
“ASSALAMUALAIKUM...! Asha? Apa kabar, Sha?”
Asha terlonjak girang, nyaris berteriak ketika menjawab sapaan Fitri di telepon. “Fiiit! Waalaikumsalaaam...! Kabar baik, Fit! Kamu sendiri gimana? Duuh, kangeeeen...!”
“Yeey, kita di sini barusan meeting pembentukan panitia open house buat hari Minggu besok. Gue kebagian seksi konsumsi. Kalo lo di sini pasti kebagian jadi seksi acara, Sha!”
“Ada open house lagi?” Asha meratap.
“Iyalah, kan mumpung masih awal semester. Kali ini temanya buku. Jadi selain ada pameran buku, juga ada workshop kepenulisan dan sharing sama penulis dan penerbit!”
Asha menjerit kesal. “Kenapa sih pas aku nggak di situ acaranya kereeeen!”
“Kan sengaja, Sha, biar kamu cepet balik sini,” Fitri terkekeh.
Asha merengut, meski sadar Fitri tidak mungkin melihat ekspresi manyunnya.
“Eh, Sha, gimana kabar si Khalda?”
“Baik-baik aja, tumben kamu nanyain dia.”
Suara Fitri sekarang agak berbisik. “Soalnya Sha, Khalda itu kan anaknya agak-agak jutek gitu. Di pondok aja temennya dikit. Di sana dia punya temen nggak?”
“Ya punyalah, kan aku temennya!”
“Selain kamu, bebeeek!”
“Ih, masih aja manggil aku bebek,” Asha manyun lagi. “Khalda sekelas sama aku dan kita punya banyak temen, paham? Kenapa sih tanya-tanya Khalda mulu?”
“Nggak kenapa-kenapaa. Eh, Sha, temen cowoknya banyak nggak di sana?”
“Duh, banyak banget, kaya ketombe kamu!”
“Jiih, jijay banget sih! Nyamain cowok sama ketombe!
Cakep-cakep nggak?”
“Ada yang cakep, ada yang nggak, ada yang setengah cakep setengah nggak. Kamu ngapain sih nanyain cowok?”
“Siapa tahu ada satu yang naksir kamu, Sha!” Fitri terkikik.
“Astaghfirullah, Fitri! Kok kamu ngomong gitu sih? Bisa disate aku ama Ustazah Heni kalo jauh-jauh dikirim ke sini malah taksir-taksiran!”
“Masa sih nggak ada yang naksir lo?”
“Yang naksir pasti banyaklah, Fit, tapi sebanyak apa pun yang naksir itu nggak bikin aku jadi bisa dikirim ke Jerman. Pemilihan beasiswa ini nggak berdasarkan voting. Coba kalo pemenangnya ditentukan oleh SMS kayak Indonesian Idol, bakal aku gebetin semua cowok itu biar kirim SMS sebanyakbanyaknya dukung aku! Eh, tapi Indonesian Idol masih ada emang?” oceh Asha mulai ngaco.
Fitri makin terkikik. Asha membayangkan kalau sekarang teman sekamarnya itu pasti sambil memegangi perutnya. “Sha, hati-hati lho, nanti jatuh cinta sama salah seorang dari mereka!”
“Ya Allah, jangan sampe deh! Kalo aja kamu tahu, Fit, mereka makhluk yang mengerikan. Suka semena-mena kalo mengejar cewek! Dan nggak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya!”
“Astaghfirullah ... yang bener, Sha?”
“Iya, nanti kamu juga akan tahu seperti apa mereka.”
“Nanti? Kapan?”
“Kapan aja boleh. Tunggu aja lebaran kucing!”
“Dasar bebek!”
Asha cengengesan. Sebelah tangannya yang bebas tanpa sadar sibuk mencoret-coret kertas kosong dengan pensil 2B yang dipegangnya. Kebiasaan isengnya setiap menerima telepon.
“Sha, udah dulu ya, nanti Teh Pipit marah kalo kelamaan nelepon. Ini juga rebutan jatah di kamar, harusnya sekarang jatah Raisera. Temen-temen nitip salam tuh, semua kangen katanya!”
Di pondok ada larangan membawa handphone dan gadget lainnya. Kalau butuh berkomunikasi, ada satu ponsel jadul yang disediakan untuk setiap asrama dan santri harus bergantian bergantian memakainya untuk menghubungi keluarga. Handphone dipegang oleh masing-masing kepala asrama. Satu asrama terdiri dari enam kamar, satu kamar terdiri dari enam santri.
“Salam balik buat semua ya, buat Teh Pipit juga.”
“Wokey.... Assalammualaikum. ”
“Waalaikumsalam,” balas Asha. Dia meletakkan handphonenya ke atas meja. Rasa rindunya pada kamar asramanya di pondok sedikit terobati dengan adanya telepon dari Fitri tadi. Asha melihat jam Mickey Mouse-nya, sudah pukul delapan malam. Pantes saja dia sudah mulai mengantuk. Lalu dibenahinya meja belajarnya, dan tanpa sadar matanya menangkap pemandangan paling aneh yang pernah dilihatnya. Kertas kosong yang tadi jadi sasaran coretannya selama dia ditelepon Fitri, benar-benar membuatnya terbelalak ngeri. Ada coretan huruf-huruf keriting yang disambung membentuk satu nama: Aidan.
__ADS_1
Kenapa tahu-tahu dia menulis nama cowok itu?!
Dengan panik Asha segera meraih dan meremas-remas kertas itu, lalu melemparnya ke keranjang sampah. Tepat ketika seseorang muncul di pintu kamarnya yang tidak terkunci. Khalda. Asha mendadak pucat.
“Aduh, Da, ngagetin aja deh!”
“Sori, lupa assalammualaikum,” jawab Khalda tenang. Kemudian dengan santainya dia masuk ke kamar dan duduk di atas tempat tidur. “Kamu lagi ngapain?”
“Barusan aku ditelepon Fitri, temen sekamar di asrama.”
“Oh ya?” Khalda tampak sulit menyembunyikan perasaan
irinya. “Ada kabar apa di pondok?”
“Mereka bakal ngadain open house lagi hari Minggu besok, temanya buku. Pameran buku, bazar buku, workshop menulis, jumpa penulis, jumpa penerbit, buset banget kan? Giliran kita di sini aja mereka bikin tema keren.”
Khalda mengernyit, makin ditekan rasa iri. “Ya Allah, seandainya kita bisa hadir ke sana hari Minggu ya. ”
“Bisa aja kalo kita niat bolak-balik. Tapi cape!” Asha mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, meraih boneka panda besar di dekatnya dan memeluknya erat.
Pondok mereka setiap awal dan akhir semester selalu mengadakan open house untuk umum. Tapi pengunjung yang diperbolehkan masuk hanya kaum putri, cowok dilarang ikutan. Seringnya sih sekadar bazar aja. Seperti bazar makanan, buku, pakaian, alat tulis, aneka lomba, dan ragam permainan. Sepanjang Asha mondok, belum pernah sampai ada workshop menulis segala, apalagi mendatangkan penulis beneran.
“Kalo ada waktu libur, mungkin kita bisa ke sana. Tapi aku juga pengin pulang ke Yogya kalau libur,” gumam Khalda. Tangannya memilin-milin kepang rambutnya yang panjang. “Kangen ibu.”
Asha menatap Khalda dengan rasa iba yang tiba-tiba menyeruak hadir. Perlahan Asha bangkit, duduk berhadapan dengan Khalda sambil terus memeluk bonekanya. “Pasti mereka semua juga merindukan kamu.”
Khalda menunduk, masih memilin kepangnya. Beberapa saat mereka sama-sama membisu. Asha mencoba memahami perasaan Khalda. Meski mereka sudah sering jauh dari rumah, tinggal di asrama pondok, tapi situasi ini tetap berbeda. Pasti ada kesedihan mendalam saat Khalda melihat Asha bercengkerama akrab dengan mamanya, ada rasa iri yang mendalam ketika Asha ditelepon teman-temannya di pondok, sementara Khalda tidak. Khalda hanya tidak ingin mempersoalkannya lebih jauh.
“Udah ngerjain PR matematika?” tanya Khalda mencoba menetralisir suasana.
Asha mengangguk.
“Besok kamu dateng kan ke acara pertemuan di musala sepulang sekolah, seusai salat zuhur?”
Asha mengangguk lagi. “Kita kan pulangnya bareng, pasti aku ikut dong. Aku bakal bilang ke Mama supaya kita nggak usah dijemput.”
Khalda tersenyum, berusaha menyembunyikan kegundahannya, kemudian bangkit dengan anggun. “Aku mau tidur dulu, Sha. Nanti jam tiga kita bangun dan belajar bareng ya?”
***
KONON, cewek adalah makhluk yang paling misterius. Tapi Khalda adalah cewek double misterius kuadrat. Dia terkadang terlihat begitu ekspresif, panikan, mudah merasa cemas, tapi di lain waktu dia begitu tenang, pendiam, introver, dan susah ditebak.
Bahkan, Asha tak bisa menebak apa yang dirasakannya saat ini, ketika mereka berempat duduk di hamparan karpet musala sekolah, saling diam dan menunggu. Khalda, Asha, Chika dan Mira, cewek berjilbab lebar yang nyaris tak pernah absen salat dhuha. Mereka hanya berempat, sejak usai menjalankan salatzuhur, sampai jam menunjukkan pukul dua siang, duduk diam sambil sesekali memperbincangkan soal pelajaran di kelas. Tak seorang pun yang sejak pagi tadi didata dan diundang oleh Khalda, tampak muncul batang hidungnya. Padahal Khalda sudah susah payah mendata siapa saja yang sedang atau diduga sedang pacaran di sekolah ini. Sejak pagi buta Khalda dan Chika sibuk mendata dari kelas ke kelas, sekaligus memberikan selembar undangan setengah resmi untuk cewek-cewek yang terdaftar sudah punya pacar. Tapi tak satu pun yang hadir di musala ini. Entah di mana letak salahnya.
Perut Asha sudah keroncongan. Asha juga khawatir Mama akan memarahinya nanti kalau pulang terlambat.
“Yang diundang tuh cewek sama cowoknya apa ceweknya aja, Da?” tanya Mira, membuka percakapan lagi setelah beberapa detik hening karena kehabisan topik.
“Untuk sekarang kita undang ceweknya aja, karena kita nggak mungkin mengundang cowok ke sini. Yang cowok nanti urusan rohis cowok, tapi mereka bilang belum siap untuk program ini,” jawab Khalda datar, tanpa bisa dibaca jelas apakah dia kecewa atau tidak.
“Dan cewek-cewek itu ternyata nggak datang,” gumam Chika pelan.
Kemudian hening sejenak. Sampai akhirnya Khalda menghela napas dan bicara dengan suara dipaksakan riang. “Nggak apa-apa, Chika. Yang namanya maksud baik memang selalu ada kendalanya. Tapi kita nggak boleh putus asa. Kita harus tetap menjalankan misi kita ini.”
“Sebenarnya kita punya misi apa sih?” tanya Miranda kebingungan, karena baru kali ini secara tiba-tiba dia dilibatkan dalam kelompok mereka.
“Bisa nggak kita pindah ngobrol ke kantin aja?” sela Chika yang sudah tak bisa lagi menahan laparnya.
Tiba-tiba Khalda bangkit seraya menyambar tas ranselnya. “Sudah jam dua siang, sekolah juga udah sepi. Nggak mungkin ada yang datang. Sebaiknya kita pulang saja.”
Asha, Chika dan Miranda saling berpandangan sejenak. Kemudian sama-sama bangkit seperti dikomando. Berempat mereka berjalan lunglai meninggalkan musala. Tak ada satu pun yang membuka percakapan. Semua membisu, seolah sibuk menghitung langkah.
“Hai!”
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Ami yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Di sebelahnya berjalan seorang cewek berjilbab yang berwajah imut.
“Gimana pertemuannya tadi?” Ami menghampiri rombongan Asha.
“Nggak jadi, nggak ada yang datang,” Asha menjawab.
Wajah Ami langsung tertekuk. “Oh, sayang banget. Padahal kita udah cape-cape keliling dari kelas ke kelas untuk nyebar undangan tadi pagi.”
__ADS_1
“It’s okay. Pasti nggak akan sia-sia, kok. Ya nggak, Da?” cetus Chika sambil melirik Khalda yang sedari tadi hanya terdiam.
Asha ikut melirik Khalda, agak khawatir melihat ekspresi wajahnya yang datar seolah tak menampakkan emosi apa pun.
“Aku tadi abis jajan di kantin, sambil liatin anak-anak mading pada ngumpul,” sela Ami tanpa ditanya. “Tahu-tahu ada yang deketin aku. Nih dia orangnya.” Ami menyenggol siku cewek yang berdiri di sisinya. “Kenalin nih Na, temen-temen baru aku yang tadi aku ceritain. Ini Khalda, yang itu Asha.”
“Sienna,” Cewek imut itu bergumam dengan suara sangat
lembut. Asha dan Khalda bergantian menjabat tangannya.
“Apa kabar, ukhti?” tanya Khalda sambil memaksakan senyumnya.
Sienna tampak mengernyit. “Namaku Sienna.”
Khalda dan Asha saling melirik, kemudian buru-buru Asha menjelaskan. “Eh, iya Sienna. Maaf kami panggil ukhti, artinya saudara perempuan.”
Sienna masih tampak tak mengerti. “Tapi aku kan bukan sodara kalian.”
“Setiap muslimah adalah bersaudara,” ujar Asha.
Sienna tampak tersipu-sipu, lalu membuang muka, pura-pura mengamati anak-anak basket yang sedang berlatih di lapangan.
“Na, ceritain dong sama Khalda dan Asha, kenapa lo mau ketemu mereka?” desak Ami tak sabar.
Sekarang semua mata menatap Sienna, menanti cewek imut yang memiliki kecenderungan bakat menggemaskan di balik kerudungnya itu berbicara.
“Aku kebetulan mendengar kalian membagikan undangan tadi pagi untuk forum dialog di musala bagi mereka yang pacaran,” tuturnya sangat lembut, membuat semua orang harus menegakkan kuping untuk menyimak lebih baik.
“Terus?” sela Chika.
“Aku sebenernya mau hadir, tapi—”
“Kamu punya pacar?” Khalda membelalak.
Perlahan sekali kepala Sienna mengangguk. “Tapi bukan di sekolah ini. Dia anak kuliahan. Jadi temen-temen nggak ada yang tahu.” Sienna kemudian membuka ritsleting tasnya, merogoh-rogoh tasnya sebentar, kemudian memberikan beberapa lembar foto selfie hasil pemotretan di fotobox. Dalam foto itu tampak dirinya dengan seorang cowok yang sungguh sangat super kerennya. Mereka mencoba bermacam-macam pose lucu, termasuk pose mesra.
“Astaghfirullah....” Khalda menekap bibir dengan jarinya. “Kamu kan berjilbab, kenapa pacaran semesra ini?”
“Memangnya kenapa kalau berjilbab? Banyak yang ber-jilbab tapi pacaran, kami toh tahu batas-batasnya.” Sienna tampak tersinggung, lalu memasukkan kembali foto-fotonya ke dalam tas.
“Kamu yakin bisa tetap di garis batas? Pacaran seperti apa yang kamu maksud tahu batas itu? Yang namanya pacaran, tetap haram. Sangat berbahaya. Sebagai akhwat berjilbab, seharusnya kamu tahu itu.”
Sienna tampak kebingungan mendengar kecaman penuh intimidasi dari Khalda. Dia beralih menatap Asha, seolah meminta dukungan. Asha lagi-lagi ingin mencubit Khalda, sekaligus mendinginkan otaknya dengan es batu supaya nggak gampang ngebul. Khalda sangat menghakimi, sejak kemarin. Entah kenapa.
“Sienna, kenapa kamu bisa tertarik dengan ajakan kita sharing tentang pacaran meskipun kamu nggak terdata tadi pagi?” tanya Asha mencoba meluruskan kebingungan Sienna.
Tapi Sienna kelihatannya sudah menutup rapat-rapat. Dia hanya menggeleng pelan sambil menunduk. Asha dan Ami saling bertukar pandang, lalu Asha melirik Khalda. “Mungkin lain kali kita bisa adain lagi pertemuan seperti itu.”
“Sabtu kita adakan lagi,” cetus Khalda.
“Jangan Sabtu,” sela Chika cemas. “Ada pertemuan rutin anak-anak rohis sepulang sekolah. Gimana kalo kita adakan Senin siang aja?”
“Baiklah, Senin siang kalau begitu.” Khalda menyetujui.
Kemudian tak ada yang berkomentar tentang pertemuan itu lagi. Tapi mereka semua seperti sepakat mulai berjalan menuju gerbang sekolah sambil mengobrol ringan. Sudah terlalu terlambat, bahkan beberapa anak-anak ekskul Paskibra sudah mulai berdatangan lagi untuk berlatih. Jemputan Mama sudah diabaikan, dan Asha terpaksa harus pulang naik angkot lagi.
“Ada apa sih sama kamu, Da? Semua orang kamu hakimi. Kalau mereka tersinggung gimana coba?” bisik Asha, sengaja menggunakan bahasa Arab seperti yang biasa mereka pakai di pondok.
“Emang salahku apa? Aku cuma ngingetin mereka aja,” gerutu Khalda. Meski mereka bicara bahasa Arab yang kemungkinan tidak dimengerti yang lain, tapi mereka tetap berbisik dan menjaga jarak agar tak ada yang tersinggung. Berusaha tidak mencolok sementara yang lain sedang sibuk ngobrolin soal pelajaran dikelas.
“Khalda, take it easy. Kita kan bisa pelan-pelan..”
“Ini juga pelan-pelan kok, Sha. Namanya juga perjuangan.
We have to go on!”
“Maybe not that way...!”
“But this is my way!”
Khalda memang keras kepala, dan Asha tak berdaya melihat keteguhan yang memancar dari sorot matanya. Asha menghela napas, menyerah. Dan mereka terus melanjutkan langkah menuju tempat pemberhentian angkot tanpa bersuara lagi.
__ADS_1