
~Melody menghela nafas, ia sudah terbiasa berbicara dengan pria dingin seperti Stevan, Melody harus ekstra sabar menghadapi pria tak berhati lembut ini
"Stev....!!!
Melody langsung terdiam, kepalanya mendadak terasa pusing, nafasnya sangat sesak, Melody memegangi dadanya,"
"S... Stevan... lirih Melody terbata-bata...!
"Lo kenapa...! tanya Stevan sambil memandang Melody, dia masih berdiri di tempatnya
"Gu..gue pusing...! Melody menjulurkan tangannya memberikan tanda untuk meminta bantuan
Bruukkk!!!
Melody terduduk lemas, masih memegangi kepalanya saat itu juga Stevan langsung bergerak mendekati Melody
"Lo nggak apa-apa...! tanya Steven tetap saja datar, tak ada nada kecemasan di sana
"Gu...gue pusing...! lirih Melody, tangan kanannya meraih lengan Stevan untuk berpegangan
Stevan berjongkok di samping Melody
"Lo bisa jalan...?!
"Ng... nggak bisa...! lemas banget...,"
Stevan menghela nafas pelan, ia bingung harus berbuat apa sekarang sahabatnya ini dari kecil mempunyai anemia yang cukup parah, yang menyebabkan ia tidak di perbolehkan untuk beraktivitas berat, seperti kerja bakti membersihkan sekolah yang luas tadi
__ADS_1
"Stevan...! panggil Melody lirih
"Apa...!
Melody berusaha memandang Stevan
"Gue capek, gue pengen istirahat bentar...! pinta Melody, ia menyadari bahwa hari ini dirinya sudah bergerak di luar batas energinya
Stevan mengangguk singkat
Melody tak kuat lagi menyangga tubuhnya, ia pun menyandarkan diri pada Stevan, Melody menaruh kepalanya di dada bidang Stevan Melody perlahan menutup kedua matanya, menetralisir rasa pusing di kepalanya
Di sisi lain Stevan hanya diam, tubuhnya mendadak menegang dia cukup terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Melody
Stevan melihat wajah pucat Melody, ia dapat mendengar gadis itu bernafas tidak teratur, raut wajahnya menahan sakit
Stevan mulai larut sendiri dalam lamunannya, membiarkan Melody bersandar nyaman di dadanya Stevan menelan ludah dengan payah, ia merasakan suhu panas menyerang sekujur tubuhnya ia menghembuskan nafas berat, detak jantungnya terasa mulai aneh
Saat kembali menatap Melody baru sedetik saja melihatnya, dengan cepat Stevan mengalihkan pandangannya
"Sial...! umpatnya pelan
Stevan berusaha mengontrol dirinya yang mulai tidak tenang, tidak bisa di pungkiri bahwa wajah Melody yang cukup dekat dengannya, terlihat jelas cantiknya tentu saja Stevan adalah pria yang normal
Stevan berharap bahwa Melody segera bangun
......................
__ADS_1
Melody berjalan di belakang Stevan, mengekori pria itu seperti anak kecil, hampir dua jam Melody tertidur di dada stevan bersandar pada pria itu
Kini Melody tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri, ia tidak menyangka Stevan akan menunggu dan menjaganya selama itu
Untung saja rasa lelah dan pusing Melody hilang lebih cepat, energinya pun perlahan kembali dan membuatnya cukup kuat untuk berjalan sendiri
Mereka sampai di parkiran sekolah, Melody menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembusnya ia berhenti disebelah mobil Stevan
"Van...! panggil Melody sembari menarik-narik lengan Stevan
"Apa...! jawab stevan malas, ia menepis tangan Melody dari lengannya
"Lo marah sama gue...! tanya Melody dengan tatapannya yang sendu
Stevan menggeleng pelan
"Nggak...!
"Beneran...? Lo nggak marah sama gue...! Lo ketinggalan program MOS karena gue loh tadi, Lo nggak benci sama gue...!
"Nggak...! jawab Stevan
Melody mengangguk-anggukkan kepalanya, detik berikutnya senyumnya kembali mengembang
Bersambung........
__ADS_1