Isteri Kecilku

Isteri Kecilku
Cuek


__ADS_3

Arlan dan Erlan tersenyum saat mereka melihat kakaknya terkejud dengan penampilan Arlin dalam video yang mereka putarkan untuk sang kakak. Seolah mata Ferdi tak bisa beralih dari layar komputer itu, karena terlihat sangat jelas kalau Ferdi sangat terpukau dan kagum dengan penampilan Arlin yang tak hanya pandai bertarung, bermain musik bahkan dia juga pandai menari.


"Lihat dia jadi bengong begitu." Erlan berkata dan Arlan mengangguk


Arlan mendekati Ferdi yang sedang bengong duduk didepan layar komputer "Bagaimana kak, Sudah tau bagaimana penampilan istri kakak, apa kakak telah jatuh cinta lagi padanya? Yakin tak ingin menemuinya dan tetap saling menunggu?" bisik Arlan tepat ditelinga Ferdi


"Hahaha...mampukah kakak tetap diam dan tak peduli dengan dia? Tapi kakak juga harus berhati - hati jika ingin bertemu dengan dia, karena kakak selama belasan tahun tak pernah menghubunginya." Erlan tertawa dan memperingatkan kakaknya.


"Diam kalian, aku punya cara tersendiri untuk menaklukkannya." Ferdi terlihat malu saat berkata dan kedua adik kembarnya itu pun meledeknya habis - habisan sampai mereka bertiga berakhir dalam sebuah latihan beladiri.


"Ha...sungguh melelahkan." Erlan mengeluh sambil merebahkan tubuhnya di lantai tempat latihan.


"Aku tak menyangka kakak begitu sangat hebat, apakah di tempat papa Lian kakak juga berlatih? Ini tak sebanding dengan kami yang selalu berlatih tanpa henti, sungguh tak adil." Arlan menggerutu karena dikalahkan oleh Ferdi.


"Kalian terlalu fokus pada kemenangan, jika kalian ingin bertarung kalian harus pada kekuatan kalian dan kemampuan kalian sendiri, dengan begitu kalian akan bisa memenangkan pertarungan." Ferdi berkata dan tersenyum pada kedua adik kembarnya itu


"Kalian sedang berlatih, kenapa tak menunggu papa." Liyon masuk dalam ruang latihan.


"Oh ayolah pa, bukannya papa selalu kalah dari mama tiap kali berlatih." Erlan menyela dan meledek papanya.


"Hem, papa bukan kalah hanya mengalah saja." Liyon pun bergabung dengan ketiga jagoannya.


...🍂🍂🍂...


"Hei Fe, kau dapat hadiah lagi nih." Sandi menunjukkan beberapa bingkisan yang tertulis untuk senior Fe


"Buat kalian saja." Ferdi berkata dengan ringan.


"Fe, maaf mau bergabung dengan latihan kami?" Angga memanggil Ferdi di kelasnya.


"Boleh juga tuh, karena sudah sangat lama sekali kami tak pernah berlatih. Ayo Fe, lumayan untuk pemanasan dan mengeluarkan keringat." Dendi dengan semangat menerima ajakan Angga.


"Boleh." Ferdi menjawab dengan senyuman.


"Ayo kita kelapangan." Angga berjalan kelapangan basket


"Hei aku dengar pangeran elit akan latihan basket ayo kita lihat yuk." seorang mahasiswa yang mendengar pembicaraan Angga dan Ferdi.


"Benarkah, ayo kita lihat jangan sampai kita ketinggalan permainan mereka." mahasiswa yang lain pun menjawab dan sangat antusias.

__ADS_1


Di lapangan sudah ada Arlan dan kedua saudaranya serta beberapa pemain basket lainnya. Ferdi tersenyum melihat ketiga adiknya ada diantara pemain basket lainnya, Ferdi maju dan dengan sengaja berkata kalau dia ingin satu tim dengan adik - adiknya itu.


"Lihat - lihat para pangeran bergabung jadi satu tim."


"Wah keren, mereka sungguh sangat keren."


"Hooo...pangeran, pangeran, pangeran."


Teriak dari para gadis - gadis yang melihat permainan dari Ferdi dan para adik - adiknya yang tak mereka ketahui hubungan mereka. Tim Ferdi telah mengalahkan 3 poin dari tim Angga dengan sekejap mata. Dan permainan jadi semakin seru saat dukungan dari para gadis yang biasa meneriaki dirinya jadi beralih meneriaki Ferdi.


"Ha sial, aku bisa kalah dari mereka yang bukan tim basket. Permainan mereka sungguh luar biasa." Angga bergumam dan tersenyum


"Mereka seperti pemain profesional, kerja sama tim mereka sungguh sangat kuat. Mereka terlihat seperti sudah beralih dengan sangat lama sekali." Denis memberikan pendapatnya.


"Mereka bukan hanya pemain biasa, tapi mereka adalah pro." Robin ikut mengeluarkan pendapatnya.


"Permainan yang bagus." Ferdi mendekat saat mereka telah berakhir dalam putaran pertama permainan.


"Gila, kalian sungguh luar biasa. Kamu kalah 10 poin hanya dengan putaran pertama dan dalam waktu singkat, jika kalian adalah anggota tim kami pasti bisa menjadi tim yang unggul." Angga berkata sambil berjabat tangan dengan Ferdi.


"Aku memiliki kesibukan sendiri jadi tak bisa ikut bergabung dengan tim mu. Tapi jika kalian ingin mencari lawan untuk berlatih aku akan selalu siap." Ferdi menjawab dengan ramah.


"Ya kami juga bersedia untuk menjadi tim lawan untuk latihan kak." Arlan ikut berkata seperti Ferdi.


"Fe, ini untuk mu semoga kamu suka, karena aku membuatnya sendiri." Angel mendekat dan menyerahkan sebuah bingkisan untuk Ferdi.


"Apa ini? Tapi maaf aku tak makan makanan manis." tolak Ferdi dan dia melihat sekeliling penonton, lalu tersenyum saat dia menangkap seseorang dengan bola matanya. "Permisi." Ferdi menyingkirkan Angel lalu berjalan ke arah penonton.


"Ya ampun Fe berjalan kearah sini."


"Iya dia berjalan kemari."


"Dia mau kemana ya? Ya ampun aku jadi gugup."


Beberapa gadis ya g ada di kursi penonton menjadi heboh dan juga salah tingkah karena melihat Ferdi berjalan kearah penonton dan memutari penonton untuk bisa menuju ke bangku yang dia inginkan.


"Hei, sedang apa dia? Dan mau kemana? Apa dia sedang berusaha untuk menarik penggemar agar lebih banyak lagi orang - orang yang berteriak untuk dirinya." Sandi melihat Ferdi berjalan memutar merasa penasaran.


Ferdi berhenti tepat didepan Arlin dan beberapa temannya dengan senyuman yang sangat manis, hal itu membuat banyak gadis berteriak untuk Ferdi, tapi Arlin dan temannya merasa bingung kenapa Ferdi berhenti didepan mereka.

__ADS_1


"Oh, dia menemukanya. Mangsa yang siap untuk dilahap." Dendi berkata saat melihat Ferdi tersenyum manis.


"Ya, dia siap untuk bermain permainan dewasa." Sandi berkata sambil merangkul Dendi dan mereka pun tertawa bersama.


Melihat hal itu Angel merasa sangat marah dan tak suka, karena dia merasa kalau Ferdi telah mempermalukan dirinya didepan banyak orang, padahal selama ini dia selalu menolak orang dengan sangat mudah hanya untuk bisa mendekati Ferdi setelah dia tak bisa mendekati Arlan dan Erlan.


Ferdi berjalan naik dan berhenti tepat disamping Arlin, "Hai, boleh aku duduk di sini?" Ferdi berkata dengan lembut


"Boleh - boleh kak, sangat boleh." Linda dan yang lain menjawab dengan cepat.


"Iya silakan duduk saja kak bebas kok." Arum menjawab dengan sangat senang, begitu juga teman Arlin yang lainnya.


"Eh, itu...minumanku." Arlin kaget saat Ferdi duduk disampingnya dan dia langsung mengambil botol minuman ditangan Arlin.


"Minumannya segar, terima kasih." Ferdi dengan biasa berkata dan mengembalikan botol minuman Arlin setelah dia meminumnya, lalu duduk dengan santai disebelah Arlin dan melihat permainan basket.


"Namamu Ferlin kan, apa aku boleh tau secara lengkapnya siapa namamu? Karena kau selalu dipanggil dengan nama panggilan yang sama dengan ku, Fe." ucap Ferdi namun Arlin diam tak menjawabnya.


"Hei Fe, dia bertanya padamu jawablah." Linda yang ada disisi lain Arlin berkata dan mendesak Arlin untuk menjawab pertanyaan Ferdi.


"Iya Fe jawablah, kasian dia menunggu jawaban mu." Arum juga ikutan ngomporin.


"Maaf aku ada urusan harus pergi dulu, bukankah 2 hari lagi adalah pertunjukan tari yang harus aku lakukan jadi aku mau latihan dulu, permisi." Arlin bangun dan pergi dengan cuek tanpa memperdulikan Ferdi yang ada disebelahnya.


Ferdi tersenyum tipis saat Arlin bangun dan pergi begitu saja dengan cuek tanpa menjawab pertanyaan yang dia ajukan. "Dia sangat dingin." Ferdi bergumam dan melihat kearah Linda dan Arum serta teman Arlin yang lainnya. Teman-teman Arlin itu tersenyum dengan canggung menatap Ferdi.


"Fe, ada yang ingin aku ceritakan padamu." Andi menahan Arlin saat mereka bertemu di lorong kampus.


"Hem, baiklah." Arlin mengikuti Andi masuk kesebuah kelas yang kosong.


Didalam kelas itu Andi meminta maaf pada Arlin dan menceritakan semuanya pada Arlin tanpa ada yang ditutupi, mulai dari bagaimana orang tuanya terjebak dalam masalah keluarga Beril dan perlakuan Beril pada dirinya sampai perjanjiannya dengan Ferdi yang menginginkan bantuannya untuk dekat dengan Arlin.


"Maafkan aku Fe, aku tak bermaksud merahasiakan semuanya dari mu dan yang lain, cuma aku tak punya keberanian untuk cerita karena aku tak ingin kehilangan teman yang dengan susah payah aku dapatkan setelah Jefri, dan juga soal kak Fe yang memintaku mendekatkan dia dengan mu." Andi menunduk tak berani menatap Arlin karena dia takut kalau Arlin jadi membencinya.


"Kacung, itu adalah sebutan yang sangat kasar untuk seorang saudara. Aku tak tau apa masalah antara keluargamu dan keluarga Beril, tapi terima kasih kamu telah cerita dan jujur padaku. Karena sesungguhnya aku juga dalam posisi yang sama dengan mu, aku banyak merahasiakan semua hal darimu dan yang lainnya. Alasan ku juga sama sepertimu, takut dibenci dan dijauhi oleh teman yang sudah aku dapatkan." Arlin juga mengatakan hal yang sama dengan Andi.


"Kau juga sama denganku?" Andi menatap Arlin


Arlin tersenyum dan mengangguk "Jangan khawatir, percayalah padaku. Aku akan memenangkan pertunjukan tari untuk mu, aku tak akan membiarkan kamu disakiti dan diperbudak oleh Beril lagi di kampus ini."

__ADS_1


"Fe, kau..." Andi menatap bingung.


"Selama kau mengandalkan ku, aku berjanji tak akan mengecewakan mu. Aku akan menunjukkan siapa diriku padamu dan yang lainnya, datanglah malam ini ke klub Bray, nilai siapa diriku. Jika kau dan yang lain percaya dengan ku maka berikanlah dukungan kalian untuk ku." Arlin berkata dan meninggalkan Andi. "Oh iya, soal kakak itu aku tak menyalahkan mu." Arlin tersenyum dan menghilang dibalik pintu.


__ADS_2