Indigo: The Hand Of Demon

Indigo: The Hand Of Demon
Ghost Consultant


__ADS_3

...-Disclaimer-...


...Cerita ini hanyalah fiksi, tidak ada hubungannya dengan suatu kepercayaan, golongan, dan agama. Segala persamaan nama tokoh, lokasi, dan kejadian di sebuah tempat hanyalah kebetulan belaka....


.........


..."Selamat terhanyut di dalam kisah ini teruntuk kalian yang baru pertama kali tahu tentang Indigo. Lalu, selamat datang kembali untuk orang-orang yang merindukan Indigo."...


...Best regard, your Author....


...-Muhammad Rijal Q-...


...A.k.a...


...Fxcknrain...


...***...



#Arc 1: Nightmare


...


December, 02-2014.


Aku tahu, segala sesuatu seharusnya bisa dijelaskan secara logis, termasuk pengetahuan mengenai adanya hantu, dan hal-hal spiritual lainnya. Aku pun sadar, bahwa pada kenyataannya hal itu akan dianggap sangat aneh, dan tidak normal, apalagi dimata para remaja. Jadi aku mencoba bersikap biasa saja, tidak terlihat menonjol dalam hal apapun, selalu menyendiri, juga tak pernah bersosialisasi. Tapi masalahnya, biarpun aku tak pernah mengajak satu orang pun bicara disini, namun entah mengapa mereka malah selalu menjadikanku bahan bahasan di kelas, padahal aku tidak berbuat apa-apa. Memangnya ada yang salah dengan menyendiri?


Maksudku, kenapa sih mereka ini agak...


"Hoi!"


Aku menoleh ke arah belakang.


"Kau yang namanya Rey, kan?"


"Ah, benar. Ada keperluan apa ya?"


"Hah?! Apa kau lupa kalau hari ini adalah presentasi kelompok kita?"


"Ke-kelompok?"


"KELOMPOK PENGAMAT REPRODUKSI MAMALIA."


"Repso, eh... Reproduksi?"


Tunggu sebentar...


"WOH SIAL, IYA JUGA!"


"Bagus, kau lupa dengan tugas kelompokmu sendiri? Ikut aku!"


...***...


Sial, padahal aku sudah bersusah payah menghindari datangnya hari ini. Tapi aku malah tiba-tiba lupa rencana sakit dadakanku agar tidak ikut presentasi.


Tapi, ngomong-ngomong aku belum menyapa.


Hallo semuanya, apa kabar kalian? Hehehe...


Anggaplah kalian sedang membaca diriku dalam versi baru, oke?


Untuk orang yang tidak paham tentang perkataanku, aku minta maaf. Tetapi untuk orang-orang keren di luar sana yang mengerti aku bicara apa, iya, aku juga rindu kalian.

__ADS_1


Joshua, anak yang kurasa namanya demikian karena terliat jelas pada bordir kecil di tasnya ini menarik tanganku kuat-kuat karena kelas akan dimulai dalam...


3... 2... 1...


"Lihat, itu Josh!"


Teriak salah seorang murid yang mengintip kami dari luar jendela.


"Terima kasih Tuhan, akhirnya kelompok kami punya tumbal untuk presentasi." Ucap ketua kelompokku yang namanya entah Anna, Annie, atau Nina. Aku tidak hapal semua nama anak di kelasku karena aku sama sekali tidak akrab.


Itu benar...


Bertemu satu species saja sudah pusing, apalagi jika kau hidup bersamaan dengan species lain yang dulunya adalah species yang ini. Paham maksudku?


Mataku melihat ke arah kiri, lalu seorang hantu perempuan terbang di sebelahku.


"Pagi, Rey."


Aku hanya mengangguk, dalam hati berkata. "Pagi juga Shinta."


Shinta tersenyum, "bersiap lah, gurumu akan datang dalam waktu 15 detik."


"Oke baiklah."


...


Ketika aku berada di kursiku, tiba-tiba ada tiga orang yang wajahnya familiar namun aku tetap tak hapal nama mereka. Mereka mengerubungiku bak pencuri, kemudian seorang gadis berkacamata dan berkuncir kuda memberikan secarik kertas dengan gambar ini, itu di hadapanku.


"Kau yang akan maju untuk presentasi. Hapalkan skrip ini, kelompok kita akan dipanggil urutan ketiga, jadi kami harap jangan salah baca!"


"Eh tu-tunggu, apa-apaan ini? Kenapa harus aku yang maju?" Aku menolak tentunya, sepertinya mereka sedang mengerjaiku.


"Wah, sulit aku percaya, wah anak sial ini benar-benar." Gadis kacamata kemudian menggebrak mejaku.


BRAAAK!!!


"Sa-sabar, Mia. Tenang, ingat tensimu." Ujar salah seorang gadis lainnya.


Kemudian Josh menatapku tajam.


"Rey, aku punya demam panggung. Sebaiknya kau yang maju untuk presentasi, setidaknya... BERIKAN SECUIL USAHA UNTUK KELOMPOKMU SENDIRI!!!"


"Teman-teman tenangkan diri kalian."


Ucap seorang gadis lain yang berdiri beranjak dari kursinya, dia menatap kelompokku yang hebohnya bukan main.


"Maaf, ketua kelas. Habis anak ini benar-benar tidak ada kontribusi sama sekali untuk kami. Aku sampai bergadang mengetik skrip ini, lihat mataku yang mirip panda!" Keluh Nia, eh maksudku Mia.


Lalu gadis itu menghampiri kelompok kami, kemudian dia mengambil skrip itu.


Aku menatapnya terpaku karena aku seperti baru pertama kali melihatnya, saking introvertnya aku sampai tak sadar kalau punya ketua kelas secantik ini.


Setelah mengambil sebuah highlighter, dia menandai beberapa kata-kata yang efektif untuk dihapal dalam skrip kami. Kemudian dia mengembalikan skrip itu, dia tersenyum kepadaku.


"Hapal yang sudah kutandai saja, skrip kalian sebenarnya sangat bagus saat pertama kali kalian memperlihatkannya padaku, hanya saja jika dipersingkat sedikit mungkin maksud penyampaiannya akan lebih efektif. Untung saja Bu Miller agak telat sedikit hari ini."


Josh mengelap dahinya yang berkeringat dengan lengan, phew~


"Nabilah memang penyelamat! Terima kasih ketua kelasku!" Katanya terharu.


"Tapi Nabilah, kau sungguh tidak bergabung dengan kelompok manapun?" Tanya Mia.


"Tidak, Bu Miller memintaku sebagai juri yang membantunya melakukan penilaian, good luck guys!" Jawab Nabilah, kemudian dia kembali ke kursinya lagi.

__ADS_1


Aku masih terpaku...


"Hoi! Lihat kemana kau?!"


"Ti-tidak kok." Kataku kaget.


"Nah, sekarang hapalkan skripnya." Ucap Mia ketus.


"Iya ketua kelompok."


"Ketua kelompoknya Sasha! Anak ini kutempeleng juga lama-lama." Sungut Josh yang masih sedikit kesal.


Huft...


Harusnya aku menandai tanggal ini dengan spidol di kalender kamarku. Sial, sungguh sial.


Mataku mengarah ke kursi sebelahku yang kosong, kursi itu sengaja tak ada yang mengisi karena aku tidak mau tempat Shinta satu-satunya diduduki orang. Kalau dia kesal, satu sekolah bisa-bisa kerasukan masal seperti sekolah lamaku. Kacau pokoknya.


Shinta masih mentertawaiku karena aku diomeli habis-habisan oleh kelompok kerjaku sendiri.


"Dasar hantu kurang ajar." Gumamku.


"Eh, ngomong-ngomong kita punya client baru Rey. Sepulang sekolah dia ingin menemui kita di gedung kosong sebelah pabrik tua itu."


"Ya... Ya... Ya..."


...***...


Singkat cerita, majulah aku sebagai perwakilan kelompok ini. Setelah slide demi slide diputar, dan aku juga membacakan skrip yang aku hapal sekenanya, akhirnya tugasku pun selesai meskipun terbata-bata, ah masa bodo. Yang penting aku sudah ada kontribusi sedikit, hehehe...


Pelajaran lain pun dimulai, lalu aku seperti biasa, mencatat segala nama hantu yang sudah kuberi konsultasi karena aku tidak mau membantu hantu yang sama untuk kedua kalinya. Tujuanku melakukan ini adalah untuk mengurangi jumlah populasi hantu dari bumi. Namun sekeras apapun aku berusaha, tetap saja aku tidak bisa memulangkan mereka semua ke alam baka.


Jumlah kematian juga bertambah setiap detiknya, jika mereka yang meninggal secara tak wajar menjadi hantu, entah bagaimana roh Bumi bisa bertahan. Apa kalian tidak sadar bahwa semakin lama Bumi juga semakin memburuk kondisinya? Secara spiritual dari ilmu yang diajarkan oleh leluhurku, populasi hantu gentayangan sudah 3 kali lipat lebih banyak daripada manusia yang tinggal di dalamnya.


Simplenya begini, jika Bumi adalah sumber kehidupan, pasti ada roh yang mengisi Bumi itu sendiri. Dengan kata lain, kita hidup dan berpijak di Bumi yang hidup, sementara para hantu hidup di roh milik Bumi yang memberikan kehidupan. Itulah sebabnya mereka bisa ada berdampingan dengan kita. Jika populasi mereka terus bertambah, roh Bumi akan meledak, kemudian Bumi tak bisa lagi menjadi perantara kehidupan.


Setiap hari setidaknya aku memulangkan 10 hantu gentayangan dari sekitaran daerah tempatku tinggal, karena tingkat aura dendam yang tertinggal disini sangatlah tinggi. Bisa-bisa manusia yang hidup di daerahku juga jadi mudah marah, mudah emosi, dan tidak betah berada di lingkungan ini.


Untuk itulah aku dan keluarga cenayangku melakukan konsultasi untuk para hantu, setelah itu mereka diantar pulang ke alam baka supaya dapat bereinkarnasi lagi di kehidupan selanjutnya.


Shinta adalah partnerku dalam bekerja, dahulu dia adalah gadis yang hidup normal, kemudian meninggal muda karena tidak kuat menahan kanker yang dideritanya. Jika dia manusia, seharusnya Shinta sudah berusia 250 tahun. Itu berarti dia sudah menjadi hantu selama 233 tahun, oleh karena itu, dia dipanggil senior oleh hantu lainnya. Shinta tidak pernah bisa pulang ke alam baka, sebab karena dia harus terus menerus melakukan kebaikan kepada manusia, kelak Shinta akan dicalonkan sebagai Malaikat, tapi itu masih lama... Dia harus berumur 500 tahun, dan melakukan terus menerus kebaikan agar bereinkarnasi sebagai Malaikat.


Ya... Begitulah kira-kira cerita singkat tentang kehidupan yang sedang aku jalani sekarang ini. Meski pun bagi kalian aneh plus tak masuk akal. Namun bagiku ini sangatlah normal.


Mata Shinta terus menerus mengarah ke ketua kelasku yang namanya... Ah siapa tadi ya?


"Ada apa, Shin?"


"Aura anak itu kok bisa berwarna emas, ya? Aku baru pertama kali melihat yang seperti ini. Apa kau tidak bisa melihatnya?"


"Aku kan cuma bisa lihat hantu, hehehe... Tapi tidak bisa melihat aura seseorang."


"Cih, padahal di tangan kirimu ada Iblis yang kekuatannya luar biasa. Masa tubuh inangnya bisa selemah ini sampai-sampai tak bisa lihat aura."


"Tidak usah membuat mentalku breakdance, deh."


"Ah sudah lah, aku tak sabar jam sekolah berakhir. Client kita ada 15 hantu loh hari ini."


"Ya, kau benar. Jadwal kita sangat padat, bisa-bisa aku bergadang lagi malam ini."


...


>>IndigoPedia (~'-')~

__ADS_1


Eps. 1: Shinta, Partner hantu dari Rey ini disebut sebagai The Eternal Spirit karena memiliki kontrak kerja dengan cenayang yang menjadi tuannya, Shinta bertugas sebagai penjaga, dan kaki tangan dari Rey. Terkadang Shinta juga mengurus semua jadwal dari pekerjaan Rey, mendata semua hantu, mengatur pertemuan, dan menjadi asisten utama Rey saat sedang memberi konsultasi.


-


__ADS_2