
Setiap kali datang ke kampus seolah Arlan, Erlan dan Fendi selalu menarik perhatian dari semua mahasiswa baik yang seangkatan dengan meraka dan juga para seniornya, terlebih lagi dari kalangan wanita yang selalu mengidolakan dan mengagumi ketampanan mereka dan juga kekayaan mereka yang sangat terkenal.
"Gila, Ar, Er, Fen kalian sungguh sangat memukau dan selalu membuat gempar kota pendidikan ini, lihatlah para gadis - gadis itu yang berbaris dan berusaha keras untuk menarik perhatian kalian." ucap Dani yang lari menghampiri mereka bertiga di parkiran kampus.
"Kau pikir kami peduli." ucap Arlan berlalu sambil cuek dengan teriakan para gadis-gadis yang terus memanggil namanya dan kedua saudaranya.
"Tidak sama sekali" sahut Erlan tersenyum pada Dani
"Hem." Fendi hanya bergumam.
"Ya ampun, puji tuhan. Entah bunda Maria telah memberikan kasih sayangnya pada kalian seperti apa sehingga memiliki segalanya dan bisa berlaku dengan cuek begitu." Dani berkata dan bergeleng kepala.
"Bapa dan bunda Maria memang sangat menyayangi kami, terutama pada ku." ucap Arlan dengan sombong.
"Takabur loh." Farel menendang Arlan dan semuanya tertawa terbahak.
"Arlan,,, Erlan,,, Fendi..." teriak dari para mahasiswi yang terus saja memanggil nama ketiga orang itu sepanjang jalan. Dan mereka berenam berjalan dengan lurus tanpa peduli dengan suara - suara yang memanggil dan terus meneriaki nama ketiga orang itu.
Dari pertemanannya dengan Arlan, Erlan dan Fendi membuat Dani, Farel dan Dandi ikutan terkenal sama seperti ketiga temannya yang populer itu, dan bagi ketiga temannya walau Arlan dan kedua saudara ya itu terbilang anak orang kaya tapi mereka bertiga selalu memperlakukan ketiga teman mereka dengan baik dan tanpa membedakan status sosial mereka bertiga.
"Baiklah semuanya sekarang saatnya masuk dalam pembelajaran dan kalian akan dituntut untuk bisa memiliki nilai yang baik baik di bidang akademi atau ekstra dan kalian semua harus berusaha dengan keras mulai sekarang karena sudah mulai masuk dalam tajam belajar bukan orientasi lagi, jadi semuanya tolong fokus dan bersungguh - sungguh dalam belajar." ucap seorang dosen didepan semua para siswanya.
"Ya ampun, ya ampun telat." seorang siswa yang terburu - buru masuk kedalam toilet untuk berdandan, Ya siapa lagi kalau bukan Arlin yang baru datang karena tadi pagi membantu Ferdi mengatasi preman sehingga membuat dirinya tak sempat berdandan.
"Fe, ya ampun ku pikir kamu akan telat. Sebentar lagi dosen kiler akan masuk ayo cepat duduk." Linda yang menunggu Arlin didepan kelas dengan panik langsung menarik Arlin masuk kelas dan duduk begitu melihat Arlin lari kalang kabut.
"Selamat pagi semuanya." suara dosen kiler yang tadi disebut Linda.
"Ya ampun selamat." Arlin berkata sambil memegang dadanya dan bernafas lega.
...🍂🍂🍂...
"Wah siapa itu?"
"Ya ampun keren banget dan bening banget."
"Apa dia relasi bos yang baru, dia masi muda banget"
"Oooh, aku meleleh."
Kasak kusuk semua pegawai wanita yang melihat Ferdi turun dari taksi dan berjalan memasuki perusahaan papanya untuk memberikan kejutan pada sang papa.
"Dimana pimpinan kalian?" tanya Ferdi didepan meja sekretaris Liyon.
"Maaf, bos sedang ada rapat di ruang rapat." jawab sekretaris Liyon.
Ferdi tersenyum pada mereka, "Dimana ruang rapatnya?" ucap Ferdi kemudian dan salah satu sekretaris Liyon mengantar Ferdi ke ruang rapat.
"Tunggu tuan." sekretaris Liyon mencegah Ferdi untuk masuk.
__ADS_1
"Tak apa." jawab Ferdi tersenyum manis.
"Bagaimana bos, apa ada yang lurang?" tanya pegawai Liyon yang telah melakukan persentasi didepan Liyon dan kawan rapatnya.
"Managementnya harus diubah dan skalanya harus dipersempit lagi untuk bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan target pasar, baru setelah itu ditingkatkan untuk menjangkau target yang lebih luas. Kesimpulannya kita harus memenuhi dulu apa yang paling dibutuhkan sebelum menargetkan yang lainnya. Rapat selesai." ucap Ferdi begitu dia masuk kedalam ruang rapat itu.
"Oh, hai boy. Katanya akan tiba nanti malam, kenapa siang sudah tiba di sini, kau mengejutkan ku." ucap Liyon saat dia melihat Ferdi membuka pintu dan masuk kedalam ruang rapat lalu menjabarkan isi dari rapat hari itu.
"Kejutan." jawab Ferdi berjalan mendekati Liyon dengan merentangkan kedua tangannya dan senyum lebar.
Ferdi mengisyaratkan pada semuanya untuk keluar meninggalkan ruang rapat dengan tangannya saat Liyon dan dirinya saling berpelukan. Dan dengan cepat semua orang bubar.
"Gila, keren banget ternyata dia adalah putra pertama bos kita. Dia sungguh sangat luar biasa, dan parasnya hampir mirip dengan bos kita."
"Auranya tak kalah dengan bos, mereka bagai pinang dibelah dua."
"Iya, dan dia sungguh sangat keren. Dia bisa menarik kesimpulan hanya dengan sekali lihat bahan rapat padahal itu cuma halaman terakhir."
"Hem, dia bakal menaklukkan seluruh perusahaan dan para wanita di Indonesia."
Kasak kusuk para pegawai Liyon yang baru keluar dari ruang rapat, dan mereka semua mengagumi Ferdi yang baru saja mereka lihat hari ini.
...🍂🍂🍂...
"Hei kau." seorang senior menegur Arlan dengan tak ramah.
"Mau apa kau." jawab Arlan tak kalah tengilnya.
Arlan hanya mengerutkan kening karena dia tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakak senior itu padanya. Tapi mendapatkan tantangan itu membuat darah Arlan mendidih dan dia tak bisa menolaknya, tantangan yang diberikan kepadanya dengan senang hati diterimanya.
"Ok, pertandingan apa yang ingin kau ajukan. Apa pun itu aku pasti akan menyanggupinya." jawab Arlan dengan tampang sombongnya
"Aku gunggu kau dilapangan basket nanti sore selesai jam pelajaran mu." jawab senior itu dengan tak sabar lalu meninggalkan Arlan bersama dengan teman - temannya.
"Hei aku dengar katanya akan ada pertandingan basket antara kak Damian dan Arlan. Dan mereka akan bertanding sore ini, entah apa penyebab yang memicunya." ucap seorang mahasiswa.
Kabar soal pertandingan itu pun tersebar dengan sangat cepat dan isu kalau Damian sejak awal tak menyukai Arlan juga ikut tersebar, karena sejak awal masuk orientasi Damian selalu menyulitkan Arlan dan teman - temannya.
"Hei, apa yang aku dengar ini benar? Kau akan bertanding basket dengan kak Damian?" Farel bertanya pada Arlan dengan khawatir.
"Kenapa kau begitu panik, biasa saja cuma pertandingan juga." Arlan berkata dengan santai seolah tak ada apa - apa.
"Kau bicara apa? Kak Damian adalah anggota dari tim basket yang sangat baik dan dia merupakan pemain inti dan kalau bertanding dengan mereka itu artinya cari mati, siapa yang akan membantu mu hah?" Farel berkata lagi dan mengguncang tubuh Arlan untuk membuat Arlan sadar.
"Hei, hentikan. Apa kau tak percaya pada ku ha? Kau ini teman ku apa temannya Damian itu sih? Tentu saja aku punya tim, dan tim ku adalah kedua adikku serta kau dan juga Dani." Arlan berkata dengan senyum tak berdosanya.
"Hah? Kau benar - benar sudah gila rupanya, aku tak bisa main basket bagaimana bisa jadi tim mu yang benar saja." Farel berkata dengan kesal pada Arlan yang selalu suka seenaknya sendiri.
"Memangnya kenapa? Kau kan bisa menangkap bola kan." Arlan berkata dan menatap mata Farel dengan serius.
__ADS_1
"Kalau cuma menangkap dan memegangnya saja aku bisa, tapi..." Farel berkata dan merasa cemas.
"Cukup, itu saja sudah cukup." Arlan berkata dan tersenyum.
"Rel, tenang saja. Kau tak perlu cemas begitu, serahkan semuanya pada kami, yang terpenting kua dan Dani bisa memegang bola saja itu memang sudah cukup." ucap Fendi dan juga tersenyum sambil menepuk bahu Farel.
"Kalian benar - benar gila." Dandi yang dari tadi diam ikut bersuara dan terdengar cemas.
"Kalian percaya pada kami kan? Jadi yang perlu kalian lakukan hanya mempercayai kami saja itu sudah cukup. Dan sekarang kamu ada pekerjaan yang sangat penting jadi kalian pergilah ke lapangan duluan kami akan menyusul kalian, kami mencari seseorang dulu, ok." Erlan berkata menyakinkan ketiga teman dekatnya itu.
"Baiklah ayo kita pergi dan temukan dia secepatnya." Arlan langsung bangun dan keluar dari kelas.
Arlan dan kedua saudaranya pergi mencari Arlin setelah dia tanya nama mahasiswa yang bernama Ferlinda, mereka bertiga menyebar ke seluruh kampus sampai akhirnya mereka melihat orang yang bernama Ferlinda yang mereka kenal sebagai gadis berkacamata tebal dan memiliki tahi lalat dibawah mata kirinya.
"Arlin, tangkap." teriak Efendi melemparkan hanponnya kearah Arlin yang sedang berbincang dengan teman - temannya.
Secara reflek Arlin yang kaget langsung dengan cepat dan tepat menangkap hanpon yang dilempar oleh Efendi kearahnya. Hal itu membuat teman - teman Arlin yang ada disamping Arlin ikut kaget melihat reflek Arlin yang sangat bagus.
"Wah kau memang benar - benar kakak kami." Arlan dan yang lainnya lari mendekati Arlin dan memeluk Arlin secara bersamaan.
"Oh, apa kalian mau membunuhku hah?!" Arlin dengan kesal berteriak.
"Kakak - kakak maaf kami pinjam teman kalian sebentar ya." Erlan berkata pada teman Arlin dan menarik Arlin pergi.
"Eh, kalian." Linda merasa bingung karena cowok - cowok keren itu terlihat akrab dengan Arlin
"Bukannya mereka para pangeran kampus? Kenapa Arlin bisa kenal dengan mereka dan terlihat sangat akrab begitu ya?" ucap Susan yang menatap kepergian Arlin dengan diseret oleh Erlan dan yang lainnya.
"Hem, ada apa ini? kita harus tanya dan minta penjelasan pada Fe besok." Linda berkata dengan tatapan masih bengong.
"Hei, kenapa kau berpenampilan seperti ini? Kau hampir menipu kami semua." keluh Arlan menatap Arlin saat mereka sampai di taman belakang kampus.
"Itu urusan ku, dan aku melakukannya karena aku ingin mencari teman yang benar - benar tulus berteman dengan ku bukan karena hal lain." jelas Arlin duduk di sebuah bangku di taman belakang kampus itu.
"Oh iya, aku dengar dari papa kalau kak Ferdi akan datang dan akan tinggal bersama dengan kami lagi. Bagaimana pendapat mu apakah kamu senang?" Erlan berkata dan bertanya sambil memperhatikan reaksi Arlin.
"Apa yang kau katakan, aku tak peduli dengan hal itu, sudah lah aku pulang saja om Suryo sudah datang." Arlin langsung bangun dan meninggalkan ketiga pemuda itu dan lari mendekati Suryo yang tadi dihubungi untuk mengambil motornya.
"Hem, ya sudah ayo kita masuk" Arlan bangun dari duduknya dan berjalan ke arah lapangan basket bersama dengan Efendi dan Erlan.
Dan sore itu sepulang kuliah Damian dan teman - temannya serta Arlan dan teman - temannya sudah berada di lapangan basket. Semua siswa yang penasaran ikut berkumpul untuk menonton dan menyaksikan keseruan permainan mereka berdua. Kasak kusuk pun terdengar kalau mereka sedang merebutkan Angel yang merupakan mahasiswa baru tercantik di kampus setelah kak Merry dan Kak Angger yang dulu telah menjadi bintang kampus.
Dengan permainan Arlan dan kedua adiknya Erlan dan Fendi menunjukkan kepemimpinan dari permainan basket yang melawan anggota tim basket kampus, walau dari anggota Arlan lainnya tak begitu pandai dalam permainan namun cukup tiga orang saja sudah mampu mengalahkan permainan Damian dan timnya.
"Wao, sungguh luar biasa. Ini sungguh sangat mengejutkan, tak ku sangka ada pemain - pemain pro dari para junior, dan permainan mereka bertiga sungguh sangat unggul." ucap Anggara yang merupakan kapten dari tim basket yang kebetulan sore itu ikut datang menyaksikan permainan basket yang banyak disuarakan oleh para mahasiswa.
"Kau benar, aku tak pernah tau dan tak menyangka kalau mereka bertiga sungguh sangat luar biasa, bahkan mereka bisa membaca setiap gerakan dari lawannya. Sebenarnya dua teman mereka yang lain hanya mereka gunakan sebagai pancingan untuk mengecoh konsentrasi pemain lain karena sebenarnya mereka berdua tak memiliki permainan hanya senjata untuk ketiga orang itu saja, benar - benar pemain yang sangat luar biasa." Denis yang memiliki pengamatan tajam pun berpendapat.
"Siapa mereka sebenarnya?" Anggara bertanya karena dia merasa penasaran dan tertarik pada permainan Arlan dan kedua adiknya.
__ADS_1
"Kalau tak salah, mereka adalah orang - orang yang diberikan julukan pangeran kampus tahun ini setelah penentuan para tuan putri." jawab Denis dengan tersenyum.