
"sedang apa? Apa sudah ketemu albumnya?" Lira yang masuk kedalam kamar lagi bertanya pada Liyon yang sedang duduk di tempat tidur sambil membuka album foto.
"Sudah sayang, kemarilah ada yang ingin aku katakan pada mu dan ini sangat penting." Liyon berkata dengan senyuman manis
"Jangan menipu ku, aku tak akan lagi tertipu oleh akal - akalan mu." dengan kesal Lira berkata dan masuk kedalam kamar mandi.
"Hem, semakin matang dia jadi semakin pemarah dan suka curiga dengan semua tindakanku." Liyon menggerutu dan kembali melihat album foto.
"Lihatlah dia masih saja melihat album itu." gumam Lira melirik Liyon dan berjalan menuju meja rias.
"Sayang putra pertama kita akan datang kembali, dan dia bilang kalau dia memutuskan akan melanjutkan sekolahnya di sini." ucap Liyon sambil tetap melihat album foto ditangannya.
Mendengar kata putra pertama membuat Lira langsung naik ketempat tidur dan mendekati Liyon, dengan wajah sumringah Lira menatap Liyon dan bergelayut pada lengan Liyon. Melihat reaksi Lira yang sangat antusias setiap kali membahas soal Ferdi selalu membuat Liyon diam - diam tersenyum, karena dia tau kelemahan dari istrinya itu. Putra pertamanya merupakan kunci utama bagi Lira untuk melakukan segalanya tanpa berfikir panjang lagi.
"Katakan apa benar yang barusan kamu bilang, kalau Ferdi akan kembali dan akan tinggal bersama dengan kita lagi?" dengan tatapan berbinar Lira bertanya pada Liyon.
Liyon tersenyum dan merangkul Lira, "Ya tadi kakak bilang kalau dia akan kembali pada kita dan juga akan melanjutkan sekolahnya di sini." Liyon berkata dan mengambil kesempatan itu untuk memeluk Lira serta mencium kening Lira dengan mesra.
"Dia sudah memaafkan aku ya?" Lira memeluk Liyon dan tersenyum bahagia
"Ya, sebenarnya semua bukan salahmu sayang tapi salah ku karena tak bisa memberi mu anak perempuan dan selalu menanamkan benih anak cowok." Liyon berkata dan tersenyum.
"Apa kau gila hah. Memangnya semua tergantung sama kamu, dasar. Anak perempuan atau laki - laki adalah tergantung pada tuhan yang memberikannya pada kita." Lira berkata dan mencubit Liyon.
"Auh, sakit tau. Kamu yang mulai ya sayang." Liyon membalas cubitan Lira dengan ciuman yang berakhir pada pergulatan dua orang yang saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
Keesokan harinya saat Lira sedang sibuk masak untuk sarapan, putra kembarnya sudah mulai bergelayut manja dan terus saja bertanya soal Arlin yang tak bisa ditemukan di kampus mereka. Liyon yang melihat ketiga orang kesayangannya itu membuatnya tersenyum namun juga kesal karena istrinya telah dikuasai oleh kedua putranya.
Liyon turun dari tangga dengan tatapan tajam dan aura gelap yang terlihat ingin membunuh orang, hal itu seketika membuat kedua jagoan Liyon itu menyadarinya dan mereka langsung melepaskan pelukan mereka pada mamanya dan menyunggingkan senyuman pada Liyon yang datang mendekat.
"Apa kalian pikir kalian itu anak berusia 5 tahun hah?! Kalian sudah 15 tahun, masih saja bertingkah manja dan bergelayut seperti bayi." ucap Liyon dengan kesal.
"Hei, apa kamu gak waras cemburu sama anak - anak mu sendiri. Mau ku suruh tidur diluar nanti malam." kesal Lira pada Liyon yang selalu saja marah pada kedua putranya setiap kali mereka mendekat dan bermanja pada Lira.
"Kau selalu memanjakan mereka sayang, mereka kan sudah dewasa." kesal Liyon.
"Oh ya pa, aku dengar dari mama barusan kalau kak Ferdi akan datang kemari dan akan tinggal dengan kita. Kapan kak Ferdi datangnya pa? Aku ingin menjemputnya di bandara." Erlan bertanya dengan sangat antusias untuk mengalihkan topik karena dia gak mau kalau nanti kedua orang tuanya akan bertengkar demi dirinya dan kakak kembarnya.
"Hem, ya tapi masih belum pasti kapan dia akan datang." jawab Liyon.
"Hem, oh iya apa papa tau? Bukankah waktu itu kalian bilang kalau Arlin ambil jurusan IT di kampus yang saat ini kami tuju, tapi selama ini kami tak pernah bertemu dengan dia, bahkan saat kami bertiga berusaha untuk mencari dia juga tak ketemu, apa mama gak salah informasi pa, atau papa tau sesuatu." Arlan berkata dan menatap mama sama papanya bergantian.
"Papa rasa tak ada yang salah, memang di kampus yang saat ini kalian tuju dan dia ada di angkatan kedua saat ini ya sayang." jawab Liyon dengan bingung kenapa anak - anaknya tak dapat menemukan Arlin disana.
"Apa tak salah? Arlin benar - benar tak ada disana pa, kami sudah mencarinya di seluruh kampus, bahkan kami juga sudah tanya disetiap jurusan yang ada." Erlan menimpali
"Hem, memang tak ada." Arlan bersuara lagi.
"Kalian ini, haruskah kalian mencarinya bukan dengan nama panggilan. Cari dia dengan namanya sendiri." Lira berkata dengan kesal.
"Eh." Erlan, Arlan dan Liyon menatap Lira
"Apa?" Lira menatap ketiga pria kesayangannya itu dengan bingung.
Lira bernafas dalam "Ferlinda Sukendar, itu namanya. Apa kalian lupa."
"Hah? Kenapa harus Arlin, bukannya Erlin." Erlan berkata dengan bingung dan Arlan mengangguk setuju.
"Tapi aku penasaran kenapa mana kami hampir mirip dan bisa dibilang sama." Arlan berkata dan menatap Lira
__ADS_1
"Karena Meli yang telah memberi nama untuk kalian." jawab Lira dan tersenyum.
"Ya, itu karena kalian disusui olehnya jadi kalian anak - anak dia juga dan saudara dari putrinya." Liyon menjawab saat melihat kedua putranya mau menanyakan sesuatu.
"Lalu air susu mama?" Erlan dan Arlan bertanya bersamaan.
"Yang jelas itu untuk papa." jawab Liyon dengan santai.
"Bicara yang benar." Lira memukul Liyon dan yang dipukul hanya tersenyum.
"Karena waktu itu mama masih dalam kondisi buruk karena kakak kalian dalam kondisi koma, jadi Meli membantu mama merawat kalian berdua." Lira menjelaskan dan mengusap pipi kedua putranya. "Maafkan Mama sayang."
"Tak apa ma, apakah kak Ferdi begitu berarti untuk mama." Erlan bertanya dan menggenggam tangan Lira
"Kalian juga sama berartinya bagi mama, karena kalian adalah buah hati mama yang berharga." Lira menarik dan memeluk kedua putra kembarnya.
"Dan untuk nama Arlin, dia tak ingin nama itu dikenal semua orang karena dia hanya ingin Arlin menjadi nama keluarga saja. Bukankah kalian juga tau kalau dia suka dipanggil dengan nama Lin Lin saat sekolah dulu." Lira berkata dan kedua putranya itu mengangguk.
...🌼🌼🌼...
Sebuah mobil melintas di jalanan yang sepi, jalan pintas itu adalah jalan alternatif yang paling cepat bisa menuju kota selanjutnya. Dan ada ketiga pemuda dengan tampilan mewah dan juga terlihat berada sedang melintasi jalan itu dan membuat sekelompok preman kecil yang melihat merasa tertarik.
Dengan kecepatan sedang mobil itu melaju dengan tenang tanpa berfikir kalau mereka akan dihadang dan menghadapi masalah dalam perjalanannya. Mereka bertiga bercerita dan bercanda tanpa adanya kekhawatiran saat ada sebuah mobil melalui mereka dengan kecepatan tinggi dan dengan sengaja menyerempet mereka.
"Ya ampun ada apa dengan mobil itu, apa pengemudinya sedang tak sadar dan dalam kondisi mabuk. Itu sungguh sangat membahayakan." ucap Sandi menatap mobil yang melaju dengan cepat didepan mobilnya.
"Kenapa kau peduli, biarkan saja." Ferdi berkata dan merasa tak peduli.
Saat mereka sampai di persimpangan mereka melihat mobil yang tadi melewati mereka berhenti dan terlihat sedang dalam masalah, melihat itu Sandi dan yang lainnya turun untuk melihat dan membantu mereka, tapi justru itu adalah trik yang dilakukan oleh sekelompok preman itu untuk menyita barang - barang mewah mereka bertiga.
"Hei, hei ada apa ini? Kami hanya ingin membuat kalian." Sandi berkata dengan kaget karena tiba - tiba dicekal oleh dua orang pemuda begitu juga dengan kedua temannya ditahan oleh teman - teman dari para preman itu.
"Hooo, aku tau sekaran situasinya." Dendi berkata dan tersenyum.
Sandi dan yang lain tak bisa berbuat apa - apa karena preman itu membawah senjata tajam dan juga senjata api yang diarahkan pada mereka bertiga, sehingga dengan terpaksa mereka melepaskan semua barang mereka dan memberikannya pada preman itu dengan tersenyum tanpa ada rasa takut pada para preman itu.
"Ayo cepat." ucap preman itu dengan mendorong Dendi
"Ok ok." Dendi langsung menyerahkan kalung dan juga jam tangannya pada preman itu dengan senyuman yang misterius.
Saat preman - preman itu sedang senang dengan barang - barang yang mereka dapatkan, Ferdi dan teman - temannya bersiap untuk menyerang para preman itu namun aksi mereka kalah cepat dengan seseorang yang lebih dulu bersuara.
"Hei, kalian masih saja melakukan hal ini hah?!" seorang gadis yang duduk diatas mobil Sandi dengan tenang sambil makan lolipop.
"F - Fe." pimpinan preman itu menatap dan merasa takut.
"Ayo pergi jangan buat ulah dengan dia." para preman itu pun pergi mau menuju mobil mereka.
"Ha, mereka mau pergi begitu saja. Hei.!" teriak Arlin dan langsung melempar sepatunya dan membuat pimpinan preman itu jatuh.
Arlin menatap dan tersenyum serta memainkan alisnya, "Mau pergi begitu saja. Tidakkah seharusnya kalian mengembalikan barang - barang yang kalian ambil barusan dari mereka bertiga, hah."
"Ah, iya iya kami kembalikan. Ayo keluarkan semuanya." ucap pimpinan preman itu dan semua preman itu pun mengeluarkan barang yang mereka sita dan lari pergi dengan melajukan mobil mereka.
"Gila siapa gadis cantik itu, dia terlihat sungguh sangat kuat auranya. Manis namun juga mematikan, sesuai dengan tipemu Fe. Dia juga memiliki nama panggilan sama dengan mu Fe, sepertinya kalian berjodoh." bisik Sandi
"Hah, benar." Dendi juga ikut membenarkan.
"Namun jika kau tak mau aku mau dengan dia." Sandi
__ADS_1
"Aku juga mau, dia pasti tak akan membosankan." Dendi
"Dia masih anak - anak, tak bisakah kalian melihat dia masih kecil, dan lagian belum tentu juga dia di pihak kita, siapa tau kalau dia itu hanya bersandiwara saja. Mana ada preman seperti mereka takut pada gadis kecil." ucap Ferdi meremehkan.
"Ya ampun sial kemana perginya sepatuku? Kenapa punggung orang itu bisa membuat sepatuku terlempar hilang sih." Arlin yang terlihat sedang sibuk mencari sepatunya setelah memungut barang - barang Ferdi dan juga teman - teman Ferdi yang tergeletak di tanah.
"Hei Fe, kau mencari ini?" seseorang berkata dan menunjukkan sepatunya.
"Oh benar, kembalikan itu milik ku." ucap Arlin dengan santai dan berjalan mendekati Ferdi dan teman - temannya untuk mengembalikan barang mereka.
Orang yang membawah sepatu Arlin itu tertawa terbahak dan beberapa dari anak buahnya termasuk preman yang tadi muncul dan jumlah mereka jauh lebih banyak dari tadi. Melihat itu Ferdi dan kedua tanya menatap bingung dan penasaran.
"Hah, kau masih saja melakukan permainan ini. Apa kau tak bosan." Arlin berkata dan tersenyum.
"Kalian tak apa?" tanya Arlin pada Ferdi dan temannya.
"Iya, kami tak apa. tapi jumlah mereka sangat banyak." jawab Sandi
"Tak masalah." jawab Arlin dan berbalik lalu berjalan mendekati para preman itu.
"Hei, gadis itu tak memiliki waja takut sedikit pun." Sandi berkata dan tersenyum kagum.
"Sudah ku bilang itu hanya permainan mereka saja." Ferdi berkata dengan senyum meremehkan.
"Kau saat ini sendirian tak ada ketiga anak kecil yang selalu mengikuti mu jadi jangan berlagak sombong, karena kami jauh lebih banyak dari mu." ucap pria preman itu dengan sombong.
Arlin tersenyum lagi lalu mengangkat kakinya yang tanpa alas kaki dan menahannya di kaki satunya seperti gerakan yoga, "Akan ku buktikan kalau kau adalah alas kakiku saat ini, dengan atau tanpa mereka ku pastikan kau dan kawananmu itu tak akan bisa melukai ku." Sumbar Arlin dan hal itu memancing emosi pria preman itu.
"Jangan menyesal Fe.!" pria preman itu berkata dengan kesal.
"Selama kau bilang aku bisa mengajar mu, maka aku tak akan sungkan lagi, ayo mulai, kebetulan aku belum pemanasan hari ini." Arlin berkata mengejek mereka semua.
"Sial, hajar j*lang sombong itu, maju semuanya." pria itu berkata dan beberapa anak buahnya maju menyerang Arlin.
Namun dari mereka semua tak ada yang bisa melukai Arlin, gerakan Arlin sangat lincah dan cepat, dia memukul semua anak buah pria itu dengan sangat mudah, dan terlihat kalau Arlin sedang bersenang - senang karena senyum tak lepas dari bibirnya.
"Gesit, lincah dan cepat. Dia tau cara memanfaatkan kekuatannya sendiri dan mengambil tenaga orang lain. Penilaiannya sangat tepat dan caranya meminjam pisau untuk digunakan juga sangat akurat. Dia seperti seorang master dan sudah terlatih sejak lama." Ferdi tanpa sadar memuji dan mengagumi cara Arlin merubuhkan semua lawannya.
"Hem, kau mulai mengagumi dia." Dendi berkata dan melihat Ferdi.
"Tidakkah kita harus membantu gadis kecil itu?" Sandi berkata saat melihat Arlin terkepung.
"Ku rasa tidak, lihatlah." ucap Ferdi
"Masih mau melawan? Bahkan saat kalian maju bersamaan kalian tetap masih bukan tandingan ku." Arlin berkata dan memakai sepatunya
"Sial, tunggu saja nanti. Aku pasti akan membalas mu lebih dari ini." ucap pria itu dan membawah kawanannya pergi.
"Kalian tak apa? Apa barang - barang kalian tak ada yang kurang, lain kali berhati - hati lah. Jalan ini jarang dilewati, apa kalian orang baru? Aku tak pernah melihat kalian." Arlin bertanya dan memperhatikan ketiga pemuda itu yang terlihat asing bagi Arlin.
"Tidak, terima kasih nona cantik, kau sungguh hebat." Sandi berkata dan memuji Arlin.
"Terima kasih, lain kali tolong jangan lewat sini karena bahaya." ucap Arlin lalu berlalu dari hadapan mereka bertiga.
"Nona siapa namu mu?" Sandi bertanya
"Iya setidaknya maukah kau ikut kami makan sebagai tanda terima kasih kami karena anda telah menolong kami." Dendi menyambung kata - kata Sandi.
"Tidak terima kasih karena aku sedang buru - buru, dan kalian sudah tau tadi mereka memanggil ku Fe." jawab Arlin dan dia menaiki motornya lalu pergi.
__ADS_1
"Gila dia sungguh sangat menarik." ucap Dendi dan Sandi bersamaan.
"Kalian pergilah ke rumah ku lebih dulu karena aku mau kesuatu tempat dulu." ucap Ferdi lalu masuk kedalam mobil dan minta diturunkan di tepi jalan raya.