Isteri Kecilku

Isteri Kecilku
Permainan


__ADS_3

Suasana malam itu sungguh sangat meriah dan penampilan Arlin juga sangat memukau. Tak henti - henti orang yang berteriak memanggil nama Kerin sebagai nama samaran Arlin saat pertunjukan terus menggema, karena Kerin sang DJ telah membuat semua pengunjung malam itu sebagian besar adalah penggemar kerin mereka sangat tau jadwal kapan Kerin akan tampil dan menghibur mereka semuanya, sehingga pada saat dia tampil maka klub itu akan penuh dengan pengunjung dan penjualan akan melonjak sangat besar.


Dengan kemahiran dan kelincahan gerakan tangan Arlin membuat sebuah musik yang selalu berbeda disetiap penampilannya, serta diakhir pertunjukannya Arlin selalu menutupnya dengan permainan dram dan sebuah lagu yang biasa dia ciptakan sendiri untuk mengekspresikan emosi dirinya.


"Dia sungguh sangat luar biasa permainannya, dan penggemarnya juga sangat banyak" Sandi berkata dan memuji penampilan Arlin malam itu.


"Ya jarang ada permainan DJ dengan gaya seperti itu, dia tak hanya bermain musik dengan bagus tapi juga turun dan menjadi bartender. Lihatlah orang - orang sangat antusias ingin mendapatkan minuman darinya." Dendi juga ikut berkomentar


"Ya, sepertinya orang - orang ini tak hanya menyukai permainan musiknya atau lagunya tapi juga menyukai caranya bermain dengan semua alat pengaduk dan gelas - gelas itu, dia sungguh sangat terampil dan sepertinya dia sudah terlatih, gerakannya sungguh sangat bagus dan indah untuk dilihat." Sandi tersenyum melihat Arlin yang dikerubungi banyak orang di depan meja bar setelah selesai melakukan pertunjukan musiknya.


"Hem, menurut mu bagaimana Fe." Dendi menepuk pahu Ferdi dengan ringan karena Ferdi hanya fokus pada minumannya.


"Ya lumayan." jawab Ferdi cuek.


"Ya elah...komentarmu pelit banget bang." Sandi meledek Ferdi, dan tertawa bersama Dendi.


...🍂🍂🍂...


keesokan harinya teman - teman Arlin yang kemaren diganggu dan dibantu oleh Arlin serta pangeran kembar merasa malu pada Arlin karena selama ini dia tak pernah membicarakan hal itu pada Arlin dan selalu berbohong dengan setiap memar yang ada ditubuhnya jika Arlin dan teman lainnya bertanya.


"Selamat pagi semuanya." ucap Linda pada semua temannya yang sedang duduk asik disebuah taman depan kampus mereka.


"Ya selamat pagi Lin." jawab Jefri, Susan, Arum dan Andi yang sedang berkumpul bersama pagi itu.


"Eh, kenapa dengan mu Jef dan An? Kalian berkelahi dengan siapa?" Linda mendekat dan melihat wajah kedua temannya yang terlihat memar di beberapa bagian.


"Ah, tidak apa - apa kok." Jefri menjawab dan dia melirik Arlin yang diam sambil membaca buku.


"Hem, ini pasti sangat menyakitkan. Apa kalian sudah mengobatinya? Nanti aku akan belikan salep memar untuk kalian." Linda yang sangat peduli dengan teman - temannya selalu berbuat baik untuk mereka setiap kali mereka susah.


"Iya terim kasih." Jefri menjawab dengan senyuman sedangkan Andi hanya diam membisu sambil menunduk.


"Eh siapa ini...sudah tak datang telat lagi syukurlah putri kecilku ini tak membuat aku khawatir lagi dengan membuat ku berdiri didepan pintu untuk menunggunya masuk." Linda mendekati Arlin dan memeluk Arlin.


"Hentikan kau membuatku sesak" Arlin tersenyum dan membalas pelukan Linda.


Melihat itu teman - teman yang lain tersenyum dan Arlin juga ikut tersenyum karena Linda yang satu jurusan dengan dirinya selalu menunggunya di depan pintu setiap jam pelajaran pagi dan jika telat mereka akan bolos bersama.


"Sudah ayo kita ada jam pagi kan sayangku kita masuk jam 9, ini sudah hampir waktunya kita ke kelas dulu, ketemu lagi di kantin semua." Linda menarik tangan Arlin untuk masuk kelas.


"Sampai jumpa semuanya." ucap Arlin dan semua temannya menjawab bersamaan.

__ADS_1


Saat didalam kelas Arlin kehilangan fokusnya karena dia memikirkan bagaimana caranya memberitahu semua teman - temannya tentang dirinya, dan Arlin memiliki keraguan dalam hatinya karena dia takut kalau nanti teman - temannya merasa telah dibohongi dan dibodohi oleh dirinya. Semua pikiran soal kekecewaan temannya pada dirinya terus berputar dalam kepalanya.


Disisi lain saat semua temannya sedang dalam kelas untuk mengikuti pelajaran Andi yang keluar untuk ke toilet justru mendapat serangan dari Beril dan teman - temannya yang sengaja mengikuti Andi masuk kedalam toilet.


"Hei apa kamu pikir kamu bisa lolos dari aku hah?! Mungkin kemaren kamu beruntung tapi tidak untuk kali ini." ucap Beril pada Andi yang sedang dalam toilet.


"Tolong maafkan aku Ril." ucap Andi dengan suara bergetar.


"Ril? Kau pikir siapa dirimu itu hah. Panggil tuan muda, kau itu hanyalah benalu dalam keluargaku, dasar makhluk tak berguna." Beril berkata dengan kasar dan tak lupa melayangkan pukulannya.


"Oh, maaf tak bermaksud untuk mengganggu" ucap Ferdi saat dia masuk dan melihat Beril beserta temannya sedang menyekap seseorang


"Oh, kau adalah mahasiswa yang datang bersama dengan mereka yang menjadi pertukaran pelajar itu kan, apa yang kau lihat sekarang, apa kau ingin mengadu pada seseorang?" ucap Beril dengan sombongnya


"Hem..." Ferdi menatap Andi yang tertunduk dan tak berani bersuara karena dia sedang dipegangi oleh dua teman Beril. "Oh dia adalah teman istri kecilku yang kemaren ya." gumam Ferdi dalam hati yang mengenali Andi, "Tidak, tidak ada, aku hanya ingin ke toilet saja dan tak ingin ikut campur dengan permainan kalian." jawab Ferdi dengan mengangkat kedua tangannya.


"Bagus, cepat pergi dan lupakan apa yang kamu lihat sekarang." Beril mendorong dada Ferdi dengan kasar sampai Ferdi menatap pintu toilet.


"Auw..." teriak Beril yang berhasil dicekal oleh Ferdi tangannya dan dikunci dibelakang punggungnya.


"Hei, apa yang kau lakukan!" Kedua teman Beril langsung melepaskan Andi dan berusaha membantu Beril.


"Auw, sakit, sakit, sakit." Beril mengeluh saat Ferdi semakin menekan tangannya.


"Aku sudah bilang kalau aku tak ingin ikut campur dalam permainan kalian, tapi kenapa kau menggunakan tangan mu untuk mendorongku hah?!" teriak Ferdi dengan kesal "Aku paling tak suka orang yang menggunakan kekerasan pada ku, tapi karena kau yang memulainya maka aku tak ingin tinggal diam lagi." Ferdi menekankan kata - katanya pada Beril. "Hei bocah, apa kau mau tetap disana?" Ferdi menatap Andi yang berdiri dibelakang teman - teman Beril.


"I-iya kak." Andi langsung mendekati Ferdi dan berdiri dibelakang Ferdi.


"Aku peringatkan pada kalian bertiga, jika kalian tak ingin aku mengusik kalian maka jangan pernah kalian mengusik ku duluan. Dan karena teman kalian yang sok jago ini sudah mengusik ku maka jangan salahkan jika aku membawah pergi mainan kalian, dan sebaiknya kalian belajarlah dengan benar jangan suka mengganggu orang lain." ucap Ferdi setelah melepaskan tangan Beril.


"Ah sial, kurang ajar sekali dia." Beril berkata dengan kesal sambil mengurut tangannya yang sakit akibat cengkraman Ferdi.


"Te-terima kasih kak, namaku Andi." ucap Andi mengikuti Ferdi


"Tak masalah, aku Fer...em panggil saja aku Fe." Ferdi berkata dan tersenyum pada Andi.


"Iya kak Fe, terima kasih banyak." ucap Andi


"Hem, ok. Kamu dari jurusan apa?" Ferdi bertanya dan terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Kalian dimana?" Ferdi menghubungi teman - tanya lewat panggilan telepon.

__ADS_1


"Di kantin." jawab Sandi yang ditelepon Ferdi


"Kau bilang apa tadi?" Ferdi menatap Andi setelah menutup teleponnya.


"Aku dari fakultas ekonomi kak" jawab Andi lagi


"Iya aku ingat, ayo ikut aku ke kantin, kamu pasti belum makan siang kan." Ferdi menatap Andi.


"Tidak usah kak terima kasih." Andi menolak dan ingin pergi


"Kau ingin mereka menangkap mu lagi? Lagi pula aku punya permintaan atas penyelamatan mu tadi, karena aku gak melakukannya dengan gratis kau mengerti kan." Ferdi berhenti dan menatap Andi.


"Ya ampun, ternyata dia sama saja dengan yang lain." gumam Andi dalam hati.


"Bagaimana, kau mau membantuku?" Ferdi mendekati Andi


"Oh, maaf kak. Tapi apa yang ingin kakak aku lakukan?" Andi yang kaget melangkah mundur dan berkata sambil terbolak balik.


"Aku ingin mengenal salah satu dari teman mu yang memiliki tahi lalat dan memiliki nama sama.demgan Fe, dan aku membutuhkan bantuanmu untuk dekat dengannya, bagaimana. Kau mau membantu ku atau tidak, karena hanya itu yang aku minta dari mu." jelas Ferdi menatap Andi


"Maksud kakak adalah Ferlin ya, baiklah aku akan membantu kakak. Tapi untuk apa kakak ingin dekat dengan dia?" Andi bertanya dengan ragu.


"Tidak ada, aku hanya ingin dekat saja. Dan kalau cocok aku ingin menjadikan dia pacar ku." jawab Ferdi dengan ringan


"Apa?!" Andi berkata dengan sangat keras karena kaget.


"Kenapa, apa itu aneh." tanya Ferdi tersenyum.


"Ti-tidak, aku janji akan membantu kakak." Andi pun berjanji pada Ferdi untuk dekat dengan Arlin.


"Ok, berikan kontak mu." Ferdi menyerahkan hanponnya pada Andi untuk menyalin nomer teleponnya.


"Iya, baiklah." Andi pun menuliskan nomernya


"Duh, maafkan aku Fe." gumam dalam hati Andi setelah bertukar nomer telpon dengan Ferdi.


"Ok, aku tunggu kabar baiknya dari mu, ayo pergi sekarang." Ferdi tersenyum dan berjalan ke arah kantin.


"Aku ke kelas saja kan, sekali lagi terima kasih." Andi berpisah dengan Ferdi ditikungan kantin.


"Orang yang baik, jadi seperti ini orang - orang yang ingin kau lindungi ya. Aku akan melepaskan tali kekang mu agar kau bisa melakukan semuanya sesuka hati mu istri kecilku." Ferdi bergumam dan tersenyum menatap kepergian Andi yang terlihat terburu - buru ingin meninggalkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2