
#Arc 1: Nightmare | End
...
"Iya ayah, aku sudah berhasil menemukannya di tempat yang aman. Apa? Oh... Roh itu juga sudah kuhabisi, iya aku akan segera membawanya ke rumah jika kondisi mentalnya sudah membaik."
Pip!
"Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?" Tanya Nabilah yang tiba-tiba muncul dari belakangku. Aku yang terkejut segera memasukkan handphone ke dalam saku.
"Nabilah..."
"Pertama-tama biarkan aku mengatakan suatu hal yang harus kau terima untuk sepanjang hidupmu." Aku yang agak gugup ini hanya menatap bibirnya tanpa berani melihat kedua mata Nabilah.
"Apa yang harus aku terima?" Tanyanya dengan nada bicara yang terdengar lirih.
"Kau sudah dinyatakan meninggal dari dunia manusia. Semua kerabatmu, Paman, dan Bibimu hanya boleh tahu jika kau sudah meninggal. Mereka tidak bisa melihatmu kembali hidup, karena itu juga bisa jadi bahaya bagi kelangsungan hidup mereka."
Nabilah tertunduk lesu.
"Jadi... Aku sudah tidak bisa kembali lagi ke kehidupan lamaku?"
"Benar."
"Bagaimana keadaan Paman, dan Bibi?"
"Mereka terlihat sangat terpukul."
Nabilah terduduk di sebuah kursi di dalam ruang tamu rumah Ibu Ron. Dia menopang dahinya di atas kedua telapak tangan, hawa kesedihan sangat pekat menyelimuti dirinya. Tetapi entah mengapa dia malah berusaha menerima keadaan yang menimpanya tanpa menaruh dendam kepada apapun. Jauh dari perkiraanku, ternyata dia adalah gadis yang punya mental baja.
"Lalu aku ini apa? Kau juga adalah apa? Kenapa juga kau bisa ada di dalam permasalahanku?"
Aku duduk di sebelah Nabilah.
"Begini, namaku–"
"Rey? Tidak aku sangka anak paling pendiam di kelas ternyata punya kepribadian seperti ini."
"Iya, aku terpaksa harus menutupi segala tentang diriku dari dunia luar. Itulah sebabnya aku lebih memilih menyendiri. Ngomong-ngomong... Saat ini kau disebut Hollow, atau kata lainnya adalah manusia yang tidak seharusnya mati, namun malah mengalami kematian. Umurmu masih panjang, tetapi sesosok roh tingkat spesial malah membunuhmu. Nabilah, kau telah menjadi perebutan diantara dunia roh, juga dunia manusia karena kau tidak hidup dikeduanya. Itulah sebabnya aku... Ah benar. Sebelumnya, keluargaku adalah sesorang cenayang yang menguasai daerah ini. Jika kau pernah dengar tentang keluarga Yordis, itu adalah keluargaku. Sebagai cenayang, kami bertanggung jawab menjaga stabilitas dari keadaan supranatural yang terjadi di wilayah ini. Dan kami juga bertanggung jawab atas dirimu, karena kami baru saja memenangkan perebutan atas hak asuhmu. Aku tidak memaksamu untuk segera mengerti, tetapi saat ini kau bisa melihat banyak sosok yang sebelumnya tak pernah kau lihat. Contohnya suami Ibu Ron, dan rekan perempuanku ini."
Nabilah menjauh dariku seketika.
"Ma-ma-maksudmu mereka adalah..."
"Iya, hantu. Mereka semua telah meninggal. Tidak hanya kemampuan ini, namun segala indera di tubuhmu juga jadi jauh lebih peka dari manusia normal pada umumnya. Pendengaranmu, penglihatanmu, gerak reflex, semuanya menjadi berkali-kali lipat meningkat. Bahkan kau bisa melihat bagaimana lalat terbang meski pun dia bergerak dengan sangat cepat. Aku... Sebenarnya setelah ini akan mengajakmu tinggal bersamaku."
"Tunggu!"
"Eh?"
"Tidak ada hal yang lebih gila selain tinggal denganmu!"
"Ah maaf, aku belum selesai bicara. Ma-maksudnya adalah tinggal bersama ayah, ibuku juga. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kau sudah menjadi tanggung jawab keluargaku." Nada suaraku menjadi malu-malu, aku membetulkan posisi dudukku.
"Tetapi sepertinya untuk sekarang aku akan membiarkanmu untuk menenangkan diri, dan mencerna semua kata-kataku sebelumnya. Semua ini pasti sangat mengejutkanmu, aku sangat memahami perasaan itu." Kataku melanjutkan.
Nabilah membuang muka ke arah yang berlawanan.
"Aku akan berada di depan toko, panggil lah aku jika kau butuh sesuatu."
...
"Bagaimana, Rey?"
"Dia masih terguncang, Ibu Ron."
Mataku melirik ke arah suami Ibu Ron.
"Hallo Pak Kolonel, lama tak jumpa."
"Lama tak jumpa, Rey, Shinta."
__ADS_1
Aku terduduk di pelataran toko sembari meminum segelas teh hangat.
"Jika saja malam itu Nabilah tidak kemari, apakah keadaan akan baik-baik saja?" Tanya Ibu Ron.
"Aku rasa ini sudah jadi takdir Nabilah, jadi meski pun dengan beratus-ratus kemungkinan, tetap saja dia akan kemari untuk membeli buku kutukan itu. Ini seolah sudah seharusnya terjadi, kita tidak bisa menghindarinya lagi Bu Ron." Jawabku.
"Aku merasa bersalah pada anak itu, entah takdir apa yang akan mengikutinya nanti."
"Takdir apapun itu, aku bersumpah akan selalu menjaganya."
"Baiklah, aku akan percayakan Nabilah sepenuhnya kepadamu, Rey."
...***...
Singkat cerita, setelah menunggu lebih dari 2 hari. Nabilah akhirnya mau mengikutiku pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah, seluruh keluargaku datang menyambutnya dengan hangat.
"Selamat datang, Nabilah." Sapa ibuku dengan ramah.
"Se-selamat pagi." Balas Nabilah yang sangat canggung.
"Mari, biar kami antar kau ke kamarmu." Ibuku memegang tangan Nabilah, lalu menuntunnya ke kamar yang akan dia tempati disini.
"Wah, baru kali ini aku melihat ada gadis secantik itu." Celetuk Paman Chad.
"Rey, jangan-jangan nanti akan ada cinta lokasi, hehehe..." Ledek Paman Billy.
"Ma-mana mungkin."
...
Selama berhari-hari aku perhatikan Nabilah sangat pendiam meski pun Shinta selalu mengajaknya berbicara, entah sampai kapan dia akan merasa seperti ini.
Hingga pada suatu waktu, aku tak sengaja berjalan melewati kamarnya. Dia yang hendak keluar untuk menghirup udara pagi berpapasan denganku.
Rambut Nabilah yang berkilauan ternyata berwarna cokelat gelap jika terkena cahaya matahari.
"Pagi, Rey." Sambutnya.
"Mau pergi jalan-jalan denganku?"
"Apa?"
"Bu-bukan kencan, cuma pergi keluar cari udara segar. Itu saja kok." Kataku terbata-bata.
Nabilah menatapku aneh sembari berlalu melewatiku.
"Siapa juga yang mengira begitu." Gumamnya.
"I-iya." Kataku pelan, sungguh malu bukan main.
"Tapi ayo, temani aku jogging. Meski pun seorang Hollow atau apalah itu, aku tetap harus menjaga kebugaran tubuhku."
"Kau tidak tergganggu jika aku temani?" Tanyaku.
"Aku perlu orang untuk menjagaku, itu pun kalau kau mau. Dah! Susul aku jika berminat." Jawab Nabilah, lalu dia pergi melakukan perenggangan di pekarangan rumahku, dan mulai berlari.
"Kejar dia." Bisik ibuku sembari tertawa kecil dari arah dapur.
...
Aku pun mengejar laju lari Nabilah yang ternyata sudah sangat jauh dari jarakku. Aku lupa jika dia juga sekarang memiliki kecepatan jauh melebihi manusia normal, aku terus berlari sekuat tenaga hingga bisa mengimbanginya.
Hosh... Hosh... Hosh...
"Rey, aku mau tanya beberapa hal lagi." Ucap Nabilah sembari mengatur napasnya saat berlari.
"Tanya saja."
"Apa seumur hidupku, aku akan terus menjadi Hollow? Apakah aku juga jadi abadi?" Tanya Nabilah.
__ADS_1
"Maksimal setahun, kau tidak boleh terlalu lama menjadi Hollow atau nantinya dunia roh akan mengambil paksa dirimu lagi. Biar aku jelaskan, Hollow adalah wadah kosong dimana kelak seluruh jenis makhluk dari dunia lain bisa menjadikan tubuhmu sebagai tempat mereka tinggal. Lalu kau akan berubah menjadi sosok Indigo. Sebenarnya maupun kau, dan aku tidak akan mengalami hidup abadi karena pada dasarnya kita semua sama-sama bisa menua. Hanya saja prosesnya lambat dan masa hidup kita lebih lama dari manusia biasa, dan kita akan terus mengalami peremajaan kulit jika menginjak usia 30 tahun ke atas. Kita tetap bisa mati, namun dengan sebab yang spiritual." Jelasku.
"Itu sama saja umurku hanya sebatas satu tahun. Lagi pula aku tidak ingin dijadikan wadah untuk roh atau apapun jenis mereka. Tapi... Kau ini jenis apa? Sudah tentu kau bukan cenayang biasa."
"Bukan, aku adalah Indigo pertama dari ras manusia. Sejak masih bayi aku sempat menjadi Hollow sepertimu, namun sesosok Iblis disegel di dalam telapak tangan kiriku, hingga aku pun akhirnya menjadi wadah dari Iblis itu."
"Iblis? Bagaimana jika sewaktu-waktu dia keluar, dan mengamuk?" Nabilah menatapku.
"Dia tidak akan mengamuk jika tidak terpicu oleh emosi dari dalam hatiku. Toh jika kau bisa lihat, ada benang merah yang mengkar di tangan kiriku. Ini adalah segel tersebut."
"Ternyata hidupmu tak kalah berat, ya."
"Hahaha... Ini bukan apa-apa."
"Cih, malah tertawa." Nabilah juga sedikit tersenyum melihat tawaku. Itu adalah senyum pertama yang aku lihat setelah beberapa lama.
"Nabilah..."
"Hmm?"
"Boleh aku memohon sesuatu?"
"Memohon apa?"
"Selama setahun kedepan biarkan aku menjagamu, jadi... Jangan pernah jauh dariku."
Wajah Nabilah kembali menoleh ke arah lain, pipinya mulai merona kemerahan.
"Oke."
...***...
December, 24-2014.
...
"HAAAAAAA!!! APA MAKSUD AYAH?!"
"Yah, keputusan kakek juga sudah bulat. Toh kalau dipikir-pikir lagi tidak ada untungnya juga kita bersekolah, kan?"
"KENAPA TIDAK DARI SEKOLAH DASAR SAJA?!!!"
"Waktu usia itu kami masih merasa kau pantas mendapatkan pendidikan normal seperti anak-anak lainnya, hahaha... Agar kau tidak merasa berbeda." Ayah tertawa sembari menggaruk-garuk leher belakangnya.
"Lagi pula, kita akan punya akademi sendiri nantinya. Para keluarga cenayang dari berbagai kota menyetujui hal itu, ya memang masih wacana yang dibuat oleh divisi rahasia, tapi siapa tahu akan jadi kenyataan. Bayangkan jika para cenayang bersekolah dengan sesama cenayang lainnya, tentu mereka tidak akan canggung bersosialisasi karena gaya hidup mereka yang tak jauh beda." Tambah kakek yang duduk di sebelahku, dia menepuk-nepuk bahuku pelan. Aku yang frustrasi hanya bisa memegang kepala.
"Kenapa begitu kecewa? Toh sepertinya kau tidak terlalu suka sekolah, Rey." Tanya Nabilah polos.
"Hanya saja... Kenapa sekarang? Padahal sejak kecil aku sangat tersiksa diejek tukang halusinasi. Coba saja sejak SD aku lebih fokus meningkatkan kekuatanku." Jawabku.
"Padahal setengah tahun lagi kita lulus." Sambung Nabilah.
"ITU DIA! ITU JUGA..."
"Apanya?"
"Ijazah! Apa kau tahu kalau ijazah itu adalah hal yang paling keren? Jarang cenayang punya ijazah karena mereka tak pernah sekolah formal. Aku kira aku berbeda... Hiks..."
"Tak apa, toh orang mati juga tidak punya ijazah. Biar lah anak-anak lain menyusul rankingku yang sempurna itu."
Aku terdiam metanap Nabilah seketika ...
"Cih, dasar rank 1 sombong."
"Rank 20 jangan sok keras ya."
...
>>IndigoPedia(~'-')~
Eps. 8: Fun fact! Para cenayang pada dahulu kala tidak ada yang bersekolah secara formal layaknya manusia normal karena tujuan hidup mereka hanyalah menjaga kestabilan spiritual, namun bukan berarti para cenayang tidak berpendidikan, mayoritas para cenayang punya akademi masing-masing yang menauingi mereka, hanya saja hal itu masih belum merata karena masih harus menunggu persetujuan dari pemerintah. Tetapi tidak jarang juga di era masa kini para cenayang bersekolah di sekolah formal pada umumnya sebab pengaruh perkembangan zaman.
__ADS_1