
Pagi itu disebuah lapangan parkir duduk seseorang yang sejak dari tadi seolah sedang menunggu seseorang karena dari pagi tadi dia terus saja duduk dalam posisi yang sama dan tak berubah sedikit pun, dari kejauhan terdengar deru mobil dari seseorang yang ditunggunya. Dengan cepat orang itu bangun dan mendekati mobil - mobil yang baru saja masuk kelahan parkir.
"Hai si kembar dan kau." sapanya pada seseorang yang ternyata itu adalah Arlan dan Erlan dan Efendi yang baru keluar dari mobil mereka.
Ketiga pemuda itu melihat aneh ada seseorang yang menghampirinya dengan sebuah senyuman yang mengembang di bibir orang itu, dengan tatapan bingung ketiga pemuda itu berdiri tepat disamping mobil mereka masing - masing dan menatap lurus pada seseorang yang mendekati mereka.
"Halo, kalian pasti bingung kenapa aku manggil kalian bukan? Aku adalah Angga kapten dari tim basket. Bisakah aku bicara dengan kalian bertiga?" ucap Angga kepada Arlan, Erlan dan Fendi.
"Hei Fen." teriak Farel menghampiri Fendi yang terlihat berdiri disamping mobilnya.
"Hem." Fendi menoleh dan tersenyum pada Farel
"Oh maaf aku tak tau kalau ada kakak senior." Farel langsung merapat pada Fendi dan berdiri dengan diam.
"Bagaimana, apa kalian mau ikut dengan ku, karena aku sudah menunggu kalian dari tadi." ucap Angga lagi dengan nada sedikit memaksa.
Arlan tersenyum "Jika aku bilang tidak pasti kakak akan bilang kalau aku adalah orang yang kejam, karena membiarkan orang yang menunggu ku dari tadi tanpa peduli. Itu sebabnya kakak menegaskan kalau kakak sudah menungguku dari tadi iya kan." Arlan menatap Angga dengan tajam
"Gila ini anak masih kecil sudah memiliki tatapan yang mematikan." gumam Angga dalam hati.
"Katakan dulu apa tujuannya menunggu dan ingin membawaku kesuatu tempat. Apakah ingin merekrut kami untuk masuk dalam tim basket." sambung Arlan lagi
"Rupanya kalian sudah menebaknya ya, bagaimana menurut kalian?" tanya Angga tersenyum.
"Kami masih baru masuk kak dan kami adalah orang baru takutnya kami akan membuat orang - orang merasa tak nyaman pada kami." Erlan berkata dan menatap Angga.
"Maksud mu pasti Damian dan teman - temannya, jangan khawatir soal mereka. Permainan hanyalah permainan tak ada hubungannya dengan urusan kalian berdua." jelas Angga.
Arlan, Erlan dan Fendi saling tatap satu sama lain. Sementara Farel yang ada disamping Fendi hanya diam menatap mereka semua. Sedangkan Angga sangat berharap kalau mereka bertiga mau dan menyetujui keinginannya untuk merekrut mereka dalam tim, karena Angga sangat tertarik dengan permainan mereka saat melawan Damian kemaren sore.
"Aku rasa tak ada salahnya kak dicoba, hitung - hitung membuatnya senang karena menunggu kita dari tadi." ucap Fendi pada Arlan
"Baiklah, akan kami coba tapi jika kami tak memiliki kecocokan didalam tim maka kami tak mau dan pada saat itu tolong jangan halangi kami bagaimana, setuju?" Arlan berkata dan membuat kesepakatan.
Terlihat Angga sedikit berfikir, "Baiklah aku setuju." akhirnya Angga menyetujuinya karena dia ingin agar ketiga orang itu bergabung dengan tim basket.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kami ke kelas dulu karena kami ada kelas pagi ini." Arlan berkata dan berjalan melewati Angga.
"Ku tunggu nanti sore di lapangan." Angga berteriak dengan senang.
"Hem." Erlan menjawab dengan gumaman dan lambaian tangannya
"Mereka benar - benar kembar yang mematikan dan yang satunya bagai perisai diantara mereka berdua, sifatnya sungguh sama persis dan tatapannya sangat tajam dan mengintimidasi. Sungguh sangat pantas disebut sebagai pangeran kampus ini." Angga bergumam dan berlalu pergi dari parkiran.
Sesuai dengan undangan yang tadi pagi diungkapkan oleh Angga. Arlan, Erlan, Efendi dan ketiga temannya yang lain datang ke lapangan basket untuk menemui Angga. Terlihat semua anggota dari tim basket berkumpul untuk latihan bersama.
Melihat Arlan dan yang lainnya datang dan masuk kedalam lapangan membuat seseorang menatap penuh dengan permusuhan, orang yang berdiri didekat pintu masuk lain dari lapangan itu melipat kedua tangannya di dada dan mendengus kesal.
"Oh akhirnya kalian datang, aku sudah menunggu dari tadi." Angga langsung lari mendekati Arlan dan yang lainnya.
"Maaf kak, kami baru bisa datang karena pelajaran baru selesai." jelas Efendi mewakili kedua kakak kembarnya.
"Iya tidak apa, ayo aku kenalkan dengan anggota yang lainnya." Angga membawah Arlan dan saudaranya untuk mengenal anggota tim basket lainnya.
"Ga, apa - apa an ini semua hah?! Kenapa mereka ada di sini dan untuk apa kau mengumpulkan kita semua hanya untuk melihat mereka saja, benar - benar gak penting." kesal Damian pada Angga.
"Kau, masih junior dan kau harusnya menghormati aku sebagai seniormu." Damian mendorong Arlan.
"Haruskah menggunakan kekuatan hah?! Jika kau berani maka gunakan kekuatan mu itu untuk mengalahkan ku dalam permainan." Erlan menahan tubuh Arlan dan menantang Damian.
"Eh sudah - sudah, jangan bertengkar. Dan kau Dam aku yang mengundang mereka jadi kau harus menghormati aku sebagai kapten." Angga berkata dengan tegas.
"Cih." Damian meninggalkan lapangan
"Oh iya, mereka adalah mahasiswa baru dari jurusan bisnis yang tadi aku ceritakan pada kalian. Aku sudah menyaksikan permainan mereka saat bertanding dengan Damian kemaren sore, cuma aku ingin kalian menilai sendiri kemampuan mereka, jadi aku mengundang mereka untuk berlatih dengan kita hari ini." jelas Angga pada anggotanya yang lain.
"Ya aku tau, mereka adalah si kembar dan si polos yang mendapatkan julukan pangeran kampus tahun ini." ucap Rudi dengan senyuman ramah.
"Ok, ayo kita latihan dan kalian tak perlu sungkan dengan kami, jadi tunjukkan saja kemampuan kalian untuk melawan kami agar kami bisa tau tingkat kemampuan permainan kalian." Anton juga ikut bicara karena dia juga penasaran dengan cerita dari Angga.
"Kalau begitu kami tak akan sungkan lagi." Arlan melipat lengan bajunya begitu juga dengan Fendi dan Erlan.
__ADS_1
"Hei, coba lihat bukankah mereka adalah para pangeran kampus tahun ini mereka sedang bermain basket dengan anggota basket lainnya ada apa ya? Apakah mereka akan bergabung dengan tim basket." Linda yang melintas di lapangan setelah dari perpustakaan
"Hem, mereka terlihat sangat bersemangat dan menikmati permainan mereka." ucap Arlin yang juga melihat permainan mereka semua.
Sorak dan teriakan dari orang - orang yang menyaksikan permainan Arlan dan anggota tim basket lainnya telah membuat semua orang tertarik untuk menyaksikannya. Banyak dari mereka adalah para mahasiswa wanita, suara teriakan dan tepuk tangan mereka terdengar menggema memenuhi seluruh lapangan basket siang itu.
"Sudah ayo pulang aku ingin segerah merebahkan tubuh ku." Arlin berkata dan meninggalkan lapangan basket.
"Tolong maafkan aku, ah." teriak seseorang terdengar dari belakang kampus dan Arlin yang penasaran pun perlahan melihat siapa orang yang sedang teriak - teriak.
"Andi, Jefri, kenapa mereka diikat dan dipukuli apa salah mereka?" Arlin bertanya - tanya dan merasa kesal.
"Tunggu aku sudah berjanji pada mama kalau aku tak akan berkelahi di tempat pendidikan, tapi aku harus membantu kedua teman - teman ku." Arlin langsung mendekati orang - orang yang sedang membuli Jefri dan juga Andi teman - teman Arlin.
"Hei apa yang kalian lakukan ini?" Arlin berteriak dan mendekati orang - orang itu.
"Fe, kenapa kamu kesini?" Jefri melihat dan menatap Arlin dengan khawatir.
"Oh maaf aku tadi berjalan dan mendengar suara teriakan jadi aku penasaran." jawab Arlin polos.
Beril, Rofek, Rudi serta Angger, Wardani dan Merry mereka sedang mempermainkan Jefri dan Andi yang terlihat sudah penuh dengan noda dan juga basah kuyup karena mereka menyemprotkan air dan menaburkan tepung sama telur pada tubuh mereka berdua. Arlin hanya bisa menahan diri karena dia tak ingin mengingkari janjinya sama sang mama.
"Eh, Fe coba lihat itu sepertinya ada tontonan bagus." Sandi yang ada dilantai tiga gedung kampus itu melihat orang - orang yang sedang membuli orang lainnya.
Ya, karena pagi itu Ferdi dan kedua temannya telah resmi mulai masuk kampus itu sehingga siang itu mereka yang sedang berjalan - jalan untuk melihat kampus itu jadi bisa menyaksikan tontonan menarik bagi kedua teman Ferdi.
"Oh wau, keren sekali gadis itu. Dia terlihat biasa dan tak berdaya namun dia bisa dengan cepat menghindari serangan lawannya, dan sepertinya dia mempermainkan lawannya." Sandi terlihat sangat tertarik dengan Arlin yang sedang menyamar dan terus menghindari setiap pukulan atau lemparan dengan menunduk dan yang lainnya.
"Sepertinya dia bukan gadis biasa, caranya menghindari segala serangan lawannya terlihat sangat natural, seolah - olah dia tanpa sengaja terhindar padahal dia sudah memperhitungkannya." Dendi pun ikutan menyaksikan
"Kalian ini sama dengan para pembuat onar itu, jika kalian ingin menjadi pahlawan maka bantulah mereka, jika tidak jangan tertawaan mereka. Kalian tertawa diatas penderitaan orang lain ini namanya." Ferdi menegur kedua temannya.
"Aku hanya ingin melihat aksi dari gadis yang terlihat biasa dan culun itu, dia sungguh sangat menarik" Sandi berkata dan tersenyum.
"Siapa mereka dan kenapa mereka suka sekali menganiaya orang yang lemah." Ferdi ikutan melihat.
__ADS_1
"Terlihat jelas kalau gadis itu bisa bertarung tapi kenapa dia hanya menghindar saja dari tadi." Ferdi pun jadi ikutan penasaran, dan kedua tanya yang melihat itu tersenyum.