
"Jadi ini semua rencana mereka kepada kita?"
"Aku sudah curiga tentang ini Mas, aku melihat seseorang yang mirip dengan kamu dan aku curiga orang tersebutlah yang ada dalam video itu kita harus masuk ke dalam ruangan Mas Frey, untuk mencari tahu Info siapakah orang tersebut!" jawab Fey.
"Kamu yakin?"
"Yakin, aku juga sudah tanya sama papi, apakah kamu punya kembaran dan Papi menjawab bahwa kamu punya kembaran Mas dan aku yakin juga, video itu adalah kembaran kamu bukan kamu dan kamu sudah mendengar sendiri kan rencana mereka?Kembaran Kamu bernama Ren dan mereka memanfaatkan situasi Ren, kita harus menemukan tempat tinggal Ren untuk menjelaskan kepada Ren bahwa dia hanya dijebak dan Ren harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri!"
Hal itu lantas membuat Zen shock, selama ini dia tidak tahu kalau dia memiliki seorang kembaran karena yang dia tahu dia hanyalah anak tunggal dari ayahnya, sebelum ayahnya menikah dengan Nyonya Reni dan ia memiliki saudara tiri yaitu Flora.
"Tapi kenapa Papi tidak pernah cerita kalau, Mas punya saudara kembar?" tanya Zen ragu.
"Pasti ada alasan Papi, untuk menyembunyikan ini Mas, kamu nggak boleh marah dulu kepada Papi, kita harus mencari tahu dulu alasannya sebelum kamu marah kepada Papi," jawab Fey menenangkan Zen.
"Mas nggak marah kepada Papi, sayang, Mas hanya nggak habis pikir kenapa Papi bisa menyembunyikan hal sebesar ini."
"Sudah kubilang Mas, ada alasannya ya udah Mas, aku akan masuk ke dalam ruangan Mas Frey, Kamu tunggu di sini ya."
Zen mengusap kepalanya, dia berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya setuju, atas rencana dari Fey masuk ke dalam ruangan Frey, untuk mencari info tentang Ren sedangkan Zen berjaga di luar.
Di dalam ruangan tersebut, Fey mencari sebuah info tentang Ren, di saat ia sibuk mencari, tiba-tiba saja Zen mengetuk pintu 3 kali sebelum akhirnya Zen pergi bersembunyi, Fey yang paham maksud dari ketukan itu, segera bersembunyi juga karena dia tahu Frey kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Dan benar saja, Frey kini masuk ke ruangannya, dia ternyata melupakan kunci mobilnya. "Kok bisa ketinggalan sih."
Setelah mengambil kunci mobilnya, Frey, kemudian kembali keluar dari ruangannya menuju lift, sementara Fey kembali melanjutkan aksinya untuk mencari info tentang Ren, untung saja ruangan Frey, tidak dilengkapi oleh smart door seperti ruangan kerja Zen di kantornya, sehingga bisa membebaskan Fey masuk ke ruangan itu.
"Kamu udah nemu belum?" tanya Zen dari luar ruangan.
"Bentar, Mas."
Fey mencari diantara beberapa kertas, di meja kerja Frey, dan akhirnya dia mendapatkan sebuah kertas berisi nomor telepon dari Ren beserta alamatnya, setelah mendapatkan itu v keluar dan menemui Zen, ia memberikan alamat dan nomor telepon itu kepada Zen agar mereka bisa menemukan tempat Ren berada.
"Ketemu?"
Fey dan Zen lalu pergi dari sana, mereka masuk ke dalam lift, kemudian keluar dari area kantor dari Frey, Untung saja Frey sudah tidak ada di sana sehingga membebaskan mereka untuk keluar.
Zen dan Fey masuk ke dalam mobil mereka dan menjalankan mobilnya menuju alamat yang mereka dapatkan.
"Alamatnya ada di perumahan xxx Mas." ujar Fey pada Zen.
"Ah, Mas tahu alamat itu."
Berbekal keyakinan dan informasi yang mereka dapatkan, mereka pun menjalankan mobilnya menuju perumahan tersebut yang jaraknya cukup jauh dari kantor Frey berada.
__ADS_1
Fey melirik jam tangan di tangannya jam tangan berwarna gold rose itu, menunjukkan pukul 02.00 siang di mana akad nikah Zen dan wanita yang mengaku dihamili oleh Zen itu, akan berlangsung jam 4 sore di mana mereka mempunyai waktu 2 jam lagi untuk menemukan Ren dan meyakinkan Ren untuk bertanggung jawab agar Zen terbebas dari tuduhannya.
Sebenarnya hati Fey merasa gelisah akan waktu ini mereka seperti dikejar deadline saja tapi tanpa sadar karena kejadian ini konflik asmara di antara keduanya bertingkat menjadi pesat, karena mereka sama-sama merasakan rasa takut kehilangan yang membuat mereka bersatu untuk mengungkap Apa yang sebenarnya terjadi dan menyerang pernikahan mereka.
"Kamu kenapa? Ada yang salah?" tanya Zen peka.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Fey menggelengkan kepalanya dia menunduk sejenak kemudian memperbaiki posisi cadarnya.
"Gapapa mas, aku takut aja kalau kita gagal dan kamu harus tetap menikahi dia."
"Kamu harus yakin, sayang, kita memang belum saling mencintai tapi Allah sudah menakdirkan kamu menjadi Bidadari Surga Mas Dan kalau kita berjodoh dari sudut manapun cara orang untuk memisahkan kita kita akan tetap bersama kamu harus yakin itu sayang."
Fey mengangguk, dia tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di bawah Zain yang sedang mengendarai mobil
•
•
•
TBC
__ADS_1