
#Arc 2: The Club
...
07.00
Tubuhku rasanya mau remuk.
...
23.45 Semalam.
"Meditasimu kurang fokus, tambah push up lagi 100 kali." Kakek mengambil sebuah bola besi besar dari kepalaku.
"Ya bagaimana mau fokus kalau ada bola yang tak boleh goyang di kepalaku." Kataku ketus, sudah 10 jam lebih aku dilatih meditasi, dan sudah 5 kali juga aku kena hukuman.
"Lalu kau mau bermalas-malasan? Begitu?!" Kakek mulai membentakku.
"Maaf." Kataku, sial, keringat dingin mulai mengucur.
"Rey, selama 1 tahun ke depan, kami mempercayakan Nabilah kepadamu. Kau harus menjaganya dari segala macam roh jahat, kau paham kan?"
"Aku paham."
"Kelak, akan ada banyak sekali rintangan yang akan kalian hadapi. Mungkin kau akan beberapa kali tidak mampu mengendalikan emosi, jika hal itu terjadi, bisa-bisa Iblis itu mengendalikanmu. Menyerahkan takdir Nabilah ke tanganmu seperti menaruh kelinci di kandang harimau yang kenyang. Jika kelak harimau tak mampu menahan rasa lapar, maka harimau itu akan memakan si kelinci. Lalu? Segalanya akan sia-sia," kakek meletakkan telapak tangan kanannya di dadaku. "Kuncinya adalah disini, di hati, dan jiwamu."
Aku yang menatap kedua mata kakek langsung yakin bahwa apa yang ia katakan sesungguhnya adalah demi kebaikanku juga. Maka, demi menenangkannya, aku harus lebih fokus melakukan meditasi.
"Maafkan aku, kakek. Sekarang aku mengerti."
"Bagus, kami semua percaya kepadamu."
Aku menarik napas kuat-kuat, tangan, dan posisi dudukku sudah kembali rileks lagi. Kemudian, kakek kembali meletakkan bola besi itu lagi di atas kepalaku.
Aku akan menjaganya, dan menjaga keluarga ini.
Mataku terpejam.
Saat semuanya berubah menjadi kegelapan, tiba-tiba sebuah suara muncul menggema di telingaku.
"Emosi itu adalah api dalam jiwa manusia yang tak akan pernah padam. Hanya orang mati yang tak punya api di jiwanya."
Suara ini...
"Aku tinggal, dan hidup di dalam tubuhmu selama 16 tahun. Yang paling mengerti dirimu adalah aku, Rey. Emosi yang menggebu-gebu dari dalam jiwamu adalah bahan bakar atas kekuatan spiritualmu. Dan kau tahu kekuatan itu berasal dari mana?" Lucifer menunjuk dirinya sendiri, "itu dariku, api dalam jiwamu." Kemudian Lucifer tersenyum memperlihatkan semua taringnya dalam kegelapan, dari atas kepalanya ada cincin api yang terbakar, di tengah-tengah cincin itu, kedua tanduk Lucifer memanas.
"Jiwa manusia tidak hanya terdiri dari api yang panas. Tetapi juga ada angin yang memberikan ketenangan, tanah yang memberikan semangat, dan air yang meredakan emosi. Aku memang terlahir di tahun api, bertepatan saat kemunculanmu. Tetapi, selayaknya manusia, aku juga mempunyai banyak sekali sifat dalam jiwa yang dapat memberikanku ketentraman. Api memang tak akan padam, tetapi api bisa dikecilkan, maka... Api itu justru malah akan memberi kehangatan."
Aku duduk di hadapan Lucifer yang menyeringai.
"Mengecilkan api katamu, baiklah, mari kita lihat bagaimana caramu mengecilkan api."
Mata Lucifer yang terang menyorot ke arahku.
"Apa kau... Tidak bosan berada disini?" Tanyaku tiba-tiba, entah mengapa.
Raut wajah Lucifer mendadak berubah heran.
"Aku? Entah bagaimana cara mengatakannya, hmm... Aku menganggap bahwa aku sedang berhibernasi di dalam tubuhmu. Sesungguhnya aku juga agak bosan, aku berharap kau mengamuk suatu saat nanti agar kita dapat bertukar tubuh. Rasanya aku ingin mengurungmu di dalam tubuhmu sendiri, lalu aku akan bersenang-senang. Aku ingin memukuli Joshua yang berteriak padaku, ingin menginjak leher William karena sudah sengaja menyenggolku, lalu menampar wajahnya pak keanu karena membuat tubuhku kelelahan karena belajar. Oh ya, aku juga mau meninju kakekmu, dia sangat menyebalkan." Jawab Lucifer, tanpa sadar dia kehilangan wibawanya.
"Itu bukan kau, sialan. Itu aku! Ini tubuhku!" Bentakku dengan wajah kesal.
"Brengsek cilik, kalau begitu keluarkan aku dari sini supaya kau puas mengendalikan tubuh ini, bedebah licik, kurang ajar, keparat!"
"Mulutmu pasti sudah rusak, ya!?" Aku yang kesal menunjuk wajah Lucifer.
"Lalu apa? Kau mau membuat Iblis berkata sopan?! Hah?! Brengsek ini minta ku mutilasi, sial!" Tapi Lucifer malah lebih seram dari pada aku.
Saking takutnya aku sampe tersedak air liurku sendiri.
"Ma-maaf."
"Jangan tatap aku, hei sial!"
"I-i-i-iya! Ma-maafkan aku!" Dan mataku langsung terpejam kuat-kuat.
Di-dia bisa galak juga.
...
07.50
Sial, rasanya aku mau lanjut tidur saja hari ini. Saat berkaca di cermin, kedua mataku nampak menghitam.
"Kau mirip panda." Celetuk Lucifer.
"Diam, kenapa kau jadi bawel begini sih? Mengganggu saja."
Setelah selepas mandi, aku segera pergi keluar kamar. Tetapi saat hendak keluar, tiba-tiba saja Nabilah sudah ada di depan kamarku.
Kami berdua sama-sama terkejut sampai-sampai wajah kami hampir bertabrakan.
__ADS_1
"Ma-maaf, ibumu menyuruhku membangunkanmu." Ucap Nabilah malu-malu. Suasana pun berubah canggung.
"Sarapan sudah siap." Katanya lagi, kemudian Nabilah pun berlalu.
Tetapi... Aku yang terpaku malah berkata, "selamat pagi."
Nabilah terhenti, kemudian menoleh, "se-selamat pagi." Ia tersenyum tipis.
...***...
"Sekarang kalian berdua menjadi partner konsultan roh." Ucap ayah saat sarapan sedang berlangsung.
"Apa?" Nabilah terkejut.
"Hah?!" Aku malahan sampai tersedak.
"Selama kau latihan, ayah sudah menggantikan pekerjaanmu, Rey. Tetapi sekarang aku tidak bisa karena harus mengurus izin tinggal Nabilah kepada organisasi. Jadi mulai hari ini, ajak dia bekerja bersamamu. Oke?" Ayah mengedipkan matanya kepadaku seraya tertawa.
"Konsultan... roh?" Nabilah menatapku kebingungan.
"Anu... Sebenarnya itu sebuah pekerjaan dimana kita akan memberikan konsultasi kepada roh gentayangan supaya mereka tidak gentayangan lagi, dan pergi ke alam baka agar bisa bereinkarnasi." Jawabku terbata-bata.
"Itu adalah salah satu pekerjaan keluarga cenayang seperti kami." Tambah ibuku.
"La-lantas... Peranku sebagai apa?"
"Kalau Rey adalah dokter, berarti Nabilah jadi susternya!" Ucap ayah cepat.
"DOKTER, DOKTER ITU CUMA KIASAN!" Kataku berteriak, aku malu sekali jika ada orang tahu bahwa aku dipanggil dokter oleh para roh.
"Dulu malah Rey dipanggil pak guru."
"IBU!!!"
"Ups... Maaf."
Nabilah tertawa kecil melihat tingkahku.
"Kau juga?!"
"Ah, maaf."
"Jangan hiraukan sifat ambekan Rey, dia sangat sensitif seperti pantat bayi." Celetuk kakek yang terbang dari dapur ke kamar.
"KAKEEEEEEK!!!"
...***...
Aku harus sangat berhati-hati dalam bicara supaya mereka tak marah dan malahan betulan jadi roh jahat level 3.
Barang-barang tambagan yang aku bawa adalah gulungan mantra penyegel tempat, sekantung darah kambing yang fungsinya untuk melemahkan mereka, dan kepala ayam hitam untuk Memancing mereka. Para roh sangat suka kepala ayam hitam.
Nabilah yang masih sangat awam hanya memperhatikan aku berkemas dari luar kamar.
"Kita akan benar-benar memberikan konsultasi kepada roh?" Wajahnya tampak tak yakin. Aku hanya mengangguk pasti kepadanya, kemudian lekas memakai ransel berisi peralatan kami.
"Ayo berangkat," kataku, "ah, tapi sebelum itu ada yang harus aku beritahu padamu."
"Soal apa?" Tanya Nabilah sembari memakai hoodie.
"Mungkin malam ini akan banyak sekali roh yang bentuknya tidak utuh, sebaiknya kau minum obat anti mual." Jawabku, lalu dari saku kanan celanaku, kuberikan sebuah obat anti mual kepada Nabilah, tetapi ia nampak menolak.
"Aku baik-baik saja," katanya.
"Yakin?"
"Iya, toh mereka hanya roh. Aku hanya perlu memberi sugesti kepada diriku sendiri agar tetap berpikiran positif."
Kedua mataku memutar, "ya semoga saja."
"Tenang saja, menurut psikologi, jika pikiran positif sudah tertanam di dalam kepalamu, segalanya akan terlihat logis dan biasa-biasa saja. Mereka kan adalah roh, mana mungkin mereka bisa separah itu?"
...***...
Sesampainya di gedung praktik konsultasi.
"HOEEEEEK... !!!"
"Nabilah kau bai—"
"UGH HOEEEEK... !!!"
"KAU—"
"HUWEEEK..."
Ah sial.
"Nabilah tenang, jangan—"
"UGH... HOEEEK..."
__ADS_1
...
Sebal.
"Ma-maaf Rey, aku benar-benar tidak tahu kalau mereka terlihat sangat nyata. Ah sial, aku benar-benar minta maaf."
"Iya sih..."
"Lalu, kenapa kau kesal?"
"TAPI JANGAN MUNTAH DI BAJUKU JUGA DONG!"
Nabilah menutup mulutnya dengan wajah shock menatap wajah sebalku.
"Maaf, Rey..."
Dan akhirnya...
Kami tetap melanjutkan kosultasi dengan aku yang bertelanjang dada. Di-dinginnya ~
Nabilah melepas hoodienya, kemudian dia menyerahkan itu padaku.
"Pa-pakai ini, dingin."
Aku pun memakainya.
"Terima kasih."
"Ngomong-ngomong dimana Shinta?" Nabilah melihat ke sekeliling ruangan, tetapi disini hanya ada kami berdua dan beberapa hantu yang sudah menunggu giliran. Aku memegang keningku, kemudian mencoba menghubungi Shinta melalui telepati.
"Hallo, Shinta? Jawab aku."
"Rey... Sepertinya aku merasakan hawa keberadaan aneh disekitar kita. Aku menangkap beberapa gelombang astral yang terus mendekat kesini."
Wajahku berubah serius.
"Apa mereka roh?"
"Bukan! Mereka ada 3 orang, dan salah satunya berkekuatan sangat besar."
"Ka-kau yakin?" Nada bicaraku mulai gugup.
"KABUR REY!!!" Teriak Shinta, lantas saja kutarik tangan Nabilah untuk segera kabur dari gedung ini.
"Sial sial sial..."
"Rey kita mau kemana?!"
"Kita harus bersembunyi, kita tidak tahu siapa yang sedang mengarah kesini!"
Kami berdua pun berlari menuju lantai bawah, tetapi ketiga orang itu sudah berada di depan pintu. Seketika itu juga aku menarik Nabilah kembali ke lantai 2, kami langsung bersembunyi di balik meja kasir.
"Si-siapa mereka?" Bisik Nabilah. Aku hanya menggeleng tidak tahu.
Hawa salah satu dari mereka sangat menakutkan, sial, jika mereka adalah orang dari keluarga cenayang lain yang mau merebut Nabilah itu sangat gawat. Aku takut tak bisa berhadapan dengan 3 orang.
"Nabilah, jika kita ketahuan, aku mau kau—" belum selesai aku bicara, tiba-tiba saja tubuh Nabilah melayang seolah ditarik oleh sesuatu.
"REY!"
Kemudian dengan cepat Nabilah sudah berada di dalam sergapan seorang perempuan dengan belati yang siap melukai Nabilah.
Brengsek!
Akhirnya aku langsung keluar dengan mengangkat kedua tanganku.
"Hei, tenang lah oke? Tolong jangan sakiti dia."
Perempuan berseragam serba hitam dengan tatto bintang di dahinya itu menatap lurus ke arahku.
"Memangnya kau bisa apa?" Katanya, dia menguatkan cengkramannya di leher Nabilah.
Segera aku mengangkat tangan kiriku.
"Atau kau akan dihukum olehnya." Aku yang sangat percaya diri mengarahkan telapak tangan kiriku ke dahi perempuan itu.
Tetapi...
Tidak terjadi apa-apa.
"Hah? Kau bercanda, ya?" Ledek perempuan itu, dia menyeringai geli ke arahku yang makin panik.
"Lucifer?" Panggilku.
"Tidak mau." Jawabnya dengan nada bicara geli seolah-olah sengaja, aku yang semakin kesal berteriak padanya.
"Serang dia sekarang juga! Tunjukan ketakutan padanya!" Bentakku.
"Hoam... Malas."
"Apa?!"
__ADS_1
...