Indigo: The Hand Of Demon

Indigo: The Hand Of Demon
Hollow Girl Pt. 2


__ADS_3

#Arc 1: Nightmare


...


Setelah Raja Lamiel sudah menyerah. Kami kembali ke dunia manusia, lalu membuat rapat keluarga antar para Yordis.


Disini sudah berkumpul kakek, aku, ayah, ibu, dan Shinta.


"Ayah, aku sudah melaporkan kejadian ini kepada para petinggi pusat. Dan mereka bilang kita harus bertanggung jawab atas Hollow tersebut karena ini terjadi di wilayah keluarga kita. Tetapi mereka juga memberi syarat agar kita terus harus mengawasi perkembangannya, jika dalam setahun ini dia masih menjadi Hollow, dengan sangat disayangkan dia harus dikirim ke dunia roh, dan dianggap mati." Jelas ayahku kepada kakek.


"Dari komite pemerintahan rahasia divisi metafisik juga mengharapkan agar kejadian ini tidak akan menggaggu stabilitas negara dalam urusan spiritual." Sambung ibu yang juga baru saja selesai rapat dengan salah satu divisi pemerintahan yang mengurus masalah spiritual di negara kami.


"Kita sebagai keluarga Yordis tidak boleh gagal seperti keluarga Walker 10 tahun silam. Yang berarti kita harus melindungi Hollow ini agar tidak menjadi inang bagi roh jahat tingkat spesial yang membunuhnya. Seluruh keluarga akan aku sebar, dan dari sini, aku harap Rey bersama Shinta dapat lebih dominan melakukan pencarian. Roy, tolong urus sekolah Rey agar dia mendapat izin cuti selama beberapa waktu. Aku harap kita dapat menemukannya secepat mungkin." Perintah kakek.


"Baik, ayah." Ucap ayahku.


...***...


Setelah rapat keluarga selesai, aku bersama Shinta menyiapkan diri kami dari tempat Nabilah dimakamkan.


Kami melihat ke sekeliling area untuk menemukan jejak yang mungkin tak sengaja Nabilah tinggalkan, untuk itu aku membuka sebuah buku kuno tentang ciri-ciri dari seorang Hollow.


Dari buku ini dikatakan kalau Hollow selalu memakai pakaian serba putih dengan aroma tubuh yang tercium mirip bunga lily, dan jejak aura kaki berwarna nila terang.


"Itu berarti kita harus mencari jejak aura berwarna nila, lalu menggunakan hidung kita untuk mencari aroma bunga lily." Kataku pada Shinta.


"Berarti hanya aku yang bisa menemukan jejak ini karena aku bisa melihat aura manusia. Tapi... Bagaimana aroma dari bunga lily?"


"... Aku juga sebenarnya tidak paham soal bunga."


"Sudah kuduga."


Aku pun menemani Shinta mencari jejak aura kaki di sekitaran pemakaman, kami berputar kesana-kemari, menelusuri semua blok, jalanan, tempat gerbang awal, hingga gerbang akhir. Tetapi Shinta bilang dia tidak menemukan jejak aura berwarna nila.


"Semua jejak disini berwarna putih yang berarti itu jejak manusia biasa. Bagaimana ini, Rey?" Tanyanya.


"Entah lah, jika aku jadi Nabilah, kira-kira aku akan menuju kemana ya?"


"Jika kau jadi Nabilah, sudah pasti kau akan lari ke rumah dan nangis-nangis ke ibumu, hahaha..."


"Sialan. Eh tapi... Kalau dipikir-pikir, tidak ada salahnya kalau kita cek rumahnya, kan?" Tanyaku.


"Wajar-wajar saja, ayo kita kesana, untung saja kau pernah diam-diam mengikutinya. Siapa tahu jejaknya disini tak terlihat karena ditiban oleh jejak-jejak manusia lain."


...


Setelah tiba, kami melihat rumah Nabilah yang masih ramai dikerubungi oleh kolega-kolega dari keluarganya yang sangat berduka cita.


Sebenarnya sesaat sebelum kemari, aku sempat membeli satu stel jas serba hitam di sebuah Mall, karena aku harus berbaur di antara semua orang besar itu. Sial, jantungku berdebar takut ketahuan oleh mereka. Namun tidak ada jalan lain juga bagiku agar bisa mencari jejak Nabilah.


"Santai saja Rey, jangan terlalu mencolok. Aku akan membantumu melihat ke sekitar." Ucap Shinta. Aku hanya mengiyakan kata-katanya.


Akhirnya aku masuk ke rumah Nabilah, lalu melihat banyak sekali tipe-tipe orang disini yang sikap mereka semua diluar dugaanku.


Ada yang membicarakan tentang saham perusahaan, rencana  untuk merekrut kolega yang sudah bekerja lama sebagai salah satu kandidat penerus perusahaan, semua orang brengsek ini malah memperebutkan posisi yang Nabilah tinggalkan tanpa ingat bahwa Nabilah baru saja meninggal.


"Sungguh tidak punya hati nurani." Celetuk Shinta.


Tiba-tiba ada seorang lekaki yang usianya kira-kira sepantaran denganku berbicara tentang Nabilah kepada salah seorang temannya.


"Sudah sepantasnya dia mati, dia menolakku malam itu dengan cara yang sangat rendah. Cih, dia pikir aku suka padanya apa ya. Padahal jika aku mau, aku bisa mendapatkan 10 Nabilah dengan mudah, dasar ****** sialan."


Kata-katanya sungguh...


Tanganku mengepal sekeras batu, suhu tubuhku mendadak naik mengalahkan temperatur ruangan yang dingin. Saking panasnya suhu yang aku pancarkan, orang-orang disana sampai kegerahan bukan main.


"Rey tenangkan dirimu! Ingat tujuan kita!"


"Rumah macam apa yang udaranya mendadak sepanas ini? Ah sial." Gumam lelaki itu.

__ADS_1


"Cukup Rey, cukup... Rencana kita bisa gagal jika membuat keributan disini!"


Aku pun membuang napas perlahan-lahan hingga suhu udara di sekitar kami kembali normal, aku harus bisa mengendalikan diri disaat situasi seperti ini. Mereka hanya manusia biasa, bisa gawat jika aku mendadak membangunkan Iblis dari tangan kiriku.


"Rey? Sudah lebih tenang?"


"Iya."


...


Rumah besar ini aku telusuri secara diam-diam, setiap ruangan aku masuki dengan bantuan Shinta yang melihat keadaan sekitar. Pancaran elektromagnetik yang hantu tingkat spesial lakukan dapat dengan mudah membuat kamera cctv di rumah ini error untuk sementara waktu.


Lantai 1 sudah selesai aku telusuri, kemudian aku yakin kalau ternyata kamar Nabilah ada di lantai 2. Dengan berhati-hati aku berjalan perlahan-lahan agar orang disana tidak mencurigai gelagatku.


Singkat perjalanan, tiba lah aku di depan sebuah kamar berpintu putih terang dengan ruangan yang sedikit agak terbuka. Namun belum sempat aku memasuki ruangan, Shinta menahan tanganku.


"Tunggu Rey, hawa jahat dari kamar ini pekat sekali. Makhluk yang membunuh Nabilah masih ada di dalam. Biar aku yang masuk lebih dulu."


"Baiklah."


Sesaat kemudian Shinta masuk perlahan-lahan ke kamar Nabilah. Namun dia langsung berteriak memanggil namaku!


"REY!"


Kaget, dan panik disaat bersamaan. Aku segera masuk ke dalam kamar Nabilah, lalu aku, dan Shinta mendapati hantu tingkat spesial itu tengah mencekik leher Paman, dan Bibi Nabilah.


"Loh ada tamu, hehehe..."


"Lepaskan mereka sekarang juga!" Bentakku.


"Kalau tidak kenapa? Apa yang akan kalian lakukan, hah?" Ancamnya, dia menatap kami tajam.


Aku berjalan ke arahnya dengan tenang.


"Baiklah jika kau memaksa, sebaiknya kau langsung ku kirim saja ke Neraka. Tidak perlu melewati sortir lagi di alam baka."


Wajahnya mendekat ke arah wajahku yang sedang kesal bukan main.


"Kau akan segera menyesali segala perbuatanmu kepada keluarga ini."


Sekali lagi aku mengangkat tangan kiriku ke arah wajahnya.


"Hah? Apa-apaan tangan kirimu ini?"


Hantu itu mempertajam penglihatannya, lalu tiba-tiba dia terbelakak ketika menerawang sesuatu yang ada di dalam telapak tanganku. Dia seolah-olah sedang dipelototi oleh sosok yang kekuatannya ribuan kali lipat darinya, hantu itu terpatung ketakutan.


Iblis dari dalam telapak tanganku tersenyum, dia menatap balik si hantu yang sudah sangat gemetaran.


"Boo!"


"HUAAAAAA...!!! ITU TIDAK MUNGKIN DIA KAN? HAAAAAA...!!! JAUHKAN TANGANMU DARIKU." dia menjerit ketakutan, cengkramannya pun terlepas dari leher Paman, dan Bibi Nabilah.


"Apakah kau menatap kedua matanya?" Tanyaku datar.


"Kek-kek-kenapa j-j-j-jika a-aku men-menatap m-m-m-ma-matanya?"


"Jika iya, kau akan langsung masuk Neraka. Jalur VIP. Lihat lubang besar di atas kepalamu."


Hantu itu mengangkat kepalanya ke langit-langit perlahan-lahan, lalu dia kembali berteriak saat sebuah mulut portal turun menelan sekujur tubuhnya menuju Neraka terdalam.


"HUAAAAAAA...!!!"


Aura panas tersebar ke seluruh ruangan, aku langsung menutupi Paman, dan Bibi Nabilah dengan selimut di kamarnya agak mereka tidak merasakan panasnya aura dari Neraka.


Suasana seketika berubah hening...


"Aku sudah 2 kali menyelamatkanmu, lho. Apa kau yakin tidak mau memberikanku sedikit kebebasan? Hehehe..." Ucap suara berat yang datangnya dari telapak tangan kiriku.


"Maaf, aku terpaksa memanfaatkan kharismamu karena aku tidak punya cukup kekuatan untuk menyingkirkan hantu tadi, kekuatan Shinta juga sudah terkuras banyak hari ini."

__ADS_1


"Rey, jika kau sedia berbagi tubuh denganku, aku akan rela membuatmu menjadi sekuat diriku. Bayangkan, betapa nikmatnya menjadi Indigo. Kau pasti ingin kan menjadi Indigo sebenarnya kan? Hmm? Saat darahmu berwarna nila, jiwamu akan abadi, dan kau akan menjadi makhluk terkuat seantero Surga, juga Neraka." Jelas Iblis itu.


"Jangan dengarkan dia, Rey." Ucap Shinta menahanku.


"Diam lah Shinta, sekali-kali biarkan aku sedikit mengobrol dengan orang terdekatku. Bukan begitu, Rey? Setidaknya kau sudah terpancing oleh emosi yang aku salurkan tadi, anehnya tubuhmu menerima kekuatanku secara suka rela. Jauh dari dalam lubuk hatimu, kau sama sekali tidak menentang keberadaanku disini. Dengan kata lain..."


"Kau... Juga menginginkan kekuatanku."


"DIAM!" Kataku tegas sembari mencoba menahan, aku mengambil sarung tangan yang sudah dimantra oleh kakek dari saku dalam jasku. Lalu aku mengurung tangan kiriku ke dalam sarung tangan itu.


"Cih, dasar munafik." Ucap sang Iblis untuk terakhir kalinya sambil tertawa kecil sebelum dibuat tertidur kembali.


...


"Bagaimana kondisi Paman, dan Bibi Nabilah, Shinta?" Tanyaku khawatir.


Shinta tersenyum.


"Mereka baik-baik saja, aku juga sudah menghapus ingatan mereka satu jam ke belakang. Dalam 10 menit mereka akan sadar dan kembali menjamu para kolega. Masalahnya adalah kita sama sekali tidak menemukan jejak aura kakinya sama sekali." Jawab Shinta.


"Begitu ya..."


Mataku melihat ke sekeliling kamar Nabilah, kemudian tak sengaja melihat sebuah buku novel yang tergeletak di meja riasnya.


Aku melihat-lihat novel itu, kemudian aku teringat oleh sesuatu.


"Shinta..."


"Ya?"


"Aku rasa aku tahu dimana keberadaan Nabilah."


"Sungguh?!"


...***...


Aku berlari dari rumah Nabilah menuju ke sebuah tempat yang sebelumnya tak terpikirkan olehku, dengan berdebar aku sungguh-sungguh berharap Nabilah berada disana, dia tidak bodoh! Sebagai orang yang telah melewati kematiannya sendiri, rasanya sangat tidak masuk akal kalau dia pulang ke rumah lalu bertemu hantu yang membunuhnya. Dia pasti akan mencari tempat alternatif lain dimana dia berpikir bahwa tempat itu adalah awal mula segala kesialan ini menimpanya.


Dan tempat itu adalah...


BRAAAK...!!!


"Ibu Ron?!"


Seekor kucing abu-abu menyambut kami, ah, aku tahu dia siapa. "Kolonel Thomas, maaf aku tiba-tiba membanting pintu tokomu, hanya saja aku—" belum sempat kuselesaikan perkataanku, Kolonel yang merasuki tubuh kucingnya langsung berkata, "dia di dalam."


Dengan cepat aku masuk ke dalam toko Ibu Ron, namun dia tidak ada di area sales tokonya, dia pasti ada di ruang keluarga!


"Ibu Ron! Ibu Ron!"


Terus ku panggil namanya hingga di suatu titik aku sedang melihatnya di ruang makan bersama...


"Nabilah."


"Rey?" Ibu Ron keheranan.


"Syukur lah aku menemukanmu."


Mataku dan mata Nabilah saling bertautan, dengan sebuah senyum, aku menyambut kembalinya dia dari kematian.


"Aku menemukanmu."


"Kau?"


...


>>IndigoPedia(~'-')~


Eps. 7: NDE, atau Near-Death Experience, atau Mati Suri adalah kondisi dimana seseorang telah dinyatakan meninggal secara klinis sebelum akhirnya hidup kembali. Dalam kasus Nabilah, NDE yang ia alami menuntunnya kepada sebuah kasus dimana ia berubah menjadi seorang Hollow, atau sesosok makhluk dari kematian yang hidup kembali karena belum saatnya mati. Hollow menjadi perebutan diantara para  Cenayang dan Raja Lamiel sang penguasa dunia roh sebab keberadaannya bisa membuat kedua dunia tidak stabil dalam hal spiritual. Tubuh Hollow memiliki kekosongan jiwa yang membuat mereka dapat dirasuki roh-roh tingkat spesial, atau bahkan dapat menjadi inang dari makhluk super power layaknya Iblis, dan Malaikat. Di dalam kasus baru yang terjadi kali ini, Hollow bernama Shinta muncul di wilayah kekuasaan keluarga Yordis yang dimana hal itu akan menjadi tanggung jawab seluruh anggota keluarga Yordis.

__ADS_1


__ADS_2