
"Kamu sudah berapa lama kerja disini Moon?"
Shilla melirik ke arah asisten pribadinya yang berjalan mengikuti langkahn kakinya.
"Baru 2 tahun Nyonya."
langkah kaki Shilla terhenti begitu saja hingga membuat Bulan kaget dan ikut menghentikan langkah kakinya, hampir saja ia menubruk tubuh Shilla jika kakinya tak gesit mengerem.
"Kau bilang baru? 2 tahun itu waktu yang lama Moon.. Lalu kau pasti tahu bukan sifat Ayano?"
Bulan lantas mengangguk lalu menceritakan bagaimana kisah Ayano pada Shilla.
"Sangat tahu Nyonya, Tuan muda itu sangat tertutup orangnya, dan juga kami dilarang keras untuk dekat-dekat dengan beliau, bahkan kami juga dilarang membersihkan kamar tidurnya."
Dahi Shilla langsung mengkerut saat mendengar penjelasan Bulan.
"Kenapa?"
Shilla memicingkan matanya berharap mendapatkan jawaban dari Bulan.
"Tidak tahu Nyonya, yang jelas Tuan muda tidak suka ada orang yang menyentuh barang-barang pribadinya. Biasanya asisten Era yang akan membersihkan kamar Tuan muda."
penjelasan Bulan sedikit membuat Shilla bingung, ia bingung dengan tingkah Ayano yang menurutnya sedikit aneh.
Saat ia hendak menanyakan sesuatu pada Bulan tiba-tiba terdengar sebuah suara teriakan dari arah belakang. Shilla dengan cepat melangkah menuju ke sumber suara yang ternyata berasal dari pantry.
Saat kaki Shilla menginjakkan pantry, pandangan matanya langsung terarah pada seorang koki yang sedang meringis kesakitan karena dicekik oleh seorang pria yang tak lain adalah Ayano.
"Lepaskan Ayano!"
Suara Shilla memecah keheningan, bahkan sempat membuat semua orang menatapnya dengan tatapan ketakutan, mereka semua takut jika Nyonya baru itu kenapa-kenapa karena sudah mencampuri urusan Tuan muda mereka.
"Nyonya, sebaiknya kita pergi saja.. Tolong dengarkan saya Nyonya, Tuan muda saat ini sedang dalam kondisi tidak normal, saya tidak mau anda kenapa-kenapa."
Namun Shilla bahkan tak ingin beranjak dari sana barang sejengkal saja, ia menatap Ayano dengan tajam seolah tak setuju dengan perbuatan yang dilakukan oleh Ayano.
"Ayano! lepaskan dia! dia bisa mati jika kau terus mencekiknya seperti itu!"
Teriakan Shilla sukses membuat Ayano mengalihkan pandangan matanya ke arah Shilla, pria itu menatap tajam Shilla hingga membuat cekikan di leher koki itu mengendur.
"Siapa kau berani sekali mencampuri urusanku!"
teriak Ayano pada Shilla, namun gadis itu justru tak gentar dan malah semakin memelototi Ayano.
__ADS_1
"Aku istrimu! Your Wife! apa kau lupa baru tadi pagi kau mengucapkan janji pernikahan di depan Tuhan?"
Ayano lantas menghembuskan nafas kasarnya, ia lantas bergerak menuju ke arah Shilla dan langsung mencengkram erat rahang Shilla.
"Jangan pernah ikut campur dalam urusanku atau aku akan membunuhmu!"
Shilla merasa cengkraman Ayano pada rahangnya kian menguat hingga membuatnya kesulitan untuk mengucapkan kata-kata.
"Tuan muda.. Tolong ampuni Nyonya, dia belum tahu apapun tentang peraturan anda Tuan muda."
Bulan bersimpuh di kaki Ayano berharap jika Ayano mau melepaskan cengkraman tangannya pada Shilla.
Ayano lalu melepaskan cengkraman tangannya pada rahang Shilla dan berbalik menuju ke arah Koki yang ia cekik tadi.
"Mau apalagi kamu Ayano!"
walaupun rahang Shilla masih sakit tapi ia bahkan tak takut sedikitpun dengan Ayano, ia melihat pria itu dengan seksama. Suaminya itu kini dalam keadaan sangat berantakan dengan kemeja putih yang sudah basah oleh noda merah yang ia simpulkan itu wine.
"Nyonya sebaiknya kita keluar sekarang."
Bulan mencoba menarik lengan Shilla namun gadis itu rupanya tak kapok juga.
"Pecat dia Era! Jangan sampai aku menemuinya lagi di dapur ini!"
teriakan Ayano itu langsung membuat Era mengangguk patuh. Lelaki paruh baya yang merupakan koki itu lantas terduduk di lantai dengan mata yang memerah menahan tangis.
Shilla tanpa ragu melangkah menuju ke depan Ayano.
"Nyonya hentikan!" ucap Bulan dengan wajah ketakutan, ia lantas meraih lengan Shilla untuk ia bawa menjauh dari Ayano namun Shilla tetap tak bergeming.
Bulan dan Era saling bersitatap, mereka sangat khawatir dengan keselamatan Shilla saat ini, bahkan semua orang yang ada disana tak ada yang berani bergerak barang satu inchi.
"Kau pikir apa yang kau lakukan saat ini sudah hebat? sudah puas kau menyiksanya? Aku bahkan tidak takut kematian Tuan muda Ayano! kau mau membunuhku? bunuh saja aku! Aku sama sekali tidak takut!"
Ayano menaikkan sebelah alisnya saat mendengar kata mutiara dari Shilla.
"Kau! wanita murahan! berani sekali kamu membantah ucapanku! pergi kau dari sini!"
Shilla justru kaget dengan ucapan Ayano yang menyebutnya sebagai wanita murahan, ia lantas menundukkan pandangannya karena matanya kini sudah berair. Dibentak oleh suaminya sendiri dan disebut sebagai wanita murahan dihadapan semua orang membuat hatinya sedikit tak rela.
"Kenapa? ucapanku benar bukan? kau wanita murahan yang dijodohkan dengan diriku! kau kemari pun karena perintah ibu dan ayahku bukan?"
Plakkk
__ADS_1
Shilla menampar pipi Ayano hingga membuat semua orang yang ada disana seperti sedang terkena serangan jantung.
"Aku? wanita murahan? Aku ini istrimu Ayano! Pernikahan itu sakral! kau pikir aku wanita yang gila dengan harta? kalau kau berpikir begitu kau salah besar Ayano!"
Shilla lantas pergi dengan air mata yang terus berjatuhan disusul oleh Bulan dibelakangnya.
Sementara Ayano masih terdiam dengan matanya yang terus memperhatikan kepergian Shilla dari sana.
Ssshhh
Ayano memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat, ia kemudian berpegangan pada Era yang ada didekatnya.
"Tuan muda, sebaiknya anda segera meminum obat sekarang."
Era memapah Ayano menuju ke arah kamarnya agar pria itu bisa beristirahat dengan tenang.
"Bibi Delila, Tolong segera siapkan obat dan juga bubur untuk Tuan muda."
Bibi Delila pun mengangguk, sebagai kepala pelayan ia sangat faham dengan kondisi yang dialami oleh Ayano. Karena ia sudah sangat lama mengabdi dengan keluarga Chandradewantara sejak ia berusia remaja hingga kini sudah berusia 50 tahun.
"Setelah ini tolong anda beritahu Nyonya baru kita tentang apa saja yang harus dia hindari saat bertemu dengan Tuan muda."
Bibi Delila langsung mengangguk paham, wanita itu lantas menyiapkan bubur dan obat untuk Ayano minum.
......................
Sementara dibelahan bumi lain, tepatnya di Jepang seorang pemuda tengah luntang lantung di jalanan Shibuya. Ia merasa bahwa harinya sangat tidak baik kali ini.
"Kenapa lelaki tua itu sangat menjengkelkan, pulang ke Indonesia? menyebalkan sekali!"
Ia lalu bergegas menuju ke arah mobil yang ia parkir di ujung jalan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
mobil SUV hitam itu lantas memasuki pekarangan Mansion yang begitu mewah, seorang penjaga bergegas membuka pintu mobil dan mempersilahkan Tuannya untuk turun.
"Selamat malam Tuan Kiyota."
Pria itu bernama Kei Kiyota, putra dari pasangan Masato Kiyota dan Arumi Kiyota, ia merupakan seorang pria berusia 24 tahun yang merupakan campuran Indonesia-Jepang. Arumi Kiyota merupakan sosok model berkebangsaan Indonesia dan juga teman dari ibu Ayano yaitu Nyonya Mayu Watanabe.
"Ma kenapa harus pulang ke Indonesia?"
Nyonya Arumi hanya melirik sedikit putranya yang kini terlihat kesal.
"Memangnya kenapa? bukankah Indonesia juga tak kalah bagus dengan Jepang?"
__ADS_1
Kei lantas mengangguk, ia mengakui jika Indonesia bahkan sama indahnya dengan Jepang, tapi jika ia kembali ke Indonesia ia pasti akan sering bertemu dengan Ayano dan juga Delvano.
"Memang, tapi kenapa harus sekarangggg?"