
#Arc 1: Nightmare
-Nabila's Point of View-
...
Sepulang sekolah, aku sudah ditunggu oleh supir suruhan paman untuk mengantarku ke tempat les. Sesaat aku hendak masuk ke mobil, aku memperhatikan Rey dari kejauhan, dia berjalan dengan gaya memang agak-agak bad boy yang dipaksakan. Tapi sambil makan es krim?
Apa sih dia itu?
...***...
Di tempat les, tak ada hal yang aku pikirkan selain mimpi itu lagi-lagi. Aku sungguh tak fokus pada semua pelajaranku, sampai-sampai aku sering melamun padahal ada teman perempuanku yang sedari tadi memanggil namaku.
"Nabilah? Nabilah!"
"Eh? Apa?"
"Lihat, Eric sedang memperhatikanmu sedari tadi."
Aku menoleh ke arah kiriku, lalu terlihat lah sesosok pria yang katanya paling tampan disini, dia anak dari konglomerat salah satu pejabat pemerintahan yang kabarnya masih kolega dari Paman Joe. Dia melambaikan tangan kepadaku sembari melempar senyum, dan sebuah love sign yang ia buat dengan jarinya.
Aku malah termenung. Tapi bukan karena terpana, hanya saja aku seperti membanding-bandingkan dia dengan sosok Rey. Maksudku contoh yang tak harus didekati itu yang seperti ini! Sudah playboy, arogan pula. Hei tapi bukan berarti Rey patut didekati juga. Aku hanya membandingkan.
Sial, aku tidak boleh kehilangan fokus begini. Aku harus belajar.
"Dia terpana oleh ketampananku, hehehe..." Ucap Eric pada teman di sebelahnya.
"Mantap, bro!"
...
Sepulang les, aku meminta agar pulang naik taxi karena mau mampir dulu ke Cafe langgananku sembari membeli beberapa cake untuk dibawa pulang.
"Kau mau kemana? Mau ikut aku ke Club? Hari ini akan ada pesta besar antar para pewaris perusahaan. Siapa tahu pewaris Nebula Grup mau bergabung?" Ajak Eric sambil menyender di sebelah BMW keluaran terbarunya.
"Ah tidak, aku sedang banyak PR." Kataku cuek sembari masih menunggu taxi.
Namun Eric tetap keras kepala, ia menghampiri, lalu menggenggam kedua tanganku.
"Ayolah, aku lihat kau terlihat tertegun oleh ketampananku."
"Eric, kalau kau tampan, dulu aku juga tak kalah tampan darimu." Kataku dengan nada bicara yang diberat-beratkan. Dengan cepat Eric melepaskan tanganku.
"Ewh! Sungguh? Kau ternyata—"
"Apa? Mau kutendang dengan kaki penuh bulu keriting ini?"
"AAARGH! JAUH-JAUH DARIKU KAU DASAR TRANSGENDER!"
Dan dia pun kabur menjauh, mengebut dengan mobilnya.
"Transgender matamu, aku ini transformer tahu!"
"TAXEEE!!!"
...***...
Aku mampir di Cafe tidak terlalu lama, ternyata disana sedang ramai pengunjung. Akhirnya semua makanan yang aku pesan, kubawa pulang, oh ya, di dalam mimpiku aku ingat sekali bahwa Cafe ini adalah tempat aku membaca novel sembari minum americano.
Pada akhirnya aku sampai di rumah lebih awal.
"Bagaimana lesnya hari ini?" Tanya Paman Joe yang sedang mengerjakan sisa pekerjaannya di laptop.
"Lancar seperti biasa, aku bawa espresso kesukaan Paman, ada latte juga untuk Bibi."
"Terima kasih sayang, mau makan malam dulu?" Tanya Bibi.
"Hmm, aku akan makan camilan saja, sudah terlalu banyak karbo hari ini hehehe..." Jawabku.
__ADS_1
"Bagus, kau harus kembali ke berat idealmu. Tapi makan gula juga jangan terlalu sering, oke?" Ucap Paman.
Aku mengangkat bungkus cake yang kubeli, lalu sembari sedikit berbisik aku berkata.
"Ini dark cokelat."
Pamanku memberi simbol approve dengan jempolnya.
"Ah iya paman, sehabis mandi aku mau izin pergi ke toko buku untuk beli novel sebentar."
"Kenapa tidak sekalian saja tadi? Toko mana? Biar Paman antar."
"Aku baru ingat barusan, hehehe... Tidak perlu. Aku cuma pergi sebentar, soalnya naik taxi. Paman istirahat saja, besok ada meeting penting soal keuangan perusahaan, kan?"
"Benar, bahkan kau ingat jadwal Paman? Very nice, ini baru calon CEO kita."
"Ah bukan apa-apa." Sembari tersenyum aku pergi ke kamarku yang ada di lantai 2 rumah kami.
Seperti biasa, aku rapih-rapih ala seperti anak perempuan lainnya. Menyiapkan seragam untuk esok, mandi, menata buku-buku pelajaran, lalu bersiap untuk pergi ke toko buku langgananku.
Buku dari novelist horror kesukaanku telah terbit season keduanya. Tak sabar rasanya membaca Amanda: The Investigation of Jeff the Killer terbaru. Uh yeah! Pasti seru sekali.
Sehabis mandi, aku segera keluar dari rumah.
Padahal aku bilang kalau ingin pergi naik taxi, tapi aku lebih suka jalan kaki sembari mendengarkan musik. Rasanya inilah saat yang tepat untuk menenangkan diriku, menikmati udara segar di malam hari juga tak kalah nikmat dari pagi hari, ya kira-kira habis lah tiga lagu untuk diputar. Sebenarnya novel itu rilis besok, tapi aku sungguh tidak sabaran, dan sebagai fansnya kak Amanda, aku akan beli malam ini juga!
Untung saja disini ada toko buku yang buka hingga jam 12 malam, toko buku itu cocok sekali untuk orang sepertiku yang mana sebagian waktu di siang hari dihabiskan untuk aktivitas padat. Ibu Ron namanya, ia seorang wanita keren yang sudah berumur 45 tahun, masih kuat mengelola toko buku meski sudah ditinggal oleh sang suami untuk selama-lamanya. Dia tinggal seorang diri, padahal anaknya sudah sering mengajak untuk tinggal bersama, namun ia tetap tidak mau karena toko itu adalah kenang-kenangan satu-satunya ia bersama suami. So sweet sekali!
Dan tentu saja aku akrab dengan Ibu Ron. Dia sering curhat tentang banyak hal padaku, mulai dari tokonya yang sempat kerampokan, tentang Kolonel Thomas suaminya, tentang cucu mereka yang baru lahir, ya macam-macam pokoknya. Tidak banyak orang yang bisa menemaninya selain aku.
"Malam, Bu." Sapaku dari depan pintu sembari tersenyum lebar.
"Nabilah!" Dia tertawa gembira, ia bangun dari kursinya karena tak kuat berdiri lama, lalu menarikku masuk ke dalam toko.
"Kau pasti cari ini!"
Dia menunjuk rak best seller dari bagian depan toko, benar saja, novel Amanda sudah berada di puncak best seller dengan sampulnya yang glossy, warna gelap juga noda darah yang khas dengannya. Wuah!
"Tapi buku yang ada di rak best seller cuma itu, kau harus beli besok karena pengiriman barangnya ditunda malam ini. Paling besok pagi baru bisa."
"Jangan dong, Bu. Aku mau punya sekarang juga! Besok buku yang baru datang langsung taruh saja di rak best seller. Aku mau beli yang ini langsung, ayolah Bu, ayolah... Aku bayar dua kali lipat deh!" Rengekku, aku terus memegangi tangan Ibu Ron.
"Tapi buku ini aneh datangnya."
Aku sedikit terkejut.
"Aneh bagaimana?"
"Kira-kira dua jam yang lalu ada orang yang datang dengan pakaian serba hitam, menaiki mobil mewah, lalu mengaku sebagai suruhan Amanda untuk memberikan buku novel terbaru dengan sampul limited edition ini."
"Aneh sekali? Kok bisa? Memangnya Ibu punya koneksi dengan orang-orang kak Amanda? Editornya atau managernya mungkin?" Tanyaku penuh keanehan.
"Tidak tuh."
"Lalu kok bisa tiba-tiba?"
"Kalau kau tanya aku, aku tanya siapa?"
"Iya juga, tapi tetap saja aku mau beli!"
"Ya sudah, karena kau sudah ku anggap anakku sendiri, beli lah, pakai harga normal saja tak apa."
"Sungguh?!"
"Kalau tak mau ya sudah."
"AKU MAU!"
Akhirnya, aku pun segera menjulurkan tangan ke buku itu. Tetapi kenapa rasanya tanganku tak pernah bisa menyentuhnya? Seolah-olah tubuhku menjauh saat aku hampir bisa menggapainya.
__ADS_1
Aneh.
Lagi-lagi aku berjalan mendekati rak, lalu tanganku kembali ingin mengambil buku itu. Tapi lagi-lagi yang ada tubuhku mundur tanpa aku sadari sejauh dua meter.
"Si-sial. Ada apa denganku?"
"Kau mau ambil bukunya atau tidak, Nabilah? Aku sudah mau tutup loh."
"Iya mau." Kataku pelan.
Aku menggelengkan kepalaku cepat, ayolah tubuhku, akhirnya aku dapat menggapai buku itu, tetapi ketika hendak memegangnya, buku itu terjatuh sendiri ke lantai.
Aku menggapai buku itu ke lantai, tapi lagi-lagi buku itu bergerak, sekarang seolah-olah ditendang oleh sesuatu.
"Kok bukunya malah kau buang-buang, sih?!" Ibu Ron yang sebal langsung memungut buku itu, lalu membungkusnya.
"Ini pegang, jangan sampai dijatuhkan lagi!"
"Tapi bukan aku Ibu Ron! Bukunya bergerak sendiri."
Dia malah tertawa.
"Hahaha... Jangan buat aku merinding, sana pulang, ini sudah malam."
"Ada yang aneh dengan diriku seharian ini, Ibu Ron."
"Kau cuma kecapean belajar, tidak perlu banyak beban pikiran, cepat sana istirahat. Besok sekolah." Ucap Ibu Ron sembari mengelus-elus punggungku.
"Iya kurasa aku memang kecapean hari ini."
...
Setelah berpamitan, aku pun lebih memilih berjalan lagi saja menuju rumah.
Sumpah, hari ini sungguh bukan main anehnya. Mulai dari mimpiku, segala peringatan yang diberikan kakek tua, tidurku yang melayang, buku yang seolah-olah menjauhiku.
Sepertinya aku kena kutukan!
Tapi aku habis buat salah dengan siapa?!
Saat sedang banyak yang aku pikirkan, tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu mengikutiku dari belakang.
Namun saat aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa disana. Tapi firasatku mengatakan bahwa ada sesuatu disana, ah sudah lah. Lama-lama aku jadi merinding sendiri.
Tanpa pikir macam-macam lagi, aku berjalan cepat menuju rumah, untunglah saat sampai, Paman Joe langsung menyambutku karena dia rasa aku terlalu lama berada di luar.
"Kok lama sekali, naik taxi kan?" Tanya Paman.
"I-iya Paman, aku lama karena buku yang aku cari sempat tidak ada."
"Dasar, langsung pergi tidur."
"Iya."
...***...
Seluruh tubuhku mendadak deman, apa yang terjadi kepadaku? Kepalaku juga mulai sakit karena terlalu banyak keanehan yang aku alami dalam satu hari.
Sepertinya aku tak kuat jika harus lanjut baca buku meski pun aku sangat ingin tahu kelanjutan ceritanya, tapi jika aku tak tidur cepat, aku bisa-bisa sakit besok.
Persetan lah dengan tugas dari Bu Miller.
Kutenggak satu tablet obat sakit kepala detik itu juga, lalu beberapa saat kemudian aku mulai mengantuk. Tubuhku sangat lemas dan rasanya aku terlelap begitu saja...
Sepetyn alu majin mengabntu
...
>>IndigoPedia(~'-')~
__ADS_1
Eps. 4: Kolonel Thomas William, dia adalah jenis hantu spesial yang melakukan kontrak dengan dunia Roh untuk berada di bumi lebih lama agar bisa menemani sang istri, Ronsay William. Pertukaran yang dilakukan Kolonel Thomas adalah, dia mengorbankan waktu reborn atau terlahir kembalinya ke dunia selama 30 tahun.