
Malam itu sesuai dengan perintah Arlin sebelumnya pada Andi kalau dia akan ada di klub Bray malam ini. Dan Andi beserta teman - teman Arlin yang lainnya pun datang setelah Andi mengatakan kalau Arlin meminta mereka untuk datang dan memberikan penilaian atas dirinya.
"An, apa benar Fe mengatakan kalau dia akan ada di sini malam ini, tapi dana dia aluntak melihatnya?" Linda bertanya dengan khawatir.
"Iya tadi siang dia sendiri yang bilang padaku dan meminta ku untuk datang bersama dengan kalian, untuk memberinya penilaian. Mungkin dia belum datang" jelas Andi
Teman - teman Arlin pun saling celingukan untuk mencari keberadaan Arlin dari para peramu saji di klub itu, mereka mengawasi dengan seksama namun yang mereka cari tak ada sampai lampu klub itu dari terang berubah jadi redup karena sudah waktunya pertunjukan dari DJ Kerin.
Semua pengunjung yang sudah menanti - nanti dari tadi pun langsung berseru dengan sangat seru karena mereka tau kalau saat ini adalah saatnya berdansa dengan diiringi oleh musik DJ Kerin yang selalu memberikan mereka kejutan disetiap tampilannya.
"Ya ampun, teriakan mereka sungguh membuat telinga mau pecah." Arum menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Ya namanya juga di klub Bu, kalau di kuburan baru sepi. Tapi siapa Kerin? Kenapa mereka sungguh antusias sekali." Linda bertanya dengan penasaran serta meledek Arum yang tak pernah pergi ke klub malam.
"Duh mulutmu kalau bicara gak dijaga, lagian ngapain aku nongkrong di kuburan. Yang ada keterampilan. nanti aku." dengan sewot Arum menjawab Linda. Dan yang lain tersenyum.
"Selamat malam semuanya, malam ini adalah malam khusus untuk ku menunjukkan siapa diriku pada beberapa orang yang dengan sengaja aku undang untuk datang, dan semoga saja mereka sudah ada diantara kalian semuanya." suara dari Arlin sebelum dia memulai permainannya.
"Eh itu seperti suara Fe, mungkinkah itu beneran Fe?" Linda berkata dan yang lainnya juga mengangguk menatap dengan penasaran gadis pemain DJ diatas podium yang didampingi oleh dua pendamping.
"Hem, dia selalu tampil berbeda dari hari ke hari." ucap Sandi yang malam itu sudah menempati tempat vip di klub itu bersama dengan Dendi dan Ferdi.
"Sepertinya dia akan berusaha untuk jujur pada dirinya dan seseorang yang dianggapnya penting serta ingin dia lindungi." Ferdi berkata dan tersenyum tipis.
Alunan musik pun telah dimulai dan anehnya musik yang dimainkan oleh Arlin malam ini adalah perpaduan antara musik yang diajarkan oleh Arum untuk latihan tari sama Rep hip hop yang menjadi permainan baru dan dinikmati semua orang.
"Eh, ini musik yang selalu aku putar saat mengajari Fe tarian di sanggar tari ku." Arum berkata dan menatap semua temannya.
"Iya kau benar, ini adalah musik itu. Jadi dia benar - benar teman kita Ferlin." Linda berkata dan menatap sang DJ yang sedang beraksi.
"Dia teman kita yang selalu memegang buku dan bersembunyi didalam perpustakaan, tidak mungkin...dia adalah Kerin yang terkenal sangat hebat dan selalu disebut - sebut sebagai wanita menarik karena segala kelebihannya dari permainan DJ dan juga bartender, dia adalah bintang bartender wanita pertama yang paling hebat." Jefri berkata dengan menggebu - gebu sehingga membuat temannya yang lain tak tau jadi mendengarkan dengan tak percaya.
"Tapi jika dia bukan Ferlin lalu dimana Ferlin? Aku juga sudah menghubungi dia dari tadi tapi teleponnya tak diangkat" Andi terlihat sedang celingukan mencari Ferlin.
__ADS_1
Setelah selesai sibuk dengan Arlin yang tak terlihat semua teman - temannya ikut bergoyang karena terbawah oleh suasana dan alunan musik yang dimainkan oleh Arlin. Mereka semua sangat menikmati musik yang dimainkan sehingga tanpa sadar mereka pun pada goyang dengan seru.
"Yooo...lag, lagi, lagi." Teriak dari para pengunjung dengan sangat ramai saat Arlin menghentikan permainan musiknya setelah bermain 2 jam lebih.
"Ya ampun ramai sekali dan berisik." Linda mengeluh karena dia harus bicara dengan mengeluarkan seluruh tenaganya agar temannya bisa mendengar.
"Halo, mohon perhatiannya semuanya." suara Kerin dari atas podium menggema ke seluruh bagian klub dan seketika suasana langsung hening, semua orang memperhatikan sumber suara.
Dengan cemas semuanya menunggu apa yang akan diucapkan oleh idola mereka, hati semua orang sudah mulai tak sabar karena mereka penasaran apa yang akan disampaikan. Sebab selama ini mereka tak pernah mendengar ucapan dari Kerin, dia selalu pergi ke balik meja bar untuk bekerja dengan memakai masker sehingga tak ada yang pernah tau seperti apa rupa Kerin yang sebenarnya.
Semua orang mengidolakannya dan menjulukinya hanya semata - mata karena mereka menyukai dan mengagumi permainan musik serta kelincahan tangannya dalam balik meja bar. Semua orang tak peduli siapa Kerin dan bagaimana Kerin, karena bagi mereka adalah ketrampilan dan kemahiran bukan rupa atau sejenisnya.
"Malam ini aku mengundang berapa orang teman untuk memberikan penilaian pada ku, bagi mereka yang tau soal undangan itu aku katakan iya, aku adalah teman kalian dan yang selama ini kalian kenal dengan nama Fe." suara Arlin menggema dan teman - temannya merasa kaget ternyata orang yang mereka cari adalah Kerin.
Teman Arlin terdiam dan mereka hanya bengong seolah tak percaya kalau temannya yang selalu pendiam dan selalu menghindari banyak maslah di kampus itu adalah bintang idola klub malam yang memiliki banyak penggemar dan juga memiliki ketrampilan tangan yang sangat luar biasa diatas alat musik DJ dan juga dibalik meja bar.
"Maaf selama ini aku tak berani bilang karena aku tak ingin kalian merasa bahwa aku adalah orang yang tak pantas untuk kalian. Maaf telah menyembunyikan semua ini dari kalian, dan jika kalian masih ingin berteman dengan ku setelah tau siapa aku serta pekerjaanku maka aku ucapkan banyak terima kasih, namun jika kalian menganggap aku tak pantas aku juga tak akan marah pada kalian. Karena bagi ku kalian adalah teman - teman yang baik dan yang ingin ku jaga." Arlin berkata dengan menutup wajahnya sama topi semakin dalam karena dia takut untuk melihat tatapan dari semua temannya yang malam itu hadir atas undangannya.
"Gadis gila, kenapa dia bicara seperti itu sih bikin kesel aja." Linda merasa kesal dengan kata - kata Arlin dan dia langsung naik keatas kursi yang membuat temannya yang lain kaget dan berusaha untuk memeganginya.
"Ya, kami mencintaimu." seru yang lainnya dan Arlin pun tersenyum dibalik maskernya.
"Dengarkan aku, aku adalah temannya Kerin apa kalian tau aku temannya Kerin." Linda turun dari kursi dan mendekati semua orang dengan mengatakan kalau dia adalah temannya Kerin dengan bangga.
Melihat itu Arlin yang ada diatas merasa bahagia karena dia mendapatkan teman - temannya. Arlin merasa sangat lega dan dia tersenyum dibalik masker serta topi yang menutupi wajahnya. Arlin turun dari podium lewat depan karena dia ingin bertemu dengan teman - temannya.
"Hem, dia mulai berani mengungkapkan dirinya. Semoga saja dia akan memiliki teman - temannya kali ini." Brayen bergumam dan ikut tersenyum.
"Hem, memangnya kenapa? Apakah dia pernah ada masalah dengan temannya?" Sandi yang mendengar merasa penasaran.
"Dia adalah gadis yang baik dan juga sangat setia kawan, hanya saja kadang banyak orang yang salah dan memanfaatkan kebaikannya. Harusnya sang pengendali bisa mengendalikannya, tapi sayangnya dia terlalu cuek dan tak peduli." Brayen melirik Ferdi.
Ferdi hanya tersenyum mendengar penuturan Brayen, dan dia menatap Arlin yang bersiap untuk turun dan terlihat teman - temannya menyambutnya dengan pelukan, terlihat mereka sangat bahagia.
__ADS_1
"Sebelum aku melakukannya, aku ingin sedikit bermain dengannya. Pasti akan menarik, karena aku penasaran seperti apa tanggapannya soal diriku." Ferdi berkata dengan senyuman percaya diri.
"Eh." Brayen, Dendi dan Sandi menatap Ferdi karena mereka bertiga merasa heran.
"Bermain?" Brayen mengerutkan keningnya menatap Ferdi.
"Hanya untuk hiburan om, karena ku dengan dia juga tak ingin menemui ku walau sudah tau aku di sini hampir 2 bulan." Ferdi langsung menjawab dan menggerakkan bahunya keatas.
"Lah maksudnya apa ini." Sandi menatap Brayen dan Ferdi bergantian.
"Iya betul - betul apa maksudnya. Kau tak sedang ingin mengejar gadis itu kan? Gadis tompel itu, kata orang - orang seperti itu." Dendi merasa tak percaya kalau Ferdi akan mengejar dan tertarik pada Arlin yang terkenal jelek di kampus.
Ferdi tertawa terbahak dan dia langsung berpose sombong dan kembali duduk dengan tenang serta elegan sambil mengangkat gelas minumannya dan meminumnya. Sementara kedua temannya menatapnya dengan heran sampai - sampai keduanya mengerutkan kening mereka.
"Benar - benar gila" Brayen bergeleng kepala dan merasa tak sampai dengan pemikiran Ferdi yang ternyata selama ini dia tak mau menunjukkan dirinya dihadapan Arlin adalah untuk mengerjainya. "Baiklah, tapi ingat jangan terlalu lama, karena kalau kelamaan kau akan kehilangan dia. Sebab saat wanita sudah mulai bosan menunggu mereka akan pergi terlebih dahulu." Brayen berkata dan pergi meninggalkan Ferdi serta teman - temannya.
"Tunggu Fe kau serius akan mengejar gadis itu? Jadi kau tak main - main untuk mendapatkannya? Kau tak sedang taruhan kan, atau sedang ingin mencari suasana baru?" Dendi bertanya pada Ferdi soal Arlin yang sengaja didekatinya tadi siang saat di lapangan basket dan kata - katanya yang barusan diucapkan oleh Ferdi.
"Benar, aku juga pemasaran. Apakah seleramu memang seperti dia itu? Itu sebabnya selama di Beijing kamu tak pernah dekat dengan satu wanita pun, bahkan kamu tak peduli saat ada yang mendekati mu. Semua itu bukan karena adikmu, tapi karena kau tak suka wanita cantik dan seksi." Sandi pun jadi penasaran dengan selera dan tipe ideal Ferdi soal wanita.
"Apa kalian lihat aku pernah main - main dengan apa yang aku katakan selama ini, dan apa kalian pernah melihatku tak serius untuk urusan yang sudah aku putuskan." jawab Ferdi dengan senyuman yang membuat sandi dan Dendi semakin bingung.
"Ya memang tak pernah main - main sih, cuma kami tak menyangka saja kalau ternyata kamu memiliki selera yang unik." Sandi berkata dan Dendi pun mengangguk setuju.
"Kalian akan tau nanti, aku bukannya tak suka wanita cantik dan seksi, aku hanya hanya suka wanita yang memiliki bakat dan kemahiran, tapi yang lebih penting sekarang yang perlu kita lakukan adalah bagaimana dengan investor yang kalian temui kemaren, apakah ada kendala atau mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari kita?" Ferdi mengalihkan pembicaraan dan hal itu membuat kedua temannya tak bisa mengabaikannya karena bahasannya sudah mulai urusan pekerjaan untuk masa depan mereka.
Disisi lain Arlin yang menunjukkan kalau dia adalah Kerin pada teman - temannya merasa bahagia karena mereka semua masih menerimanya walau dia berkecimpung di dunia malam setelah pulang dari kampus, dan Arlin pun juga mengatakan kalau dia sering telat datang di jam pagi karena dia terlambat untuk bangun bukan karena dia sengaja.
Namun dari semua itu Arlin masih memiliki keraguan untuk cerita kalau dia adalah Fe sang gadis motor besar, karena nama Fe gadis motor besar terkenal sangat negatif sebab dia dikabarkan selalu urakan dan berandalan sebab dia sering kali terlibat dalam segala perkelahian serta permasalahan dengan para penjahat yang buron.
"Hei, kenapa masih lesu begitu. Kami tak apa kok dan kami suka dengan pekerjaan mu. Pekerjaan apa saja yang penting pada jalur yang benar kami tak masalah, justru kami bangga karena kamu teman kami adalah bintang DJ dan gadis bartender yang sangat terkenal. Itu sungguh keren dan sangat luar biasa, aku tak pernah menyangka kala kamu adalah Kerin." Arum berkata dengan sangat seru dan juga senang.
"Benar aku juga sangat terkejut karena kamu yang dijuluki kutu buka dan mata empat ini adalah bintang DJ yang sangat terkenal di dunia malam." Andi pun berkata dengan bangga.
__ADS_1
"Iya Fe, kami tetaplah teman kamu. Jadi kamu tak perlu minder atau takut kami tak mau berteman dengan mu ya. Bagaimana pun kamu adalah teman kami dan kebanggaan kami. Aku bisa menyombongkan diri kalau aku adalah teman dari Kerin." Linda berkata dengan sangat senang dan bangga serta memeluk Arlin.
Malam itu dihabiskan Arlin dengan bercengkerama bersama dengan teman - temannya dan mereka bermain dengan sangat seru melupakan sejenak segala kesibukan dan maslah hidup mereka semua. Mereka pergi ketaman malam untuk menghabiskan malam bersama dengan bermain sepuas mereka karena besok adalah hari Minggu dan tak ada kegiatan apa pun.