
Walaupun Shilla tak mendapati Ayano berada di antara keluarga Chandradewantara, namun ia tak ambil pusing, suatu saat ia pasti akan bertemu dengan pria itu.
Shilla yang memakai kebaya berwarna merah maroon itu kini duduk di antara Tuan Adrian dan juga Nyonya Rossa, sementara disebelah Nyonya Rossa ada kakak Shilla yaitu Okiara Handodjo.
"Kamu Arshilla?"
tanya Nyonya Mayu pada Shilla, gadis itupun mengangguk, namun pandangannya tak juga beralih dari sosok ibu Ayano itu. Ibu Ayano persis sekali dengan wanita Jepang pada umumnya bermata sipit dan juga kulit yang putih bersih.
"Maaf sebelumnya, tapi Ayano tidak bisa hadir disini karena kondisinya sedang sakit. Jadi kami yang akan mewakilinya untuk melamar Shilla hari ini."
ucapan Tuan Dewandaru Chandradewantara membuat Shilla sedikit terhenyak, ia langsung menoleh ke arah kedua orangtuanya terutama sang papa. Shilla tidak mengerti kenapa semua acara di luar nalar ini harus terjadi secara dadakan. Ia bahkan belum mengabari teman-temannya atau bahkan sahabat-sahabatnya.
'Apalagi ini? katanya hanya bertamu biasa? kenapa malah lamaran? jangan sampe ntar gue dikira hamidun sama temen-temen gegara nikah muda.'
Walaupun Shilla kesal setengah mati, tapi ia harus tetap sabar, ia tak mau mempermalukan kedua orangtuanya dihadapan keluarga konglomerat nomor satu di negeri ini.
"Baiklah, nak Shilla, apa kamu mau menerima Ayano sebagai suami kamu?"
tanya Tuan Dewandaru seraya menyerahkan kotak beludru berwarna biru yang berisi cincin bertahtakan batu berlian berwarna safir.
Shilla sempat dilanda kebingungan, ia ragu namun sekali lagi ia menatap mata Tuan Adrian meminta petunjuk namun laki-laki bergelar Papa itu malah tak menoleh ke arah Shilla sama sekali.
Shilla lalu menghembuskan nafasnya dan bersiap memberi jawaban.
"Saya mau Tuan."
ucap Shilla dengan gugup, sementara Tuan Dewandaru tersenyum senang mendengar jawaban Shilla.
"Terimakasih Shilla, tapi panggil saja kami Papa dan Mama seperti kamu memanggil kedua orang tua kamu."
ucap Tuan Dewandaru dengan ramah, namun tidak dengan Nyonya Mayu, ibu dari Ayano itu sedikit melirik sinis kepada Shilla.
"Dan untuk pernikahan kalian, rencananya akan digelar satu bulan lagi."
mata Shilla langsung terbelalak, ia bahkan tak tahu apapun dan sekarang tiba-tiba dia akan menikah dalam waktu yang sangat singkat.
"Ke-kenapa cepat sekali?"
Shilla memberanikan diri untuk bertanya karena sudah bertolak belakang dengan nuraninya, ia bahkan belum mengenal sosok Ayano Chandradewantara, rupanya saja dia tidak tahu apalagi sikap dan sifatnya.
"Karena Ayano tidak suka menunggu."
Jawaban ketus datang dari mulut Nyonya Mayu, ia seolah menunjukkan ketidaksukaannya pada Shilla.
Shilla cukup terkejut dengan sikap sinis yang ditunjukkan oleh ibu Ayano, tapi ia harus bisa lebih bersabar dari pada harus memicu pertengkaran.
__ADS_1
Acara lamaran dadakan itu diakhiri dengan ditentukannya tanggal pernikahan antara Shilla dan juga Ayano.
Brakkk
Setelah keluarga Chandradewantara pergi, Shilla menutup pintu kamarnya dengan kesal, ia seolah sedang dipermainkan oleh keadaan. Ia lalu mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja rias, ia berencana menghubungi teman-temannya.
Guys gue mau nikah~
Shilla memberikan kabar bahwa dirinya akan segera menikah hingga membuat kehebohan di grup WhatsApp yang berisi teman dan juga sahabatnya terutama Natasya. Natasya sudah lama mengenal Shilla dan dia tidak percaya dengan kabar yang baru saja Shilla tulis di grup.
Natasya dan Shilla sepakat untuk bertemu di sebuah cafe keesokan harinya.
Tok Tok
"Shilla ini Mama."
suara dari luar cukup membuat Shilla sedikit terperanjat dan melirik ke arah pintu hingga pintu itu perlahan terbuka.
"Ada apa Ma?"
meskipun Shilla masih jengkel dengan perjodohan ini, tapi ia tidak memiliki alasan untuk marah pada Nyonya Rossa, ia takut kualat jika mendiamkan ibunya sendiri.
"Maafkan Mama ya Shilla.. Seharusnya kakak kamulah yang akan menikah dengan putra keluarga itu."
"Lantas kenapa bukan Kak Ara saja Ma? kenapa harus aku? Mama kan tahu kalau umurku saja baru 20 tahun, aku masih ingin menikmati hidup Ma."
Nyonya Rossa lalu mengangguk, ia mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya juga ia rasakan, dahulu ia juga dijodohkan dengan Adrian, Papa Shilla karena paksaan dari orangtuanya.
"Sabar nak, Mama juga dulu seperti kamu, awalnya Mama juga tidak kenal dengan Papa kamu."
ucap Nyonya Rossa sembari mengelus pucuk kepala anaknya, namun itu justru membuat Shilla semakin geram.
"Lalu sekarang kalian ingin aku mengulangi kisah kalian begitu? Sialan sekali."
umpatan Shilla terdengar oleh Nyonya Rossa, meskipun lirih namun perempuan paruh baya itu masih mendengarnya.
"Dari mana kamu belajar umpatan itu Shilla? tidak sopan sekali!"
"Dari Gugel! Habisnya kalian selalu memutuskan hal-hal yang nggak shilla inginkan, sementara kak Ara saja bebas tanpa aturan dari kalian."
Shilla lalu menangis, ia lalu memalingkan mukanya menghindari tatapan Nyonya Rossa. Nyonya Rossa hanya menghela nafas panjang, ia merasa pantas jika Shilla harus marah padanya karena seharusnya yang menikah kali ini adalah putri pertamanya yaitu Okiara, bukan Shilla.
"Maaf Ma, aku mau istirahat."
Shilla lalu meninggalkan ibunya dan memilih untuk berbaring di ranjang, ia ingin menghilangkan amarah yang sedari kemarin ia simpan.
__ADS_1
"Yasudah istirahatlah.. Mama keluar dulu ya."
Hening, Shilla memilih diam tanpa ingin menjawab ucapan Nyonya Rossa.
......................
"Apa anak itu masih marah?"
tanya Tuan Adrian pada Nyonya Rossa saat hendak berbaring untuk beristirahat.
"Lagian kenapa sih Papa harus memaksakan kehendak padanya? Sudah tahu Shilla itu anak yang bar-bar ehh malah dipaksa."
Nyonya Rossa ngedumel sendiri, ia bahkan ingin meluapkan emosinya pada Tuan Adrian.
"Ya mau bagaimana lagi Ma, Okiara saja tidak mau, dia bahkan nekat akan pergi dari rumah ini jika Papa paksa menikah."
Nyonya Rossa menghela nafas dalam-dalam, meskipun ia jengkel tapi ia tak bisa melakukan apapun karena lamaran itu sudah dilakukan dan Shilla sudah menyetujuinya.
"Lalu bagaimana dengan Ayano sendiri Pa? Apa dia benar-benar pria yang baik?"
Tuan Adrian lalu mengendikkan bahunya, ia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana sikap Ayano, yang ia tahu hanya Ayano mengenakan topeng hitam dan tinggal terpisah dengan keluarga Chandradewantara.
"Entahlah Ma, yang jelas Tuan Dewandaru bilang kalau Ayano memakai topeng hitam, dan juga agak sedikit.."
Tuan Adrian ragu untuk meneruskan kata-katanya, ia lalu diam sejenak hingga Nyonya Rossa yang kepalang penasaran melotot tajam ke arah Tuan Adrian.
"Apa Pa! Jangan membuat Mama semakin penasaran."
Tuan Adrian lalu menghela nafas, ia lalu meneruskan kembali ucapannya.
"Ayano itu ketergantungan obat, bisa dibilang Ayano sakit keras sejak kecil."
Nyonya Rossa kaget bukan kepalang, ia sebagai orang tua sangat merasa bersalah pada Shilla karena menjodohkan putrinya itu dengan pria yang sakit-sakitan.
"Astaga Paaaa.. bagaimana jika Shilla tahu? Bisa mencak-mencak dia Pa."
Tuan Adrian lalu mengendikkan bahunya, ia terpaksa menerima permintaan Tuan Dewandaru karena ada keuntungan dibalik perjodohan itu, dimana Tuan Dewandaru akan membantu perusahaannya berkembang lebih jauh lagi melalui penanaman modalnya.
......................
"Jadi yang akan menikah denganku adalah Arshilla? bukan Okiara?"
tanya seorang pria yang kini berdiri di balkon kamarnya, pria bertopeng hitam itu menatap langit yang dipenuhi dengan bintang.
"Ya Tuan muda Ayano."
__ADS_1