
#Arc 1: Nightmare
-Nabila's Point of View-
...
Malam hariku selalu kacau, menjadi tangan kanan wali kelas itu tidak lah enak tahu! Kadang aku sampai harus mengerjakan tugas-tugas yang harusnya Bu Miller kerjakan, ah sial. Memang sih nilaiku jadi juga lebih mudah dinaikan meski pun kadang tugasku masih ada yang berantakan. Ranking nomor satu ku pun dipertahankan olehnya, tapi bukan berarti semua tugasnya aku juga yang urus dong!
Bodo ah, aku lebih memilih menyimpan laporan yang sudah kukerjakan, lalu menutup laptopku. Kedua mataku sungguh pegal rasanya. Jam sudah menunjukan pukul dua belas, setidaknya aku masih punya waktu dua jam. Satu jam untuk istirahat, satu jam lagi untuk menuntaskan tugas Bu Miller. Setiap harinya aku selalu tidur pukul 2 dini hari. Kenapa aku tiba-tiba jadi murid teladan begini ya? Padahal waktu SMP aku ini nakal sekali, memukul laki-laki yang mengganggu teman-temanku sudah bukan hal baru, berkelahi dengan senior, menjadi ketua geng perempuan-perempuan sekolah. Pokoknya banyak.
Hahaha... Aku jadi tertawa sendiri.
Huh, enaknya masa SMP. Aku tidak perlu banyak bersikap palsu seperti di SMA. Besok pasti ada saja surat cinta yang menyelip di kolong mejaku, menyebalkan. Kalau mereka lihat wujudku waktu SMP, mana mau mereka suka denganku. Mendekat pun enggan, tidak ada yang mau pacaran dengan gadis tukang pukul macam aku.
Tapi aku yang sekarang, seperti bukan diriku.
Ngomong-ngomong, aku tinggal bersama paman, dan bibiku. Mereka yang mengurusku dari kelas 2 SD karena kedua orang tuaku meninggal diracuni orang yang menjadi lawan bisnis mereka. Kian dewasa, ingatanku mengenai kedua orang tuaku mulai memudar, hingga ada di suatu titik aku menganggap bahwa aku ini hanya iseng diciptakan Tuhan.
Tidak pernah dapat kasih sayang orang tua, paman dan bibiku yang sibuk dengan perusahaan mereka lebih terasa sebagai... Ya paman, dan bibi biasa saja. Tidak ada sifat penuh kasih sayang khas orang tua yang mereka berikan. Paman Joe dan istrinya tak pernah dikaruniakan anak, sebab itulah mereka juga tak tahu bagaimana rasanya punya anak. Semenjak mereka mendapat hak asuh atas diriku, mereka merasa sudah tak perlu lagi punya anak, lalu memilih aku sebagai pewaris perusahaan mereka selanjutnya.
Oleh karena itu aku dituntut untuk bersikap layaknya seorang perempuan anggun yang akan dipersiapkan menjadi pemimpin di masa depan. Aku dilarang melakukan ini, dan itu. Harus belajar dengan giat agar nilaiku sempurna, kuliah management di luar negri, menikah oleh pewaris perusahaan lainnya pada usia 25 tahun.
"AHHHHH AKU TIDAK BISA BERBUAT APA-APA."
Sialan, hidupku sudah diatur tanpa kebebasan. Tuhan memang cuma iseng menciptakanku.
Apalah itu skincare, tutur kata, kaki jenjang, senyum, make up, sopan santun. Lama-lama aku akan menjadi perempuan membosankan yang tidak memiliki hak untuk melakukan hal yang aku inginkan.
Lihat aku!
Aku menatap cermin selama 5 detik.
"Aku terlalu cantik sekarang, haish... Sial."
...
Tunggu, pukul berapa sekarang?
01.04
Ah iya, aku harus menuntaskan tugas Bu Miller. Sebenarnya sudah 95% beres sih, aku hanya harus memasukan nama-nama teman sekelasku ke dalam daftar nilai ini. Sengaja mengetik nama belakangan, supaya cepat beres. Kalau aku mengerjakan nilai duluan, bisa-bisa aku makin malas melanjutkannya.
Ramon Stuart
Raya friska
Raul theo
Rey
Hah?
"Cuma Rey?"
Nama macam apa ini cuma satu kata?
Pasti orang tuanya malas memikirkan nama untuk anaknya, ah yang penting punya orang tua ya, Rey. Meski pun namamu pendek, semoga umurmu panjang.
Oke! Tidak sampai setengah jam, tugasku rampung juga.
Setelah merapihkan meja belajarku, aku segera pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi, memakai skincare rutinku, lalu tidur.
Dulu aku tak pernah begini, tapi lama-lama ya terbiasa juga. Jalani saja lah.
...***...
Ada hal feminim juga sebenarnya yang aku sukai, contohnya baca buku sambil meminum segelas americano di Cafe kesukaanku. Rasanya menenangkan hati, bayangkan... Cafe tempatmu nongkrong nyaman, dan tenang, musik yang diputar juga membuat harimu lebih enjoy dan chill~ americano dingin, atau hangat tak masalah.
Buku yang kubaca juga genrenya aku sekali.
Yak benar, horror.
Baca novel horror dengan suasana Cafe genre romance agak... Bikin kalian kesal mungkin ya. Habis aku juga takut kalau bacanya di kamar, malam-malam sendirian.
__ADS_1
Dari ujung Cafe, aku memanggil seorang waitress cantik untuk memesan sepiring cheesecake unggulan Cafe ini. Tak lama waitress itu datang ke arahku dengan anggun, aku pun tersenyum, namun sekelibat kemudian kok dia berubah menjadi lelaki tua dengan tubuh gagah?
I-ini tidak benar...
Wow... Wow... Wow!!!
Aku menggelengkan kepalaku cepat.
Waitress itu menjadi wanita cantik lagi sesaat kemudian, ah syukurlah aku cuma berhalusinasi.
Huft...
"Silakan dinikmati, nona."
Loh!
Suaranya jadi berat khas laki-laki.
"Sebenar-"
"WHUAAA!!!" Aku teriak terkejut, entah dari mana tiba-tiba ada pria tua dengan pakaian waitress duduk di hadapanku. Tubuhnya sungguh besar, lalu entah bagaimana juga keadaan ruangan disekitarku menjadi ruangan dengan cat serba putih bercahaya terang, hampir tidak ada warna apapun disana.
"Ma-maaf, kakek ini si-siapa?" Kataku terbata-bata ketakutan.
Pria itu tertawa pelan dengan ramah.
"Kau tidak perlu tahu aku siapa, dan bagaimana bisa aku bertemu denganmu. Hallo, Nabilah, senang melihatmu tumbuh sebagai gadis cantik, meski kau merasa itu bukan cerminan dari dirimu yang sesungguhnya. Aku setuju denganmu, sebab dahulu juga leluhur-leluhurmu hidup sebagai kesatria meski pun mereka adalah perempuan. Aku mengamatimu dari jauh selama ini." Jelas pria itu, dia nampak tak asing bagiku, maksudku wajahnya... Suaranya mirip sekali dengan tipikal wajah di keluargaku.
"Mengamatiku dari jauh? Maksudmu kau ini adalah stalker?"
"Hmm? Apa itu stalker?"
"Se-semacam penguntit yang penasaran dengan kehidupan pribadiku."
"Ah tidak, tentu tidak seperti itu. Lagi pula aku ini juga bagian dari keluargamu kok."
"Kau bohong, kan? Aku tidak mungkin punya dua atau tiga kakek. Meski pun wajahmu nampak familiar."
"Aku tak bohong, hanya saja aku tidak bisa mengatakan apa hubunganku di keluargamu yang sebenarnya. Mungkin nanti dipertemuan kita yang selanjut-selanjutnya. Aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan singkat kepadamu yang akan terjadi esok hari. Karena waktuku tak banyak, aku ingin memberikanmu sebuah peringatan. Ada dua peristiwa besar yang akan terjadi kepadamu. Salah satunya tak bisa kuberi tahu, namun satu hal lagi adalah... Jangan dekati seorang laki-laki bernama Rey."
"Tentu, itu saja. Hal kedua itu sangat penting, oke? Aku tak ingin kau dekat-dekat dengan berandalan dokter konsultan hantu itu. Aku cuma mau kau dekat dengan manusia normal, lalu punya kehidupan normal. Tidak perlu jadi kesatria seperti leluhur-leluhurmu sebelumnya."
"Ada seorang anak di kelasku yang bernama Rey. Maksudmu dia yang kau maksud?" Aku memicingkan mata. Konsultan hantu? Bagaimana mungkin anak macam kurang sehat itu konsultan hantu? Kalau bandar narkoba baru aku percaya.
"Tepat! Besok ada hal yang membuatmu bertemu dengannya, namun jangan kau lakukan itu! Karena dia benar-benar anak yang seluruh indera di tubuhnya sangat peka melebihi insting manusia lainnya."
"Oke, kalau begitu aku mau tahu peringatanmu yang pertama itu apa?"
"Kalau hal itu sudah pasti terjadi kepadamu meski pun kau berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya, aku hanya ingin kau menghadapinya dengan tenang. Aku memperingatimu agar kau tidak terkejut. Yang penting jangan dekat-dekat dengan berandalan itu. Berjanjilah padaku!"
Kakek kekar itu menyodorkan kelingkingnya padaku, ia mengajakku berjanji? Orang asing ini?
"Ah sudah lah, jangan bilang aku ini orang asing. Aku bisa baca pikiranmu tahu!"
"Hah?"
Dia meraih tanganku, kemudian menautkan jari kelingkingku dan jari kelingkingnya.
"Janji ya!"
Tak lama kemudian, ada sebuah teriakan dari atas kami. Dari atap Cafe putih bercahaya ini ada banyak kepala yang memperhatikan percakapan kami.
Aku terkejut bukan main, kakiku sampai gemetaran.
"Tuan Mikail, waktu anda telah habis."
"Mi-Mikail?" Kataku kaku.
Kakek itu berdiri di hadapanku, kemudian sepasang sayap besar membentang dari belakang punggungnya.
"Ingat Nabilah, jauhi Rey! Sampai jumpa lagi."
"TUNGGU!"
__ADS_1
...
December, 02-2014.
Mataku terbuka, untuk kesekian kalinya aku terkejut lagi. Karena tubuhku berada sekitar satu meter melayang dari atas kasur.
"AP-APA-APAAN INI!!!"
Lalu sedetik kemudian tubuhku terjatuh kembali ke kasur lagi...
BRUUUGH!
"Nabilah? Kamu kenapa?!" Teriak suara bibiku yang langsung membuka pintu kamarku.
"Ti-tidak apa-apa, aku cuma tak sengaja jatuh k-ke kasur."
Aduh punggungku!
"Ya sudah bergegas sana, ini sudah waktunya sekolah."
"Ah, iya benar. Baiklah, Bi."
"Langsung turun ya, Bibi sudah buat sarapan kesukaanmu."
"Iya!"
...
Sembari mandi, aku masih kepikiran tentang mimpi yang aku alami tadi. Ja-jangan-jangan aku masih ada di dalam mimpi?
Lalu dari pintu kamar mandi...
"ARRRGGHHH!!! JANGAAAN..."
...***...
Akhirnya aku berada di sekolah setelah berjalan 50 meter dulu dari tempat paman mengantarku dengan mobil mewahnya.
"Jangan lupa sepulang sekolah pergi ke tempat Les!" Teriak paman seraya tersenyum sambil melambaikan tangan padaku.
Aku juga tersenyum lirih...
"Iya iya paman."
...
Aku menuju ke kelas, namun aku kembali teringat oleh mimpiku. Benar juga, diperingatan kakek itu aku diberi tahu untuk jangan dekat-dekat dengan Rey.
Memangnya anak itu kenapa? Anehnya dimana? Kalau aku sengaja dekat dengannya sebesar apa perubahan yang terjadi pada hidupku?
Ah sial, tahu begini lebih baik dia tak usah peringati aku. Malah bikin aku makin penasaran saja.
Lalu setelah duduk, dan menyiapkan segala persiapan tes kelompok Bu Miller hari ini. Tak lama kemudian Joshua terlihat berlari sembari menarik lengan seorang anak yang sepertinya itu Rey.
Aku lekas membuka buku biodata anak-anak di kelasku. Dan benar, itu adalah dia, Rey yang namanya cuma tiga huruf.
Berandalan? Dari sudut mana kah anak itu berandalannya? Tanpa sadar aku malah memperhatikan anak itu saat ia sedang diomeli habis-habisan oleh kelompoknya.
Sesaat kemudian dia juga menatapku, aku agak terkejut sedikit. Namun tetap mencoba cool.
Seolah peduli dengan pertengkaran mereka, aku menghampiri Josh, Mia, dan Sasha untuk memberi tanda kalimat-kalimat efektif ke skrip yang akan mereka presentasikan. Sembari melakukan itu mataku memperhatikan Rey dengan penasaran, kenapa aku tak boleh dekat dengan dia? Sekarang jarakku dan dia hanya 100cm Adakah perubahan dariku?
Cih. Sepertinya mimpiku itu hanya cerminan dari sugestiku gara-gara terlalu banyak baca novel horror.
...
Setelah itu, pada sepanjang pelajaran aku sering sekali memergoki dia yang sedang menatapku. Ketika aku balik menatapnya, dia membuang muka dengan seolah-olah berbicara kepada seseorang di sebelahnya, padahal itu hanya bangku kosong.
Rey, aku sungguh tak mengerti kenapa namamu yang cuma tiga huruf itu muncul ke dalam mimpiku. Apa ini karena aku juga tersugesti akibat membuat laporan nilai siswa? Ah benar. Aku juga sempat penasaran dengan namanya yang singkat.
Sugesti. Ya, ini cuma sugesti.
...
__ADS_1
>>IndigoPedia(~'-')~
Eps. 3: Sugesti. Atau Suggestion, adalah sebuah kondisi pengaruh psikis yang dimana terjadi sebuah interaksi pemberian pengaruh dari suatu hal ke hal lainnya. Akibatnya, pihak yang dipengaruhi akan mengikuti pengaruh dari hal tersebut. Contohnya adalah ketika sebelum tidur kau melihat seekor kucing, tidak mustahil jika saat kau bermimpi, kau akan menemui seekor kucing di mimpimu, karena tanpa disadari otakmu melakukan interaksi kepada objek yang kau lihat sebelum tidur.