
...♡...
Pada akhirnya Ghea pergi ke apartemen-nya karena tidak ada kepastian akan di balas pesan chatnya oleh Arsetto. Ia misuh-misuh di bus, berdiri dan berdempet-dempetan. Bahkan Ghea hampir sesak napas menahan bau ketek dari orang di sampingnya. Cuaca panas ditambah aroma-aroma ketek yang bercampur mampu membuat Ghea tersiksa selama perjalanan menuju apartemennya.
Akhirnya penderitaan di bus berakhir.
Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, Ghea langsung menaiki lift ke lantai 3, tapi saat sampai disana jantung Ghea pindah ke dengkul.
Pemandangan pintu apartemen miliknya membuat mata Ghea melebar selebar-lebarnya.
Rasanya ia ingin menangis dan marah. Tapi ia tahan karena ada penjaga keamanan apartemen menghampirinya.
“Maaf pak, kenapa pintu saya begitu? Apakah ada maling masuk?!” Ghea waswas pasalnya meskipun isi apartemennya tidak ada barang berharga dan mahal tapi tetap saja keamanan tempat tinggalnya sudah tidak aman. Dan seberapa kuat maling itu sampai pintu itu roboh? Padahal pintu apartemen miliknya lumayan susah di bobol.
“Tenang dulu ya nak, saya tadi sudah cek di cctv dan hasilnya memang ada yang mendobrak pintu sampai roboh. Saya pun langsung mencegat orang itu karena belum jauh dan dia bilang akan mengganti rugi semua ulahnya,” pak penjaga bernapas berat, “Pacar anda juga diseret oleh orang itu, saya tidak bisa melawan pasalnya sepertinya pacar anda mengenal orang yang sudah mendobrak pintu anda”.
Ghea termenung. Pacar? Siapa? Hah... Arsetto? Sialan.
Ghea tetap marah meski si pendobrak itu akan mengganti rugi! Enak saja ia main masuk rumahnya dan membawa Arsetto.
Lihat saja nanti, Ia akan mencambak rambut hitam pria itu, pantas saja pesannya sedari tadi tidak dibalas ternyata diculik paksa.
Ghea menduga pasti pria yang menculiknya adalah temannya, huftt... Temannya pun sama gilanya.
Ia segera masuk ke kamarnya, mengambil i-pad. Setelah tujuannya selesai ia keluar dari apartemen, menatap datar pintu apartemennya yang mulai diperbaiki oleh orang-orang suruhan si pendobrak itu.
Sepertinya untuk saat ini Ghea berpikir untuk pindah ke apartemen baru. Ia tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali.
Hal aneh terus saja berdatangan padanya, eksistensi keberadaan Arsetto saja sudah membuat kepalanya pusing kepalang, dari gambar jadi manusia? Huh... Lama-lama Ghea yang jadi gila.
__ADS_1
Ghea sampai di kantor tempat kerjanya. Disana sudah ada puluhan penulis yang menunggu.
Ghea menghembuskan napas berat, menyemangati dirinya sendiri dan memulai kerjanya.
Se-jam akhirnya selesai, Ghea saat ini sedang di kantin kantor bersama Lia untuk makan siang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Ghea memicing curiga pasalnya nomer yang menelponnya adalah nomer tidak dikenal.
Awalnya ia akan mematikan panggilan itu tapi Lia menahannya.
“Angkat saja, takut dari penulis yang tadi pagi.”
Ghea mengangguk, “Hallo? Siapa ya?”
“Istriku, selamatkan aku!” teriak Arsetto diseberang sana. Tentu saja suara teriakan pria bajingan ini mampu membuat telingannya berdengung sakit.
“Sialan, tidak usah teriak segala! Telingaku sakit sekali mendengarnya!” Ghea balas berteriak.
Lia yang melihatnya bertanya siapa yang menelpon dia sampai emosi segala. Ghea mendengus lalu membalas tanda tanya di wajah Lia, “si bajingan gila yang menelponku.”
Alis Lia malah semakin mengkerut atas jawaban darinya, tetapi Ghea tidak menghiraukannya, Ia sekarang fokus pada percakapannya dengan pria bajingan ini.
Ghea menutup mata lelahnya. Sialan. Omong kosong apa lagi yang dibicarakan pria sedot vakum ini? Janda katanya? Hah... Jika ia jadi janda akan membuat Arsetto hilang dihidupnya, mungkin Ghea sangat rela sekali.
“Bicara yang jelas! Kau membuang waktu istirahatku saja, cepat katakan sekarang karena aku ingin melanjutkan makan siangku saat ini.”
Kesabaran Ghea sangat tipis, untungnya pria bajingan ini tidak melontarkan kata-kata omong kosong lagi setelahnya.
“Ba-baik aku tidak akan bertele-tele lagi istriku, Aku hanya ingin kamu menjemputku ke rumah sakit spesialis hewan di jalan xxx. Tolong, Aku sudah tidak sanggup...” Ucapan Arsetto terputus. Sambungan telpon benar-benar langsung berakhir tiba-tiba.
Ghea menatap ponselnya, masih tidak percaya pria ini benar-benar tidak sopan mematikan sambungan secara sepihak. Atau mungkin ada seseorang yang mematikan sambungannya secara paksa? Ah, entahlah Ghea benar-benar sangat lelah bahkan hanya untuk berurusan dengan pria bajingan itu sendiri.
Lia mengernyit saat Ghea berdiri dari tempat duduknya, padahal makanan dia masih belum tersentuh sedikitpun.
__ADS_1
“Mau kemana, Ghea?”
Ghea memijat pangkal hidungnya, “Makananku kamu habiskan saja, Li. Aku ada urusan dengan bajingan kecil ini dulu.” Ghea seraya merapihkan tasnya dan segera berjalan keluar.
Lia masih terdiam. Bajingan gila? siapa itu, apakah pria yang telah menciptakan karya di leher Ghea? Wah wah, Lia tidak sabar melihatnya kalau begitu hohoho.
Mau tidak mau Ghea pada akhirnya berdiri disini. Tempat yang disebutkan pria bajingan itu berada tentunya. Ghea segera berjalan ke arah resepsionis rumah sakit hewan ini, “Maaf mbak, saya mau tanya ada Arsetto Girtama disini?”
Resepsionis itu mendelik kesal, memandang tidak suka Ghea karena memanggil dokter Arsetto dengan begitu akrab. Siapa wanita jelek ini? Tidak mungkin pacar dokter Arsetto! Begitulah pikirannya tercetak jelas di mimik wajahnya sehingga Ghea hanya bisa menahan kekesalan.
Ghea tahu bahwa wajah tampan pria bajingan itu sudah mempesona semua wanita yang melihatnya, tapi tolong profesional sedikitlah mbak! Oh ini benar-benar menyebalkan saat mata itu melirik penampilannya dari atas sampai bawah.
“Mbak, ada Arsetto tidak?”
“Apakah sudah membuat jadwal? jika belum, mohon kembali saja.”
Sialan. Ghea marah, sangat marah sekali pada wanita didepannya ini. Apa-apaan ini! Hah, menyebalkan. Sudahlah, Ghea pergi saja dari sini lagipula batang hidung pria bajingan itu tidak terlihat.
Ghea mendengus, ini benar-benar buang waktu jika dipikir-pikir lagi. Ia pun berbalik untuk pergi tapi pinggangnya dijerat tiba-tiba oleh pelukan hangat seorang pria.
Ghea mendelik kesal. Siapa lagi yang berani memeluk sembarangan padanya kalau bukan pria bajingan ini? Hah...
“Istriku! Akhirnya kamu datang juga, Aku benar-benar merindukanmu!” ucap Arsetto ceria, bibirnya tidak lupa menciumi pipi lembut Ghea dengan tidak tahu malunya.
Ghea melotot. Rasa malu menjalar kepadanya, lihat saja semua orang yang melihat mereka berpelukan sampai terkejut, tidak terkecuali mbak resepsionis tadi pun matanya sudah melotot lebar.
Oh yatuhan, Ghea merasa sangat malu saat ada seorang pria berpakaian dokter bersiul kepada mereka. Menggoda mereka karena lengket seperti lem.
“Lepaskan, Arsetto!” tekan Ghea pada pria ini, tapi ucapannya diabaikan bahkan pria bajingan ini menggeleng kuat dan semakin memeluknya erat.
“Aku tidak mau melepaskanmu istriku! Hah... Aromamu sangat menenangkan sekali hehehe.”
__ADS_1
Ghea hanya bisa pasrah saat Arsetto sudah di mode anak anjing, bahkan saat ini sudah mengendus-endus sekitaran area lehernya.
...♡...