
~Lo bisa diam nggak? gua pusing dengar Lo teriak-teriak terus...! tajam Stevan membuat Melody tercekat
"G... gue...!
"Dan Lo dengerin gua baik-baik!!!"
"Satu! gua nggak suka sama Lo...!"
"Dua! gua nggak pernah suka sama Lo!"
"Dan tiga! gua nggak mau jadi pacar Lo!"
Melody terdiam sebentar, menatap Stevan dengan tatapan kosong.
"Lo juga dengerin gue baik-baik...!"
"Satu! gue suka sama Lo!"
"Dua! gue sangat-sangat suka sama Lo!"
"Tiga! gue nggak peduli dan gue pastikan Lo bakalan jadi pacar gue!!" ucap Melody dengan penuh keyakinan.
Stevan mengacak-acak rambutnya frustasi, gadis ini memang pantang menyerah dan tidak tahu malu.
"Terserah Lo terserah...!!!" Teriak Stevan dan segera pergi dari hadapan Melody
Melody menatap kepergian Stevan dengan senyum puas, ia lebih semangat lagi untuk bisa mendapatkan pria itu, menurutnya Stevan adalah pria yang beda dengan yang lain.
"VAN TUNGGUIN GUE...!!!
...----------------...
Pak Dodi masuk ke dalam kelas, hari ini beliau akan mengadakan soal latihan untuk murid-muridnya. beliau membagikan selembar kertas berisikan lima soal esai, masing-masing soal untuk materi, matematika, kimia, fisika, biologi dan astronomi.
"Kalian sudah siap?" tanya pak Dodi pada semua muridnya.
"Siap pak!"
"Mulai!"
...----------------...
Dua jam berlalu baik Melody, Stevan dan Nisa tampak mengerjakan soal dengan bersungguh-sungguh. mereka sama sekali tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, mereka hanya fokus pada kertas soal dan jawaban di depan mereka.
__ADS_1
Pak Dodi berhenti di belakang Melody, mengintip sudah sampai nomor berapa gadis ini mengerjakan soal-soalnya. pak Dodi mengangguk-angguk kepala dengan mulut sedikit terbuka, di buat takjub oleh Melody yang telah sampai pada soal terakhir astronomi.
"Jarak terdekat komet ke matahari dalam orbit hiperbola...." gumam Melody, mengingat-ingat bagaimana formula untuk menyelesaikan soal ini.
Melody berpikir keras, menggunakan kemampuan dan ingatannya, ia pun pelan-pelan menyelesaikan soal tersebut.
★★★★★
Hasil tes dadakan dari pak Dodi keluar pada siang harinya, nilai tertinggi di raih oleh Stevan ia mendapatkan skor sempurna tanpa ada jawaban yang salah, sedangkan jawaban soal astronomi Melody belum tepat.
Melody menatap lembar jawabannya, membaca kembali bagian soal astronomi. ia mengangkat kepalanya, melihat Stevan yang membereskan buku-bukunya.
"Lo mau ke kantin?" tanya Melody.
"Hmm,"
"Van, boleh tanya?"
"Apa"
"Jawaban soal terakhir tadi berapa? satu koma delapan?"
"Satu koma dua," jawab Stevan.
"Satu koma dua?" ulang Melody.
"Iya."
"Lo bisa ajarin gue soal astronomi tadi nggak?" gue agak bingung, jawaban gue salah," pinta Melody.
Stevan menutup resleting tasnya dan menaruhnya di atas meja, lalu ia duduk.
"Sini kertas Lo," ucap Stevan mengabulkan permintaan Melody.
Melody tersenyum senang, ia langsung bersemangat kembali memberikan kertasnya ke Stevan.
"Dengerin,"
"Iya, Van." Melody pun mulai fokus dan serius mendengarkan penjelasan dari Stevan.
"Di sini sudah di ketahui bahwa objeknya memiliki orbit berupa hiperbola, Lo juga bisa lihat gambar soalnya setelah itu....." Stevan menjelaskan secara gamblang, membuat Melody mudah mengerti. Stevan menerangkannya dari awal sampai akhir bahkan mengulanginya dua kali sampai Melody benar-benar faham.
"Gimana?" tanya Stevan.
__ADS_1
Melody menggelengkan kepalanya
"Gue belum faham, bisa di ulangi lagi?"
Stevan menganggukkan kepalanya tanpa protes untuk ketiga kalinya ia mengajarkan soal itu kepada Melody.
Melody menahan tawanya, ia menatap wajah Stevan dengan sangat serius. jujur saja, Melody sudah sangat faham sejak penjelasan pertama Stevan, namun Melody ingin lebih berlama-lama bersama Stevan di sini, tidak ingin Stevan pergi ke kantin.
"Lo dengerin gua nggak...!"
Melody tersadarkan ia ketahuan sedari tadi menatap wajah Stevan, bukan mendengarnya penjelasannya.
"D... dengerin kok Van,...!" jawab Melody terbata-bata.
"Udah faham...!"
Kini Melody menganggukkan kepalanya, takut Stevan bakalan marah kepadanya.
"Gue udah faham kok, faham banget malah,"
Stevan berdiri dari bangkunya.
"Bagus, gua pergi dulu!"
Melody mendesah berat, lagi-lagi pria itu meninggalkannya sendirian dan tidak memperdulikannya
★★★★★
"Mau kemana?" tanya Ibnu.
"Kelas!".
"Ngapain ke kelas? masih lama kali bel selesai istirahatnya," ucap Ibnu cepat.
"Di sini aja dulu, sambil makan cilok gemol pedas, gimana?"
Stevan tak menggubris Ibnu, ia berjalan menuju ke kelas. tidak memperdulikan Ibnu menjerit-jerit kesal seperti orang gila.
"GUA SUMPAHIN GUA TAMBAH GANTENG...!!!
Bersambung..........."
__ADS_1