok ngondek yang barusan disebut namanya oleh Wahyu. Gaya ngondeknya makin kental dengan dukungan bibir manyun dan mata kedip-kedip genit.



“Nama Santo kan kedengeran lebih laki,” celetuk Khalda tiba-tiba.



“Helo? Maksud lo?” Susanto memelotot galak ke arah Khalda, kemudian membuang muka secara dramatis ke arah Asha. “Eh, cyiin, lo duduk ama eyke aja, jangan ama dia, ntar kecantikan lo luntur deket-deket dia.”



Khalda menatap Asha dengan pandangan bertanya. Asha tampak bimbang sejenak sebelum mengambil keputusan. “Aku duduk ama Khalda aja ya, Cyiin, eh San. Soalnya kita kan bukan muhrim. Kamu cowok, aku cewek. Masa duduk sebangku?”



Tiba-tiba saja kalimat sederhana itu seolah menjadi pukulan sangat berat bagi Susanto. Dia langsung memasang wajah paling sedih sedunia, pipinya memerah seolah menahan malu yang amat berat. Susanto berbalik dengan mengentakkan bahunya, kemudian berjalan lemas sambil menunduk ke arah tempat duduknya sendiri, tepat di depan meja guru, deret terdepan barisan samping jendela.



“Pantesan kagak ada yang mau duduk sama eyke!” gerutu Susanto sedih. “Ternyata selama ini para cewek menganggap eyke cowok, sementara para cowok menganggap eyke cewek! Pada gagal paham deh semuanya! Benci!”


__ADS_1


Asha memperhatikan tingkahnya dengan cemas. Memikirkan bahwa selama satu semester ke depan dia dan Khalda harus duduk tepat di belakang kursi makhluk seajaib Susanto.


__ADS_2