
David berdiri, tersenyum manis sekali. membuat jantung asih berdetak tak karuan.
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
( Asih pov)
Apa yang terjadi padaku. Mengapa jantung ini bergemuruh, rasanya seluruh badan ku panas. Tuhan ku mohon, jauhkan lah pikiran itu dari padaku, aku hanya ingin membesarkan tiara seorang diri.
Senyumnya yang memang sangat menawan, kontras dengan wajah nya yang tergolong sangat tampan mampu membuat seluruh wanita antri di belakang nya. Namun itu tidak boleh terjadi keapdaku, aku memiliki seorang anak perempuan. Cukup dengan membesarkan tiara hidupku sudah sangat berwarna.
" Terimakasih dokter David. Dokter sungguh baik. Saya tidak tau harus membalas nya dengan apa, " Ucapku pada dokter David.
Sungguh tak enak rasanya mendapat perlakuan spesial dari dokter muda, apalagi dengan status ku yang seorang janda anak satu. Selama tiara di rawat, dokter David selalu berkunjung di jam yang sama setiap harinya. Bukan tak pernah kularang, sering dan hampir tiap hari aku melarangnya datang, karena tatapan dari pada suster suster rumah sakit yang sangat tidak bersahabat pada kami.
Pernah sekali aku mendengar pembicaraan para suster di lorong rumah sakit. Mereka membicarakan aku yang seorang janda menggoda dokter David, karena selama mereka di rumah sakit tak pernah dokter muda itu berkunjung ke kamar pasien. Dan pernah sekali juga aku mendengar jika dokter David adalah anak pemilik dari rumah sakit ini.
Pantas saja waktu hari pertama tiara di rawat dan saat dokter David lewat mereka akan sangat hormat padanya, dan semua gunjingan aneh jatuh pada ku, yang seorang janda anak satu. Haruskah aku marah??? Tidak, aku tak bisa menutup mulut semua orang, tapi aku bisa menutup telinga ku akan semua perkataan tak enak mereka.
" Tak perlu sungkan asih, baik adalah nama tengah ku... Hehe " Canda nya.
Kami berjalan beriringan, entah apa lagi yang akan di katakan para suster melihat kami berjalan seperti ini.
" Setelah ini kamu mau kemana asih? " Tanya dokter David.
" Kamar rawat inap mbak Ratna. " Jawab ku sesingkat mungkin tanpa embel embel mengajak nya ikut bersama kami.
Dokter David sekali lagi tersenyum " Pas sekali, sekarang waktunya jam besuk pasien. Saya juga harus membesuk pasien, mari sekalian saya antar kesana. " Ucapnya setelah melihat jam tangan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk menyiakan ajakan dokter David, " Dok, mungkin saya bukan lah kerabat dekat atau saudara mbak Ratna, tapi akan kan mbak Ratna bisa kembali normal. Sudah tiga hari beliau koma. Bukankah itu hanya pendarahan normal. Pendarahan biasa, " Lirih ku miris melihat kondisi mbak Ratna yang sampai saat ini belum juga sadar.
Dokter David menghela nafas berat " Maaf asih, kita sudah berusaha semampunya, pendarahan yang dialami saudara Ratna bukanlah pendarahan biasa. Untung saja saat itu kamu segera membawanya kemari. Jika tidak, sedih mengatakannya. Mungkin ibu serta bayi yang di kandung tidak akan tertolong. Kamu sudah melakukan yang terbaik, sekarang kita hanya bisa berdoa memohon kepada sang Pencipta. Berharap mujizatnya terjadi, sabar ya. Tapi kabar baiknya saudara Ratna sudah tidak dalam keadaan darurat. " Jelas dokter muda ini.
Entah harus bahagiakah aku, atau harus sedihkah. Tapi mbak, kamu harus kuat, kamu harus berjuang. Mas rayen sungguh membutuhkan dirimu dsni mbak. Doa ku dalam hati.
Tak terasa pintu kamar rawat inap mbak Ratna sudah terlihat. Obrolan sepanjang jalan membuat keduanya tak sadar jika mereka harus segera berpisah.
Suami Ratna terlihat sangat berantakan, jauh dari kata tampan seperti biasanya
" Mas rayen " Sapa ku melihatnya duduk terbengong di depan pintu ruang ICU.
" Loh Asih, pak dokter " Sahutnya membalas, dokter David hanya terseyum singkat.
Aku ikut duduk di samping mas rayen, sedangkan dokter David masuk ke dalam ruang rawat Ratna dengan pakaian khusus.
__ADS_1
Kami hanya bisa melihat dari balik kaca.
" Kapan mbak mu bisa siuman ya sih, mas kangen banget. Kangen bawelnya dia, kangen manjanya dia, cerewetnya dia mas kangen. " Ujar mas rayen dengan air mata yang menetes.
Sesak rasanya dada ini mendengar keluh kesah suami mbak Ratna. Beliau sungguh sangat mencintai mbak Ratna, kadang kemesraan mereka membuatku iri dan bahagia disaat yang bersamaan. Mbak ayo semangat, banyak yang menunggu mu di sini mbak, terutama suami mu. Berjuang mbak, ucap ku dalam hati.
" Sabar mas, mbak Ratna pasti lagi berjuang saat ini. Mas harus kuat, serahkan semuanya pada sang Pencipta. Asih juga sedih, kangen sekali canda gurau mbak.. Nasihatnya, sekarang hanya bisa melihatnya terbaring dengan mata tertutup, asih... " Tenggorokan ku terasa tercekat. Tak ada kata lagi yang mampu keluar dari mulutku, hanya air mata yang mewakili betapa sesak nya dada ini.
Dokter David melihat kami dari balik kaca, dengan cepat aku menyeka air mata. Tak lama handle pintu bergerak, dokter David telah berganti pakaian ketika keluar dari ruangan mbak Ratna.
" Kamu kenapa? " Tanya dokter David padaku.
" Aku? " Tanya ku sedikit bingung. Kenapa dengan aku??.
Ia menautkan kedua alisnya " Iya kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? "
" Sedih ngeliat kondisi mbak Ratna yang hanya terbaring di tempat tidur. " Lirih ku. Kulirik kursi roda tiara yang sekarang di ambil alih oleh dokter David. Tiara tertidur pulas di sana. Pantas saja sedari tadi tak ada suara bising anak kecil.
" Mas, asih pamit pulang dulu ya. Kasian tiara tertidur di kursi roda. " Pamit ku pada mas rayen.
" Iya, kasihan tiara, kalian hati hati ya. " Balas suami mbak Ratna.
" Kalo ada apa apa kabari ya mas, " Ucap ku sebelum meninggalkan mas rayen sendirian.
Ia hanya mengangguk sembari tersenyum. Sungguh wajah tampan dan tegas nya seakan hilang dari peredaran Bumi, tergantikan wajah lesu, seakan harapan hidupnya hilang sebagian. Miris memang. Tapi itulah cinta sejati, saat cinta nya terluka maka pasangannya ikut menderita. Berjuang mbak, mas rayen sungguh mencintai mu.
Dokter David sungguh mengantar kami hingga parkiran, bahkan dirinya yang menggendong tiara masuk ke dalam mobil. Perlakuan nya, sungguh membuat beban dihati. Ntah apa maksud dari perlakuan nya.
Sepanjang perjalanan, tiara masih tertidur dengan pulas. Wajah cantiknya, sungguh menggemaskan. Duplikat dari diriku. Manis, anak mama.
.......
( author pov)
" Gimana, udah siap belom? " Tanya Adit pada dahlia.
Hari ini, rencana yang sempat di bicarakan oleh Adit akan mereka laksanakan. Entah apa yang di pikirkan mantan suami asih ini, menculik anaknya sendiri. Hanya orang tua gila yang mampu dan mau melakukan nya.
Hampir semalaman ia memikirkan cara menculik anak nya sendiri, masih duduk di kursi roda dengan keadaan fisik yang baru saja selesai operasi tak melunturkan niatan Adit menculik anaknya sendiri.
Banyak cara yang di rencananya, layaknya perancang perang ia memikirkan segala kondisi dan cara yang praktis agar tidak ketahuan asih dan mudah di jalankan oleh dahlia.
Dirinya tak mau melakukan hal keji itu, dahlia yang di liputi rasa bersalah karena dirinya mandul menjadi sasaran empuk Adit dalam melaksanakan rencana gilanya.
__ADS_1
Siap sudah semuanya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Sisa uang yang di pinjamnya kemarin di pakainya sebagian besar untuk menjalankan rencana ini. Rencana penculikan tiara.
" Adek takut mas, nanti kalo sampai ketauan nasip adek gimana mas.. " Lirih dahlia yang sedari tadi sibuk mengenggam tangannya.
Adit menampakkan wajah seram untuk kedua kalinya " Kan sudah di jelaskan rencananya, kamu ini. Kalo bukan karena kamu yang mandul rencana ini tidak akan pernah ada. Sudah jalani aja seperti rencana. Lagian kalo kamu gak berhasil, dirinya juga gak bakalan tau. Kan udah di samarin wajah nya, jangan gugupan gitu. Bisa bisa beneran ketauan. Jangan bodoh dahlia, kalo bukan dari rencana ini gimana mas mau bayar hutang, " Maki Adit yang menusuk relung hati dahlia paling dalam.
Lagi lagi, Adit menyalahkannya karena mandul, tidak bisa memberikan nya keturunan.
Dahlia hanya terdiam, tak meresponi perkataan Adit. Sakit hati yang begitu dalam, mampu membungkam mulutnya.
Saat semua nya sedang sibuk, mobil asih lewat di depan mereka.
Adit sangat tau dengan jelas jika itu kendaraan asih, karena asih hanya punya satu mobil.
Adit memberi kode kepada semua orang yang akan terlibat dalam rencana gilanya untuk membuntuti asih dari belakang.
Wanita yang dulu sangat di cintainya, kini menjadi incarannya menguras hartanha . Gila memang, tapi itulah faktanya sekarang.
Mobil asih berhenti di halaman yang biasa ia parkir. Adit memberikan kode kepada seluruh orang yang di sewanya.
Jalanan ini sepi di saat saat seperti ini, sangat mudah bagi Adit melaksanakan rencana gilanya.
Asih membuka pintu mobilnya, seraya berjalan ke pintu sebelah mobil untuk menggendong tiara masuk ke dalam rumah.
Ketika dirinya memegang handle pintu jok tiara, banyak pria berbadan besar menyergapnya. Ia di bekap dari belakang, asih berusaha memberontak.
Bruukk...
Hentam keras di belakang kepalanya membuat asih pingsan tak sadarkan diri. Perlahan pandangannya kabur, kesadarannya sirna. Hingga semuanya gelap. Dan dirinya terjatuh di samping mobil merahnya seorang diri.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
sorry kk up ny malem bnget ππ
othor baru pulang dari luar.
mandi, langsung ngetik... rasanya sesuatu banget ππ
seperti biasa... jangan lupa meninggalkan jejak ya kk ππ
jempol mu bisa membuat author bahagia.
tab love. comment, vote, and + favorite
__ADS_1
thank you kk readers πππ
love sekebon cabe π π π₯°