Istri Burik Berubah Cantik Karena Penghinaan Suami

Istri Burik Berubah Cantik Karena Penghinaan Suami
Ratna melahirkan.


__ADS_3

papa mertuanya segera mengambil kunci mobil, tanpa menunggu sang putra pulang. kedua orang tua rayen membawa menantu kesayangan mereka ke rumah sakit.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Disinilah mereka, di ruang rawat inap. suami Ratna memaksa untuk langsung di rawat inap, walaupun saat ini jalan lahir bayi baru bukaan dua.


lebih aman di rumah sakit dari pada di rumah, putus suaminya. Ratna hanya menurut, walaupun dirinya merasa lebih nyaman jika berada dirumah dari pada di rumah sakit.


" sayang, kenapa tidak ngabarin sih kalo kamu sakit nya udah dari pagi? " nada khawatir mengiringi pertanyaan suami Ratna.


Ratna mengelus kepala suaminya dengan sayang " aku gak mau buat kamu khawatir sayang, lagian sakit nya juga masih bisa di tahan hehe.. " seru Ratna masih santai padahal saat ini perutnya tengah melilit dengan sangat kuatp.


begini rasanya melahirkan. kontraksi nya ya Tuhan sungguh menyiksa. sakit banget. kapan selesai penderitaan ini, ayo keluar nak. jangan siksa mama. batin Ratna menjerit.


" masih sakit kah? " tanya rayen, raut khawatir nya tak bisa di tutupi.


Ratna menganggukan kepalanya " iya sakit banget malahan. haha " kini raut Ratna berubah serius, sakit perut yang sangat sangat melilit tak bisa di pungkiri lagi.


ia memegangi perutnya, mengelus elus di sana.


suami Ratna segera berdiri, hendak melapor pada dokter. tiba tiba saja tangan nya di pegang Ratna.


" mau kemana sayang. disini saja ya... tolong kamu elus perut ku. mungkin anak mu ini bisa sedikit santai, sakit banget kali ini. " keluh Ratna


rayen memencet tombol emergency sebelum mendaratkan tangannya di perut besar Ratna.


Dan benar saja, rasa sakit itu sedikit meredah, rayen mengelus perut Ratna sembari membisikan kata kata penenang untuk anak nya.


" dedek, jangan buat mama sakit ya sayang. kasian mama kesakitan kalo dedek nakal di dalam sana. Nanti kalo dedek sudah keluar, nakalnya sama papa aja ya. Jangan buat mama kesakitan ya sayang, nurut ya. " bisik rayen sembari mencium perut Ratna penuh kasih sayang.


hentakan itu berkurang, bahkan nyaris tidak terasa. sungguh luar biasa.


" mas, beneran berhasil loh. gak sakit lagi, makasih sayang. " Ratna mengusap pelan air mata nya.


rayen mendekat ke arah istri tercinta nya, ia mencium dahi istri tercinta nya. mengucapkan terimakasih, kemudian turun ke hidung, dan terkahir turun ke bibir ranum Ratna. Tempat dimana kesukaannya sebelum tidur malam, sebelum beraktifitas pagi hari.


tendangan di perut Ratna kembali terasa, namun tidak sekuat yang pertama.

__ADS_1


" yang, baby nya cemburu loh. dari tadi perut aku di tendang terus, papa cium mama dedek cemburu. " ucap Ratna menirukan suara anak kecil.


rayen tertawa, mendengar seruan manja Ratna.


kreekkk.... pintu ruangan Ratna terbuka.


para suster masuk ke dalam kamar.


" ada yang bisa saya bantu pak, tadi bapak menekan tombol emergency ya.. ? tanya suster rumah sakit sopan.


rayen mengangguk lantas berdiri memberi ruang kepada para suster untuk memeriksa istrinya.


" iya Sus, tadi perut istri saya sakit sekali. Boleh tolong di cek sudah bisa lahiran belum suster, " pinta rayen pada suster yang mengecek Ratna sebelum masuk ke ruangan ini.


suster mengangguk, ia mengambil sarung tangan karet dan mengarahkan Ratna untuk membuka kedua kakinya.


" sudah bukaan tujuh pak, sebentar lagi ibu akan melahirkan. tinggal tiga bukaan lagi. sabar ya ibu, pak. baiklah saya permisi, " jelasnya sopan sebelum meninggalkan tempat ini.


rayen membantu Ratna tidur ke posisi semula, Ratna tidak di perbolehkan memakai celana, ia mengenakan sarung atau kain untuk memperlancar proses persalinan.


rayen membuka pintu melihat siapa yang ada di baliknya. suster yang memeriksa Ratna,


" maaf Pak, jika kontraksi terus berlanjut bapak bisa mengajak ibu berjalan jalan sebentar disini. untuk memperlancar proses persalinan. " ujar suster sebelum permisi meninggalkan tempat.


rayen mengajak Ratna berjalan jalan di dalam kamar, ia menuntun Ratna dengan sangat sabar, sesekali ia mengecup nakal pipi Ratna.


kontraksi menyerang kembali, namun kali ini lebih menyakitkan dari sebelumnya. Ratna mencengkram kuat lengan rayen. ia mengadu dan meminta di baringkan ke tempat tidur.


" mas, panggil suster nya tadi mas. kayak nya dah mau lahiran ini, sakit banget mas. " teriak Ratna di akhir kalimat, ia benar benar tidak tahan.


pergumulan di alam sana benar benar sangat menyakitkan, rayen kembali bersama para suster dan Asih. ia bertemu Asih di konter perawat.


" mbak, ya ampun ini sudah mau keluar. " teriak Asih tak kalah heboh.


lantas suster kembali memeriksa jalan lahirnya bayi, dan benar saja, bukaan nya sudah pas. Ratna akan melahirkan.


Ratna segera di bawa ke ruang persalinan. semua suster dan dokter sibuk mempersiapkan proses persalinan Ratna. Rayen menemani Ratna selama proses persalinan. sedangkan Asih bersama orang tua dan mertua Ratna di minta menunggu di depan.

__ADS_1


" ma, mana dedek bayinya? " tanya tiara.


" dedek bayinya sebentar lagi keluar nak, " jelas Asih


tiara bingung " keluar dari mana ma, kenapa dedek bayinya harus keluar? " pertanyaan polos tiara membuat Asih bingung.


" nanti kalo tiara sudah besar, tiara bisa tau sendiri. sekarang ayo kita doa, biar dedek bayi nya cepat keluar. " ajak Asih mengadahkan kedua tangannya.


keluarga besar Ratna juga ikut memanjatkan doa untuk keselamatan bayi maupun ibu yang melahirkan.


setengah jam berlalu.


terdengar suara tangis bayi Ratna, menggema ke seluruh ruangan.


" ma. adek bayi ma.. " teriak tiara heboh, mengundang gelam tawa yang lainya.


" Suuuuttt, nanti kena marah suster loh kalo berisik. " bisik Asih.


terdengar suara lantunan Azan dari rayen. Menambah hikmat suasana yang mengharukan.


rayen keluar kamar, memberitahu kabar bahagianya.


" ma, pa... kalian dapat cucu baru. bayinya cowok, " seru rayen dengan mata yang berbinar binar.


❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄


up


up


up


hehe... subuh ya.


jangan lupa meninggalkan jejak kk semua...


love you guys 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2