
#Arc 2: The Club
-Brian's Point of View-
...
Di suatu tempat, di salah satu distrik tergelap seantero negri, sebuah Bar besar berdiri kokoh di atas tanah pemakaman para korban pasca perang.
Bar itu diisi oleh berbagai macam makhluk kegelapan yang pergi kesana untuk bersenang-senang, tak aneh jika kau sering melihat Siluman, Iblis, Penyihir dan roh gentayangan berlalu-lalang mengisi setiap sudut Bar. Mereka tertawa, berpesta, mabuk darah, berjudi, melakukan permainan kotor, dan hal apapun yang sifatnya menyenangkan bagi mereka. Tak hanya itu, Bar ini juga telah menjadi tempatnya berbagai kelompok cenayang gelap untuk bekerja sebagai anak buah dari sang pemilik Bar, yaitu Lord Samael. Pemimpin dari The Fallen Angel.
Alkisah, dahulu ada 7 Fallen Angel yang dibuang ke Land of Middle, yaitu sebuah tempat antah berantah yang letaknya berada di tengah-tengah dunia kehidupan, dan dunia kematian. Mereka dibuang kesana karena terlalu mendalami pengetahuan mengenai Manusia sehingga lambat laun, mereka penasaran ingin mempelajari pola hidup Manusia, jiwa mereka yang kosong pun perlahan-lahan berubah menjadi perasa dan ingin terus menerus merasakan kenikmatan duniawi. Mereka menjadi kehilangan jati diri sebagai Malaikat, lalu dari hati mereka timbul satu per satu hawa nafsu yang membuat mereka sudah tidak layak lagi menyandang gelar sebagai Malaikat.
Selama 1000 tahun mereka terpenjara di Land of Middle, bukannya menyadari kesalahan, dan kembali kepada takdir mereka, Samael dan kelompoknya malah semakin tertarik untuk tinggal di bumi, dan hidup sebagai ras terkuat diantara makhluk lainnya.
10 tahun yang lalu mereka bebas, lalu membangun Bar ini, juga mendirikan sebuah organisasi yang bernama The Fallen, dan dari 7 Malaikat, hanya tersisa 5 yang masih tertarik mengikuti ideologi Samael.
Namaku Brian Walker, seorang Indigo, inang dari Iblis bernama Azazel. 10 tahun yang lalu, keluargaku terbantai oleh Iblis yang mengamuk. Saat Azazel pertama kali turun ke bumi, yang ia tahu hanyalah tempat ini harus segera dihancur ratakan karena sifat alaminya yang tidak bisa melihat adanya sedikit kebahagiaan manusia. Keluargaku turun tangan untuk menghadapi Azazel, tetapi mereka semua tak sanggup menahan kekuatan yang besarnya melebihi apapun yang ada di dunia manusia. Kemudian... Saat suasana tengah kacau balau, Lord Samael datang, dan dengan mudahnya menjinakan Azazel yang mengamuk.
Benar, hanya dengan sekali sentuh, Azazel langsung tenang layaknya anjing yang baru bertemu majikannya.
Dari pembantaian tersebut, aku juga terluka sangat parah sampai pada suatu ketika jantungku berhenti berdetak lagi.
Segalanya gelap gulita, segala apapun yang aku lihat tidak lah nyata. Seolah... Aku berada di sebuah ilusi yang tak kunjung habis.
Hingga pada suatu masa, setelah beberapa hari mati, aku pun hidup kembali karena Raja penguasa dunia roh gagal mengambil rohku. Azazel menarik rohku kembali ke tubuhnya hingga akhirnya aku melihat cahaya lagi.
Pada saat itu, aku sangat kebingungan.
Perihal apa yang aku rasakan. Padahal aku sangat membenci Azazel karena telah merenggut segalanya dariku, tetapi di lain sisi, dia pula yang menghidupkanku, dan memilih tinggal di dalam diriku dengan aku sebagai pemegang penuh kontrol atas semua kekuatan Iblisnya.
Karena kehilangan keluarga, aku diangkat menjadi anak buah Lord Samael bersama dengan beberapa anak cenayang lain yang kehilangan keluarganya.
Hingga kini...
Aku masih saja bingung.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Brian?" Tanya Cassandra, salah seorang dari anggota The Fallen, yang juga adalah tangan kanan dari Lord Samael.
"Tidak ada." Kataku datar.
"Brian, jelas ada hal yang membuatmu gusar, bukan?"
"Cassandra, aku tidak punya tujuan. Apa alasanku hidup?" Jawabku tajam, mataku langsung menatap lurus ke Cassandra.
Tetapi Cassandra hanya tersenyum memperlihatkan gigi taringnya.
__ADS_1
"Kau tahu? Kau seperti seorang pelaut yang berlayar tanpa peta, kau terombang-ambing di lautan besar dengan perahumu yang juga besar. Kau bingung, sungguh bingung kenapa bisa berlayar, Saat ombak, dan badai datang, kau hanya bisa diam, dan bertanya-tanya, kenapa kau berada disana, begitu bukan?"
"Cih!"
Aku memegang kepalaku dengan kedua tangan.
Cassandra tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Hahaha... Kenapa bisa ada Indigo yang terombang-ambing hidupnya sepertimu, sih? Aku malah jadi ikutan bingung melihat sikapmu. Padahal kau punya kekuatan yang sungguh luar biasa, kau bisa melakukan apapun, membunuh siapapun, kau ini sudah sempurna Brian! Hei, sadarlah!"
"Aku tidak seperti itu." Kataku selanjutnya, lalu setelah menghabiskan minumanku, aku segera pergi beranjak dari Cassandra.
"Bebas." Ucap Cassandra tiba-tiba.
"Apanya yang Bebas?" Kepalaku kembali menoleh ke arahnya.
"Kau ingin hidup bebas, kan? Tanpa ada rasa bersalah kepada keluargamu yang dibantai oleh makhluk menjijikan di dalam tubuhmu itu." Tatap Cassandra lagi.
"Persetan, mana mungkin bisa."
"Ada Hollow baru yang terlahir belum lama ini."
"Hollow katamu?!" Aku terkejut, lalu tubuhku secara otomatis kembali menghadap Cassandra lagi.
"Kalau kau ingin punya kebebasan, bawa Hollow itu kesini, dan kami akan lakukan proses pemindahan Azazel ke tubuhnya. Lalu... Kau terbebas dari belenggu Azazel, dan bisa keluar dari tempat menyenangkan ini. Kau bisa menjalani hidupmu selayaknya manusia biasa."
Aku hanya mematung selama beberapa detik.
"Pilihlah, jalan mana yang mau kau kejar. Kau mau bebas dari rasa bersalah, atau bertahan dengan kekuatan luar biasa. Aku tidak rugi apapun, The Fallen tidak rugi apapun, begitu pula dengan Azazel. Untung ruginya ada padamu."
Aku... Hanya perlu membawa Hollow itu tanpa harus membunuhnya, kan?
Si-sial.
"Baik lah, akan aku ambil misi ini."
Wajah Cassandra berubah jadi penuh tatapan kagum.
"Wah... Wah... Wah... Namun kau jangan senang dulu, kalau ingin merebut Hollow itu, kau harus mengalahkan Indigo lain yang menjaganya."
Wajahku menjadi makin serius.
"Maksudmu dia dijaga Indigo pertama? Si Lucifer?"
"Bukan Lucifer yang harus kau takutkan, kita beruntung, karena inang dari Lucifer hanyalah seorang pecundang yang sama sekali tak pernah berkelahi. Dia bahkan memakai anugerahnya sebagai konsultan hantu, konyol sekali. Jadi... Ya, yang harus kau waspadai adalah kakeknya, Yordis sang pemburu Iblis. Dia memang sudah berwujud roh, tetapi kekuatan spiritualnya masih besar selayaknya saat masih hidup dulu. Ayah, ibunya juga agak merepotkan, jadi kau bantai saja mereka supaya cepat selesai." Jelas Cassandra.
__ADS_1
"Aku bisa mengatasinya." Kataku teguh.
"Tidak, tidak. Kau butuh tim untuk merebut Hollow itu. Pergi kesana seorang diri adalah bunuh diri, mereka memang tidak terlalu kuat, tapi pertahanan diri mereka sangat lah sulit ditembus."
"Kalau begitu aku butuh Kellin, dan Nero."
"Deal."
...***...
Seperti kataku sebelumnya, ada anak cenayang dari keluarga lain yang tinggal disini, termasuk Kellin, dan Nero bersaudara. Mereka adalah anak kembar dari keluarga Haze yang turut terbantai akibat Azazel, anehnya mereka ini juga adalah rekanku saat berburu Iblis. Mengapa merka tidak membenciku atas Azazel? itu karena keluarga Hazel adalah keluarga cenayang hitam yang justru hidup bergantung atas kekuatan dari Iblis. Atau lebih tepatnya adalah, keluarga Haze menjalin kontrak dengan Iblis agar bisa mendapatkan umur panjang. Mereka dalah keluarga yang hidup panjang dari zaman ke zaman. Bisa dikatakan bahwa marga Haze adalah yang tertua diantara keluarga cenayang lainnya.
Alasan orang tua Kellin, dan Nero mengorbankan diri mereka di tangan Azazel hanyalah sebagai bukti bahwa mereka mengabdi kepada iblis. Dan sekarang... Kellin, dan Nero mengabdi kepadaku sebagai pengendalli kekuatan Azazel. Itulah mengapa mereka malah sangat ingin dekat denganku.
Jadi, Mengajak mereka berdua ke dalam misi ini bukan sebuah perkara sulit. Tanpa basa-basi lagi, Kellin, dan Nero langsung bersiap. Kami akan pergi merebut Hollow itu dari tangan keluarga Yordis.
"Seperti yang kalian tahu, musuh kita juga adalah seorang Iblis bernama Lucifer. Bukan kah keluarga kalian mengabdi kepada Iblis kuat sepertinya?" Tanyaku kepada Kellin, dan Nero yang hanya saling menatap satu sama lain.
"Yah... Memang benar kalau Lucifer adalah yang terkuat, tetapi wadahnya tidak. Berbeda denganmu, Brian. Azazel sangat lah kuat, dan begitu pula denganmu yang mampu menaklukan kekuatannya." Jawab Kellin.
Nero beranjak dari kursinya, kemudian dia mengelus kedua pipiku.
"Kami rela mati demi dirimu, dan Azazel, Brian."
...***...
Suasana yang sangat kontras terjadi di sebuah atap gedung pencakar langit.
Samael menatap langit kota yang sedang bergemuruh, petir saling sambar menyambar di hadapannya. Tak lama kemudian handphonenya berdering.
Samael mengangkatnya, "ada apa?"
"Hanya karena kau ini Fallen Angel, bukan berarti kau bisa mengangkat telpon seenakmu di depan petir. Kau mau disambar?" Ujar Cassandra dengan ledekannya.
Samael tersenyum, "pasti rasanya geli."
"Kau ini. Ngomong-ngomong Brian akan berangkat besok dengan para keluarga Haze. Bagaimana? apa yang aku lakukan sudah benar?"
"Menurutku sudah benar. kerja bagus, Cassandra."
...
>>IndigoPedia(~'-')~
Eps. 9: The Truth
__ADS_1
The Truth adalah sebuah Kultus pemuja The Fallen yang dibuat dengan kedok sebuah Bar. Kultus ini mengajarkan kepada para pengikutnya untuk setia, dan turut serta menyerahkan jiwa mereka kepada Kultus ini yang diketuai oleh Lord Samael.