
Usai mandi, Shilla bergegas menuju ke kamar Ayano karena suaminya itu tadi memanggil dirinya untuk segera kesana.
"Nyonya, Tuan muda sudah menunggu di anda di dalam."
Era mempersilahkan Shilla masuk ke dalam kamar Ayano. Saat melangkah masuk ke dalam, pandangan mata Shilla terpatri pada sosok Ayano yang berdiri dengan kemeja putih di luar balkon. Pria itu bahkan tak menoleh meskipun ia sudah tahu kalau Shilla sudah datang.
"Ada apa? kenapa kau memanggilku?"
Walaupun Shilla takut, setidaknya ia harus berbicara dari pada diam menunggu.
"Mandikan aku."
ucap Ayano sambil membalikkan tubuhnya ke arah Shilla.
"APA!"
kedua mata Shilla terbelalak bahkan seperti mau copot. Ia seperti salah mendengar namun ia yakin jika ucapan Ayano barusan adalah kenyataan.
"Haruskah ku ulangi lagi?"
Ayano melangkah menuju ke arah Shilla hingga gadis itu malah melangkah mundur ke belakang. Ayano terus melangkah hingga tubuh Shilla berhenti di depan dinding.
"Ma-mau apa kau kesini."
Shilla gelagapan saat tubuh Ayano mulai mendekat ke arahnya, bahkan Ayano tak segan untuk mendekatkan wajahnya ke telinga Shilla hingga membuat gadis itu menahan nafasnya.
"Mandikan aku.."
Ayano lantas menarik kembali wajahnya dan tersenyum kecil, melihat ekspresi Shilla yang begitu ketakutan sungguh membuat Ayano gemas.
"Bernafaslah atau kau akan mati."
Shilla bernafas lega saat Ayano mulai menjauh dari dirinya. Ia tak bisa berlama-lama berada di dekat pria itu, bisa-bisa jantungnya berpindah dari atas ke dengkul.
"Kau tidak dengar aku? Mandikan aku sekarang!"
sentak Ayano dari dalam kamar mandi, ia tak suka dibantah, pria itu bahkan akan menyeret Shilla jika gadis itu masih berdiam diri disana.
Shilla segera menyusul Ayano menuju kamar mandi, ia bahkan gugup sekali saat melihat Ayano bertelanjang dada.
"Kenapa topeng mu tidak dibuka?"
tanya Shilla saat Ayano hendak masuk ke dalam bathtub namun pria itu tak kunjung melepas topengnya.
"Tidak. Aku sangat jelek."
ucap Ayano sekenanya. Ia tak suka wajahnya dilihat oleh orang lain, bahkan termasuk Shilla sekalipun. Shilla lalu menghembuskan nafasnya perlahan, ia tahu bahwa suaminya ini tidak seburuk itu.
"Siapa yang bilang kau jelek? bagiku kau jelek atau tidak aku tetap akan menerimamu sebagai suamiku."
__ADS_1
ucapan Shilla bagai angin segar di pagi hari, Ayano bahkan sampai mengangkat sebuah senyuman.
Tangan Shilla dengan cepat membasuh bahu suaminya dengan menggunakan shower, ia bahkan senyum-senyum sendiri saat pandangannya bertemu dengan mata Ayano.
"Jangan melihatku begitu."
Sedangkan Shilla malah tertawa cekikikan, ia seperti berhasil menggoda sang suami yang bermuka datar dan seperti kulkas 10 pintu.
"Shilla!"
sentakan Ayano membuat Shilla sedikit berdecak kesal. Ia lalu mempercepat guyuran airnya agar dia bisa secepatnya keluar dari sana.
"Mau kemana?"
Tanya Ayano saat melihat Shilla melangkah kan kakinya keluar dari kamar mandi.
"Tentu kembali ke kamarku Tuan muda.."
senyum yang di paksakan di wajah Shilla membuat Ayano menautkan kedua alisnya. Pria itu lantas berkacak pinggang dan menunjuk Shilla dengan telunjuknya.
"Kau! Jangan pergi dulu!"
Perintah Ayano yang membuat Shilla semakin kesal, Shilla lantas melipat kedua tangannya dan menoleh ke arah Ayano seperti menantang.
"Kenapa lagi? bukankah aku sudah memandikan mu?"
"Bantu aku ganti baju!"
"Tidak mau! Kau bahkan sudah sehat kan?"
"Belum!"
"Sudah!"
Perdebatan suami istri itu semakin menjadi saat pandangan mata mereka seperti ingin menelan satu sama lain.
"Aku belum sehat Shilla!"
Decakan kesal terdengar dari mulut Shilla, ia bahkan bisa melihat Ayano berdiri dengan sempurna serta mandi dengan menggunakan air dingin.
"Sudahlah suamiku, kamu itu sudah sehat, jangan berpura-pura sakit lagi."
ucapan Shilla langsung membuat Ayano berbalik ke belakang dan membuat gadis itu bingung.
"Ternyata memang tidak ada yang percaya dengan sakit yang aku derita. Ibuku bahkan tak percaya dan tak menganggap ku ada. Dan sekarang, istriku sendiri juga begitu."
lirih Ayano, Shilla lantas tercenung sebentar, ia kemudian menatap punggung Ayano dengan wajah sendu. Ia merasa kata-katanya barusan itu terlalu kejam dan ia juga merasa bersalah sekali.
"Suamiku.. Maaf, bukan maksudku begitu."
__ADS_1
"Pergilah!"
sentak Ayano, ia kemudian berjalan keluar dan mengganti pakaiannya sendiri tanpa ditemani Shilla. Perempuan itu masih berdiri mematung bahkan saat Ayano melewatinya begitu saja.
"Suamiku.. Maaf.."
Shilla lantas mengejar Ayano, tapi pria itu dengan cepat mengusir Shilla pergi.
"Pergi!"
"Tapi maafkan aku dulu, bukan maksudku begitu.."
Wajah Shilla memelas, namun Ayano masih tak menunjukkan tanda-tanda ia mau menerima permintaan maaf Shilla atau tidak.
Shilla masih terus berusaha mendapat maaf dari Ayano namun tanpa dirinya sadari tangan Ayano sudah mencengkram leher Shilla dengan kuat seolah kebencian yang ada di dalam diri Ayano seperti ditumpahkan begitu saja.
"Sudah ku bilang pergi!"
"Ma-maaff."
Shilla memegang tangan Ayano namun pria itu bahkan masih tetap mencekik Shilla hingga gadis itu kehabisan energi. Melihat Shilla yang mulai melemas, Ayano justru mengendurkan cengkeramannya hingga cengkraman itu lepas dengan sendirinya.
Shilla lantas terduduk di lantai, ia masih memegangi lehernya yang sakit, bahkan untuk bicara saja ia tak mampu.
TOK
TOK
suara ketukan pintu kamar membuat Ayano dan Shilla mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Ayano melangkah meninggalkan Shilla untuk membuka pintu itu sendiri.
"Maaf mengganggu Tuan muda, Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Nyonya Mayu sekarang berada di bawah Tuan muda." Ucap Era dengan hati-hati.
Ia menangkap senyum bahagia Ayano saat mendengar kedatangan ibunya ke Mansion miliknya. Ia begitu lama tak berjumpa dengan Nyonya Mayu hingga ia sangat merindukannya.
"Baiklah."
Ayano bergegas mengganti pakaiannya dan mengajak Shilla turut serta menuju ke bawah.
"Sepertinya kau bahagia sekali."
celoteh Shilla yang bahkan sama sekali tak dipedulikan oleh Ayano, pria itu bahkan lebih memilih untuk segera menuruni anak tangga agar cepat sampai ke hadapan Nyonya Mayu.
"Ibu.."
Satu kata terucap dari mulut Ayano, namun rupanya Nyonya Mayu hanya menatap Ayano dengan tatapan miring. Shilla juga langsung mengucapkan salam kepada Nyonya Mayu, namun sepertinya ibu dari Ayano itu bahkan sangat tak suka dengan Shilla hingga membiarkan gadis itu dan juga Ayano berdiri disana bahkan tanpa adanya pembicaraan sedikitpun.
"Ibu.. Ayano sangat rindu dengan ibu."
__ADS_1
Ayano mencoba mendekat ke arah Nyonya Mayu, namun buru-buru, wanita itu bahkan meminta Ayano untuk diam di tempatnya saja.
Pemandangan yang sungguh aneh itu tak luput dari pandangan Shilla, perempuan itu bahkan mengeratkan tangannya.