
“TO, mulai sekarang kamu nggak usah kumpul-kumpul sama kita lagi, kamu kan cowok, nggak baik main sama cewek!” tegur Khalda ketika jam istirahat pertama dan mereka sedang duduk mengitari sebuah meja di kios bakso kantin sekolah.
“Rumpi! Emang kenapa eyke nggak boleh gabung ama kalian? Apa salah keluarga eyke kalo eyke terlahir sebagai cowok?” rajuk Susanto di tengah kesibukannya mengunyah bakso.
“Bukan gitu, To, tapi kalau kamu terus gabung sama kita, gimana kamu bisa sembuh jadi normal lagi? Takdir kamu tuh cowok, jadi kamu harus menjadi cowok. Dosa kalo kamu menyalahi takdir Allah!”
Asha hampir tersedak mendengar ucapan Khalda. Bahkan Ami dan Chika juga ikut berhenti menyendok bakso mereka, lalu semua membelalakkan mata kepada Khalda.
“Iya kan, Sha?” tanya Khalda meminta dukungan Asha.
Asha mengerjap, mengangguk ragu, lalu menoleh pada Susanto yang tampak tersinggung berat. Mencoba menenteramkan hatinya. “Maksud Khalda, Allah telah mengaruniakan kegagahan sebagai seorang cowok pada diri kamu, San. Jadi kamu sangat beruntung. Rugi banget kalo kamu menyianyiakan pemberian Allah itu.”
“Rugi? Lo bilang rugi, nah si Mamah Dedeh noh, bilangnya eyke dosa!” Susanto melirik sengit pada Khalda. “Emang yang nentuin dosa nggaknya seseorang itu siapa sih? Lo berdua?”
“Bukan, Saaan! Pak Sapto guru matematika kita yang nentuin. Ya nggak, Da?” sela Ami mencoba meredakan ketegangan di antara mereka. Tapi tidak ada seorang pun yang tertawa.
Khalda terus menatap Susanto dengan tatapan tajam penuh intimidasi. “Kamu mungkin mengira kalau ngondek itu keren, gaul, bisa bikin orang ngetop. Tapi sebenernya itu adalah kekurangan yang perlu dianulir, perlu diobatin. Kalo nggak, bisa mengingkari takdir Allah dan mengingkari kebenaran ciptaan-Nya!”
Susanto tiba-tiba berdiri dengan gerakan gemulai yang dientakkan. Gerakan aneh itu malah membuat dia limbung, hampir jatuh kalau saja nggak buru-buru meraih pundak Ami. Wajahnya merah, cemberut dan tampak seperti mau menangis. “Cukup! Eyke nggak mau denger lagi ceramah kalian! Mulai sekarang eyke nggak akan gabung sama kalian lagi! Kalian makhluk bumi yang jahat! Mendingan eyke gabung sama pasukan Avengers untuk memerangi alien Saturnus! Pokoknya kita putus! Bhay!”
Masih dengan gaya paling dramatis, Susanto berpaling dan melenggang pergi sambil membawa mangkuk baksonya. Perginya nggak jauh ternyata, cuma ke meja sebelah yang dihuni beberapa cewek imut-imut dari kelas sepuluh.
Chika menyenggol siku Khalda. “Susanto tersinggung, tuh.”
“Iya, Da,” timpal Asha cemas. “Apa kita nggak terlalu keras ya sama dia?”
Khalda menegakkan dagunya, keras kepala. “Biarin aja, Sha. Suatu saat dia akan berterima kasih pada kita. Kita kan berusaha menyelamatkannya.”
“Iya, sih, tapi nggak gitu juga caranya,” gumam Asha hatihati, takut menyinggung perasaan Khalda, apalagi mereka baru baikan.
“Cara aku emang keras, Sha. Bukankah dakwah itu boleh dengan tegas, boleh juga dengan lemah lembut?”
“Iya, itu juga bener,” jawab Asha. “Tapi kalau bisa dakwah dengan lemah lembut dan cara halus, ngapain juga memilih pake cara kasar? Rasulullah sendiri mencontohkannya dengan cara yang sangat lembut penuh kasih sayang.”
Khalda menghela napas, sesaat tampak bimbang, dan tebersit rona penyesalan di sepasang matanya. “Ya udah, mungkin caraku emang salah. Mudah-mudahan Susanto nggak dendam sama aku.”
“Dia bukan pendendam, kok. SMS aku aja jarang dibalas. Artinya, dia bukan orang yang suka dikit-dikit ngebales,” celetuk Ami santai.
Chika terkikik geli mendengar candaan Ami. Asha ikut senyum-senyum sambil lanjut menghabiskan baksonya. Tapi tiba-tiba senyumnya lenyap seketika. Wajahnya mendadak pucat. Asha meletakkan sendok dan buru-buru menyedot teh botolnya sampai habis. Nafsu makannya sudah terbang entah ke mana.
“Hai, Asha. ”
Serentak Khalda, Chika dan Ami menoleh ke sumber suara, sementara Asha justru membuang muka dengan wajah merah padam. Pura-pura sibuk dengan botol minumannya. Di hadapan mereka, Aidan dan dua orang temannya sudah berdiri. Menjulang begitu bersahaja, seolah mereka makhluk-makhluk yang turun dari bintang, benar-benar bening berkilau ditimpa cahaya. Merampas hak kepemilikan aura siapa saja yang ada di kantin ini. Membuat seluruh cowok di sekolah ini kelihatan dekil.
Khalda yang pertama sadar, lalu buru-buru meninggalkan mangkuk baksonya dan bangkit sambil menggandeng tangan Asha. Tak ada satu pun yang menjawab sapaan Aidan. Aidan justru melihat empat cewek itu berdiri dan bergegas meninggalkan meja mereka. Khalda mengangsurkan uang pas ke penjual bakso untuk membayar semua makanan dan minuman, sebelum cepat-cepat menyeret Asha pergi meninggalkan kantin diikuti Chika dan Ami.
Aidan hanya bisa menatap mereka dengan wajah penuh kecewa.
Jantung Asha berdebar tak karuan. Begitu besar keinginannya untuk menengok ke belakang sekadar melihat reaksi Aidan, tapi ditahannya, karena sikap seperti itu akan membuat Khalda lebih marah.
“Tunggu, tunggu!” seru Ami terengah-engah. “Kenapa sih kita harus menghindari Aidan?”
“Dia itu bahaya!” cetus Khalda. “Dengar ya kalian semua, cowok itu makhluk yang harus dihadapi dengan hati-hati, waspada. Mereka hanya mau memanfaatkan kita. Bikin kita terjebak terus terjerumus dosa. Hati-hati sama mereka!”
Ami dan Chika tampak terbengong-bengong mendengar petuah Khalda.
“Apalagi Paulin sudah mengancam Asha kalau sampe mendekati cowoknya. Bisa terjadi bencana besar!” tambah Khalda buru-buru mengalihkan ke topik awal.
“Tapi Aidan bukan cowoknya Paulin kok, dia kan jomblo!” celetuk Ami.
“Tenang aja, Da, aku juga nggak akan ngeladenin Aidan, kok,” sela Asha kalem.
“Jutaan cewek di sekolah ini sibuk cari perhatian Aidan. Tapi kamu, Sha, justru sibuk menghindari Aidan. Ironis banget! Hidup memang sering nggak adil!” Ami berdecak kesal.
Asha tak menjawab. Meski tergerak pengin protes karena sebenarnya omongan Ami itu hiperbolis sekali, karena jumlah cewek di sekolah ini nggak mungkin mencapai seribu, apalagi jutaan. Tapi Asha merasa buntu. Berbagai hal simpang siur dalam otaknya. Sementara mereka terus berjalan cepat menuju kelas sambil sesekali menengok, barangkali Aidan mencoba mengejar. Tanpa sadar, di tikungan yang menuju kelas mereka, hidung mereka hampir menabrak tiga orang cewek yang sedang berdiri kokoh menutup jalan.
“Astaghfirullahalazim,” desis Khalda kaget karena hampir
menabrak bahu Paulin.
Paulin menyilangkan tangannya di depan dada. Matanya menyipit sinis tepat ke arah Khalda, seolah Khalda hanya kuman kecil dari wastafel toilet yang cukup disentil ujung kelingking atau disiram air sabun. “Duh, sekolah kita kok jadi jorok banget ya? Makhluk-makhluk dekil bisa ada di sini.”
__ADS_1
“Bau, lagi!” timpal Agitha sambil sok-sokan memencet hidung.
Yova mengipas-ngipas leher dengan tangannya. ”Panas, pula!”
“Mateng deh!” cetus Agitha.
“Pedes!” balas Yova.
“Agak manis dikiiit, kasih kecap!”
“Bumbu kacangnya yang banyak!”
“Pake kencur ama ditabur bawang goreng dah, mantep!”
“Girls! Plis deh! Kalian ngapain sih?! Fokuuus...!” komando Paulin pada kedua dayangnya.
Jadi, jangan salahkan Asha, Khalda, Ami dan Chika kalau mereka berempat jadinya terbengong-bengong keheranan melihat aksi tiga manusia akhir zaman yang spesiesnya mungkin udah nggak akan diproduksi lagi di beberapa abad ke depan itu. Mereka absurd banget.
“Kalian tuh sering banget gagal fokus!” omel Paulin, membuat dua temannya cemberut tapi sekaligus merandek diam. Paulin kembali menghadapi grup Asha. Sekarang Asha yang dipelototinya. “Kalian udah dengar tentang pesta ulang tahun gue, kan?”
Asha menoleh pada Khalda, dan Khalda menoleh pada Chika, dan Chika menoleh pada Ami, dan Ami menoleh pada Yova, dan Yova menoleh pada Agitha dan Agitha menoleh pada Paulin, tapi langsung menunduk pura-pura melihat semut ketika Paulin malah balas memelotot.
“Kalian udah dapet undangannya?!” bentak Paulin. Udah mulai berkeringat saking emosinya.
“Undangan?” Asha pura-pura balik tanya. “Undangan apa ya?”
“Undangan ultah gue, dong! Masa undangan rapat pembentukan OSIS!”
Chika langsung menyela kaget. “Kapan diadakan rapat pembentukan pengurus OSIS? Gue kan pengurus OSIS, kok gue nggak tahu?”
“Lo belom dapet undangannya, Chik?” tanya Ami.
“Rapat pembentukan OSIS baru? Belum!” jawab Chika kesal. “Jangan-jangan ini konspirasi mau ngejatuhin gue dari kedudukan gue sebagai anggota seksi kerohanian di kepengurusan OSIS!”
“Tapi undangannya emang belom ada, Chik. Mungkin emang belum diadain,” gumam Ami ragu.
“Ntar di kelas gue tanya Wahyu, deh. Dia pasti tahu, kan dia juga pengurus!” gerutu Chika.
“Iya, sejak kelas sepuluh gue udah jadi pengurus OSIS,” jawab Chika bangga.
“Keren banget, Chik. Kalo gitu, aku bisa dong meminta bantuan kamu untuk menjalankan rencana aku dalam mensosialisasikan pendidikan akhlak dan pendalaman agama untuk pelajar?”
“Bisa banget, Da. Mudah-mudahan gue tetep kepilih lagi jadi pengurus, biar kita bisa jalan bareng bikin kegiatan positif yang nggak sekadar wacana doang.”
Chika sama Khalda malah lebih absurd lagi. Asha menggaruk-garuk hidung sambil menahan senyum. Apalagi dilihatnya ekspresi yang terpeta di wajah cantik Paulin semakin lama semakin mengenaskan.
“Hey, girls!” bentak Paulin mencoba menghentikan obrolan tentang OSIS. “Yang gue tanya tuh undangan ultah gue!”
“Iya, undangan ultah Paulin!” tambah Agitha bantu menegaskan.
“Betul, undangan ultah Paulin. Bukan undangan rapat OSIS!” Yova ikutan nyeletuk.
“Emang kamu udah dapet undangan rapat OSIS-nya, Va?” tanya Chika.
Yova menggeleng polos. “Belum. Kapan sih?”
“Nggak tahu, gue juga belom dapet,” Chika mengedikkan bahu.
“Coba nanti tanya Wahyu,” ujar Ami tampak cemas.
“Hellooooo??!” Paulin menjerit frustrasi. “Kalian ini kenapa sih ngomongin undangan OSIS nggak selesai-selesai! Yang gue tanyain tuh undangan ultah guuueeee...!”
Asha sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Sambil mengatupkan bibirnya yang nggak bisa berhenti cengengesan, dia langsung menyeret Khalda, Ami, dan Chika menembus pertahanan gerombolan Paulin yang masih galau gara-gara undangan rapat pembentukan pengurus OSIS. “Tenang aja, Paulin, kita udah terima undangan kamu, kok. Insyaallah kita nggak akan datang.”
Kemudian mereka berempat bergegas menyingkir meninggalkan Paulin, Agitha dan Yova menuju ke kelas mereka sambil cekikikan.
***
“MEREKA pacaran?”
Asha sedang konsen memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, jadi dia nggak paham siapa “mereka” yang dimaksud Khalda. Asha mengangkat kepala, mengikuti pandangan Khalda yang tertuju pada Wahyu dan Julia yang duduk berdekatan di meja sebelah.
__ADS_1
“Maksudnya Wahyu sama Julia?” tanyanya menegaskan.
Khalda mengangguk. Matanya masih mengawasi pasangan itu dengan tajam.
“Sebaiknya tanya mereka aja, atau tanya Ami, dia kan ratu gosip kita. Kalo aku, sama nggak tahunya sama kamu, Da.”
Yang tidak diduga Asha adalah, Khalda beneran bangkit dari kursinya, lalu mendekati Wahyu dan Julia sebelum Asha sadar untuk segera mencegahnya.
“Kalian mau pulang bareng, ya?” Khalda mencoba menyela obrolan Wahyu dan Julia. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat dua orang itu kaget dan menatapnya keheranan.
“Iya, emang kenapa?” tanya Wahyu.
Sementara Julia hanya menatap Khalda dengan mata menyipit meremehkan.
“Nggak kenapa-kenapa sih, cuma mau tahu aja. Pasti kalian nanti pergi berdua ya ke pestanya Paulin?”
Tiba-tiba mata sipit Julia jadi memelotot mendengar pertanyaan Khalda. “Heh, lo kok nanya-nanya soal pesta segala! Lo mau ngajakin cowok gue ke pesta Paulin ya?”
Khalda tersenyum kalem sambil menggeleng. “Nggak, kok. Emang Wahyu cowok kamu?”
“Iyalah! Mau lo apa?!” Julia nyolot.
Wahyu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang berambut ikal dan tebal. Mungkin merasa diri diperebutkan dua cewek, padahal belom tentu. Sementara Asha melihat adegan mereka dengan perasaan cemas.
“Aku nggak pengin ngajak Wahyu ke pesta kok, aku justru pengin ngajak kalian datang ke acara yang aku bikin besok siang sepulang sekolah di musala. Acaranya sharing tentang pacaran menurut islam. Semacam diskusi dan ngobrol-ngobrol aja. Khusus untuk mereka yang pacaran di sekolah ini.”
Hening seketika. Baik Julia, Wahyu, maupun Asha, samasama ternganga mendengar ucapan Khalda.
“Tujuannya apa bikin acara kayak gitu?” tanya Wahyu meski terdengar agak tertarik.
“Untuk menyadarkan para remaja yang pacaran supaya mereka tahu bahaya pacaran dan bisa memahami rambu-rambu pergaulan antarcewek dan cowok.”
Kemudian hening lagi.
Keringat dingin muncul di kening Asha. Sebentar lagi dia pasti melihat salah satu dari sepasang makhluk yang lagi kasmaran itu bakalan ngamuk besar-besaran. Tapi Khalda justru kelihatan sangat tenang.
“Lo tahu Bu Yunita?” cetus Julia tiba-tiba.
Khalda menggeleng.
“Hari Sabtu nanti ada pelajarannya, jadi lo bakalan tahu. Bu Yunita ngajar Bimbingan dan penyuluhan, alias guru BP. Lo tahu kalo hal-hal kayak gini adalah tugas dari guru BP. Negur orang pacaran. Negur orang berantem. Negur orang nyuri. Tapi lo tahu nggak, sejak dari kelas sepuluh gue belom pernah denger ada orang pacaran diusilin sama Bu Yunita!” tandas Julia sinis. Kemudian disambungnya dengan nada yang meremehkan. “Tapi elo. Helo? Lo siapa? Tahu-tahu lo dateng dan sok-sokan pengin nyeramahin kita?!”
“Bu Yunita harusnya melakukan tugasnya dengan baik,” sela Khalda masih kalem.
“Lo aja yang kurang kerjaan!” seru Julia, membuat seisi kelas yang sudah siap-siap beranjak pulang, menoleh ke arah mereka.
Sebelum mendengar alasan Khalda lagi, Julia langsung menyeret tangan Wahyu untuk segera pergi keluar kelas. Wahyu hanya menatap sekilas pada Khalda dengan tatapan penuh tanda tanya sebelum beranjak menguntit Julia. Khalda tampak menghela napas, berdiri diam sampai Asha bangkit dan menghampirinya.
“Da, what did you do?” bisik Asha heran.
“Try to helped them,” balas Khalda ikut berbisik.
Kemudian mereka berjalan keluar kelas bersisian. Nyaris selalu bertabrakan dengan siswa-siswi lain yang berebut ingin pulang.
“Nggak bisa dengan cara lebih halus?” tegur Asha masih dengan suara pelan.
“Please, Sha, kamu selalu bilang kalo caraku kasar. Apa kamu ngeliat aku bawa pentungan atau alat setrum nyamuk untuk mengancam mereka?” gerutu Khalda.
“Nih, Da, ibaratnya, kamu datangi orang lagi mabuk terus kamu ceramahi bahwa mabuk itu dosa, dan dia harus ikut konseling. Bayangin aja orang mabuk diajak ngomong begitu, boro-boro mau dengerin kamu, yang ada pasti dia bakalan ngamuk.”
“Terus, menurutmu aku harus gimana?”
Asha mengangkat bahu. “Entahlah, Da, buat aku semua ini membingungkan. Kita baru dua hari di sini, beradaptasi aja masih sulit. Kita urus diri kita aja deh, nggak usah ngurusin urusan orang lain.”
“Nah, pemikiran ini nih yang salah!” tukas Khalda. “Kita nggak bisa hanya membenahi diri, Sha, sementara kita biarkan lingkungan sekitar kita mengancam. Kita punya tanggung jawab untuk perbaikan akhlak secara kafah. Nggak hanya perbaikan diri kita, tapi juga lingkungan sekitar kita.”
Asha mengangkat bahu. “Entah deh ya, aku sih nggak yakin.”
“Aku yakin, kok! Aku udah ngobrol sama Chika, besok aku sama anak-anak rohis dari OSIS bakal ngadain pertemuan dengan anak-anak yang punya hubungan pacaran, di musala seusai salat zuhur. Kamu ikut juga, Sha!”
“Oh, God! Bukannya itu cari mati namanya?” Asha tampak cemas. “Kita liat besok deh.”
__ADS_1
Khalda terhenti sejenak mendengar komentar frustrasi Asha, dia menghela napas, lalu kembali menyusul Asha berjalan keluar dari gerbang sekolah menuju halte pemberhentian angkutan umum.