HIJAB FOR SISTERS

HIJAB FOR SISTERS
Episode 2


__ADS_3

“SUBUH, subuuuh…!”



Asha mendengar teriakan Mama di pintu kamarnya. Matanya masih sangat rapat, rasa-rasanya masih belum rela membuka barang sekejap pun. Sementara ketukan di pintu kian gencar terdengar.



“Ashaaa...! Subuhan dulu, Shaa...!”



Asha terpaksa bangkit, mencoba duduk di tempat tidur. Matanya masih terpejam. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kepala. “Lagi dapet, Maaa. ”



Lalu kehebohan Mama berhenti seiring dengan jawaban Asha barusan. Dia menguap lebar, kemudian kembali menyurukkan diri ke dalam selimut. Biasanya kalau di pondok, meski sedang dapat haid dan tidak bisa melakukan salat tahajud, Asha tetap bangun pukul tiga pagi untuk membuka kembali hafalan surat Al-quran dan hadis. Setelah itu dia mulai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Sebelum mandi, dia pasti menyempatkan diri untuk membereskan kamar lebih dulu.Tapi kalau di rumah, dia merasa harus memanjakan diri. Sifat malasnya suka tiba-tiba kumat, dan masa haid seperti ini adalah masa-masa dimana dia punya alasan untuk bebas bangun jam berapa saja.



Samar-samar Asha mendengarkan lantunan ayat suci yang dikumandangkan dengan sangat tartil. Alam bawah sadarnya mengikuti bacaan ayat tersebut. Surat Al­kahfi, dia kenal betul. Dia sudah menghafalnya. Tapi suara itu bukan suara Mama, juga bukan suara mbok Inah, pelayan setia mereka. Mendadak kantuk Asha menguap begitu saja. Matanya perlahan-lahan terbuka, mencoba melawan kegelapan yang masih mengepungnya. Asha menyalakan lampu meja sambil mengernyit. Otaknya berputar-putar, mencoba mengingat-ingat suara siapa yang berasal dari kamar sebelah tersebut. Ketika kesadarannya pulih, dia baru ingat siapa si pemilik suara serak-serak basah itu.



Asha segera turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan mengendap-endap keluar kamar, menuju kamar khusus untuk tamu yang terletak di sebelah kamarnya. Kamar itu tidak tertutup, membuat Asha bisa leluasa mengintip ke dalam, lalu dia mendapati keberadaan Khalda yang sedang menghafal suratsurat Al-quran di atas hamparan sajadah, dengan tubuh masih terbungkus mukena putih. Suaranya yang serak itu terdengar sangat merdu.



Khalda datang kemarin sore diantar kedua orangtuanya. Kedatangan Khalda mengingatkan Asha bahwa mereka sekarang sudah berada di penghujung liburan semester. Artinya, hanya tinggal hitungan jam saja, mereka akan menjalani masamasa belajar di SMA Pancasila. Asha tak bisa membayangkan seperti apa sekolah umum tersebut. Seperti apa kehidupan mereka di sana nanti.



“Shodaqoallaahu aladiiim. ”



Asha menarik diri ketika mendengar Khalda mengakhiri bacaannya. Tapi telambat, karena Khalda telah menoleh ke arahnya.



“Udah salat, Sha?” tegurnya lembut.



“Lagi nggak salat,” jawab Asha enggan.



Khalda melepas mukenanya, lalu melipatnya jadi satu dengan sajadah. Tanpa jilbabnya, Khalda tetap terlihat manis. Parasnya sederhana dengan kulit kecokelatan seperti sering terbakar matahari. Rambutnya sangat panjang, sampai harus dikepang dan dimasukkan ke dalam gamisnya. Khalda tak pernah menggulung rambutnya ke atas kepala.



“Besok kita sudah harus berangkat sekolah. Menurut kamu, sekolah umum itu seperti apa ya?” tanya Khalda lagi sambil duduk di atas tempat tidurnya.



Pertanyaan itu seperti ditujukan untuk dirinya sendiri. Khalda kelihatan berniat mengajak Asha ngobrol. Karenanya, Asha melangkah masuk ke dalam kamar, lalu ikut duduk di atas tempat tidur, di samping teman barunya tersebut.



“Katanya sih enak, nggak seketat pondoklah. Pelajarannya lebih ditekankan ke pelajaran umum, sementara pelajaran agama sangat yah, nggak sebanyak saat kita di pondok. Kalau dulu kita diharuskan tahfiz Quran, di SMA baru diajarkan iqra satu.”



“Masa sih? Nggak juga kali. Keponakanku di SD kelas satu aja udah iqra delapan.”



“Ya itu sih aku bercanda.” Asha mengangkat bahu sembari terkekeh. “Aku juga kan nggak tahu seperti apa pelajaran di SMA umum. Yang jelas, pendidikan agama islamnya sangat kurang. Nggak heran kalau kita sering membaca berita tentang anak sekolah yang berbuat mesum, padahal ceweknya berjilbab misalnya. Karena di sekolah umum jilbab nggak dilarang, tapi nggak dibarengi dengan pendalaman akhlak islam. Akibatnya, banyak deh cewek berjilbab yang pergaulannya salah kaprah.”



“Itulah risikonya kalau nggak ada hijab yang membatasi interaksi cewek sama cowok.”



“Tapi kalo kita di posisi mereka,” sela Asha,“apa kita juga bisa bertahan menghindari interaksi lingkungan? Lingkungannya sendiri menciptakan kondisi kemajemukan yang membolehkan interaksi tanpa batas antar cewek sama cowok.”


__ADS_1


Sekarang Khalda yang mengangkat bahu. “Mungkin kitanya yang perlu membentengi diri.”



“Nah, untungnya kita udah tahu batas-batasnya. Bagaimana dengan mereka yang nggak dibesarkan di lingkungan pesantren, dan hanya mengetahui agama dari mata pelajaran yang cuma dua jam setiap minggunya?”



“Sepertinya kita lebih beruntung, ya, Sha?”



“Tapi, apakah cukup hanya kita saja yang membentengi pergaulan? Bukannya nanti bakal dicap aneh?”



“Sha..., namanya juga menegakkan kebenaran. Pasti nggak akan mudah. Sebagian besar orang lebih milih aman dengan suara terbanyak meski salah, daripada benar tapi diasingkan.”



“Iya sih, Da, aku cuma nggak habis pikir kenapa kita harus diuji dengan cara seperti ini. Kita jadi berasa Nabi Adam dan Siti Hawa yang diusir dari surga, tahu nggak?” sungut Asha sambil menarik lututnya ke dada.



“Tuh, kan, kamu aja yang keliatannya lebih tabah ngerasa galau juga dengan ujian begini, apalagi aku. Aku nggak pernah keluar dari lingkungan pondok sejak kelas tujuh. Kalaupun aku pulang ke Jogja, aku lebih banyak di rumah bersama orangtua dan adik-adikku. Aku jarang banget ngobrol sama cowok, karena satu-satunya cowok di rumahku, ya, ayahku.”



“Nggak usah galau gitulah ... kalian, kan, santri-santri the best, Mama yakin kalian bisa mengatasi kesulitan apa pun,” sela Mama yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.



Mama melewati pintu kamar sambil menenteng dua mug berisi susu segar yang masih mengepul dan menyodorkannya satu per satu pada Asha dan Khalda. “Lagi pula, kalian diutus ke SMA itu bukan melulu untuk ketemu cowok kok. Tapi untuk belajar, sama seperti di pondok aja, sama-sama belajar ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Bedanya cuma pada tempat dan kondisinya aja.”



“Ih, Mama nih, nggak ngerti banget ya kalo Asha ama Khalda tuh nggak mungkin mempermasalahkan belajarnya, tapi lebih ke interaksi pergaulannya. Mama nggak bisa ngebayangin gimana canggungnya kita nanti kalo menghadapi anak-anak cowok, apa...,” cetus Asha sambil manyun.



“Aah, kamu tuh lebay! Kalo nggak mau ketemu cowokcowok tinggal nunduk aja, jangan hiraukan mereka, atau pake cadar sekalian!” canda Mama.




“Nggak mungkin bolehlah. Setahu Mama, aturan sekolah



umum nggak memperbolehkan siswinya memakai cadar!” gerutu Mama.



“Kalo nggak boleh, kenapa tadi Mama nyuruh pake cadar coba?” Asha balas mengomel.



“Habis Mama merasa aneh sama kalian, dari pembahasan kalian tadi tuh seolah-olah kalian akan menghadapi masalah besar yang sangat memengaruhi perputaran planet ini. Padahal intinya cuma karena kalian nggak mau ketemu temen cowok. Kalian kan sering ketemu cowok juga di mana-mana.”



“Ini memang masalah besar buat kita berdua, Ma. Pernah nggak Mama bayangin, selama lima tahun ini kita mondok dan berinteraksi hanya dengan perempuan. Kita juga terbiasa dengan disiplin ibadah dan menerapkan ilmu agama dengan sangat mudah. Lalu tiba-tiba kita harus masuk ke lingkungan bebas hijab, di mana interaksi lelaki dan perempuan berbaur, dan pemahaman ilmu agama sangat sedikit diberikan. Jelas dong kita berdua panik, Ma! Karena ini bukan masalah ketemu ama cowok di mal atau di masjid aja, tapi ini tentang berteman dan berbaur sama mereka.”



“That’s exactly the point, girls!” Mama menunjuk wajah Asha. “Siti Fatimah sangat tepat sekali memberikan ujian semacam ini pada kalian. Itulah poin sesungguhnya. Anggap saja kalau kalian ini sedang diuji, apakah bisa berinteraksi secara sosial tanpa meninggalkan nilai-nilai akidah yang luhur, atau tidak. Ingat anak-anak, kalau kalian berhasil, Jerman menunggu kalian!”



Asha dan Khalda saling berpandangan. Sejenak kemudian, seperti sepakat, keduanya sama-sama mengangkat mug, mendekatkan ke bibir, dan meneguk hingga tandas.



***



TOKO buku adalah tempat pertama yang paling ingin dikunjungi Asha setiap kali meninggalkan pondok. Setiap akhir pekan, setiap santri dibebaskan pulang yang dinamai Minggu Berkunjung. Kalaupun bukan pada waktu tersebut, Asha masih bisa mendatangi toko buku kecil di kawasan terdekat pondoknya. Dan sekarang Asha memuaskan dirinya tenggelam di tengah lautan buku bersama Khalda yang tak kalah bahagianya, juga mama yang tak pernah lepas dari androidnya. Tas keranjang merah di tangan Asha sudah penuh dengan bukubuku aneka judul. Dari buku-buku pelajaran kelas sebelas yang sudah direferensikan SMA Pancasila, buku-buku ringan seputar motivasi islam, sampai komik-komik Jepang, berjejalan di sana.

__ADS_1



“Buku pelajarannya udah lengkap semua, Da?” tegur Asha ketika di salah satu lorong berpapasan dengan Khalda.



Khalda mengecek tas keranjangnya. Dari tas itu menyembul buku Madre milik Dee Lestari. Asha yang ingin tahu, mencoba mengintip judul buku lain, dan menemukan novel-novel Tere Liye, Asma Nadia, sebuah buku dari filsuf Jalaluddin Rumi dan juga komik serupa.



“Kayaknya udah lengkap, deh,” gumam Khalda sambil menghitung jumlah bukunya.



“Novelnya juga lengkap banget tuh,” komentar Asha.



“Buat temen nyantai ngistirahatin mata kalo mau bobo. Tapi aku belum dapetin Stephanie Meyer sama Meg Cabot nih.”



“Stephanie Meyer seri Cullen? Aku komplet kok di rumah.



The Host juga ada. Tukeran pinjem ya sama Salad Days, aku nggak beli seri yang ini.” Asha menunjuk seri komik Jepang yang menyembul dari tas keranjang Khalda.



“Boleh, deh.” Khalda mengangguk.



“Sudah cukup belanjanya!” Tiba-tiba Mama menjelma dengan ekspresi galak di depan mereka. “Lama bener sih, kalian tadi rencananya kan cuma beli buku pelajaran. Kenapa jadi ngeborong novel sama komik sekeranjang?”



“Buat selingan Ma, biar kita terlatih membaca dan menulis, siapa tahu bisa jadi penulis,” ujar Asha berusaha ngeles.



“Jauh-jauh dipesantrenin ujungnya mau jadi penulis? Aduh Asha, Mama lebih berharap kamu jadi ustazah!”



“Memangnya lulusan pesantren cuma bisa jadi ustazah doang, Ma? Nggak juga kan? Jadi desainer interior kayak Mama juga bisa kok!”



“Bisa kalo kamu sekolah lagi ambil jurusan seni rupa!”



“Di Jerman kita boleh ngambil mata kuliah umum yang kita pilih nggak sih, Da?” Asha berpaling pada Khalda, tapi Khalda sedang mematung dengan wajah membeku. Matanya lurus menatapku ke depan, pada sepasang remaja yang berdiri berdekatan di depannya dan saling berbisik-bisik mesra. “Da, lagi liatin apaan sih?”



Penasaran, Asha mengikuti arah pandangan Khalda. Pada sepasang remaja yang sedang bermesraan. Yang cowok memakai jins dan kaus bergambar lambang VW, sementara yang cewek memakai jilbab modis dengan rok jins dan kemeja pas badan. Mereka tak hanya saling mendekatkan wajah dan berbisik, tapi juga berpegangan tangan.



“Astaghfirullahalazim,” didengarnya Khalda berucap lirih.



Asha menghela napas dan memalingkan wajah, lalu berdeham supaya Khalda juga berpaling dari pemandangan itu.



“Ayo kita ke kasir saja,” sela Mama yang kini tampak cemas. Mama segera menggiring Asha dan Khalda menuju kasir, lalu membayar semua buku-buku mereka tanpa banyak bicara. Mama juga tak banyak bicara ketika mengajak mereka keluar dari toko buku itu dan masuk ke outlet piza.



Mama memesan piza ukuran medium, tiga porsi salad, seporsi besar chicken wings, tiga gelas es krim dan orange juice. Sambil menikmati menu makan siang yang tak pernah mereka jumpai di pondok itu, Asha dan Khalda saling mendata kembali keperluan sekolah mereka.



“Kita belum beli buku agama ya?” tanya Khalda sambil menyendokkan salad ke mulutnya.

__ADS_1



“Kita kan belum dikasih referensi buku agama apa yang harus dibeli. Nanti kita tanya aja ke guru agamanya kalau udah di sekolah,” jawab Asha sambil meletakkan potongan piza ke piringnya.


__ADS_2