
#Arc 2: The Club
...
Dalam amarah dan tak tahu harus apa, aku hanya mematung melihat Nabilah tersiksa. Lucifer sama sekali tidak mau membantuku, dan Shinta juga tidak bisa mendekat karena terkurung di sebuah botol segel oleh salah seorang dari mereka yang juga tiba-tiba muncul dari ruangan lain.
"Kami hanya akan membawa Hollow ini, sebaiknya kau diam di tempatmu, dan jangan berbuat apapun kalau ingin hidup." Ucap seorang lelaki dengan mata biru, dan rambut gelap yang berjalan begitu santai memasuki lantai atas.
"Yo, Lucifer. Lama tak jumpa!"
"Yo Azazel, apa kabar?"
Apa?
"Azazel? Kau adalah—"
"Benar." Dia berdiri tepat di hadapanku dengan ekspresi penuh intimidasi.
"Aku juga adalah seorang Indigo dengan kekuatan Azazel yang ada di bawah kendaliku."
Brengsek, aku langsung mengeluarkan sebuah belati dari saku kecil di belakang ikat pinggangku.
"Apa tujuanmu membawa Nabilah?!" Tanyaku dengan emosi.
"Jadi namanya Nabilah?" Pria itu tersenyum sinis, kemudian ia pun menengok ke belakang menatap wajah Nabilah yang sedang kesakitan. Dia memandang Nabilah cukup lama dengan ekspresi yang berbeda dari raut wajah sebelumnya.
"HEI?!" Teriakku, dia terkejut!
Aku yang sedang berusaha memukul wajahnya pun ikut kaget karena dia mampu menghindari serangan mendadakku begitu cepatnya, kemudian dengan santai, dia meninju balik wajahku tepat di hidung sampai aku terpental ke sudut ruangan!
BUAAAGH...!!!
"Huft... Hampir." Katanya pelan.
Wajahku langsung babak belur dengan darah yang terus mengucur dari hidungku. Sial, padahal baru sekali menerima pukulannya, tapi aku sudah keluar darah sebanyak ini? Brengsek. Lucifer rupanya benar-benar hanya menontoni aku dari dalam sana.
Argh! Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Mau bagaimana pun, disini hanya aku yang bisa melindungi mereka. Jika aku melakukan telepati kepada kakek, bisa saja mereka akan segera menghabisi Nabilah, dan Shinta.
Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi... Bagaimana cara melawan mereka?!
Sial!
Aku mencoba tenang seraya memperhatikan apapun yang ada disekelilingku, dari jauh pria itu semakin mendekat ke arahku, dia mengepal erat tangannya, dan jiwa membunuhnya sangat terasa pekat kutrima.
Tapi... Tunggu dulu. Hal lain apa disini yang terasa pekat?
Seketika itu juga aku melirik sekantung kepala ayam hitam yang aku bawa sebagai umpan para roh. Ah, benar juga. Jika aku membuat para roh menyerangnya, mungkin aku akan mempunyai kesempatan untuk memikirkan langkah selanjutnya.
Baik lah!
Dengan bergegas aku menarik kantung berisikan kepala ayam itu, kemudian berlari ke arah pria tadi seraya melempar belati yang dari tadi aku pegang!
"TERIMA INI!" Kataku yakin, sesuai prediksiku, dia dengan mudah menghindari belati yang terbang tadi. Kemudian, merasa ia sudah terkecoh, aku langsung menghamburkan puluhan kepala ayam hitam ke arahnya.
"Kepala ayam hitam?!" Dia nampak terkejut.
Umpanku pun dimakan! Seluruh roh yang ada di gedung ini berkumpul mengerubunginya karena aroma amis darah yang masih sangat pekat terasa.
"Awas Brian! Para roh menuju kemari!" Teriak pria lain yang menangkap Shinta.
"Lumayan juga." Katanya santai. "Kellin, cegah para roh."
__ADS_1
"Oke Brian hahaha..."
Melihat serangan keduaku yang nyatanya tidak memberikan efek apa-apa padanya, dia langsung berlari mengejarku dengan kecepatan yang luar biasa. Melihat dia mengejarku, aku pun berlari menjauh menuju tempat ransel dimana aku taruh. Dia melesat semakin cepat menggapai bahuku, tetapi aku terus menghindar dan menghindar secepat mungkin, dia pun mengeluarkan sebilah katana yang sedari tadi ada di pinggangnya.
"Bersiap lah."
Dengan tangan yang bergerak seperti angin, dia menghempaskan sebuah serangan dari jarak yang sangat dekat, sebuah plasma berwarna ungu terang melesat tak berjarak ke arahku.
"Ohhh shiiit!"
Aku melompat dari serangan belakang itu sekuat tenaga.
*Hup!
BLAAAAAAR...!!!
Aku bergulingan di lantai karena menghindari serangannya, kemudian tanpa sadar seluruh puing-puing bangunan berterbangan kemana-mana karena gedung ini telah terbelah menjadi dua!
*Hosh... Hosh... Hosh...
Sial, aku tak sangka kekuatannya bisa sebesar ini.
"Sebenarnya kau ini sedang apa?" Tanyanya, dia masih berada di dalam posisi kuda-kuda yang siap menyerangku lagi.
Aku masih mengatur pernapasanku, "sebenarnya aku sangat takut saat ini karena baru pertama kalinya aku menghadapi manusia langsung dengan kekuatan yang sebesar kau. Namamu, Brian, kan?" Kakiku gemetar karena berhasil menghindar, tetapi kedua mataku memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Rey, kan? Aku hanya mau bilang bahwa seranganku kali ini akan sangat serius."
*Glek...
"Baik, aku juga ingin mencoba sesuatu." Kataku dengan kondisi tubuh yang sudah tidak karuan.
"Tenang saja, ini akan berakhir dengan cepat."
WHOOOOOOS...!!!
"AAARRRGH!!!" Dengan cepat aku mengangkat tangan kiriku, inilah yang akan aku coba! Kuadu tangan kiriku dengan katananya, saat ia sudah semakin dekat, kutahan kakiku kuat-kuat, dan kupastikan tangan kiriku yang akan pertama kali terkena serangannya.
Jarak kami sudah makin dekat, semakin, dan semakin dekat!
Kutarik napas dalam-dalam!
Lalu kupejamkan kedua mataku.
BLEEETAAANG...!!!
Tiba-tiba saja muncul suara yang mirip dua katana yang diadu, aku memberanikan diri membuka sedikit mataku.
Lalu sepersekian detik kemudian, katana Brian terpental ke belakangku, dan menancap di lantai.
Jantungku mau meledak rasanya, apa lagi setelah melihat tangan kiriku berubah menjadi tangan iblis yang sangat besar. Kulitnya berwarna merah pekat dengan aura api yang begitu kuat, kuku-kuku hitam panjang, serta sebuah tanduk kecil yang tanpa aku sadari tumbuh di bagian kiri dahiku.
"Dasar sial, kau gila ya? Kalau tangan ini terpotong, maka celakalah aku! Brengsek." Bentak Lucifer yang wajahnya muncul di belakang kepalaku.
Dengan perasaan yang masih shock, aku sedikit lega karena...
"Ini lah yang mau aku coba."
"Apa?!" Lucifer semakin sebal.
Dengan tangan kananku, aku menuliskan sebuah mantra di tangan kiriku. Kemudian, dengan mantra peminjam kekuatan ini, aku berhak memakai 20% kekuatan Lucifer yang sekarang sudah keluar.
__ADS_1
"Tunggu dulu... Kau sengaja membuat tangan kirimu terserang bukan untuk melindungi dirimu, tetapi kau sengaja memancingku keluar agar kau dapat menggunakan mantra peminjam kekuatan?! Sialan! Aku jadi terkecoh!" Lucifer terus mengomel dengan teriakan kerasnya, tapi aku tidak perduli lagi.
Sebab, sedari awal bertarung hingga sekarang, aku baru menemukan titik percaya diriku.
"Lucy, inilah yang aku sebut memadamkan api dengan air. Hehehe..."
"SIAPA YANG KAU PANGGIL LUCY? KEPARAAAT...!!!"
Brian tersenyum seraya memberikan tepukan tangan.
Proook... Proook... Proook...
"Sepertinya kali ini kau sudah terbiasa, Rey."
"Sebenarnya aku sudah menebak kedatanganmu hari ini." Benar, semalam cawan air ibuku membentuk riak setelah 10 tahun tidak memberikan reaksi apa-apa. Lalu dari banyangan cawan itu, wajah Brian dan teman-temannya terlihat jelas. Lantas aku pun melaporkan hal ini kepada kakek, kemudian kakek bilang aku harus pergi ke gedung kosong ini agar bisa memininalisir segala kekacauan yang akan terjadi. Kakek memberikan perintah agar aku tidak melakukan perlawanan sengit di awal-awal pertarungan karena ada sebuah masalah yang sudah pasti akan muncul.
Benar...
Lucifer membelot karena percaya diri sebab yang akan menyerangku juga adalah seorang Indigo yang dimana di dalam tubuhnya bersemayam Iblis lain. Intinya kurasa Lucifer akan meminta bantuan kepada Azazel. Selain itu, segala keperluan yang aku bawa kali ini tidak semerta-merta digunakan untuk kosultasi para roh. Melainkan sebagai pengulur waktu agar aku dapat melihat pola serang mereka serta strategi apa yang mereka gunakan.
Hmm... Tapi, kenapa bisa Lucifer tidak menyadari segala rencanaku?
Sederhana, aku mendiskusikan ini di grup chat keluarga dengan posisi tangan kiriku yang kumasukan ke dalam saku celana. Jika telapak tanganku berada di tempat gelap, Lucifer tidak bisa memakai mataku untuk melihat apapun.
Intinya adalah, kalian aku tipu.
"SEKARANG SHINTAAA!!!" Teriakku.
Shinta yang sedari tadi sudah menunggu lama pun mengamuk dengan meledakkan botol tempat ia disegel.
BOOOM... !!!
"APA?!" Pria yang menyegelnya pun ikut terhempas karena ledakan yang Shinta buat sangat besar.
Brian mulai tampak kesal, dia tidak menggubris kondisi temannya dan hanya menatapku tajam.
"Kau pikir aku roh rendahan macam apa yang mampu terjebak di botol segel hah?! Dasar bodoh." Ucap Shinta dengan senyum sinisnya. Setelah selesai dengan pria itu, Shinta sekarang berhadapan dengan perempuan yang menyandera Nabilah. Perempuan itu menempelkan belatinya di leher Nabilah, dengan yakin, ia berusaha tidak terintimidasi oleh hadirnya Shinta.
"Selamatkan dia kalau kau bisa." Tantangnya.
Bagi Shinta, dia hanyalah semut yang bisa langsung tamat sekali injak. Dengan cepat Shinta melesat merasuki tubuh Nabilah.
"KAU!!!"
Tubuh Nabilah yang dikendalikan Shinta mencengkram pakaian perempuan itu, kemudian dengan kekuatan monster, Shinta membanting tubuhnya yang seketika menghujam lantai dengan posisi kepala terlebih dahulu sampai ia terkapar tak sadarkan diri.
BUUUAAAGGGHHH...!!!
Melihat kedua temannya tumbang, Brian mau tidak mau harus mengerahkan kekuatan penuhnya.
"Untung saja kartu AS-ku bukan mereka." Katanya tenang kembali.
"Oke, kita lihat kau punya apa."
Brian terasa sangat sama denganku, dia mengeluarkan dua pasang tanduk dari dahinya yang lebih besar dariku, setelah itu dari punggungnya keluar pula sepasang tulang yang mencuat merobek pakaiannya, dari tulang-tulang itu tumbuh banyak sekali bulu hitam lebat mirip bulu elang dengan ukuran yang jauh lebih besar. Dia sepertinya sudah mengendalikan Azazel sepenuhnya. Sayapnya pun membentang besar, dan ia pun tak lagi menapakan kaki di lantai, kepakan sayapnya begitu kuat sehingga makin menghancurkan bangunan ini. Brian mengusap rambutnya ke belakang.
Auranya jauh lebih besar dari aura yang kupunya.
"Kau yang sekarang tidak ada apa-apanya bagiku, jika kupanggil sabit Neraka, tamat sudah riwayatmu." Ucap Brian.
"Hahaha... Aku penasaran bagaimana reaksimu, Rey. Di depanmu itu benar-benar monster loh." Timpal Lucifer.
__ADS_1
Sial, ini semakin serius.
...