
Setelah melakukan putaran kedua dalam permainan basket antara tim Damian dan tim Arlan tetap saja Damian kalah poin dari Arlan. Damian seolah tak mampu menembus pertahanan anggota Arlan walau dia sudah menargetkan kedua teman dari tim Arlan yang terlihat tak bisa bermain, namun tetap saja dengan cepat Arlan dan yang lainnya mampu merebut bola dan mencuri poin.
"Ah. sial.!" Damian merasa kesal karena dia telah kalah dari Arlan.
"Dalam permainan yang diutamakan adalah kerja sama dalam tim dan konsentrasi jangan sampai pecah." Arlan berkata pada Damian lalu berlalu pergi.
"Sialan." Damian dengan kesal membanting botol minumnya.
"Oh iya, satu lagi. Aku tak tertarik dengan wanita yang kau katakan karena dia tak masuk dalam kriteria tipe ku, jadi kau ambil saja aku gak peduli dan jangan ganggu aku dan adik - adik ku dengan hal - hal gak masuk akal seperti ini lagi." teriak Arlan diambang pintu lapangan.
Teriak semua penonton terdengar semakin seru sesaat setelah Arlan berkata kalau dia tak tertarik dengan wanita yang menjadi penyebab pertandingan sore itu dan juga bukan wanita dalam tipenya.
...🍂🍂🍂...
"Halo sayang,,, kau membuat kejutan yang sangat luar biasa." ucap Lira bahagia melihat putra pertamanya, dan Ferdi memeluk Lira dengan mesra dan mengecup bibirnya saat Liyon membawah Ferdi pulang ke rumah untuk bertemu dengan mamanya.
"Aku sangat merindukanmu, kau meninggalkanku begitu lama." sambung Lira saat dia memeluk erat Ferdi.
"Hem, aku tau maafkan aku mom. Tapi kenapa mama begitu kecil, apa papa menindas mama terus?" tanya Ferdi menatap wajah Lira dan tersenyum lalu memeluk Lira lagi.
Mereka masuk kedalam rumah, Ferdi dan Liyon berjalan duduk di sofa sedangkan Lira berjalan ke dapur untuk membuat minuman dan memotong buah, wajah senang dan senyuman terus terukir di wajah Lira karena putra kesayangannya telah kembali bersamanya lagi.
"Apa ada rencana kamu akan mengalihkan dan menggabungkan perusahaan mu yang disana dengan di sini?" tanya Liyon setelah mereka duduk di sofa dan melihat Lira memotong buah dengan senyum yang selalu mengembang.
"Ya, sepertinya memang begitu. Karena akan merepotkan jika harus boleh balik." jawab Ferdi dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Tak bisakah kalian untuk tak membicarakan pekerjaan dulu? Baru juga bertemu sudah urusan kerja yang dibahas." kesal Lira saat dia meletakkan potongan buah didepan Ferdi dan Liyon.
Ferdi dan Liyon saling tatap lalu tersenyum dan bangun, "Ok baby, sorry." ucap Liyon dan Ferdi bersamaan dan memeluk Lira serta memberikan kecupan di pipi Lira bersamaan, mereka bertiga pun tersenyum bersama, dan Ferdi ingat kegiatan ini selalu mereka lakukan dulu saat ulang tahun Lira.
"Aku sangat menyayangi kalian." ucap Lira membalas pelukan kedua pria kesayangannya itu.
"Kami lebih menyayangimu sayang." ucap Ferdi dan Liyon bersamaan
"Kalian paling bisa membujuk, tapi aku sangat senang kamu kembali jagoan ku." Lira memeluk Ferdi penuh rasa sayang
"Maafkan aku ma, karena begitu lama meninggalkan mama. Sekarang aku tak akan pergi lagi." Ferdi mencium pipi Lira dan memeluknya dengan erat.
"Wow apa kalian masih bernostalgia, kalau begitu kami akan datang lagi nanti." ucap Sandi yang baru datang bersama Dendi.
__ADS_1
"Kalian." Lira mengenal kedua teman Ferdi itu karena dari merekalah Lira dapan informasi soal Ferdi selama ini.
"Hei kenapa kalian baru datang, bukannya tadi aku menyuruh kalian untuk pergi lebih dulu." Ferdi menatap kedua temannya itu.
"Ya, tadinya juga begitu tapi ditengah jalan kami melihat gadis yang menyelamatkan kami tadi jadi tanpa sadar kami mengikuti dia dan ternyata dia berada di kampus yang akan kita tuju." jelas Sandi dengan tersenyum.
"Iya bakalan seru nanti kalau kita berteman dengan dia disana." Dendi ikut menimpali.
"Gadis penyelamat, siapa yang kalian maksudkan, dan apa yang terjadi?" Lira bertanya karena merasa aneh juga bingung.
"Hem, bagaimana kalian bisa diselamatkan oleh seorang gadis, bukankah itu terbalik namanya. Harusnya kalian yang menyelamatkan para gadis, benar - benar kalian tak berguna." Liyon berkata dan langsung menunjuk tepat di jantung Sandi dan Dendi.
"Tidak tau om, tapi aku berhasil mengambil fotonya." Sandi membuka hanponnya dan menunjukkan pada Liyon.
"Oh, dia." Liyon terkejut melihat foto siapa itu
"Siapa memangnya?" Lira ikut melihat.
Sandi dan Dendi bercerita dangan sangat antusias mengenai kejadian yang mereka alami tadi pagi dan Ferdi cuek karena dia merasa tak peduli dengan ceritanya atau pun gadisnya, karena bagi Ferdi secantik apa pun dia tak akan mungkin bisa memilikinya sebab dia telah mengikat janji dengan seorang gadis lain yang belum pernah dia lihat selama 15 tahun ini.
"Ya ampun ini kan Arlin, menantu kita." Lira berkata dengan terkejut.
"Hei, hei bro kenapa loh. Minum gak hati - hati kayak anak kecil saja." Sandi yang duduk disebelah Ferdi langsung menepuk punggung Ferdi.
"Mungkin dia sedang grogi dan kaget karena istrinya tumbuh dengan sangat cantik dan liar, bahkan menyelamatkan dirinya dari para preman jalanan." Liyon berkata dengan santai dan bersandar di sandaran sofa dengan senyuman menatap Ferdi.
"Hah?" Dendi dan Sandi kaget dan menatap Liyon
"Kenapa, kalian belum dengar darinya selama ini, kalau dia sudah memiliki seorang istri di sini yang ditinggalkannya selama 15 tahun, sehingga membuat gadis itu marah dan membuat dirinya kuat untuk menghajarnya saat dia bertemu nanti." Liyon menyambung penjelasannya.
"Apa itu beneran? Om, Tante." Sandi menatap lira dan Liyon bergantian, dan Lira mengangguk.
"Fe, kenapa kau diam saja. Apa itu sungguhan hah?" Dendi bertanya dan menatap Ferdi.
"Kalian bisa diam gak sih, berisik sekali" Ferdi bangun dan berjalan menuju dapur.
Dan Ferdi terus teringat akan aksi Arlin saat dia melawan para preman itu seorang diri. Dan tanpa sadar bibir Ferdi melengkung dan membuat sudut indah dikedua sisi bibirnya karena dia tersenyum. "Dia sungguh sangat menggemaskan dan juga lucu, Arlin." gumam Ferdi
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
Disisi lain Arlin pun tak jau beda dengan Ferdi karena dia terus kepikiran dengan kata - kata Erlan yang mengatakan kalau Ferdi akan datang, hal itu membuat hati Arlin jadi tak menentu dan tak tenang karena tak tau harus bagaimana dan bersikap seperti apa saat bertemu nanti.
"Aduh kenapa sih aku ini. Memangnya kenapa kalau dia pulang, dia kan bukan siapa - siapa ku, ya,,, walau dia adalah tunangan ku tapi selama ini dia tak pernah ada kabar, bahkan tak peduli dengan ku." gumam Arlin dengan kesal.
"Sudah Arlin ayo pulang, sebaiknya kau fokus karena besok ada ujian." Arlin menepuk pipinya sendiri dan melajukan lagi mobilnya.
"Sayang kau sudah pulang." Meli menyebut kedatangan Arlin.
"Iya mama ku yang cerewet, siang pa." sapa Arlin dan mencubit pipi Meli serta mencium pipi Farid
"Sayang nanti malam kita akan ke rumah mama Lira kamu siap - siap ya." Meli memberitahu Arlin.
"Oh, maaf ma nanti malam Arlin sudah ada janji untuk pertunjukan jadi tak bisa ikut sama mama, lain kali saja Arlin akan pergi sendiri untuk mengunjungi mama Lira. Sekarang Arlin harus belajar untuk ujian besok ok." Arlin langsung lari masuk kedalam kamarnya.
"Lah, anak itu kenapa? Biasanya dia sangat semangat kalau mau ke rumah Mbk Lira, kenapa hari ini malah tak tertarik begitu." Meli menatap putrinya bingung, lalu menatap Farid dan Farid hanya mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin dia sedang sibuk." Farid berkata dengan santai
"Mas Farid terlalu memanjakan dia." Meli berkata dan duduk disamping Farid.
"Karena dia adalah putriku satu - satunya" Farid berkata dan mencium pipi Meli
Didalam kamar Arlin menggerutu dan memakai Ferdi habis - habisan, dan Arlin berjanji kalau dia tak akan pernah menemui Ferdi duluan apa pun alasannya. Dengan kesal Arlin memotong foto kecil Ferdi menjadi beberapa bagian kecil sehingga tak nampak lagi bentuk dari foto itu, hanya disisakan potongan foto kepala Ferdi saja.
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya Ferdi dan kedua temannya mendatangi kampus untuk melapor ke pihak kampus soal pertukaran mahasiswa dan juga peroses perpindahan Ferdi untuk melanjutkan S2 di kampus itu.
Kedatangan Ferdi dan kedua temannya membuat gempar situasi kampus yang lagi - lagi diguncang oleh kedatangan pangeran yang membuat semua siswa yang gadis heboh.
Didalam ruang rapat itu terlihat para dosen wanita merasa terpukau dengan pesona dari Ferdi yang memiliki aura sangat kuat sehingga mampu membuat para hati dosen wanita goyah.
Tak lama kemudian ada seorang pria yang masuk kedalam ruangan itu dan dia menatap Ferdi juga kedua temannya dengan tatapan tajam, orang itu seolah tak percaya kalau para siswa terbaik di Beijing benar - benar datang ke kampusnya bahkan mereka selain menjadi perwakilan pertukaran pelajar juga mengajukan perpindahan jurusan mereka untuk dilanjutkan di kampus itu.
"Bagaimana pak apakah semua prosesnya sudah selesai? Dan mulai kapan saya bisa mulai masuk dan mengikuti proses pembelajaran." Sura Ferdi terdengar sangat mengintimidasi pada para dosen yang ada di ruangan itu, padahal Ferdi bertanya dengan biasa.
"Ah, itu iya Ferdi saya proses dengan cepat berjalan. Dan kalian bisa mulai masuk dari hari ini untuk melihat dan mengenal kampus ini." ucap pimpinan dari kampus itu dengan suara bergetar dan terbolak balik
Sandi dan Dendi tersenyum melihat hal itu, karena mereka berdua sangat tau kalau aura dari temannya yang satu itu sungguh sangat dapat mempengaruhi emosi seseorang. Karena waktu mereka pertama kali mengenal Ferdi juga sangat terpengaruh dan akhirnya tertarik dengan Ferdi sehingga selalu berusaha kuat untuk dekat dan mengimbangi Ferdi disetiap hal agar bisa menarik perhatian seorang Ferdi sehingga jadi dekat seperti sekarang ini.
__ADS_1