Indigo: The Hand Of Demon

Indigo: The Hand Of Demon
Bad Feeling


__ADS_3

#Arc 1: Nightmare


...


Sore harinya aku dan Shinta berjalan dari Sekolah menuju gedung kosong dekat pabrik yang menjadi tempat praktik konsultasiku.


Sambil makan es krim, aku menenteng tasku yang menggantung di bahu. Rasanya kok tak seperti hari-hari sebelumnya, ya?


Jantungku agak berdebar sejak tadi. Apa jangan-jangan masalah para hantu yang aku temui ini sulit semua? Aku jadi penasaran bagaimana permasalahan mereka. Semoga saja semua permintaannya cuma menyampaikan salam kepada keluarga yang masih hidup.


Sementara Shinta juga melayang di sebelahku sambil menjilati es krim yang sama denganku. Ada makanan di dunia hantu, tapi itu bukan hal nyata yang betulan makanan, Shinta mengambil sari-sari dari rasa es krimku kemudian mengubah bentuknya menjadi es krim seutuhnya, namun dengan versi hantu. Itu bisa saja terjadi, tetapi jadinya es krim yang kumakan tidak ada rasanya alias hambar, hanya dingin. Kalau punya Shinta cuma manis saja, tidak dingin. Itulah sebabnya makanan sesaji yang diberikan paranormal ke hantu hilang rasa makanannya.


...***...


Singkat cerita, aku dan Shinta sudah ada di gedung terbengkalai yang dulunya adalah rumah makan ini. Sebenarnya cukup luas, tapi alangkah lebih baiknya dilakukan di lantai dua. Habis, jika di bawah masih suka ada beberapa petugas keamanan lingkungan yang sering mengecek gedung ini, bahkan tak jarang banyak gelandangan yang aku temui sedang tidur karena tak punya rumah untuk berteduh.


Di sebuah kursi, juga meja bekas kasir aku dan Shinta duduk menunggu pergantian hari dari sore menjadi malam.


Saat matahari tenggelam, dan cahaya kian menghilang. Para hantu sudah menunggu di sudut ruangan yang gelap, mereka muncul dengan beraneka ragam bentuk sesuai terakhir kali mereka meregang nyawa. Ada korban kecelakaan, pembunuhan, sakit keras, usia tua, serta berbagai macam kemungkinan mati lainnya.


Shinta bersiap membuka praktik kami.


"Uhuk... Uhuk..."


"Selamat malam, dan selamat datang hadirin sekalian saudara, juga saudari hantu kami. Konsultasi oleh Dokter Rey dari keluarga Yordis akan dimulai sekitar 5 menit lagi. Kepada para client diharapkan mengantri secara sejajar dan diharap bersabar menunggu gilirannya masing-masing. Saya selaku asisten Dokter Rey mengucapkan senang bertemu dengan anda-anda sekalian."


"Senang bertemu dengan kalian berdua, mohon bantuannya Dokter." Ucap sesosok hantu pria tanpa lengan dengan tubuh penuh darah segar yang masih mengucur dari tangannya, dia pasti korban kecelakaan.


"Saya harap Dokter dapat membuat dendam saya mereda, hihihi... Ihihihi..."


"Tentu saja tuan, nona. Solusi permasalahan anda sudah pasti saya." Kataku penuh wibawa. Keren!


Selama 5 menit berjalan, aku menghabiskan waktu itu untuk memperhatikan keadaan client-clientku. Lalu mengambil kesimpulan secara ringkas tentang masalah-masalah yang akan mereka ceritakan agar aku lebih mudah menarik kesimpulan. Setelah aku sudah selesai menerka-nerka. Shinta memanggil satu per satu dari mereka untuk maju memuiku.


"Client pertama, silakan maju."


"Hmm... Mana clientnya?"


Apa aku salah lihat? Shinta bilang client kami ada 15 hantu. Tapi kok ini hanya 14? Satu lagi kemana?


Setelah memperhatikan sekitar lagi, ah iya saat mengamati aku juga tak sempat menghitung mereka.


"Anu... Dokter, saya di bawah meja." Tiba-tiba saja muncul suara serak yang terdengar malu-malu.


"Di bawah meja?" Aku langsung memberi tanda untuk Shinta agar mengecek meja kami.


Setelah Shinta menengok ke bawah, dia cuma...


"Oh... Mari saya bantu tuan, mohon maaf ya." Shinta mengangkat sebuah kepala yang kondisi wajahnya hancur setengah ke atas mejaku.


"Ahahaha... Maaf saya tidak melihat anda." Kataku bercanda.


"Tidak masalah dok, sebenarnya roh saya lengkap, namun saya tidak bisa mengendalikan tubuh saya yang ada di lantai satu. Maklum saya meninggal baru-baru ini, jadi tidak paham cara mengendalikan kekuatan roh." Ucap si hantu kepala seraya tersenyum ramah meski gigi di mulutnya dipenuhi belatung.


"Ah, sudah biasa terjadi hal seperti ini tuan, ahahaha... Toh sebentar lagi tuan akan masuk ke alam baka, jadi tidak perlu mengkhawatirkan cara mengendalikan kekuatan roh. Baiklah, silakan diceritakan apa permasalahan tuan sehingga tidak bisa pergi ke alam baka."

__ADS_1


Hantu ini sedikit memutar kepalanya, dia terlihat malu saat hendak mau bicara.


"Ehm... Anu."


"Tidak perlu malu tuan, santai saja, dan ceritaka secara tenang." Ujar Shinta.


"Begini, saya meninggal karena dibunuh oleh suami dari pacar saya. Anu... Istilahnya saya ini seorang selingkuhan. Jadi suatu malam saya ketahuan sedang berkunjung ke rumah pacar saya, tapi saya tidak tahu kalau ternyata suaminya ada disana. Saya yang sedang dalam keadaan mabuk tanpa perlawanan dihajar habis-habisan oleh suaminya karena pada saat itu saya dengan blak-blakan mengaku sebagai selingkuhan istrinya. Malam itu habis lah saya, saya dihantam botol anggur yang saya bawa. Kemudian dengan gelap mata si suami mengambil pisau dapur lalu menikam leher saya berulang-ulang kali hingga putus. Tidak hanya itu, dia menendang kepala saya sampai terpental kemana-mana hingga wajah saya begini. Habis itu jasad saya dikuburkan di pekarangan rumah mereka. Saya sudah meninggal selama seminggu, saya begitu putus asa karena merasa tak bisa meninggalkan dunia yang kejam ini, sebab itulah saya datang kemari dengan susah payah. Permohonan saya sederhana Dokter."


"Katakan, tuan."


"Tolong hapuskan ingatan dari keluarga, juga teman-teman saya tentang diri saya yang hina ini. Saya tidak ingin mereka sedih, atau malu dengan kelakuan saya. Itu saja."


Aku menatap hantu itu dengan tatapan haru, dia tak pantas mati meski pun telah menghancurkan rumah tangga orang lain. Setidaknya jika memang harus mati, jasadnya tak perlu menanggung rasa hina.


Aku menatap Shinta sembari mengangguk.


Shinta yang mengerti maksudku langsung memegang hantu kepala itu, dia membongkar memori laki-laki ini dan melihat segala ingatan yang ia punya. Lalu menandai setiap orang yang memiliki kenangan bersamanya, mengenalnya, juga menyayanginya. Setelah semua orang Shinta tandai, segera lah dia mentelepati semuanya. Hal yang sama juga ia lakukan, Shinta membongkar ingatan mereka, lalu menghapus segala hal tentang hantu malang ini.


Setelah semua usai, tiba-tiba saja tubuh hantu pria kepala ini menghampirinya, kemudian tubuh mereka menjadi utuh juga normal kembali seperti ketika masih hidup.


Dia tersenyum melihat tubuhnya, lalu tersenyum lebar juga kepadaku, dan Shinta. Dalam sekelibat, tubuhnya bercahaya terang menderang, dan dia berubah menjadi pecahan cahaya seperti kunang-kunang yang terbang ke atas langit menuju alam baka.


"Terima kasih, dokter."


"Selamat tinggal." Kataku.


"Sebetulnya kalau aku jadi suami pacarnya pasti gregetan juga, tapi ya sudah lah." Gumamku.


"Terus, dia akan kau bunuh juga, Rey?" Shinta melirikku.


"Cih, dasar."


Setelah itu aku kembali melanjutkan pekerjaanku kepada client-client yang lainnya. Tanpa sadar ketika semua hantu sudah pulang ke alam baka, waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.


"Huuuuuuh..." Tubuhku pegal-pegal.


Ternyata hari ini malah jauh lebih cepat dari hari-hari sebelumnya, permintaan mereka rata-rata mudah dilakukan hingga aku tak perlu melakukan sesuatu yang berlebihan.


Dari gedung terbengkalai itu, aku berjalan kaki menuju rumah. Sungguh lapar rasanya, entah makanan ibuku di rumah masih ada atau habis mengingat ayah yang doyan makan agar energinya untuk menaungi rumah kami tidak habis. Masa aku makan mie instant lagi?


Bosan.


Oh ya, kadang jika sedang beruntung ada loh hantu baik hati yang rela memberikan harta bendanya yang berharga kepadaku. Contohnya tas yang berisi uang 20 juta dua minggu lalu, 15 juta kusumbang ke panti asuhan yang sering aku danai. Lalu 5 juta lainnya kupakai sebagai uang capek dari hasil pekerjaanku. Malam ini makan burger di McB sepertinya enak juga hehehe...


"Jangan lupa pesankan aku kola juga ya!" Ucap Shinta.


"Iya iya, tapi yang mau kubawa pulang saja ya. Nanti orang-orang kiranya makanku mirip monster, dua porsi di meja sendiri."


"Beres, bos!"


Untung saja arah ke McB searah dengan rumahku, jadi aku menyusuri jalan sembari mendengarkan musik untuk mengalihkan kepekaanku pada energi hantu.


Ketika mau menyebrang jalan, tanpa sengaja aku melihat seorang gadis yang sepertinya ketua kelasku, dia baru keluar dari salah satu toko buku yang ada di seberang jalan. Dia suka baca buku rupanya, jadi mau tanya langsung ke Ibu Ron si pemilik toko. Tapi tidak mau ah!


Habis hantu suaminya galak padaku, kuajak ke alam baka tak pernah mau karena begitu sayang dengan istrinya. Ya wajar sih... Aku akan melakukan hal yang sama jika jadi suaminya.

__ADS_1


"Ada ya malam-malam begini toko buku yang masih buka, cuma Ibu Ron yang berani. Padahal tokonya sudah hampir dua kali kerampokan." Ucap Shinta.


Aku tertawa, "tapi si rampok bukannya mendapat uang, malah dihajar oleh guci tua yang tiba-tiba melayang ke wajah mereka."


"Hahaha... Itu pasti ulah hantu Kolonel. Lucu juga kalau diingat-ingat."


"Tapi si ketua kelas juga berani sekali keluar malam jauh-jauh demi beli buku. Di lingkungan kita selain banyak rampok, kan juga banyak pemerkosa."


Aku terdiam mendengar kata-kata Shinta.


"Sial, gara-gara kau bilang begitu jantungku berdebar lagi."


"Hah?"


Jantungku sungguh bukan main-main, apa ini karena hal buruk akan terjadi kepada ketua kelas?


"Shinta, nanti saja makannya. Aku punya perasaan buruk, ayo kita ikuti ketua kelas sampai rumahnya."


"K-kau yakin?!"


"Iya, ayo cepat!" Aku segera berlari ke arah ketua kelas.


"Tunggu aku!"


...


Aku mengikuti ketua kelas perlahan-lahan agar ia tak curiga, beberapa kali dia menoleh ke belakang, namun aku segera bersembunyi di semak-semak.


Aku sungguh mendadak khawatir kalau dia bertemu orang mesum di jalanan. Sial, aku tak pernah seperduli ini dengan orang lain, namun kata hatiku selalu benar, hal buruk akan terjadi dengan gadis itu. Sepanjang jalan aku memegang dadaku karena takut firasatku betulan terjadi.


Jarak rumahnya ternyata lumayan jauh dari dugaanku, ku kira dia keluar malam begini karena rumahnya dekat, ternyata dia benar-benar nekat. Hanya karena buku sampai keluar rumah meski malam.


Kira-kira aku sudah berjalan di belakangnya selama 15 menit, sejauh ini tidak ada hal aneh yang terjadi, kemudian rasa berdebarku pun mulai mereda setelah lama. Sepertinya firasatku salah kali ini, syukur lah. Dia masuk ke dalam pagar rumahnya, lalu masuk ke dalam rumah dengan disambut oleh pria yang kurasa ayahnya.


"Huft... Syukurlah tidak ada hal buruk."


"Aku juga jadi ikut berdebar karenamu, dasar anak ini." Oceh Shinta.


"Hahaha... Maaf-maaf. Kita lanjut ke McB saja kalau begitu."


...


Dan begitulah hari ini berlalu, aku sungguh sangat lelah. Setelah beres makan, aku segera pulang dan tidur di atas kasurku yang empuk nan nyaman.


Tapi... Tunggu dulu.


Aku terbangun saat waktu menunjukan pukul 3 dini hari.


Jantungku...


Di luar sana, seseorang... Apakah kau baik-baik saja?


...


>>IndigoPedia(~'-')~

__ADS_1


Eps. 2: Hantu. Yak, hantu atau roh juga memiliki beragam macam jenis. Yaitu normal, un-normal, spesial, dan rare species. Hantu normal adalah sesosok roh dari manusia yang meninggalnya diakibatkan sebuah peristiwa biasa, contoh kebanyakannya adalah sakit. Hantu un-normal adalah kebalikannya, mereka tercipta dari proses kematian yang menyakitkan seperti kecelakaan, dan pembunuhan. Yang ketiga ialah special, hantu tingkat special ini sudah memiliki kekuatanĀ  karena pada saat mereka hidup, mereka bukanlah manusia biasa, ada kalanya mereka dulu seorang Cenayang, para Hybrid atau manusia setengah siluman, atau pula Witcher si penyihir kegelapan. Dan yang terakhir adalah rare species, hantu ini saat hidup hanya memiliki kadar dosa yang sangat sedikit, biasanya mereka selalu melakukan kebaikan, takut akan larangan Tuhan, dan patuh terhadap perintah Tuhan. Hantu rare species akan dinobatkan sebagai Malaikat kelak. Contoh hantu ini adalah Shinta.


__ADS_2