
Zen masih meneruskan perjalanannya untuk mencari Di mana keberadaan Ren, dia melirik ke kiri ke kanan setelah masuk ke jalanan di mana asrama itu berada sesuai struktur dari Mbak kasir tadi.
Zen sangat berharap kali ini dia bisa menemukan Ren, karena waktunya sudah mepet sekali, apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 03.30 di mana pasti keluarga di rumah sudah menunggu sementara keluarga pihak wanita yang mengaku dihamili oleh Zen sudah protes akan hal ini.
Setelah sekian lama melirik ke kiri dan ke kanan sembari mengendarai mobilnya, akhirnya Zen memarkirkan mobilnya di pinggir jalan untuk bertanya kepada warga sekitar tentang di mana asrama cafe tersebut.
Zen keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah toko kelontong di mana di depannya ada bapak-bapak yang sedang berkumpul dan berbincang.
"Assalamualaikum mohon maaf, numpang tanya, kalau boleh tahu asrama karyawan cafe xxx di mana ya?" tanya Zen pada sekumpulan bapak-bapak itu.
"Oalah Pak, Asrama cafe xxx itu pak di depan situ," jawab salah satu Bapak disana menunjuk asrama yang ada didepan toko ini.
"Oh sorry pak, saya nggak lihat ya terima kasih Pak atas bantuannya," jawab Zen.
__ADS_1
Zen menghela nafas lega, akhirnya dia menemukan asrama di mana Ren berada, Zen tidak kembali ke mobilnya Dia hanya langsung menyebrang karena memang asrama itu berada di depan toko ini hanya saja berseberangan jalan.
Sampainya di asrama tersebut dia disambut oleh penjaga asrama tersebut, Seorang pria yang sudah lumayan tua tapi tampak memandang Zen dengan detail.
"Loh Ren, Kok tumben rapi banget." Penjaga asrama tersebut yang mengira Zen adalah Ren karena Zen sedang berpakaian rapi yang membuat penjaga serama tersebut heran kenapa Ren tumben-tumbennya berpakaian sangat rapi.
"Maaf Pak saya Zen, bukan Ren saya kembarannya Ren, aya ke sini saya ingin mencari renta apakah benar di sini asramanya Ren?" jawab Zen tersenyum.
Zen bingung harus menunggu atau bagaimana tapi dengan keputusan yang ada membuat Zen memilih menunggu saja.
"Saya tunggu saja ya pak, capek nanti kalau bolak-balik lagi takutnya nggak ketemu."
"Boleh-boleh Mas mau masuk dulu, sini Mas sini nggak apa-apa kok masuk aja."
__ADS_1
Zen tersenyum dia hendak masuk sebenarnya Tapi mendengar suara adzan dari masjid yang terletak di samping, asrama tersebut menandakan bahwa salat ashar sudah masuk.
Zen menolak permintaan dan penawaran dari penjaga asrama itu untuk menunggu di dalam asrama, ia memilih untuk melaksanakan salat asar dan menunggu di masjid saja jikalau nanti Ren sudah pulang.
"Wah, terima kasih nih pak, tapi mohon maaf banget Pak saya mau salat dulu nanti saya balik, datang ke sini lagi, kalau Een belum pulang mungkin saya akan ke sini buat ikut mampir ke dalam asrama."
"Oh gitu toh Mas, ya udah Mas silakan mas nanti kalau sudah salat bisa datang ke sini saja saya ada di pos ya Mas," jawab penjaga itu.
Zen mengangguk, Dia kemudian berjalan ke arah Masjid yang ada di samping asrama tersebut, sesampainya di masjid dia melepas sepatunya kemudian segera mengambil air wudhu beberapa jemaah Masjid yang merupakan orang sekitar tampak memandang ke arah Zen mungkin mengira Zen adalah Ren.
Mereka terkejut mana bisa Ren yang seorang karyawan biasa berpakaian rapi seperti orang kantoran padahal yang mereka lihat adalah Zen pemikiran seperti ini sebenarnya sudah ada sejak Zen bertanya kepada bapak-bapak yang ada di depan toko kelontong.
Zen tidak terlalu memikirkan itu karena azan yang sudah selesai berkumandang serta Iqamah akan diucapkan membuat mereka harus melaksanakan salat asar.
__ADS_1