
"Ah, sial bagaimana bisa Zen dan Fey tahu kalau itu adalah rencana kita?" tanya Frey kepada Flora yang kini menghadap ke arahnya
Flora menekuk wajahnya kemudian menatap nanar Frey, "Kok Lo nanya ama gue, gue aja nggak tahu gimana mereka bisa tahu, pokoknya Lo harus cari Zen, lo harus kerahin semua anak buah, Lo buat ngehalangin Zen ketemu sama Ren, Ren itu lagi fase goyang-goyangnya, sekali dia dirayu oleh Zen dia bakal Luluh!"
Frey sekarang merasa pusing, baru saja tadi mereka merayakan kemenangan mereka tapi kini mereka malah harus dihadapi sebuah fakta bahwa Zen dan Fey tidak memilih untuk menyerah malah memilih untuk berjuang mempertahankan pernikahan mereka yang membuat Frey benar-benar pusing sekarang.
"Gimana sih, kalau Zen yang kita tangkap, kita akan makin kerepotan, karena apa? Karena mereka bakal nggak jadi nikah, si Zen sama wanita ini, tapi saya ada ide, gimana kalau saya nyuruh anak buah saya, buat nangkap Ren dan nyembunyiin dia!"
"Bener juga sih kata lo, kalau Zen yang kita bawa pergi, gue takutnya malah nggak jadi Nikah Hari ini, mending lo secepatnya nyuruh anak buah lo, buat nyari keberadaannya Een dan bawa Ren secepatnya untuk sembunyi agar Zen, nggak bisa ketemu sama Ren," ujar Flora setuju atas rencana dari Frey.
Frey menggebrak meja dia menatap tajam Flora. "Kalau sampai rencana kita gagal 50 juta, yang saya kasih ke kamu itu, kamu harus kembalikan ya, jangan macam-macam dengan saya!"
"Bawel, buruan suruh anak buah Lo, cari dia daripada nanti lewat telat, mereka gagal nikah gimana, Lo bakal nyesel sendiri kan impian lo buat rebut Fey dari tangan Zen bakal gagal."
__ADS_1
Frey mengusap pelipisnya, dia meraih ponselnya kemudian menelepon seseorang yang merupakan anak buahnya, Frey tampak berbicara kepada anak buahnya untuk mencari keberadaan Ren, dan menangkap Ren untuk menyembunyikan agar Zen tidak bisa menemui Ren.
Setelah menelpon, Frey mematikan ponselnya dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam sakunya, Frey berdiri kemudian berjalan keluar dari ruangannya sementara Flora masih berada di dalam ruangan Frey, dia tampak berpikir bagaimana dia akan menjalankan rencana selanjutnya atau rencana cadangan jika saja rencana mereka ini gagal.
Di saat Frey sedang berada di luar ruangannya, dan berjalan di koridor kantornya ternyata di depannya berjalan pula Angel yang merupakan adiknya.
Gadis berdress coklat itu tampak dengan ekspresi kurang bersahabat dengan menenteng tas putihnya kini dia sudah berada dihadapan Fey.
Angel menatap nanar kakaknya, dia menghela napas sejenak, kemudian memegang tangan kakaknya. "Apa yang kakak rencanakan sebenarnya sekarang, kakak mau ngapain lagi Kakak mau ganggu kehidupan pernikahan Kak Fey dan Kak Zen?"
Frey melepaskan tangan Angel dan menatap adiknya itu dalam, benar-benar dalam sampai dia tidak bisa bertahan menatap kedua manik mata adik kesayangannya itu.
"Kamu nggak usah ikut campur, Angel, ini demi kebaikan kamu juga, kamu suka kan sama Zen, ketika nanti Fey dan Zen bercerai kamu bisa dekatin Zen, dan kakak bisa nikahi Fey, sebagai bentuk penyesalan kakak karena pernah menjual Fey kepada Zen, padahal Fey sudah mengorbankan nyawanya untuk mama kita dulu," jelas Frey.
__ADS_1
"Aku tahu niat Kakak baik, Kakak ingin membalas kebaikan kak Fey, tapi nggak gini caranya kak, ingin membalas kebaikan, tapi kakak membuat kak Fey menderita Kakak mikir nggak sih Mama juga nggak mau kalau kita begini, mama dan papa itu orang baik-baik, mama dan papa paham agama, Mama dan Papa pasti malu banget kalau tahu kakak bakal kelakuan begini," ujar Angel berusaha menasehati kakaknya.
"Kamu tuh sama ya kayak Jia, sama-sama dangkal pikirannya, Kakak heran ya, punya dua saudara perempuan, Jia saudara kembar kakak, dan kamu adek kakak, tapi kenapa sikap kalian itu persis banget, kayak Mama lemah lembut, walaupun kalian disakiti, harusnya kamu dukung kakak dong, dengan begini kamu bisa ngedapatin Zen, dan kakak bisa ngedapetin Fey, karena kakak rasa Kakak cinta sama Fey, kakak pengen memiliki v dan kakak ingin merebut Fey dari tangan Zen."
Angel tertawa sejenak, Dia memegang kakaknya. "Kakak nggak cinta sama Kak Fey, Kakak cuma obsesi pengen milikin dia, karena kakak menyesal setelah mengetahui bahwa kak Fey pernah mengorbankan nyawanya untuk mama kita."
"Emang Kakak nggak salah nilai ya, kamu dan Jia itu sama, sama-sama salah pemikirannya, Jia disakiti oleh suaminya dia tetap bertahan wanita mana yang bisa bertahan di suaminya yang begitu, sedangkan kamu orang yang kamu cinta menikah dengan orang lain tapi kamu malah membela orang tersebut yang di mana orang tersebut adalah Fey yang merupakan orang yang menikahi orang yang kamu cinta."
"Jikalau nanti aku memang akan berjodoh dengan Kak Zen, tapi ada wanita lain yang tersakiti aku nggak akan bahagia Kak lagi pula aku sudah ikhlas, Kakak nggak perlu ngelakuin ini kalau alasan kakak untuk kebaikan aku juga, Kakak nggak ngelakuin ini untuk kebaikan aku tapi ini untuk obsesi Kakak milikin kak Fey."
Frey memijat pelipisnya, dia menundukkan kepalanya kemudian mengangkat kepalanya menengadah keatas sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Mending kamu pulang Angel. Kakak lagi sibuk ngurusin ini."
"Ini terakhir kalinya aku ngasih tahu kakak yang bener, karena aku sayang sama Kakak, nggak semua hal harus tentang obsesi kita, Kak, terkadang kita harus ikhlas ketika kita sudah melepas itu dan ini adalah karma kakak karena kakak menjual Kak Fey kepada Kak Zen, di mana saat itu kakak udah hampir saja memiliki kak Fey, dan jika Kakak nggak bahagia ya udah anggap aja itu karma kakak."
__ADS_1