
[reik kau berhasil mendapatkan itemnya kan?] kata Schwein dengan semangat.
[yap aku mendapatkanya tenang saja] kata reik sambil memperlihatkan sebuah tongkat berlapis emas dengan panjang 30 cm.
[Kuas? Apa benar item ini yang kalian cari?] kata vina sedikit aneh karena barang yang di dapat ternyata tak seperti yang dia bayang kan.
[yahh begitulah, karena barang seperti artefak biasanya berbentuk barang biasa, hanya sedikit saja artefak yang berbentuk senjata, tapi jangan salah! Walau pun betuknya seperti ini tapi kekuatanya keren loh..... kalau bisa di pakai sih.] kata Luciel yang sebenarnya itu pun dia tahu dari pope.
[emh begitukah...] kata Tingker entah apa yang ada di pikiranya.
[baiklah coba kita lihat apa kegunaan dari benda berharga ini.] kata graynard degan semangat!.
[Blesing art of gaia {legendary}
Sebuah tongkat kuas yang terbuat dari darah gaia, artefak ini digunakan untuk memarangi kegelapan dan melindungi yang lemah, dan kuas ini di pakai oleh para arcbish dan princess gaia untuk memanggil para malaikat gaia untuk memerangi kegelapan dan kejahatan di alam midgard ini.
Faith +2560 Fame +2250 Int +2350 Vit +2150
Skill:
{ Angle Call : dapat memanggil beberapa malaikat penjaga gaia, sesuai status faith yang dimiliki seorang princess gaia}
{blessing art’s : dapat memberikan debuff defence sebesar 80% kepada seorang teman berjarak 800 meter
Mp cost: 100000}
Catatan: artefak hanya bisa di gunakan oleh princess gaia atau arcbish gaia. }
[huwwah apa apaan dengan item ini, aku tak heran bila suatu saat nanti akan ada perang memperebutkan barang yang seperti ini.] kata vina berkomentar.
[no.. no... itu salah besar vina, atau yang lebih tepat tak mungkin.] kata kurina yang sedari tadi diam, emmh lebih tepatnya tidur?
[eh kenapa? Bukanya item ini berharga?] kata Antita dengan aneh.
[yah karena yang bisa memakai artefak gereja hanya orang dalam gerja itu sendiri, hingga hampir tak mungkin akan ada orang bodoh yang ingin merebut barang yang tak mungin bisa mereka pakai.] kata Kirihime melanjutkan.
[hooo begitukah...] kata vina.
[tunggu berarti gram sudah tau bahwa artefak itu tak bisa mereka pakai?] kata Dusties.
[yah benar kemungkinan besar dia sudah tau bahwa dia tak bisa memakai artefak ini hingga dia menjadikanya sebagai hadiah dengan kata lain para penghianat itu telah di tipu dengan parah oleh Gram.] kata Graynard.
[ahh ashhooo.. jadi begitu aku mengerti sekarang! Pantas aku merasa janggal saat mendengar gram menawari item berharga atas penawaranya untuk membantu guild nya, ternyata ini alasanya, benar juga sih orang seperti gram yang haus akan kekuatan dengan sukarela memberikan item yang begitu bagus dengan gampang pasti ada yang salah!] kata tingker yang tiba tiba berteriak seperti mendapatkan jawaban dari soal matematika tingkat olimpiade.
[ahh dari tadi itu yang kau pikirkan tingker?] kata Graynard dengan menunjukan wajah datar.
[yah sebenarnya ada satu lagi sih yang menurutku janggal, dari perkataan reik guild Lavindor memiliki aset yang cukup banyak kan? Apa kalian tak aneh dengan itu, coba dari mana mereka mendapatkan aset yang hampir menyaingi guild besar bahkan mungkin lebih besar.] kata Tingker.
[emh mungkin investor? Mungkin ada perusahaan yang menginventasikan hartanya ke salah satu guild bukanya sudah biasa?] kata Luciel dengan datar.
[haah? Investor? Mana mungkin ada investor yang mau menghabiskan uangnya untuk game?] kata Tingker polos.
[ahk mungkin aku sudah tau kenapa guild ini miskin dan juga di khianati.] kata reik sambil geleng geleng kepala.
[ahk aku super salut pada kalian yang bisa jadi guild terkuat ketiga tanpa tau apapun tentang game ini, sebenarnya bagaimana kalian bisa membuat guild sebesar ini tetap berdiri walau dengan dana terbatas...] kata Vloid dengan santai.
[ahk kalau itu karena kami mengambil sebagian dari dana sekolah untuk melangsungkan guild ini, kalian tau klub pengembang game nah dari sana sebagian kecil dana, apalagi sebagian besar anggota kami kan dari siswa sekolah jadi kami di setujui aja permintaan dananya.] kata antita.
[haaaah? dana dari sekolah? tunggu aku belum pernah mendengarnya?] kata graynard karena dia adalah ketua osis bukanya aneh kalau dia tak tau.
[hahaha karena hanya aku antita dan dusties yang merencanakan ini kami pikir kau tidak akan masalah toh kami hanya memasukan dananya ada salah satu klub, dan sebagian dana juga di dapat dari iuran anggota siswa.] kata Tingker.
[haaah aku tak habis pikir, semau kalian saja lah yang penting jangan sampai ketahuan oleh sekolah bisa bisa jadi masalah serius.] kata Graynard.
[ohh tenang saja urusan itu serahkan saja ke dusties dan Antita mereka berdua bisa di percaya kok!] kata Tingker sambil mengacungkan jempol, namun enam orang lainya yang mendengar itu hanya mendesah pasrah “penyalah gunaan wewenang” yap itulah yang di pikirkan mereka.
[sebaiknya kalian hentikan itu dan mencari dana di luar saja, persaingan guild akan semakin ganas saat pemain sampai pada level 500 jadi ku sarankan kalian mencari perusahaan yang mau mendanai kalian saja.] kata Vloid.
[bicara memang gampang, tapi mencari nya itu yang susah kau tau, lagian kami tak tau harus gimana dan cara kerjanya juga.] kata dusties dengan wajah suram.
__ADS_1
[apa maksudmu kalian adalah salah satu guild terkemuka pasti banyak perusahaan yang ingin menginvestasikan dana mereka pada guild top kan?] kata reik sambil memakan cemilanya.
[ahhk itu kita pikirkan nanti saja yang penting sekarang adalah bagaimana perang yang akan kita lakukan satu minggu lagi?] kata Hime.
[mungkin kita hanya perlu melatih para anggota dan menaikan level setinggi yang kita bisa dan setelahnya mungkin kita hanya perlu berlatih formasi bertarung seperti yang di lakukan jaman dulu seperti phalanks? Tapi dengan sedikit improvisasi?] kata Luciel sambil berpose berpikir.
[benar katamu, dengan begitu kita bisa meminimalkan korban dan juga kita bisa memenangkan perang ini lebih cepat.] kata Dusties.
[baiklah... tapi karena kita sudah terlalu lama log in untuk sekarang kita mending log out terlebih dahulu!] kata Tingker dengan sedikit tegas.
.....
Di markas guild Lavindor.....
[sebenarnya apa yang terjadi di sini!? kenapa markas kita bisa seperti ini?] kata seorang yang berpakaian seorang knight yang membawa tombak berbicara dengan nada yang marah.
[tenang lah Sabor! Ini juga bukan keinginan ketua!] kata seorang perempuan yang menyerang Vloid sebelumnya.
[Terus aku harus menyalahkan siapa!? Rumput di pinggir jalan!? Yang benar saja! Sudah jelas ini salahnya sebagai ketua!] orang yang bernama Saibor itu pun kembali menaikan nadanya dia adalah Wakil Ketua Queen dari Lavindor dia adalah anggota terkuat kedua di dalam guild dan sudah jelas dia merupakan orang sama pentingnya dengan Gram sebagai ketua guild.
[Saibor walau pun kau mau marah-marah pun keadaan kita tak akan berubah, lebih baik kau pokuskan untuk melatih pasukan khusus kita, untuk keadaan guild Gram lebih paham dari pada kau.] kata seorang penyihir yang sedari tadi mood nya sangat buruk entah oleh apa.
[hahaha sebenarnya siapa yang berani menantang guild kita sampai bangunan ini hancur begini?] kata seorang yang sepertinya seorang yang berpakaian seperti swordman dengan baju serba berwarna merah terang.
[apa ada kemungkinan guild Fallen star yang melakukan penyerangan?.] kata gram dengan perasaan yang campur aduk saat mengatakanya.
[sudah kubilang kemungkinan itu paling kecil, mereka tak mungkin dengan gegabah menyerang guild kita saat masa seperti ini, Tingker pun tak sebodoh itu hanya untuk membalas dendam dia memporak porandakan guild kita? dan juga tak ada pemain yang cukup kuat di guild itu untuk menyerang kita.] jawab penyihir itu.
[kalau begitu siapa? Bukanya akan lebih aneh bila ada pemain yang sekonyong konyong menyerang guild lain tanpa ada angin apapun?] kata seorang swordman berbaju merah.
[entahlah tapi aku pun merasa aneh, apa yang mereka incar, dan juga disaat serangan terakhir yang di lancarkan ketua aku tak yakin bahwa dia sebenarnya sudah mati.] kata sang penyihir yang bernama Ungol itu.
[memang dia beum mati, karena saat itu tak ada pemberitahuan bahwa aku telah membunuhnya atau apapun kurasa dia berhasil kabur walau aku tak tau bagaimana cara dia kabur.] kata gram dengan cukup geram.
[bagaimana bisa? Bukanya yang kalian lawan itu penyihir bukan assasin bagaimana dia bisa kabur begitu saja saat di kepung oleh pasukan sebanyak itu?] kata swordman berbaju merah itu kembali.
[teleportasi.....] gumam ungol yang dapat di dengar oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
....
Keesokan harinya di sebuah sekolah.....
[hey kau tau sekolah kita akan melakukan war loh dengan guild Lavindor...] kata seorang pemuda bertubuh pendek.
[hey yang war itu bukan sekolah tapi guild bentukan siswa sini, kau ini.... oh iyah ngomong ngomong soal itu katanya guild Lavindor, kemarin mereka di serang sama orang misterius sampai markas besar mereka hancur berantakan loh.] timbal salah satu pemuda yang lain.
[sebenarnya kalian itu sedang apa sih? Kerasukan setan matoba?] kata seorang wanita yang memakai kacamata super tebalnya itu bukan lain adalah mitsuki-chan.
[haha tidak hanya saja kita sedang bosan saja, soalnya tak ada yang menarik di sekolah hari ini.. hehe] kata haku dengan cengengesan.
[hah terserah.... gabut bener hidup...] kata itsuki sambil menyeruput susu kotak rasa coklat yang di bawanya.
[hihihi ada aja kalian ini, oh iyah seharian ini aku tak melihat ketos dimanapun. Apa dia pergi sekolah?] kata asuka.
[yah dia sibuk dengan urusan osis yah mau bagaimana lagi selama dua bulan ini kerjaanya kan di tinggal mulu karena penjelajahan dungeon kemarin..] kata haku sambil tidur terlentang, saat ini empat sejoli itu sedang makan siang di rooftop sekolah entah mengapa mereka sering ke sana, mungkin ingin merasakan scene anime anime slice of life yang makin banyak seasonya makin ancur?
[terus kenapa kau ada di sini bukanya kau juga harus membantu dia juga?] kata indra sambil merapikan bekal makananya.
[emmh karena aku masih anak kelas satu jadi pekerjaan ku masih sedikit tak sebanyak para senpai, yah kalau pun ada mana mungkin aku ada di sini, meninggalkan tanggung jawab itu bukan gayaku tau!] kata haku sambil memasang tampang sok kerenya yang langsung di geplak sama indra pakai buku yang ia bawa.
[ah asu kenapa palaku di geplak.] kata haku perotes.
[ah maaf reflek.] kata indra tanpa rasa penyesalan sedikit pun.
[reflek matamu!!] sambil menunggu jam makan siang berakhir mereka berempat mengobrol kesana kemari sambil sesekali bercanda.
Brak!!!
Tiba-tiba pintu rooftop terbuka dengan kencang, sampai mengagetkan mereka berempat...
__ADS_1
[haaah ternyata kalian ada di sini aku cari-cari kemana mana juga!] kata matoba dengan semangat.
[hey hey bisa tidak tenang sedikit tidak, hampir saja jantungku pecah karena kaget.] kata mitsuki sambil mengomel kesana kemari.
[ya ya maaf.. tapi apa kalian tau katanya spita-chan akan konser di jepang! Aaahkk aku harap bisa mendapatkan tiket konsernya.....] kata matoba sambil memasang tampang yang sungguh menjijikan yang langsung di jauhi oleh mereka berempat.
[spita? Siapa itu? apa dia seorang artis yang terkenal?] kata indra dengan polos, dan langsung mendapat respon yang membuat dia makin kebingungan.
[Indra sumpah kau tak tau siapa itu spita? Sebenarnya bagaimana kau sampai sekarang menjalani hidup sih? Apa kau hidup di dalam gua di jaman es?] kata kurina dengan heran.
[eh segitu parahnya? Yah kalau kau menanyakan rollingstone, lingking park, dan avenged seven fold sih aku tau tau aja.] kata indra yang saat itu juga berpikir “tapi mendengar namanya aku merasa tak asing?”
[ ya iyalah parah spita-chan itu idol internasional kau tau! Bahkan fans nya tersebar di seluruh penjuru dunia bahkan di jimbabwe dan uganda pun ada! Lagian umurmu itu berapa sih kok band yang kau sebutin jadul bener yah.] kata matoba dengan menunjukan wajah kesal.
[ni anak kenapa sih, ya ya memang selera musik ku jadul puas? tapi uganda? Jimbabwe? Emang idol pernah konser di sana gitu?] kata Indra sambil menunjukan wajah agak aneh?
[itu hanya perumpamaanya karena saking populernya dia bahkan musiknya bisa tembus di setiap dunia.] kata Haku.
[hoooh ternyata kau tau banyak juga, apa kau salah satu penggemarnya juga?] kata luciel.
[enggak juga, tapi dia itu benar benar populer kau tau, oh iya kalau tak salah negara asalnya itu sama dengan mu loh Indra.] kata Haku.
[eh? Benarkah? Hebat juga, tapi benar juga entah mengapa aku merasa pernah mendengar namanya namun dimana yah?] kata Luciel dengan mengkerutkan dahinya.
[yah mungkin kau mendengarnya di televisi atau di jalan, sudah lah itu bukan hal yang terlalu penting mending kita kembali ke kelas, sebentar lagi bell bunyi dan kau Matoba sadarlah! Konsernya pun masih lama, jangan malah menghayal sekarang.] kata Haku dengan sedikit jijik dengan prilaku Matoba, dia benar benar menjadi berbeda kalau saat membicarakan soal idol, dari seorang yang tenang dan kalem menjadi orang yeng heboh dan memasang wajah bodoh.
[haaah ni anak makin lama makin gak beres otaknya?] kata Mitsuki dengan mengeluarkan nafas seperti kehilangan harapan, sedangkan asuka hanya tersenyum kecut melihat kelakuan salah satu temanya itu.
.........
Di sebuah lapangan terbuka dekat perbatasan kerajaan Flame Phoenix Empire banyak sekali orang yang berkumpul di sana mereka di bagi menjadi dua belah pihak, di sebelah barat di baju dan perlengkapan mereka dominasi oleh warna merah darah, bendera mereka bergambar pedang dan ular yang melingkari pedang tadi, sedangkan di sebelah timur kelompok yang di dominasi warna biru tua dan silver dan ada bendera dari mereka bergambar bintang jatuh dan ada bintang yang lain di sekitaran bintang itu yang bila di satukan menjadi rasi bintang Aries mereka adalah guild Fallen Star, dua guild yang berseteru itu di pisahkan oleh jarak 100 km jauhnya namun mereka tetap bisa saling melihat keadaan masing masing lawan mereka.
[akhirnya telah tiba untuk kita memusnahkan para pengkhianat laknat itu! aku tau jumlah kita kalah banyak di banding mereka, namun jangan gentar! Ingat kekuatan kita berasal dari rasa persaudaraan kita yang kuat! Aku yakin jumlah bukan hal mutlak untuk bisa memenangkan perang! Aku Tingker menjamin akan kemenangan kita untuk perang kali ini! Kita tunjukan kekuatan dari guild kita basmi mereka semua jangan sisakan satu orang pun!]
Haaaaaaa!!!
Kata kata dari Tingker benar-benar dapat membakar semangat dari para pasukan guild Fallen Star, mereka bersorak dan berteriakan hingga membuat lingkungan di sana sedikit bergetar karena sorakan mereka.
[teman temanku sekalian, aku Graynard yang akan mengambil alih komando bersama ketua Tingker, mungkin di antara kalian masih ada sedikit keraguan karena aku orang luar yang hanya di minta pertolongan dari ketua Tingker. Namun kami akan buktikan bahwa kami memang berada di pihak kalian!] graynard dengan semangat menunjuk kearah luciel dan saat itu luciel mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menyerang pasukan dari guild Lavindor.
[semua formasi bintang kejora! Jangan ada yang bergegerak sebelum ada perintah!] setelah Dusties mengatakan itu semua orang bersiap dan segera membentuk formasi yang berbentuk panah.
Beberapa saat suasana begitu tegang belum ada dari kedua belah pihak yang menyerang terlebih dahulu keduanya menunggu pergerakan lawan, hingga akhirnya guild lavindor mengerahkan beberapa ratus perajurit untuk menyerang guild Fallen Star, namun para komandan dari guild Fallen Star tak memberikan intruksi apapun, hingga ada seorang swordman yang tiba tiba melesat sangat cepat ke arah para pasukan Lavindor sendirian, ya itu adalah Luciel.
Semua pasukan dari kedua belah pihak yang melihat guild Fallen star hanya diam dan hanya satu orang yang maju sangat kebingungan dengan keadaan ini, namun hal itu tak berlangsung lama mungkin hanya berlaku beberapa saat saja setelah melihat aksi yang di tunjukan Luciel.
Beberapa saat sebelumnya.
[hahaha apa guild Fallen Star benar benar sangat bodoh hingga meng-] belum tamat dari pasukan itu berbicara kepala dari prajurit itu sudah jatuh menggelinding dan berubah jadi butiran cahaya.
[kau tau, ini perang bukan ajang stand up comedy.] kata luciel sambil terus melesat dan membunuh semua orang yang menghalangi dirinya.
[Sialan cepat habisi dia terlebih dahulu!] kata seseorang yang sepertinya ketua pasukan tersebut, namun perintah itu sepertinya tak seindah yang di harapkan.
Beberapa puluh menit kemudian Luciel dengan ganasnya terus menyerang pasukan itu dengan membabi-buta, bahkan dia sudah tak tau sudah berapa pasukan yang dia bantai habis, seluruh pasukan musuh yang melihat itu menjadi sangat terkejut orang gila macam apa yang dapat membunuh lebih dari dua ratus pasukan hanya dalam beberapa menit.
[mereka terlalu lemah... apa mereka hanya mengirim pemain berlevel rendah untuk memancing musuh?] disela pertarungan yang sangat absurd luciel terus saja mengomentari lawanya, entah karena apa mungkin dia sudah bosan telah membunuh banyak orang namun belum selesai selesai.
Namun semuanya sedikit berubah saat seseorang berpakaian serba merah melesat dan menebas Luciel dengan tebasan api yang membuat Luciel terpental beberapa meter karena belum siap menerima serangan itu.
[sudah cukup teman... kau terlalu banyak membantai anggotaku.] kata orang itu sambil melihat orang yang di serangnya tersebut.
[haah salah siapa mengirim banyak pasukan, bukan salahku dong kalau aku membantai mereka semua.] kata Luciel dengan memakai bahasa indonesia.
[haa apa yang kau katakan? Aku tak mengerti.] kata orang ber baju merah itu.
[Sudah lah itu tak penting jadi apa kau yang di kirim guild Lavindor untuk mengalahkan ku?] kata Luciel dengan muka datar dan seperti tak tertarik dengan lawanya.
[yah... aku yang akan mengalahkan mu aku Luca Knight dari guild lavindor dan jobku adalah pyromaster!] kata luca sambil mangangkat kadua tanganya seperti orang yang mengajak pelukan.
__ADS_1
[ohh... terserahlah mau luca atau dadas juga aku tak peduli jadi apa kau akan menyerangku apa aku yang menyerangmu?] kata Luciel dengan nada yang sepertinya sangat malas terhadap lawanya tersebut.
To Be Continue...........