Istri Burik Berubah Cantik Karena Penghinaan Suami

Istri Burik Berubah Cantik Karena Penghinaan Suami
akan kurusak kebahagian mu asih


__ADS_3

Tak terkecuali tatapan tajam seseorang dari pintu masuk rumah sakit. Tatapan yang menusuk, iri, tidak suka melihat orang lain bahagia. Tatapan yang penuh dendam.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


( Adit pov)


" Mana hasil testpack kemarin dek? " Tanya ku kepada dahlia yang baru saja selesai mandi.


Tubuh serta kemolekannya memang sangat rupawan di banding dengan Asih saat ia masih menjadi istri ku.


Liat saja tubuhnya yang masih terbalut handuk, lekuk nya sungguh menggoda iman. Pergunungan yang menjulang, padat serta kenyal itu membuat ku terbayang bayang akan malam mesrah kami.


Namun hingga saat ini, tubuh moleknya belum memberikan aku keturunan. Padahal intensitas kami melakukan hubungan bisa di bilang sangat intens, hampir tiap malam kami melakukannya.


Dahlia masih membisu, tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan ku. Lantas ku tarik tangannya yang sedang mencari pakaian dalam lemari.


" Apa sih mas, gak liat aku lagi ngambil baju. " Sentak nya berusaha melepaskan genggaman tangan ku.


" Jawab dulu, mana hasil testpack kemarin. Apa hasilnya, kenapa kamu tidak ngasih tau mas. " Ucap ku masih menahan emosi.


Bukan hanya sekali ini dahlia menyembunyikan alat tes kehamilan itu, sudah berulang kali. Dan hasilnya selalu saja sama. Negatif.


Dreet... Drett... Drett... Drett...


Kali ini selamat kamu dahlia, aku menggapai handphone yang bergetar di atas meja. Panggilan masuk big bos tertera di sana. Ku geser tombol hijau di layar handphone


( hallo, ada apa pak)


{ sudah berapa hari kamu tidak ada di kantor. Sudah bosen kerja, }


Sentak bos ku, yang memang sangat menakutkan jika marah. Namun sangat baik jika kita menuruti semua mau nya.


( maaf pak tapi, kemarin saya sudah mengajukan cuti ke mirna, saya gak masuk bukan tanpa izin pak, surat cuti sudah di tanda tangani oleh bapak sendiri.)


Alasan ku, dan memang sebelum izin kemarin aku sudah meminta mirna membuatkan surat izin cuti. Namun bodoh nya aku belum benar benar memastikan surat itu sudah di tanda tangani atau belum.


{ saya tidak pernah menandatangani surat cuti anda, dan perihal apa yang membuat anda cuti? }


Seperti bongkahan batu menghantam hatiku. Belum di tanda tangani padahal aku sudah izin lebih dari tiga hari. Dan lagi, alasan apapun yang aku katakan sekarang akan sangat bermasalah kedepannya.


( saya izin libur..... )


{ libur, orang di kantor sibuk semua dan kamu izin hanya untuk libur. Baiklah izin libur mu di perpanjang. Selamat berlibur selamanya }


Belum selesai pembicaraan ku, big bos memutus panggilan telpon.


Tut... Tut.. Tut.


Telpon di putus sepihak, keterlaluan si mirna. Padahal jelas jelas kemarin aku meminta kepadanya mengurus surat cuti, dan dia sendiri bilang suratnya sudah di tanda tangani, beres. Kebangetan janda satu itu.


Adit mendial nomor mirna. Tapi sebelum itu ia melirik sana sini.


( halo mirna, lo gimana sih. Katanya kemarin surat cuti gue dah di tanda tangani sm big bos, kenapa sekrang bos bilang gak ada. Jangan gitu jadi orang, gue dah bayar mahal nih ke lo)


( apanya yang mahal, orang lo juga menikmati tubuh gue. Mana utang lo bayar dulu. Udah gue bilangin bayar dulu utang lo, baru gue mau urus tu surat cuti.)


( kapan lo bilang gitu, mana ada. Jangan buat buat ya lo, gue ad rekaman kita lagi melakukan nya. Sampe gue di pecat sama bos, gue sebar tu rekaman sama semua orang)

__ADS_1


( sebar aja semau lo, hutang ya tetap hutang. Bayar. Jangan gitu lo, hutang lo sama gue banyak, sampe video itu tersebar. Istri, ibu serta semua orang yang mengenal baik diri lo bakalan tau lo itu lelaki macam apa. Sebar aja, gue tunggu itikad baik lo buat bayar hutang. Urusan lo sama big bos, bukan urusan gue)


Tut.. Tut...


Panggilan terputus.


Gila yang bener aja, nekad banget si mirna. Gimana ini, gimana kalo beneran di pecat sama bos. Mana nyari kerjaan sekarang susah, ..


Gdubrak...


Sialan apa lagi itu, bikin kaget aja.


" Aditt..... " Teriak ibu yang melahirkan ku.


Ia memakai daster yang sudah bolong sana sini. Kasihan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. Keadaan keuangan kami sekarang benar benar menghawatirkan.


Ibu tidak lagi mengontrak terpisah, baik ibu maupun Tri sekarang kami tinggal di rumah yang sama.


" Ada apa bu? " Tanya ku sedikit malas meladeni nya. Pasti ujung ujung nya minta uang.


" Adek mu sih Tri mau bayaran uang semester. Dia belom gajian, pinjemin dulu uang kalian. Nanti kalo ibu ada uang, ibu ganti. " Pintanya yang duduk berhadapan dengan ku.


Dahlia yang baru saja keluar kamar menoleh ke arah kami, raut tak senang nya terpancar dengan sangat jelas. " Kapan sih ibu minjem uang itu di kembaliin? " Sindir nya yang membelakangi ibu.


Ibu menautkan kedua alisnya " Kamu itu, ibu ini orang tua nya Adit. Sudah menjadi hak nya Adit memberi ibu dan Tri uang. Kamu juga harusnya bisa membantu keuangan Adit. Jangan cuma lenggak lenggok di rumah, suami kerja sendirian. Taunya duduk di depan meja rias. " Ibu menasehati dahlia.


Ya, sebagai suami aku juga berharap dahlia bisa membantu keadaan keuangan keluarga ini. Minimal untuk makan sehari hari, seperti asih dulu, dirinya membantu keuangan keluarga. Menjadi buruh cuci.


" Loh kok aku yang harus berkorban, harusnya ibu sama Tri yang sadar diri. Kalian yang ikut tinggal disini, selalu minta banyak hal. " Lirih dahlia yang tak takut melihat aku melotot ke arahnya.


" Dahlia. " Panggil ku memperingatinya,


Wajah ibu yang semula cemberut kini tersenyum. " Dua juta aja dit, " Sahutnya santai.


Aku membulatkan mata, dua juta. Untuk makan besok pun aku masih bingung mau meminjam uang siapa, dan ibu dengan santai minta uang dua juta.


" Banyak banget bu, Adit mana ada uang sebanyak itu. " Jawab ku apa adanya.


Dahlia masih setia berdiri di depan kamar, mendengar obrolan kami.


Ibu mendengus kasar " Harus ada. Kan mas kawin dahlia masih ada, gadaikan saja dulu. Nanti ibu ganti. Gimana nasip adek mu, kalo putus sekolah, " Aku terdiam. Iya memang dari kami berdua, pendidikan Tri lebih baik dari pada ku, aku hanya tamat SMA sedangkan Tri sedang di bangku perkuliahan.


" Apa, dahlia gak mau. Ini punya dahlia, iya kalo nanti ibu ganti. Kalo nggak gimana nasip mas kawin dahlia. Sejak kapan juga ibu minjem uang di pulangin, gak pernah kan. " Sentak dahlia yang langsung membanting pintu kamar dan masuk ke dalamnya.


Baik aku dan ibu sama sama berpikir keras. Jalan keluar apa yang terbaik saat ini, karena jujur saja. Aku sudah tidak punya uang sama sekali, belum lagi kerjaan yang di ujung tanduk.


" Adit mau keluar dulu bu, suntuk. " Ak berdiri seraya mengambil kunci motor.


" Jadi gimana nasip adek mu dit? " Tanya ibu untuk kesekian kalinya.


" Gak tau bu, jangan ganggu Adit. Adit lagi pusing, mana Adit sudah di pecat dari tempat kerjaan. Arrrggghhh, " Sentak Adit meninggalkan bu sumi duduk di sofa ruang tamu sendirian.


Gdubrak... Pintu kamar di banting dahlia.


" Kamu di pecat mas? " Tanya nya penuh curiga.


Aku hanya mengangguk menyiakan. " Kamu harus cari kerja dek, bantu keuangan di rumah. Gak mungkin mas suruh ibu kerja, ibu sudah tua dek. " Bisik ku perlahan mencoba membuatnya mengerti.

__ADS_1


" Adek gak mau mas, sebelum menikah adek sudah bilang gak mau kerja, mas sendiri yang bilang kalo adek gak boleh kerja. Tapi sekarang, mas suruh adek kerja. Adek gak mau, adek menikah biar bisa bahagia. Kalo jadi nya gini mendingan adek gak usah menikah sekalian. " Ucapnya penuh emosi yang diiringi aliran air mata.


Bukan kah membangun rumah tangga itu untuk saling menguatkan, di saat keadaan ku terpuruk dahlia malah membuatnya semakin terpuruk. Ingin rasanya aku memaki maki dirinya, tapi bayangan bapak nya dahlia yang sangar membuat nyali ku ciut.


" Bahagia kata mu, maka nya kasih aku keturunan. Bukannya anak itu pembawa rejeki. Siapa tau kalo sudah punya anak, rejeki kita mengalir kamu gak perlu kerja cukup di rumah aja. Pikir kan itu, jangan cuma menuntut ini itu. " Sentak ku pada akhirnya.


Ia kembali menangis dan masuk ke dalam kamar. Ibu yang melihat pertengkaran kami biasa saja, tak heran memang. Karena hampir setiap hari kami bertengkar.


Benar juga, bukan kah anak pembawa rejeki. Siapa tau jika dahlia melahirkan anak untuk ku, rejeki ku mengalir seperti air. Iya... Aku harus mencari cara supaya dahlia cepat hamil.


..........


Ku matikan mesin motor di depan sebuah rumah cukup mewah.


Enggan rasanya masuk ke dalam perkarangan rumah ini, keadaan ekonomi keluarga memaksa ku mengambil jalan nekad ini.


Bel depan pagar yang sudah ku tekan menimbulkan suara cukup besar, menandakan jika ada seseorang yang menunggu di depan halaman.


Seorang pria tua berjalan menuju ke arah ku. " Maaf bapak mencari siapa ya? " Tanya nya ketika sudah sampai.


" Maaf Pak, ini benar rumah pak gomlo? "


Bapak tua itu mengangguk mengiyakan. " Ada perlu apa ya pak ? "


" Saya mau minjam uang pak, boleh saya masuk dulu. " Pinta ku, yang benar saja masa ngobrol nya di luar. Apa biar semua orang tau Adit meminjam uang di renternir.


Orang tua itu membuka pintu pagar, mempersilakan aku masuk ke dalam.


Setengah jam lebih, aku berada di dalam rumah tergolong mewah di tempat tinggal ku ini. Dengan jaminan motor, aku meminjam uang 8 juta kepada pak gomlo.


Segera ku bawa dahlia ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.


Pemandangan pertama kali yang kulihat sungguh membuat dada ini bergetar hebat.


Asih dan tiara yang sedang tertawa degan salah seorang yang bisa kupastikan dokter rumah sakit ini. Liat saja kamu Asih, akan ku rusak kebahagiaan mu.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


hollaa kk semua.


seperti biasa.


jempol mu membawa kebahagian di hati ku kk hehe 😘🥰


jangan lupa meninggalkan jejak ya ka


vote


like


love


favorite


comment


sdh cukup membuat othor semangat ngetik 😭😭🤧🤧

__ADS_1


terimakasih dukungannya selalu kakak... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


always love you guys 🥰


__ADS_2