Hujan Milik Kita

Hujan Milik Kita
Chapter 9 : Berkunjung.


__ADS_3

"Hah! Cepat nak!" Teriak Mei.


"Iya bund sabar." Jawab Thalhah.


"Mau kemana sih bund? pake nyuruh cepat." Tanya Thalhah sambil menghampiri Bundanya.


"Udah gak usah banyak tanya kamu, Ikut aja apasih susahnya, Nanti juga kamu pasti seneng kok!." Ketus Mei langsung memasuki mobil yang telah dipanaskan Naksi. Sedangkan Naksi hanya geleng geleng kepala melihat itu.


"Huh....Tau aja gak kemana tempatnya pak bilang seneng lagi." gerutu Thalhah.


"THALHAH!!"


"IYA BUND!"


---


Tin...Tin...


Sebuah mobil memasuki halaman mewah nan luas, dari dalam mobil itu turun sepasang suami istri serta seorang anak laki laki, ya itu Thalhah dan orang tuanya.


"Bund, ini rumah siapa? perasaan Thalhah gak pernah kesini deh." Tanya Thalhah berbisik ke Bunda Mei.


"Udah diam aja kamu, Berisik tau gak." Kata Bunda Mei.


"Huh.... Punya Bunda kayak gini banget, serasa Ibu tiri." Gumam Thalhah tapi masih didengar Bunda Mei.


"Apa Katamu?!" Tanya Bunda Mei sambil menatap tajam Thalhah.


"E-eh gak ada kok bund, Cuman bilang Bunda itu cantik." kata Thalhah sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.


"Awas kamu ngomong macam macam soal bunda, Bunda kutuk kamu jadi Berlian." Ancam Bunda Mei.


"Tuh kan anak aja mau dikutuk jadi berlian habistu palingan dijual huhuhu kasihannya nasibku." Ucap Thalhah dalam hati.


"Gak usah ngomong dalam hati kamu." Kata Bunda Mei.

__ADS_1


"What?! Bunda punya indra ke enam kali ya, ngomong dalam hati pun kedengaran."


Ting....tong.... Naksi menekan Bel rumah itu.


Kreeek....


"Naksi.... Mei...." Kaget Seorang perempuan paruh baya yang membuka pintu.


"Halo Amel." Ucap Bunda Mei sambil memeluk Mama Amel.


"Kenapa gak bilang bilang kalo mau datang." Ucap Mama Amel.


"Harus ya bilang bilang dulu." Ucap Bunda Mei sambil Cemberut.


"Hahaha....gak Kok, ya udah yuk masuk dulu." Ajak Mama Amel.


Thalhah dan Orang tuanya masuk kedalam rumah besar itu.


"Eh Adi mana?" Tanya Ayah Naksi.


"Haiis Anak tu, Udah libur juga masih kerja." Kesal Ayah Naksir sambil berjalan masuk kerumah. Sedangkan Thalhah masih Linglung gak ngerti apa apa.


"Eh ini toh Anakmu, Thalhah ayo duduk." Kata Mama Amel.


"Eh iya Tan."


"Jangan panggil Tante, panggil aja Mama okey!"


"Eh, I ya Ma."


"Bi, Bikinin Minum buat bertiga." Teriak Mama Amel.


"Iya nyonya."


"Eh Anakmu pada kemana?" Tanya Bunda Mei.

__ADS_1


"Itu Si bungsu lagi belajar naik sepeda sama asisten di taman kompleks kalau si sulung biasa lah hari libur kerjaannya molor terus seharian." Jawab Mama Amel.


"Ooo gitu ya."


"Jadi buat apa datang kesini? Jangan bilang cuman mau berkunjung ya karna itu alasan paling basiii."


"Yeee..... Serah deh, yang paling utama mau ngenalin Thalhah sama Calon Istri masa depannya."


"Uhuuk....uhuuuk.." Thalhah langsung terbatuk mendengar itu.


"Tuhkan Dia nya aja seneng gitu."


"Hahaha.... Ya juga."


Sedangkan Thalah menatap bergantian kedua ibu paruh baya tersebut meminta penjelasan. Sedangkan yang ditatap cuman cuek sambil melanjutkan obrolan diselingi oleh tawa.


"Eh mantu ku mana Mel? Masa masih belum bangun ini udah jam 10 loh."


"Ah iya ya, Haduuh punya anak Perempuan tapi malasnya mecahin rekor Muri."


"SY-"


"Hoaaam... Pagi ma, Ada tamu ya." Syereeta yang baru bangun turun dari lantai 2 masih dengan rambut acak acakan dan baju berantakan.


"Syesye!"


"Taltal!"


Mereka saling tatap sejenak, Syereeta yang merasa ditatap oleh ketiga orang itu bingung, setelah sekian detik ia langsung sadar.


"Aaaaaaaa." Teriaknya sambil lari kembali ke kamarnya, sedangkan Mama Amel dan Bunda Mei sudah Tertawa terpingkal pingkal beda dengan Thalhah yang hanys dihiasi senyum kecil.


----------------------------------


READ FOR THE FUTURE

__ADS_1


__ADS_2