Isteri Kecilku

Isteri Kecilku
Orientasi


__ADS_3

Disebuah sebuah tempat olahraga pribadi seorang gadis cantik sedang berlatih tarian hip hop dengan sangat lincah, gadis itu terlihat sangat bersemangat dan energik dalam setiap gerakannya, tubuhnya bergerak sangat lentur dan juga lincah mengikuti irama musik. Iringan musik hip hop yang menggema seolah seirama dengan gerakannya yang lincah.


"Masih berlatih, masih gak kapok dengan apa yang sudah terjadi." tegur Bagas yang masuk kedalam ruang olahraga itu dan mematikan musik.


"Om." sapa gadis itu dengan nafas tersengal sengal dan keringat bercucuran.


"Kemarilah sekarang waktunya pemeriksaan, mama mu bilang tiap hari kamu masih saja bandel dengan semua kegiatan mu." ucap Bagas dan memeriksa ligamen lengan Arlin yang dulu mengalami patah tulang dan kembali mengalami retakan saat berlatih.


"Sudah tak sakit lagi ya, karena terlihat dari gerakanmu tadi sepertinya semua sudah baik - baik saja." Bagas berkata dengan senyuman setelah memeriksa luka operasinya Arlin.


"Ya sudah mulai baikan, tapi papa masih melarang aku untuk melakukan olahraga berat. Jadi hanya tarian yang bisa kulakukan." jelas Arlin sambil manyun.


"Anak bandel, ayo masuklah om akan membawah mu ketemu Tante, karena dia terus menanyakan tentang dirimu." Bagas menarik Arlin masuk.


"Alin mandi dulu." dengan riang Arlin lari masuk kedalam kamar mandi.


"Anak itu masih saja bertingkah seperti anak kecil padahal usianya sudah hampir memasuki usia 17 tahun." gerutu Meli melihat tingkah putrinya.


"Bagaimana keadaan semuanya, aku dengar dari Liyon katanya ada masalah internal yang mengganggu kestabilan perusahaan." Bagas bertanya pada Farid


"Ya, sempat kacau sebentar, tapi anda tau sendiri seperti apa Liyon, dia tak akan tinggal diam jika ada maslah yang mengganggu ketenangannya. Sifat gangsternya selalu saja muncul setiap kali masalah muncul." jelas Farid bernafas dalam


Bagas tertawa terbahak karena dia merasa kasian dengan Farid yang bekerja langsung dibawah kepemimpinan Liyon yang suka sekali bertindak sesuka hatinya. "Kau sepertinya sudah sangat terbiasa untuk itu semua."


"Mau bagaimana lagi, aku sudah bekerja bersama dengan dia selama hampir 20 tahun lamanya." Farid berkata dengan tersenyum.


"Sudah jangan bicara soal pekerjaan dulu ayo cicipi kudapan yang aku buat sendiri. Dan nanti tolong titip untuk mbak Susi." Meli menyediakan kue buatannya dan membungkusnya untuk Susi istri Bagas yang sangat suka dengan kue.


"Tentu, terima kasih." Bagas berkata dengan senyuman


"Om, aku sudah siap." Arlin keluar dari kamarnya dan sudah rapi serta cantik.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


Keesokan paginya disebuah kampus ternama para mahasiswa baru telah berkumpul untuk melakukan orientasi, kampus itu kebanyakan dihuni oleh para anak orang kaya, walau ada beberapa anak yang masuk kedalam kampus itu dengan usaha mereka melalui beasiswa namun sebagian besar adalah para anak konglomerat atau pejabat.


"Hei lihatlah aku dengar mereka itu adalah anak - anak orang terkaya di kota ini, mereka adalah pangeran kita di kampus ini. Arlan, Erlan dan Fendi." ucap seorang siswi yang melihat kedatangan ketiga pemuda yang terlihat menonjol dari semua mahasiswa baru lainnya yang datang untuk mengikuti orientasi mahasiswa baru.


"Iya aku dengar mereka lompat kelas hingga sampai ke kampus ini dengan usia yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah menengah atas." siswi lainnya menimpali.


"Baiklah para maba ayo berkumpul di lapangan semuanya." suara senior melalui pengeras suara.


"Ayo kak." Efendi menarik Erlan dan Arlan ke lapangan.


"Baiklah, dalam acara kali ini diharapkan semua orang memiliki pasangannya sendiri - sendiri, dan setiap kelompok terdiri dari 5nsampai 6 orang, ayo pilih kelompok kalian untuk bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya" suara dari para senior untuk membuat kelompok bagi para maba.


"Wah ayo kita pilih kelompok, Ar, Er boleh tidak aku jadi satu kelompok dengan kalian?" ucap Angel pada Arlan dan Erlan yang sejak awal ingin menargetkan mereka berdua.


"Oh maaf tapi kami sudah lengkap." jawab Efendi yang membawah Farel, Dani dan Dandi bersamanya.


"Oh, baiklah. Kalau begitu nanti kalau ada pembagian kelompok lagi ijinkan aku masuk menjadi bagian dari kalian ya." ucap Angel dengan centil.


Arlan dan Erlan menatap cuek karena mereka berdua tak peduli dengan tingkah Angel yanh selalu berusaha untuk mencari perhatian pada diri mereka dari sejak awal masuk hari pertama orientasi.


"Huh, aku pasti bisa mendekati salah satu dari mereka berdua nanti, pasti." gumam Angel dengan kesal.


"Hei Fe, apa yang kamu lihat?" tegur Linda pada Arlin yang melihat para mahasiswa baru sedang melakukan kegiatan.


"Tidak, aku hanya melihat mereka. Dulu aku juga pernah seperti mereka dan selalu kena hukum oleh kakak tingkat, untung saja ada kalian berdua." Arlin berkata dan tersenyum.


Ya Arlin di kampusnya berdandan ala anak culun, dengan rambut di kuncir kuda, memakai kaca mata tebal dan make up dengan tampilan kulit kusam serta tahi lalat di Awah mata kirinya, sudah mirip dengan anak kutu buku yang setiap hari membawah buku - buku besar dan setiap hari selalu berdiam diri di perpustakaan untuk membaca buku dan menghindar untuk mencari maslah dan perhatian. Namun tak banyak yang mau berteman dengan Arlin karena penampilannya, hanya ada 5 sahabat yang baik yang selalu bersama dengan dirinya tanpa memperdulikan seperti apa penampilan Arlin. Hanya saja Arlin masih belum bisa menunjukkan jati dirinya pada ke 5 sahabatnya yang bernama Linda, Jefri, Susan, Arum dan Andi.


"Hem, coba lihat si kembar itu mereka sangat populer dari sejak hari pertama masuk orientasi" jelas Susan


"Ya tentu saja mereka itu kan anak - anak orang kaya, apa lagi mereka terlihat sangat menonjol ya gak Jef." sambung Andi dan Arlin hanya tersenyum mendengar hal itu, karena mereka tak ada yang tau kalau Arlin adalah bagian dari anak - anak yang dari tadi mereka bicarakan.


"Tunggu, tunggu. Ini bukannya sangat aneh gak?" ucap Fendi saat dia dan teman - temannya duduk di kantin.

__ADS_1


"Apanya yang aneh?" Arlan bertanya dengan bingung.


"Oh, ayolah kak. Kita sudah 1 minggu loh menjalankan orientasi dan ini adalah hari akhir kita, tapi aku tak melihat Kak Arlin di sini. Bukankah mama bilang kalau kak Arlin juga masuk kampus ini, itu sebabnya kita bersaing untuk bisa masuk kampus yang sama dengan dia bahkan kita mengikuti jejaknya dengan lompat kelas." Fendi berkata dengan sangat antusias.


"Siapa Arlin, apa dia kakak kalian?" tanya Farel dan menatap ketiga teman barunya itu


"Iya dia kakak kami" jawab Fendi


"Lebih tepatnya adalah kakak ipar kami." jawab Erlan sambil meminum jusnya.


"Apa?! Arlan kau sudah menikah?" jawab Farel kaget.


"He, apakah itu benar? Wah para, wanita bakalan kecewa kalau begitu." Dani ikut menimpali dengan wajah penasarannya.


"Sungguh luar biasa sekali hebat sekali kau Ar." Dandi berkata dengan senyum lebar.


"Apa kalian sudah gila hah? Itu kakak tertua kami, kalau saja bisa aku menika diusia sekarang pasti aku sudah memilih untuk menikah dari pada belajar tau." Arlan menjawab dengan wajah serius. Semua temannya dan saudaranya yang mendengarkan ucapan Arlan tertawa terbahak bersamaan.


"Hei pergi kau dasar orang dekil." ucap Angel mengusir Arlin yang mau duduk


"Eh, ada apa?" Fendi menatap seorang gadis yang didorong - dorong oleh angel dan teman - temannya.


"Mereka berani sekali sama kakak tingkat, kasian sekali dia." Dandi langsung bangun dari kursinya dan membantu Arlin.


"Kakak tak apa? Apa kau sudah gila hah?! Gak punya aturan sekali." Dandi menatap Angel dan teman - temannya dengan marah.


"Terima kasih, aku gak apa." Arlin menahan tangan Dandi agar tak bertengkar.


"Fe, kau tak apa?" Linda dan Susan ikut membantu.


"Tidak apa kok, aku gak luka." Arlin tersenyum pada kedua sahabatnya.


"Emang apa salah ku, aku hanya memintanya untuk pindah duduk saja, dia aja yang cari perhatian." jelas Angel dengan ketus.

__ADS_1


"Sudah - sudah gak apa, maaf tadi salah saya karena gak tau kalau kursi itu tempat kamu." ucap Arlin dengan sabar dan pergi bersama dengan kedua sahabatnya sambil menarik tangan Dandi untuk pergi juga.


__ADS_2