
#Arc 1: Nightmare
-Nabila's Point of View-
...
"Ku kira kau tidak akan termakan oleh ketertarikan semu ini, hanya karena sebuah buku? Cih. Ini terlalu mudah. Padahal orang tua brengsek itu sudah berulang-ulang kali menjauhkanmu padaku."
Mataku terbuka, aku sadar jika aku masih tertidur. Sekilas aku melihat ada sosok aneh yang menggantung dari langit-langit kamarku. Dia mencengkram langit-langit, kepalanya memutar dari depan ke punggung secara 180 derajat. Rambutnya panjang menjuntai hampir menyentuh wajahku.
"HMM!!! HMM!!!"
Ak-aku tidak dapat berbicara, tubuhku kaku tak dapat bergerak. Hanya kedua mataku yang terbuka lebar tak dapat terpejam.
Mulut makhluk itu terbuka besar, ada cairan kehitaman dengan bau busuk bangkai yang menyengat menetes ke pipiku.
Kedua mataku meneteskan airmata tanpa sadar, aku sudah sangat ketakutan, keringat dingin membasahi sekujur tubuh.
"HMMM...!!!"
"Na... Bi... Lah..."
Makhluk menyeramkan itu melepas cengkramannya dari langit-langit, lalu tubuhnya menghujam tubuhku dengan kencang.
BRUAAAGH!
"Aku tidak tahu lagi kenapa kesempatan besar ini jatuh kepadaku, kau tahu apa tugas yang mereka berikan?"
Wajahnya mendekati wajahku, aku mencoba menutup atau memalingkan wajah, namun tetap tidak bisa. Wajahnya yang hancur dengan rongga mata besar berlubang, juga mulut besar dengan gigi-gigi tajam yang terbuka. Kuku tajamnya mengelus pipiku perlahan sampai pipiku tergores berdarah-darah.
"Apa aku harus membunuhmu dengan merusak wajahmu juga? Aku sangat iri, karena kulitmu sangat cantik, juga lembut. Berbeda dengan kulitku..."
Kemudian dia menempelkan wajah hancurnya ke pipi kananku.
"Ahhh... Bagaimana? Apakah kau merasakan perbedaannya?"
"HMMM...!!! HMM...!!!"
"Aku bisa saja langsung menusuk dadamu, lalu meledakkan jantungmu dengan cepat. Tetapi rasanya aku sungguh menikmati moment ini. Andai saja saat hidup dulu aku secantik dirimu, pasti aku tidak akan hidup menderita hingga akhir hayatku. Khehehe... Oh, atau mungkin bagaimana kalau kita bertukar kehidupan? Rasanya aku ingin menjadi dirimu walau sehari. Apakah kau akan mengizinkan aku mengambil alih?"
"HMM...!!!"
"Apa? Kau bilang tidak mau? Mengapa? Apa karena wajahku jelek? Kau menghinaku?"
Mataku kembali menatapnya, dia malah berteriak sangat marah.
"HAAAAAA...!!! WANITA BUSUK, KAU MENGHINAKU?!"
Dia yang sudah terlanjur murka langsung menampar wajahku dengan kencang sampai-sampai saking kencangnya aku hampir hilang kesadaran. Kepalaku seolah berputar sangat kepusingan, pipi kananku perih karena luka yang ia timbulkan akibat kuku-kuku panjangnya.
"Ingat baik-baik, tujuanku ini adalah membunuhmu, tahu! Jadi jika kau sudah mau mati, jangan hina aku!"
__ADS_1
Kali ini aku hanya terdiam tanpa mencoba berkata-kata.
"Cih, brengsek, kau malah mendiamiku? Kau tidak menganggapku ada?"
"Baiklah, kalau begitu terima kematianmu ini."
Makhluk itu mengangkat tangan kanannya, kukunya yang menjulang makin menajam, lalu dengan tatapan kakunya dia langsung menikam dadaku cepat!
CRAAASH...!!!
Darah segar mengalir dari kedua mulutku, kedua mataku memutar kebelakang, lalu ada rasa perih yang sangat menyiksa aku rasakan dari kaki hingga kepalaku, serasa kulitku sedang disobek paksa oleh sesuatu yang entah apa itu. Lalu tanpa merasakan apapun lagi, tiba-tiba tubuhku terasa ringan seperti kapas.
Anehnya aku melihat tubuh asliku di atas kasur dengan kondisi normal tanpa luka sedikit pun, ketika aku semakin tinggi melayang, seluruh kesadaranku menghilang seolah-olah sedang tidur untuk waktu yang sangat panjang.
...***...
...
Di dalam kehampaan, aku berjalan menyusuri sebuah savannah yang luasnya tak habis-habis. Aku seperti orang yang hilang ingatan, tak tahu mengapa bisa berada disini, sendirian, haus, kakiku penuh luka karena menginjak kerikil-kerik tajam. Sepanjang perjalanan jejak kakiku berwarna merah darah.
Sebenarnya, tujuanku harus kemana?
Kanan?
Kiri?
Maju terus?
Dan... Sudah berapa lama aku terjebak disini?
Apa yang terjadi kepadaku?
Kepalaku sangat pusing, aku tidak tahu harus memikirkan kejadian yang mana lebih dahulu. Ingatanku seperti diacak-acak oleh sesuatu.
Akhirnya karena putus asa, aku lebih memilih rebah di atas rerumputan. Mataku menatap ke langit yang sama sekali tidak ada mataharinya. Lalu cahaya yang membuat hari seolah-olah siang ini dari mana asalnya?
Dimana para awan?
Semua nampak kebiruan, dan kadang ada beberapa bagian yang berwarna biru gelap. Langitnya...
Tunggu, apa di atas langit ada riak air?
Lalu dari satu sisi langit, muncul sebuah gumpalan mirip ombak yang bergulung-gulung menyapu air beriak, kemudian ombak itu memantul lagi ke sisi dimana ia datang. Terus menerus begitu sampai mataku mulai nyaman dan kembali mengantuk.
...
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."
"Apa ini?"
__ADS_1
Tubuhku terasa sangat gerah bukan main, pakaian yang aku kenakan mendadak basah oleh keringat. Sekujur tubuhku juga dikerubungi oleh pasir halus yang hangat.
"Di-dimana lagi aku berada?"
Kali ini sepanjang mata memandang, yang aku lihat hanyalah padang pasir yang sangat luas.
"PIH!"
Mulutku kemasukan pasir.
Astaga, aku harus berjalan lagi?
Akhirnya aku kembali menyusuri padang pasir ini dengan tergopoh-gopoh. Tubuhku sempat berguling beberapa kali dari gundukan pasir besar ke bawah sampai-sampai sekujur celah dari pakaiannku penuh pasir.
Berjalan...
Aku terus berjalan, dan sepertinya aku hanya berputar-putar di tempat yang sama berulang-ulang kali sampai pada suatu ketika ada benda putih yang jatuh banyak sekali, benda itu melayang turun, terasa dingin, jika disentuh dia berubah menjadi air.
Apakah ini salju?
Benar juga, langitnya...
Aku kembali menatap langit, dan benar saja, langit kali ini berwarna putih susu pekat dengan segala butiran-butiran salju yang terjatuh dari sana. Makin lama makin banyak sampai-sampai pasir menyatu dengan dinginnya salju yang kian menggunung.
Apa yang aku lakukan?
Ya rebah lagi, tak ada yang bisa aku lakukan juga, kan?
Masa bodo saja lah, entah aku dimana dan habis ini terbangun dimana. Lebih baik aku mulai memejamkan mataku.
...
Dan dimana lagi aku akan terbangun? Aku membuka sebagian mataku. Lalu menatap hal sekitarku perlahan-lahan.
Hmm?
"Pemakaman?"
Aku kembali ke Bumi?
Di sebelahku ada sebuah makam dengan nama yang sama denganku.
Itu...
Sakit kepalaku mulai kembali lagi, kali ini sangat teramat sakit sampai-sampai rasanya kepalaku mau meledak. Jantungku juga teramat sakit hingga dadaku sesak. Sepersekian detik kemudian, sekujur tubuh ini seolah-olah dihantam oleh angin yang sangat besar.
Angin itu meredakan sakit kepalaku, lalu ia seolah-olah menyusun kembali segala memori ingatanku yang sebelumnya terpecah-pecah bagai puzzle. Hingga aku sadar dan ingat bahwa aku telah...
Meninggal.
...
__ADS_1
>>IndigoPedia(~'-')~
Eps. 5: Land of Middle, adalah tempat sebelum Afterlife yang letaknya berada di tengah-tengah Bumi, dan Akhirat. Land of Middle menjadi tempat tunggu bagi roh yang belum waktunya mati agar sesegera mungkin mendapat keputusan dari para Malaikat agung mengenai nasibnya. Bisa saja dia dikembalikan ke Bumi karena masih memiliki kewajiban yang belum terlaksana, namun bisa pula dibiarkan mati dan melanjutkan takdirnya. Ada sebuah tempat di Land of Middle yang menyerupai sebuah penjara besar berbentuk kastil yang berfungsi sebagai penjara bagi Malaikat yang melakukan kesalahan.