
"Kamu kenapa? Ada yang salah?" tanya Zen peka.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Fey menggelengkan kepalanya dia menunduk sejenak kemudian memperbaiki posisi cadarnya.
"Gapapa mas, aku takut aja kalau kita gagal dan kamu harus tetap menikahi dia."
"Kamu harus yakin, sayang, kita memang belum saling mencintai tapi Allah sudah menakdirkan kamu menjadi Bidadari Surga Mas Dan kalau kita berjodoh dari sudut manapun cara orang untuk memisahkan kita kita akan tetap bersama kamu harus yakin itu sayang."
Fey mengangguk, dia tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di bawah Zain yang sedang mengendarai mobil
Kini mobil Zen memasuki area perumahan yang dimaksud dalam kertas yang mereka dapatkan dari kantor Frey, mata Fey tidak henti-hentinya melihat ke kiri dan ke kanan mencari nomor rumah yang sesuai dengan kertas itu tak butuh waktu lama akhirnya mereka menemukan rumah yang disinyalir adalah rumah milik Ren.
"Mas, kayaknya di depan situ deh rumahnya soalnya nomornya itu," ujar Fey menunjuk sebuah rumah yang membuat Zen ikut menatap arah rumah itu.
"Kamu yakin Dek? Tapi kok rumahnya kayak kosong gitu ya?" tanya Zen ragu.
"Kita coba berhenti aja dulu mas, kita cek kalau nggak ada orang coba kita tanya-tanya sama tetangga sekitarnya," jawab Fey.
Zen mengangguk, dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan dekat dengan rumah tersebut, setelah terparkir dengan sempurna Zen dan Fey keluar dari mobil, dan berjalan menuju rumah itu sesampainya di depan rumah itu.
__ADS_1
Zen mengetuk pintu rumah tersebut sembari mengucapkan salam terdapat 5 kali ketukan yang sama sekali tidak membuahkan hasil karena memang rumah tersebut sudah terlihat kosong.
"Kayaknya dia nggak ada di sini dek, mungkin dia udah pindah atau bagaimana."
"Nggak mungkin pindah Mas, soalnya ini kan data terbarunya dan di kertas ini pun alamatnya yang sekarang, nggak mungkin dia pindah dalam satu hari," jawab Fey.
"Iya juga sih coba kamu tanya-tanya ke tetangga sekitarnya dia."
Fey berjalan ke rumah tetangga sekitar untuk mempertanyakan di mana Ren berada, saat Fey tiba di depan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bercerita, Fey mengucapkan salam yang kemudian dibalas salam oleh ibu-ibu tersebut
"Maaf bener ini rumahnya Pak Ren?" tanya Fey menunjuk rumah dari Ren.
"Kebetulan saya adalah iparnya Mbak, saya mau ketemu sama Pak Ren, soalnya udah lama nggak ketemu sama Pak Ren," jawab Fey pada ibu-ibu tersebut
"Oalah adik iparnya Pak Ren, toh? Pak Ren udah pindah Mbak, waktu itu dia memang tinggal di sini tapi karena dia tidak bisa bayar uang sewa rumah ini makanya dia pindah."
"Oh pindah? Kalau boleh tahu ibu-ibu tahu nggak pindahnya ke mana?" tanya Fey kembali.
"Walah kurang tahu saya tuh Mbak, kalau mbak ada nomornya bisa ditelepon dulu mbak soalnya Pak Ren, pindah pun nggak bilang-bilang nggak pamit-pamit ke kita dia sekarang Rumah itu kosong."
__ADS_1
Fey mengangguk-nganggukkan kepalanya dia mengelus kepalanya sendiri sembari pusing memikirkan di mana Ren berada sekarang.
"Ya sudah Bu, makasih ya udah mau bantuin saya permisi ya Bu, Assalamualaikum."
"Ya, ya Mbak waalaikumsalam!"
Fey kemudian berjalan kembali untuk menemui Zen yang masih berdiri di depan rumah Ren, setelah sampai di hadapan Zen, Fey mengatakan bahwa Ren sudah pindah yang membuat Zen sendiri bingung, ia melirik jam tangannya sekarang sudah jam 03.00 tepat di mana satu jam lagi akad nikahnya.
Tak lama berselang dari itu, suara ponsel berdering milik Zen berbunyi yang membuat Zen mengangkatnya sejenak.
[Halo Zen Kamu di mana keluarga dari perempuan yang kamu hamili ini udah marah-marah katanya 1 jam lagi tapi pengantin prianya tidak ada]
Ini adalah panggilan telepon dari Tuan Aldrich.
[Pih, aku ada urusan sebentar lagi pula aku nggak mau nikah sama dia Pi, Aku janji aku bakal pulang tepat waktu nggak ngapa-ngapain dan aku bakal buktiin kalau bukan aku yang hamilin dia]
[Tapi Zen-]
[Udahlah, Pi, Kalau papi nggak percaya sama aku, aku bisa berusaha sendiri buat buktiin kalau aku nggak salah]
__ADS_1
Zen langsung mematikan sambungan telepon tersebut sementara Fey menatapnya dengan pandangan sendu karena mereka tahu bahwa mereka sedang ditunggu sekarang.