Isteri Kecilku

Isteri Kecilku
Rahasia


__ADS_3

Pagi itu di kampus Arlin tak terlihat karena dia sedang sibuk dengan kegiatannya yang lain yaitu menggantikan temannya yang bekerja di klub Brayen sebagai penari dan Arlin sedang berlatih dengan mereka untuk nanti menggantikan salah satu dari penari yang berhalangan karena sedang dalam pernikahan, sehingga Arlin selalu absen setiap jam paginya.


"Aneh sekali ya, Ferlin kemana sih sebenarnya dia selalu absen setiap pagi dan juga tak ada info apa pun dari dia, bahkan di jam siang dia juga selalu buru - buru untuk pergi, jadi lebih jarang ngumpul bareng sama kita." Linda mengeluh pada teman - temannya yang lain yang sedang berkumpul di kantin.


"Ya kau benar dia aneh sekali belakangan ini, seolah sedang menghindari kita gak sih." Susan ikut bersuara.


"Hem, teman - teman sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada kalian, tapi kita tunggu Ferlin dulu karena aku ingin cerita saat kita semua lengkap." Andi dengan ragu menyuarakan suaranya dan Jefri menatap Andi dengan diam.


"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan pada kami, kenapa terdengar sangat misterius sekali." ledek Linda dan semuanya tertawa kecuali Andi dan Jefri yang hanya senyum sedikit.


"Oho, siapa ini yang lagi menikmati makan siangnya." Beril mendekati meja Linda dan yang lainnya.


"Mau ngapain kamu, kami tak punya urusan ya sama kamu." Linda berkata dengan kesal pada Beril yang selalu sok berkuasa pada mahasiswa yang lain.


"Diam saja kamu, karena aku tak butuh bicara sama kamu. Andi atau haruskah aku panggil kau dengan julukan yang seharusnya pembokat Andi." Beril berkata dengan nada menghina Andi.


"Apa yang kau katakan hah! Apa kau tak bisa bicara dengan baik pada seorang teman, walau kau lebih tua dari kami tapi kau tak bisa menghormati kami maka kami yang lebih muda ini juga tak akan segan untuk tak menghormati mu." Linda berkata dengan tak terima mendengar Andi dipanggil dengan kata pembokat.


"Oh, rupanya teman - teman mu pada tak tau siapa dirimu yang sebenarnya ya, atau kau tak ingin mereka tau siapa dirimu yang sebenarnya." Beril tertawa "ini sungguh sangat menarik, jika kau tak bisa memberitahu mereka maka aku akan memberitahu mereka untuk mu siap dirimu ini yang sebenarnya." Beril berkata dengan menatap Andi tajam.


"Mereka membuat ulah lagi, rupanya yang waktu itu masih juga belum kapok ya" Ferdi yang melihat Andi dan teman - temannya diganggu oleh Beril merasa kesal.


"Hei, Fe mau kemana?" Sandi yang melihat Ferdi pergi dengan langkah lebar merasa heran.


"Kenapa, mau kemana dia?" Dendi bertanya penasaran


"Entah, aku juga tak tau." Sandi mengangkat kedua tangannya.


"Kita ikuti saja." Dendi pun ikut melangkah kearah Ferdi pergi.


"Ehem, ada yang perlu aku bantu?" Ferdi bertanya dan berdiri tepat dibelakang Beril.


"Wao, dia adalah mahasiswa yang datang dari Beijing itukan."


"Keren banget, aku melihat dia di kantin ini. Biasanya dia ada di kantin elit khusus dosen itu kan."


"Ya ampun, ya ampun, lihatlah teman - temannya juga datang."


"Ya ampun mereka keren banget, siapa ya mereka sampai mendapatkan bantuan dari ketiga pangeran elit itu."


Suara - suara dari banyak mahasiswa yang ada di kantin itu saling berkasak kusuk dan sangat heboh karena kedatangan Ferdi dan kedua temannya. Biasanya kantin akan ricuh saat pangeran kembar datang, dan kali ini mereka jadi semakin ramai saat pangeran elit yang datang, bahkan kabarnya langsung menyebar sampai keluar dan semua mahasiswa jadi tau kalau pangeran elit datang ke kantin mahasiswa.


"Aku tak ada masalah, urusanku dengan mereka sudah selesai. Ingat jangan lupa apa yang aku katakan tadi" Beril berkata dan menatap teman - teman Arlin semuanya dengan tajam "ayo pergi." Beril pun membawah teman - temannya pergi.

__ADS_1


"Ada perjanjian antara kau dan dia?" Ferdi bertanya pada Andi.


"Mereka bilang akan mengadakan pertunjukan di klub tari kampus dan dia meminta agar teman kami Ferlin yang tampil menggantikan Arum." jelas Linda.


"Masalahnya apa, tinggal tampil saja." jawab Ferdi yang sudah duduk bergabung dengan mereka.


"Tentu saja bermasalah kak, karena Arlin dan aku adalah mahasiswa dari jurusan teknik komputer, sedangkan Arum dari seni rupa dan tari. Bagaimana teman kami Fe bisa melakukan pertunjukan kalau dia saja tak tau caranya menari." Linda berkata dengan lesu


"Ya, harusnya saya yang tampil di pertunjukan itu. Tapi mereka meminta orang lain dan jika menang maka mereka akan berhenti mengganggu teman kami Andi dari kuasanya.* Arum berkata dengan rasa khawatir.


"Hem, apa kalian sudah bilang pada teman kalian yang bernama Fe itu? Dan kenapa mereka harus memilih teman kalian itu, kenapa tidak yang lain." Sandi bertanya dengan heran.


"Mungkin dia ingin agar kami kalah dari mereka dan ingin mempermalukan kami." Jefri menjawab dan menatap Sandi


"Hem, tapi mereka memilih orang yang tepat kalau untuk kalah." Dendi berkata dan terlihat berfikir.


"Ferlin, teman kalian yang suka membaca buku dan berkaca mata tebal itu ya. Apakah dia bisa melakukan kegiatan semacam itu?" Ferdi menatap Linda dan yang lainnya bergantian "kalau tidak kalian harus membicarakannya dengan dia dan mengajari dia agar setidaknya dia punya persiapan."


"Benar juga, Fe sangat cepat belajar pasti dia bisa mengikuti aku dengan cepat." Arum terlihat sangat optimis.


"Ok, kalau begitu kami pergi dulu, ayo." Ferdi bangun dan meninggalkan kantin bersama teman - temannya.


Setelah sepeninggal Ferdi Andi pun mengakui apa yang sebenarnya ingin dia ceritakan pada mereka dengan menunggu Arlin. Mendengar penuturan dari Andi Linda dan yang lainnya terdiam dan terlihat kasian pada Andi dan juga keluarganya yang tak dianggap oleh keluarga Beril.


...🍂🍂🍂...


"Aku tak mencari mu, aku mencari mama." Ferdi menahan kepala Arlan saat Arlan mendekat ingin memeluk dirinya.


"Ya ampun, kasar banget." Arlan bertolak pinggang menatap Ferdi naik kelantai dua, setelahnya dia berbalik dan duduk di sofa menikmati makanan ringannya.


"Apa yang kau katakan, tarian apa dan kenapa Arlin harus menari dalam pertunjukan kampus." Lira berkata dan berjalan menuruni tangga.


"Itulah ma, apa mama pernah mengajari dia sebuah tarian? Mama kan dulu bisa menari." Ferdi bertanya dan mengikuti Lira turun.


"Siapa yang bisa menari mama? Yang ada seluruh rumah akan hancur jika mama menari. Terakhir kali saja mama hampir membuat papa kalang kabut." Erlan yang baru datang dari latihan menyela pembicaraan Ferdi dan Lira.


"Jangan kurang ajar, mau ku telan lagi hah." Lira menatap Erlan dan melemparkan sebuah apel pada Erlan.


"Kan aku bicara fakta ma." Erlan berkata dan memakan apel yang dilemparkan Lira sambil menggosok keringatnya dengan handuk.


"Ma, setidaknya mama bisa mengajarinya gerakan awal." Ferdi tetap berusaha.


"Memang siapa sih Kak yang ingin kakak ajari tarian?" Erlan bertanya pada Ferdi.

__ADS_1


"Hem, terlihat sangat penting." Arlan ikut berkata.


"Arlin, teman kampusnya meminta dia untuk ikut serta dalam klub tari sedangkan dia tak bisa menari." Ferdi menjelaskan dengan khawatir.


"Arlin." kedua saudara kembarnya berkata bersamaan lalu mereka tertawa bersama dan hal itu membuat Ferdi menatap mereka dengan kesal, karena mereka bukannya memberikan solusi tapi malah menertawakan.


"Hei kak, dengarkan aku, jika kakak ingin tau tentang Arlin kakak bisa bertanya pada kami berdua dan kami akan menjawab semua pertanyaan kakak dengan baik." Arlan berkata pada Ferdi sambil mengalungkan lengannya dileher Ferdi dan Erlan mengangguk menatap kedua kakaknya itu.


"Maksud kalian?" Ferdi bertanya dengan penasaran.


"Ikuti aku" Arlan lari menuju ke ruangan tempatnya dan Erlan bersantai.


Didalam ruangan itu semuanya fasilitas ada, dan komputer beserta perlengkapannya semuanya tersedia didalam ruangan itu. "Selamat datang didalam sarang ternyaman kami." Arlan dengan bangga menyebutkan ruangan kesayangannya itu.


"Ayo duduk di sini kak." Erlan menyalakan sebuah komputer dan dia terlihat sedang mengutak-atik seperti sedang mencari sesuatu dari salah satu file yang ada didalam komputernya. "Sudah siap?" Erlan menatap Ferdi.


"Apa yang ingin kau lakukan." Ferdi bertanya penasaran.


"Lihat dan saksikan aksi dari istrimu yang liar." Arlan berkata dan tersenyum


"Selamat menyaksikan tuan suami." Erlan menekan tombol main dan seketika layar komputer itu memutar aksi Arlin yang sedang menari hip hop dengan sangat lincah.


Arlan dan Erlan tersenyum saat dia melihat kakaknya terkejud dengan tarian Arlin dalam video itu. Seolah mata Ferdi tak bisa beralih dari layar komputer itu, karena terlihat sangat jelas kalau Ferdi sangat terpukau dan kagum dengan Arlin yang tak hanya pandai bertarung, bermain musik bahkan dia juga pandai menari.


"Sudah tau, apa kakak telah jatuh cinta lagi padanya? Yakin tak ingin menemuinya dan tetap menunggu?" bisik Arlan tepat ditelinga Ferdi


"Diam kau." Ferdi terlihat malu dan kedua adik kembarnya itu pun meledeknya habis - habisan sampai mereka bertiga berakhir dalam sebuah latihan beladiri.


...🍂🍂🍂...


Keesokan harinya Linda menceritakan semuanya pada Arlin saat dia bertemu dengan Arlin di kampus, karena Arlin merasa bingung setelah beberapa hari dia ijin untuk kelas pagi tiba - tiba saat dia datang namanya sudah terpasang sebagi salah satu peserta dari klub tari untuk kampusnya.


"Jadi maksudmu mereka meminta agar aku yang tampil begitu?" Arlin bertanya dengan heran.


"Iya, semuanya gara - gara Beril. Dia yang mengusulkan dan memilih kamu dari pada Arum, padahal sejak awal Arum yang seharusnya tampil tapi dia meminta agar teman Arum yaitu kamu yang tampil. Sepertinya Beril ingin agar kita kalah darinya, karena dari grupnya Angel yang akan tampil." Linda menjelaskan dengan kesal.


"Emang tarian apa yang harus ditampilkan? Kalau tarian tradisional aku tak banyak tau, tapi kalau bebas mungkin aku masih bisa." Arlin berkata dengan was - was.


"Tapi Fe, apa kamu tak penasaran kenapa kamu yang dipilih dan harus menang?" Linda bertanya dengan ragu


"Memangnya kenapa? Apakah ada alasan kenapa harus aku yang menggantikan Arum untuk tampil?" Arlin pun mulai penasaran.


"Itu semua karena Andi, dia sebenarnya adalah..." Linda menceritakan semuanya pada Arlin dan apa yang kemarin diceritakan Andi tak ada yang ditutupi oleh Linda.

__ADS_1


Arlin terlihat diam membisu, karena dia tak pernah menyangka kalau temannya memiliki rahasia yang begitu sangat menyakitkan dan juga menderita dalam waktu yang lumayan cukup sangat lama. Linda menepuk bahu Arlin yang terlihat bengong setelah mendengar cerita rahasia mengenai keluarga Andi yang selama ini terlihat sangat baik pada semua orang dan juga ramah.


__ADS_2